My Breastfeeding Drama (Part 2)

Okay, selagi Sabriyya masih tidur, mari kita lanjut.

Setelah 3 sesi pertemuan di St. Carolus saya akhirnya memutuskan untuk ikhtiar di rumah saja. Sabriyya tetap saya berikan susu tambahan, saya memberikan ia susu kambing murni sebagai tambahannya. Banyak orang bertanya mengapa saya malah memberikan susu kambing murni dan bukan susu formula untuk Sabriyya. Karena ande saya bilang susu kambing itu adalah susu yang paling ramah untuk manusia. Tingkat alerginya rendah dan kandungan nutrisi-nya paling mendekati ASI. Sedangkan susu formula sudah buatan pabrik, entah apa yang ada di dalamnya. Sejak hamil saya memang membatasi minum susu sapi dan lebih sering minum susu kambing dan kopi radix (kopi herba, produk dari HPA Indonesia) untuk tambahan nutrisi pada tubuh saya dan janin. Alhamdulillah setelah ruam dan bintik-bintik memenuhi wajahnya di awal kelahiran, yang saya obati juga dengan salep herba, beberapa hari kemudian wajah Sabriyya mulus lagi. Sampai Azizah adik saya heran sendiri, kok Sabriyya bisa mulus banget begitu mukanya padahal ia minum susu tambahan, sedangkan Sholih (anak Azizah) dulu sempat alergi padahal hanya diberi ASI. Mungkin karena saat hamil dulu Azizah menambahi nutrisinya dengan susu sapi UHT. Wallahua’lam juga sih hehehe.. ini sok taunya saya aja 😀

Anywaaaaayyyy.. (kenapa jadi ke mana-mana hahahaha..)

Di rumah saya terus berusaha untuk menempelkan PD saya pada Sabriyya, meski ia tetap menolak. Sabriyya terus disuapi susu kambing dengan sendok dan cup feeder. Lalu muncul kekuatiran baru, bagaimana Sabriyya bisa terbiasa menyedot kalau setiap hari ia hanya disuapi dengan sendok dan cup feeder. Sedangkan proses menyedot itu bisa merangsang kerja otaknya juga, kalau kata orang semakin sering dia menyedot akan semakin pintar nanti dia. Bagaimana dengan anakku? masa ia akan tumbuh jadi anak yang bodoh karena nggak terbiasa menyedot? Dengan kekuatiran itu, dan belum adanya teori baru yang bisa membantu latch on Sabriyya pada saya, akhirnya saya suapi Sabriyya dengan menggunakan Tommee Tippee. Dot bayi yang konon memiliki niple yang mirip dengan payudara.

Tommie Tippee
Tommee Tippee

Di hari pertama saya memutuskan untuk menyusui Sabriyya dengan Tommee Tippee, seorang teman bbm saya dan bertanya tentang drama menyusui saya ini, ia dapat info dari suami saya. Saya ceritakan semuanya, dan ia memberikan rekomendasi seorang ahli laktasi bernama Dr. Asti Praborini yang praktek di Kemang Medical Care. Sejujurnya saya sudah mulai skeptikal dengan proses laktasi ini. Tapi teman saya ini terlihat semangat sekali, sampai menawarkan diri untuk menemani saya ke KMC. Akhirnya dengan sisa antusiasme yang ada, saya book sesi dengan dokter Asti di KMC sambil googling tentang sosok dokter ini. Saya datang ke KMC dengan perasaan gamang, ada ketakutan kalau endingnya akan sama seperti di St. Carolus, tapi tetap positif thinking. Selama di ruang tunggu, perut saya terasa mulas karena nervous. Saya sendiri heran, kenapa nervousnya sama seperti saat mengantri dokter gigi? ( i hate dentist, btw ;)).

Di dalam ruangan dokter Asti, saya dan ande dipersilahkan duduk di bangku yang bersebrangan dengan meja Dr. Asti. Dengan ramah dokter Asti menyapa kami dengan salam, lalu bertanya “Ada yang bisa saya bantu?” rasa mulas saya perlahan-lahan mereda. Saya mulai bercerita tentang kesulitan saya menyusui Sabriyya. Dokter Asti hanya mengangguk-angguk saja, yang membuat saya semakin rileks adalah, dokter Asti tidak melihat saya dengan pandangan menghakimi saat saya bilang kalau Sabriyya sudah diberikan susu tambahan. Ia kemudian meminta izin untuk memeriksa Sabriyya. Saat itulah kemudian dokter Asti mengatakan kalau Sabriyya memiliki Tongue Tie dan Lip Tie dan perlu dilakukan bedah kecil (biasa disebut frenotomi atau insisi). Saat saya googling tentang dokter Asti, memang sebagian besar berita yang saya dapatkan adalah tentang tongue tie dan frenotomi ini. Dokter Asti kemudian menunjukkan kepada saya sebuah buku dengan halaman penuh gambar bayi dengan tongue tie dan lip tie ini dan mengatakan kalau inilah yang membuat Sabriyya tidak bisa menyusu dengan optimal. Salah satu indikasinya adalah kenyataan bahwa saya cadel, karena ternyata cadel ini menurun. Dan orang-orang yang cadel biasanya memiliki masalah tongue tie. Lidah Sabriyya yang tertahan tongue tie inilah yang membuat ia nggak bisa meletakkan puting saya pada tenggorokannya dan memijat aerola untuk ASI yang ia butuhkan. Hal ini juga yang membuat puting saya luka lebih parah dibanding ibu-ibu awal menyusui lainnya. Kalau hal ini tidak diatasi, maka puting saya nggak akan pernah sembuh.

Infant_tongue_position-277x300
Ilustrasi proses menyusui bayi dengan tongue tied dengan yang normal

Lalu prosesnya cepat sekali, Dokter Asti menyodorkan sebuah surat pernyataan persetujuan frenotomi kepada saya lalu menyiapkan alat-alat untuk meng-insisi Sabriyya.  Saya sempat bimbang, karena ini adalah keputusan yang harus saya buat secepatnya dan menyangkut anak pertama saya. Namun dengan Bismillah, jika memang ini yang baik untuk Sabriyya, sambil memohon perlindungan Allah saya tanda tangani surat tersebut. Lalu nggak sampai setengah menit terdengar suara tangis Sabriyya yang kesakitan, Dokter Asti yang sebelumnya meminta saya untuk mempersiapkan PD saya untuk menyusui langsung menempelkan mulut Sabriyya ke PD saya. Alhamdulillah Sabriyya sempat mau menyedot puting saya dan ASI sempat bersemburan ke dalam mulutnya. ASI inilah yang kemudian memberhentikan perdarahan di bawah lidah Sabriyya yang tadi di-insisi. Sesaat kemudian, Sabriyya kembali menarik mulutnya. Saat itulah Dokter Asti melihat indikasi bingung puting yang Sabriyya alami, lalu keluarlah statement itu: “Wah, kalau begini kayaknya musti saya rawat inap nih”. Saya mendengar kalimat itu semacam sedang mendengarkan sabda alam *lebay* karena memang itulah yang saya inginkan. Sudah beberapa hari tersebut saya berpikir untuk dirawat inap saja untuk belajar menyusui Sabriyya, pokoknya sampai bisa. Karena di rumah saya benar-benar nggak tau harus apa.
Saya, tentu saja langsung meng-iya-kan usulan Dokter Asti tersebut. Saya telfon suami untuk meminta izin, Alhamdulillah suami memberi restunya. Lalu resmilah hari itu saya tidak kembali ke rumah Depok, tapi langsung menjadi penghuni sementara kamar Panda rumah sakit tersebut.

Di hari pertama rawat inap, kegiatan yang saya dan Sabriyya lakukan hanyalah skin to skin. Sebelumnya saya sempat diakupuntur untuk merangsang produksi ASI saya yang sudah sangat berkurang, lalu saya diajarkan untuk senam mulut Sabriyya agar tidak ada keloid di luka insisinya. Proses skin to skin hari pertama itu terasa semakin berat dari jam ke jam. Meskipun terdengar simple, saya yang tidak mengenakan selembar pakaian pun kecuali mantel rumah sakit, memeluk Sabriyya yang juga hanya mengenakan diapers saja. Namun Sabriyya terlihat gelisah di pelukan saya, ia menolak untuk saya peluk, badannya ditarik-tarik menjauhi tubuh saya. Saya sempat merasa kecewa dan cemburu pada apapun dan siapapun yang membuat Sabriyya nyaman. Kenapa dia menolak saya, ibunya sendiri? Malamnya Sabriyya terus menangis dan menolak untuk tidur. Saya sudah mulai panik, apakah hal ini normal? kenapa nggak ada satupun dokter atau suster masuk ke dalam kamar kami dan mengatakan kalau ini tidak normal? Apa yang harus saya lakukan? Malam itu Sabriyya tertidur setelah diberikan CTM oleh suster. Hati saya kembali luka, kenapa anak saya harus dicekoki CTM agar tidur? Namun karena itulah prosedur yang datang dari Dokter ahli laktasi, saya berusaha untuk menerima. Daripada ia nggak mau tidur sampai pagi.

Keesokan harinya masih tetap sama, Sabriyya menangis nggak berhenti di pelukan saya, dan masih belum mau menyusu pada saya. Perlahan-lahan rasa percaya diri saya meruntuh. Saya mulai mempertanyakan apakah rawat inap ini akan berhasil? apakah setelah ini Sabriyya akan mau menyusu pada saya? kenapa kami nggak dilatih untuk latch on seperti di St. Carolus dulu, kenapa saya hanya didiamkan dengan skin to skin ini? Bahkan kunjungan Dokter Asti dan Dokter spesialis laktasi lainnya hanya berupa kunjungan biasa yang melihat perkembangan kami dan mengajak saya mengobrol, lalu memberikan motivasi pada saya. Tidak ada sama sekali latihan latch on atau semacamnya. Ada rasa takut kalau semua biaya yang kami keluarkan akan terbuang percuma, namun ada juga perasaan nggak mau menyerah dan nggak akan pulang ke rumah sampai Sabriyya menyusu pada saya.

Lalu terjadilah keajaiban itu, di sore hari kedua rawat inap, Sabriyya mulai tenang di pelukan saya dan tak lagi menarik dirinya. Malamnya ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa diberikan CTM, saya bahkan sempat curiga suster memberinya CTM tanpa sepengetahuan saya, hahaha.. jahat ya :P. Lalu paginya, saat saya kembali mencoba menempelkan PD saya pada Sabriyya, ia mulai mau memasukkan mulutnya ke puting saya. Air mata saya perlahan menetes saat melihat mulut itu mulai menyedot puting saya. Sabriyya mulai menyusu pada saya. Saya nggak pernah merasa sebahagia itu. Saya peluk anak gadis Solehah saya itu, dan mulai menangis haru. Ibu saya yang biasanya selalu marah kalau lihat saya menangis, karena kuatir akan menghambat produksi ASI, kali itu membiarkan saja adegan itu berlangsung. Mungkin ia juga takjub dengan apa yang dilihatnya. Hari itu dokter Asti berkunjung dan saya kembali menangis haru saat memperlihatkan Sabriyya yang sedang menyusu pada saya. Tidak berhenti saya ucapkan terimakasih padanya. Dokter Asti meminta saya untuk tinggal sehari lagi untuk diajarkan memberikan susu tambahan pada Sabriyya dengan menggunakan selang dan spuit. Esok siangnya kami sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Sekarang, sudah hampir sebulan sejak rawat inap tersebut dan Sabriyya masih menyusu pada saya. Meskipun masih perlu diberikan susu tambahan lewat selang dan spuit karena produksi ASI saya yang belum kembali maksimal, namun dari hari ke hari perkembangannya semakin baik. Puting saya kini sudah berangsur sembuh, dan PD saya sudah mulai terasa berat oleh ASI kembali. Belakangan ini kami bahkan sudah mulai mengurangi pemberian susu tambahan pada Sabriyya. I can’t wait for that day to come, where i don’t need those goat milk anymore and i can breastfeed my little girl until her 2nd birthday.

Post ini saya buat untuk para ibu yang mengalami kesulitan menyusui seperti saya. I know how it feels when you need help but you dont know where to search. Well, hopefully this story will help.  Meskipun jalan yang ibu-ibu ambil nanti tidak sama seperti jalan yang saya tempuh ini, tapi mari kita berikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Saya sangat berharap semua ibu bisa memberikan ASI eksklusif untuk anaknya tanpa perlu tambahan apapun. Saat terjadi hal-hal yang sekiranya berat saat awal-awal menyusui, teruslah cari informasi dan minta pertolongan dari ahlinya. Tuhan pasti punya alasan kenapa memberikan jalan berat ini untuk saya tempuh, namun dengan terus ikhtiar dan percaya Allah pasti akan berikan jalan keluar, saya jalankan apa yang Allah ingin saya jalankan. Dan semuanya akan indah pada waktunya. Best of luck.

Okay, got to go.. Sabriyya udah bangun. Waktunya menyusui lagi 😉

ps: Ternyata nggak semua kasus tongue tie harus dilakukan frenotomi. Saya baru tahu informasi ini setelah pulang dari KMC dan membaca artikel ini : http://mommiesdaily.com/2013/01/23/breastfeeding-101part-ii/

Update:

Per tanggal 23 Juni 2013 Sabriyya sudah nggak mau lagi minum susu tambahan. Saya nggak pernah memaksa Sabriyya untuk hanya minum ASI saya. Bagi saya hal yang penting adalah Sabriyya kenyang dan bisa tidur dengan nyaman. Alhamdulillah pada tanggal 23 Juni ini Sabriyya benar-benar menolak minum susu tambahan dan hanya mau minum ASI saja. Sejak itu sampai hari ini (27 Agustus 2013) dan insya Allah sampai umurnya 2 tahun nanti, Sabriyya sudah hanya minum ASI saya saja. Alhamdulillah, terimakasih ya ALLAH 🙂