[30 Days Challenge] Day 1: Write Some Basic Things About Yourself

I am a mom. That is what basically define me right now. I used to be a woman who is working, i’ve worked on a publisher once and spend most of my working record as a mandarin teacher. I already start my teaching career since college, and it gave me pretty good extra money ;).

I also used to be a singer, until i married my husband and he forbid me to sing (on a stage) again. As a singer, i already record my album once, with my nasyid group called Bestari, then record some songs for The Hermes, with Endy Daniyanto. I kept recieving this tempting offer to sing again, but my husband still hold his words, so no stage for me again, then. Kind of sad, of course, considering it is pretty much define who i am, but yeah life is about making sacrifice sometimes.

i write. I don’t want to put past tense on that, because words sometimes becomes real. I remember falling in love with Indonesian movie, starring Dian Sastro and Nicholas Saputra called Ada Apa Dengan Cinta (AADC) with the fact how Rangga loves reading and writing poet. You can describe the way you feel by disguising it into a poem. You can make it blur, or straight to the point. You can make it beautiful and adding some personal phrase that you made. I remember buying a note book that have a red hard cover and start writing poem in it. I think most of them was about my first love. Yeah, i fell in love for the first time at high school (kinda late blomer), and stay in love for the same person until college. So, everytime i write, he is the only person appear on my thought. What a shame :p. After graduating and working on a publisher (as a secretary), i found this one writer Fajar Nugros (who currently directs some movies). He used to write a lot of fictions on his facebook notes. I did not remember how i met him on facebook, but he is the one who inspire me to also write fiction. I wrote my first fiction, actually on high school. It was a kids fiction, about a monster called Loath hahaha.. i wonder where i kept that writing. I wrote by hand that time, so i guess it’s already gone. I used to write a lot back then, couple of my writings even published on several books. But since two years a go i start writing less. I didn’t write fictions anymore, i just can’t. I have reasons actually why i can’t write fictions anymore, but let it be my own secret :p. No, i dont want to quit writing fictions. To write a whole novel is still one of my dreams, it still on my to do lists. It dont have to be published, but i want to make it as a book. I mean, i probably will self publish it if no publisher want to take it. Oh yeah, it was not complete telling about my writing career by not mentioning this writer community i have. Me and bunch of cool people made a writer comunity called The Hermes. We used to write A LOT back then, you can read our writings on our website: The Hermes.

I am a wife. i survived a crappy romance plenty of times until i met my husband. My life was pretty complicated and full of drama back then and i am SO GLAD that i never gave up. Yes there were times when i think i can’t stand my life for being so pathetic and unwanted, but i never thought of commit suicide, Alhamdulillah. I was just cried, A LOT. I am a crier (is that even a word? :p), you can not imagine how i cry over everything even until now. I remember crying a lot after doing Shalat. I asked for mercy and begging and begging and begging like crazy to Allah to guide my way out of that crappy romances and find my destiny. And here i am, married to a man who really loves me for me. I used to think that i will get married to a man that i dont really love, and i said yes because i have to, considering my age. BUT Alhamdulillah it didn’t happen. I love my husband so much that i thankful for my past to be exist, because that way i can understand why ALLAH put me in such a sad situations. I need to learn so much to finally met this guy and be grateful about everything that he is and everything that he is not. Now we are happily married and to add that, ALLAH gave us a beautiful little daughter, Sabriyya. And that made me, a mom.

I am a mom. A full time one. I quit my job since 4 months pregnant with Sabriyya and never regret a thing until now. This is what i want for a long time. To raise my kids on my own, to make their meal by my own hand, and to educate them to be a good people. And i feel so blessed that i could do it now. I enjoy being with Sabriyya all the time, talking with her, playing with her, seeing her grow, bath her, and see those smile blooms everytime i appear. I even enjoy seeing her cry when i leave the room hahaha.. that shows how much i meant to her.

OK, that’s pretty much it. Basic things about me. My first writings for this 30 days challenge, i guess it’s challenging seeing the fact that i start writing this post at 8 in the morning and finish it almost at three in the afternoon. Bhahahaha… not bad, huh? And why do i keep writing in english? okay, next post should be (no, must be) all in bahasa Indonesia. See you next post 😉

-Bee-

30 Days Challenge (in an attempt to write again)

30 days challenge-1

Blog ini terbengkalai sekali, sih 😦

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin sering update blog ini seperti dulu, tapi kehidupan saya belakangan ini nggak jauh-jauh dari mengurus anak sih ya, jadi yaaah.. for some people it was so boring reading blogs who talked only about the kids hahaha.. maka dari itu, perkembangan Sabriyya saya simpan sendiri di blog ini.

Sudah lumayan lama saya mengikuti blog Febie, dan sejak bulan lalu ia posting tentang 30 days challenge ini. Awalnya saya pikir, ehm yaaah, nggak dulu deh, kayak punya waktu banyak aja buat nge-blog. Ikut 30 days photo challenge di Instagram aja nggak bisa nyelesein, apalagi ini yang harus duduk diam di depan komputer dan mengetik post baru setiap hari. But then lately i was thinking, hey! i could do it everytime i want. 30 hari kan nggak harus setiap hari berturut-turut gitu, seminggu sekali update post baru selama 30 minggu juga bisa dinamakan 30 hari, kan? *pembenaran* 😉

Akhirnya saya putuskan untuk ikut tantangan 30 hari menulis ini. Saya belum sanggup ikutan yang 30 hari menulis fiksi, just because. So, marilah mulai kembali rutin menulis dengan tantangan ini. Walaupun untuk tantangan hari ke 22, err.. do i really have to post my picture wearing my so-emak-emak daster? haha *doh*

Bee – in an attempt to write again

Kuliner Malang: Warung Wareg (Gurame Sadis)

Liburan lebaran kemarin (well, setelah liburan lebaran selesai lebih tepatnya lagi), saya ikut orang tua mudik ke Solo lanjut ke Malang untuk mengantarkan si bungsu yang bersekolah di salah satu pesantren di sana. Sabriyya tentu saja ikut serta. Surprisingly (well not really, actually), she seems OK for a long road like that, considering that we went on car. Ande saya mengatur bangku belakang sedemikian rupa hingga mirip dengan kasur untuk tidur Sabriyya. Alhamdulillah Sabriyya nggak rewel sama sekali saat saya rebahkan di bangku belakang itu, ia bahkan tidur nyenyak sekali. Kayaknya goyangan mobil dan sejuknya AC membuat ia tidur lebih nyaman. Kami sempat menginap 2 hari di Solo lalu sambung ke Malang.

Nggak terlalu banyak tempat kami kunjungi di Solo, karena Solo memang sudah menjadi destinasi hampir setiap tahunnya sejak kami kecil. Jadi makan di nasi liwet sini dan tahu koprak sana sepertinya sudah biasa saja. Nah, ketika di Malang kami sempat makan di beberapa tempat makan, tapi restoran satu ini layak diberikan review karena nggak hanya tempatnya yang nyaman, tapi juga harga yang nggak sama sekali menguras kantong (for my opinion).

warung wareg 1Menemukan tempat makan ini waktu jalan pulang dari mengunjungi tante suami di Malang menuju Villa tempat menginap di Batu. Perut saya sudah minta diisi lagi setelah sari-sari makan sebelumnya hampir habis jadi ASI untuk Sabriyya. Celingukanlah kami di jalan, mencari tempat makan yang menarik. Sebenarnya saat melihat spanduk besar yang bertuliskan Warung Wareg Gurame Sadis ini, saya sudah antipati duluan. Pasalnya kalau di Jakarta, makanan apapun yang punya embel-embel sadis pasti nggak jauh-jauh dari sambal rawit dan bawang yang kalau dijadikan teman makan nggak ubahnya malah jadi pengganggu saja. Udah nutupin rasa sedap lainnya, setelah makan masih ditambah perut panas segala. Hufft.. no way hose.

Tapi setelah celingukan berkali-kali, kok ya nggak ada lagi tempat makan yang terlihat menarik. Instead, Warung Wareg ini malah terus terngiang-ngiang di kelapa. Ya sudah, berbeloklah kami memasuki halaman parkirnya. Halaman parkir tempat makan ini sangat luas, saat itu bahkan ada satu bus wisata yang parkir di sana, dan masih tersisa banyak ruang untuk sekitar 10 atau lebih mobil lagi. Area makan terlihat jelas dari luar, karena konsep ruangannya yang memang minimalis tanpa banyak sekat. Pilar-pilarnya bahkan terlihat masih hanya tertutup semen kasar. Salah satu yang menjadi daya tarik pengunjung adalah satu lapangan kecil terbuka yang menyediakan tempat main anak-anak, jadi kalau bawa anak makan di sini, nggak perlu kuatir anak-anak akan bosan dan mulai mengacak-acak makanannya.

Area bermain anak-anak
Area bermain anak-anak

For foods? awalnya saya sempat kuatir juga dengan embel-embel sadis tadi, jadi agak menghindari menu makanan dengan embel-embel sadis di belakangnya. Tapi tanya punya tanya, yang mereka sebut sadis itu ternyata adalah saus asam manis. So, Gurame sadis = gurame goreng tepung dengan saus asam manis. Wah, kalau itu sih saya suka banget haha.. so, we ended up memesan:

20130818_125148
Gurame menthor (kiri) Gurame sadhies (kanan)
20130818_125225
Sambal Terong
20130818_125231
Tahu Penyet

Ditambah tempe penyet dan cah kangkung yang luput dari jepretan kamera :p

jeruk manis hangat (kiri) es milo (tengah) es teh tarik (kanan)
jeruk manis hangat (kiri) es milo (tengah) es teh tarik (kanan)

Dan jeruk nipis hangat juga se antri stress (which is jus timun campur sereh kalo nggak salah), mereka juga luput dari jepretan kamera 😀

Nggak cuma porsinya yang besar, rasa semua makanannya juga enak. Terutama menu andalan mereka si gurame-gurame goreng itu. Saya kalau bisa, mau deh menghabiskan itu semuanya sendiri (guramenya loh yaa :D). Bagaimana dengan minumannya? hmm.. nggak ada yang istimewa, bahkan teh tariknya adalah teh tarik instant sachetan itu. Tapi minuman anti stress itu sepertinya cukup membuat ande saya mengangguk-angguk puas.

Okay, mata dan perut sudah bahagia. Bagaimana dengan dompet pak boss? Saya sempat kuatir bapak saya bakal geleng-geleng kepala lagi (seperti saat kami makan di salah satu restoran khusus ayam goreng kampung di perjalanan menuju Solo). Tapi ternyata, total harga semua makanan dan minuman yang cukup memuaskan tersebut hanya sejumlah Rp. 205.000 saja saudara-saudara. Really worth it. Official sudahlah, nanti kalau ke Batu lagi, pasti kami akan mampir ke resto ini lagi. Hmm.. kalau keluarga Reza lagi mudik ke Malang, mau nggak ya saya ajak makan-makan di sini? karena katanya gurame menthis nya oke punya.

-Bee-

Such a (not) long way

Ternyata sudah satu tahun berlalu sejak saya post foto bertiga dengan Reza dan Sabriyya yang masih di dalam perut. Sekejapan mata, tiba-tiba sudah lebaran lagi saja.

image

Happy Iedul Fitri semuanya. Semoga semua amalan di bulan Ramadhan diberikan pahala yang sesuai oleh Allah SWT. Mohon maaf lahir batin dari kami sekeluarga. Enjoy holiday 😉

Delivering Sabriyya To The World

Dalam kata lain bisa juga dibilang “melahirkan Sabriyya” hehehe..

Okay, it’s been almost 4 months since i gave birth to this little angel, dan sebelum saya lupa bagaimana proses kelahiran anak pertama saya ini, marilah kita torehkan di sini. So that later, if you read this my little solihah, Sabriyya, you can at least imagine how you brought to this world. Bunda menuliskan ini untuk kamu ya anak solihah 🙂

Hari itu, tanggal 11 Maret 2013, kandungan saya sudah berumur 39 bulan 2 hari. Sejak awal kehamilan, saya tahu saya nggak mau melahirkan anak ini lebih dari 40 minggu. Apalagi sejak kandungan memasuki trimester ke 3, perut sudah overly buncit, makan apapun rasanya nggak enak, kaki juga ikutan buncit, rasanya mau buru-buru saja melahirkan anak yang di dalam perut itu. So, pagi-pagi di hari itu (senin, 11 maret 2013), saya kirimlah bbm dan whatsapp ke groups keluarga dan teman-teman untuk mendoakan saya agar bisa melahirkan sebelum minggu ke 40 dengan lancar. Lalu, doa-doa pun berdatangan dari mereka semua dan saya sibuk mengamini dengan serius semua doa itu. Kita nggak pernah tau doa siapa yang saat itu sedang dikabulkan Allah toh? 😉

Siangnya, masih di hari itu saya merasa iseng sekali diam di rumah. Akhirnya dengan tenaga yang segitu-gitunya itu, saya bersih-bersih kamar dan mengangkat perabotan, dipindahkan ke sana ke mari. Kamar bersih, hatipun senang. Lalu terjadilah pergerakan itu di perut saya. Saya mulai merasakan ngilu-ngilu di perut bawah saya. Saya yang belum pernah merasakan kontraksi kelahiran, dan kebanyakan membaca tentang kontraksi palsu di internet, akhirnya tenang-tenang saja. Baru sekitar maghrib saya merasakan ngilu yang berbeda, namun masih belum yakin dengan apa yang saya rasakan itu. Bertanya pada mama mertua pun, katanya itu hanya kontraksi biasa. Saat saya bertanya bagaimana rasanya kontraksi tanda-tanda kelahiran itu, jawabnya hanya “Nanti juga tau” hampiiiir semua orang yang pernah melahirkan saya tanyakan pertanyaan yang sama, menjawab dengan jawaban tersebut. Okay, by the time i know how it feels, then it’s will be too late right? heleeeehhh >_<

Akhirnya, saya berusaha untuk menikmati rasa nggak enak itu. Mengobrol dengan suami sampai sekitar jam 10 malam, lalu masuk kamar berniat untuk tidur. Saat itu di kamar sedang ada mama mertua sedang pakai komputer, dan keponakan sedang enak tidur di kasur. Posisi tidurnya keponakan ini lumayan mengganggu kaki saya yang nggak bisa diselonjorin hehehe :P. Berniat untuk meminta suami untuk memindahkan keponakan ke kamarnya sendiri, duduklah saya dan memanggil mama. Saat saya akan melontarkan kalimat kedua, mengalirlah air ketuban itu seperti bendungan bocor. I cant stop it, of course hahaha… Sedikit panik saya panggil mama dan memberitahukannya kalau ketuban saya pecah. Mama langsung menghampiri dan menyuruh saya pergi ke kamar mandi. Saya panggil suami untuk mengambilkan pembalut dan celana bersih ke kamar mandi. Tak lama, saya sudah kembali rebahan di kasur dengan sudah berganti pakaian siap dilarikan ke puskesmas. Suami menyiapkan barang-barang yang memang sudah saya siapkan beberapa minggu sebelumnya untuk dibawa ke puskesmas. Sekitar jam 11 malam saya, suami, mertua, dan orang tua saya yang langsung datang dari Depok berangkat ke puskesmas Tebet.

Sampai di puskesmas saya diminta untuk langsung ke ruang persalinan untuk diperiksa dalam. Saat itu pembukaan masih tahap pembukaan 1 kecil. Bidan yang memeriksa saya bilang mereka akan tunggu sampai jam 4 pagi, jika bukaan belum juga maju saya akan diberikan obat induksi untuk memacu bukaan. Saya diperbolehkan untuk menunggu di kamar pasien, di sana ande saya langsung mengakupuntur saya untuk merangsang bukaan. Saya sempat merasakan mulas-mulas kecil, namun nggak terlalu sakit. Saya bahkan sempat tidur sampai sekitar jam 6 pagi.

Esoknya, sekitar jam setengah delapan pagi, mama meminta saya untuk mandi dan mengganti baju lalu langsung ke ruang persalinan. Waktu pemberian obat induksi diundur karena pagi itu ruang persalinan penuh dengan ibu yang melahirkan. Jam 8 pagi itu saya berbaring di ruang persalinan dengan obat induksi diinfuskan di tangan. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, akhirnya merasakan juga yang namanya diinfus hehehe 😀 Beberapa saat setelah infus dipasang, mulailah saya merasakan yang namanya mulas karena kontraksi. Beberapa menit sekali para asisten bidan yang adalah anak-anak murid sekolah kebidanan yang sedang PKL yang jumlahnya buanyak bener itu memeriksa denyut jantung bayi saya. Kalau di rumah sakit, pemantauan denyut jantung ini sudah dilakukan secara modern, yang muncul di monitor itu lho. Kalau di puskesmas, proses ini dilakukan secara manual, jadi posisi saya yang sedang mulas-mulas itu harus telentang sempurna agar detak jantung bayi terdeteksi secara akurat. Saat bukaan masih tahap awal sih masih oke-oke saja ya pelaksanaan proses itu. Tapi di bukaan tahap pertengahan dan akhir, Masya ALLAH.. setiap terlentang saya malah maunya mendorong, padahal belum waktunya 😦

Saya penakut, penakut akut. Sama kucing saja saya takut, sama dokter gigi apalagi. Tapi entah sejak pecah ketuban sampai akhirnya mulas-mulas di kamar bersalin, rasa takut itu hilang sama sekali. Yang ada hanya perasaan excited, sebentar lagi saya akan memeluk anak saya, di dalam pelukan sebenarnya bukan hanya di dalam perut. Sebentar lagi saya bisa melihat seperti apa wajahnya, seperti apa matanya, seperti apa parasnya. Stase awal bukaan saya bahkan masih bisa tertawa-tawa, para siswa PKL pun heran melihat saya semangat sekali seperti itu. Oh iya, salah satu dari mereka bilang kalau ada sensasi ingin buang air kecil, sebaiknya dibuangkan saja ke kamar mandi. Karena kandung kemih yang penuh akan menghambat jalan lahir yang akan ditempuh oleh anak. Sejak mendengar itu, setiap ada sensasi itu saya langsung turun dari dipan dan berjalan ke kamar mandi. Ibu-ibu lainnya yang sedang melewati fase bukaan seperti saya pun terheran-heran melihatnya. Oh iya, satu hal lagi yang harus dilewati jika melahirkan di puskesmas, kita akan berada dalam satu kamar bersalin dengan dua orang ibu lainnya, tanpa ada sekat satupun. Jadi nikmatilah deh itu wajah-wajah kesakitan ibu-ibu tersebut saat kamu juga kesakitan hahahaha… beruntung yang bareng dengan saya saat itu nggak ada yang melewatkan proses bukaannya dengan teriak-teriak histeris. Tapi tetap dong ada yang drama.

Oke, intermezo sebentar. Jadi agak siangan sedikit di hari itu, saat saya dan satu orang ibu sedang melalui proses bukaan yang seru, masuklah satu orang ibu lagi yang usianya masih 19 tahun. Periksa dalam mengatakan kalau ibu itu sudah bukaan 3. Bidan menyuruhnya untuk mengganti baju dan celana dengan kain, lalu memintanya untuk makan siang. Duduklah dia di dipan ketiga dan menyantap makan siangnya. Di sampingnya, tentu saja saya dan satu orang ibu lagi sedang mengontrol diri kami untuk tidak berteriak-teriak karena kesakitan hahahaha.. stase bukaan kami dekat, jadi mungkin ketegangan di wajah kami kurang lebih sama. Entah karena ibu berumur 19 tahun ini merasa terintimidasi atau apa, setelah menghabiskan makan siangnya dia pamit keluar ruangan bersalin. Ibu ini memang belum pecah ketuban, jadi masih boleh jalan ke sana ke mari untuk induksi alami. Tiga jam kemudian, ibu ini masuk lagi ke dalam ruang bersalin dengan dipaksa-paksa oleh bidan. Si ibu menolak masuk dan bilang mau pulang saja, padahal sudah bukaan lengkap. Woot? tiga jam dan dia sudah bukaan lengkap saja? saya yang sudah di sana sejak pagi masih saja di stase tengah (sekitar bukaan 5). Ibu ini ternyata ketakutan melihat saya dan satu ibu lagi kesakitan di dalam ruang bersalin, jadi saat dia keluar dia marah-marah ke suaminya sambil minta pulang naik bajaj. Marah-marahnya ibu ini juga superb, pakai hentak-hentak kaki dan memukul suaminya. Pantas saja 3 jam kemudian sudah bukaan lengkap. Bidan yang on duty saat itu kebetulan adalah bidan senior. Dia dengan sedikit galak meminta ibu ini untuk berbaring di dipan, karena anaknya sudah harus dilahirkan. Saya yang saat itu sudah mulai merasakan mulas yang masive harus menyaksikan adegan ini di depan mata saya dan mendengarkan bagaimana ibu remaja tersebut melahirkan anaknya. I just couldn’t describe it well, tapi yang pasti selama adegan drama tersebut berlangsung, mulas saya terasa lebih sakit dari sebelumnya 😦 Jadi buat kamu yang mau melahirkan di puskesmas, kemungkinan seperti ini boleh juga dipertimbangkan 😀

Lanjut ya ceritanya. Di bukaan stase pertengahan, sekitar bukaan 5 saya merasakan sensasi ingin mendorong. Tapi asisten bidan yang bertugas mendampingi saya wanti-wanti sekali pada saya untuk tidak mendorong, karena bukaan masih setengah jalan. “Kasihan bayinya bu, nanti kepalanya menjendol, belum lagi kalau jalan lahirnya meradang” begitu katanya. Waduh, saya langsung paranoid dong. Gimana deh, kan bukan saya yang mau mendorong, tapi ini emang rasanya begitu. Jadi kata ande cara menahannya adalah dengan mengatur nafas dengan baik. Lalu fokuslah saya pada pelajaran pernafasan yang pernah saya terima dari sekali-sekalinya datang ke kelas senam hamil. Apakah sensasi mendorongnya hilang? oh, tentu tidak, emakin lama malah semakin kuat. Akhirnya saya minta izin untuk duduk bersila, karena dengan begitu saya bisa sedikit terbantu menahan sensasi mendorong tersebut. Untung saja diizinkan, dan katanya malah bagus, posisi tersebut bisa membantu mempercepat proses bukaan. Setelah beberapa lama nyaman dengan posisi duduk, saya kembali diminta tidur untuk memeriksa denyut jantung bayi. Proses ini adalah proses yang paling saya benci saat itu hahaha.. Dan ketika saya membaringkan tubuh saya, tiba-tiba saja saya mau muntah. Nggak berapa lama setelah memberitahu mama mertua kalau saya mau muntah, muntah beneranlah saya. Kotorlah sekujur daster saya dengan muntah, lalu harus ganti baju dong saya. Mak, plis deh.. what next? >_<

Pertanyaannya what next ya? well, next adalah saat saya berkonsentrasi untuk menahan sensasi mendorong yang semakin lama semakin kuat, tiba-tiba saja saya malah mau buang air besar. Haduuuhh.. apa lagi deh iniii.. Saya bisikkan rasa ini ke ande, kata ande nggak apa-apa, itu biasa. Kalau mau keluar, ya dikeluarkan saja sambil tiduran itu. Well, yeah, this is disgusting and hmm embarasing, but then saya ‘buang-buang’lah di dipan itu ehehehehe.. *duh*. Malu nggak sih? hmmm.. kayaknya rasa malu udah nggak berlaku ya saat mulas begitu. Untungnya para asisten bidan itu juga kooperatif, mereka mungkin sudah pernah mengalami hal yang sama sebelumnya (atau mungkin worse), jadi dengan santainya mereka malah membersihkan kotoran saya. Masya Allah, begitu mulia deh pokoknya profesi mereka. Saya nggak berhenti mengucap maaf dan terimakasih pada mereka sampai esok harinya, saat saya sudah boleh pulang.

Oke, pukul 5 kurang 10 menit sore itu, ibu di samping saya diperiksa dalam untuk kesekian kalinya. Ibu ini entah masalahnya apa, padahal proses bukaan kami hampir bersamaan, tapi di stase akhir bukaan kok ya anaknya nggak turun-turun ke panggul. Akhirnya setelah berdiskusi dengan keluarganya, dirujuklah ibu ini ke rumah sakit. Segera setelah ibu ini keluar kamar bersalin, saya diperiksa dalam. Saat itu suami saya sudah boleh masuk untuk mendampingi, karena ruang bersalin sudah kosong. Sebelumnya, nggak boleh ada laki-laki di dalam ruangan itu, jadi yang mendampingi saya (secara bergantian adalah ande, mama mertua, dan Azizah). Pada periksa dalam ke tiga tersebut, ternyata bukaan saya sudah sempurna. “Oke ya, sudah boleh belajar mendorong” begitu kata bidan yang on duty saat itu.

HAH? belajar mendorong? what is that suppose to mean?

Saya benar-benar kebingungan mendengar kalimat bidan itu. Belajar mendorong? baru proses belajar? kenapa nggak dari kemarin-kemarin saya diajari? hahahaha… di tengah kebingungan saya itu, bidan dan para asistennya mulai sibuk di depan saya, menyiapkan proses kelahiran. Saya hanya senyum-senyum ke suami sambil terus kebingungan. “Yang, maksudnya belajar ndorong itu apa?” tanya saya. “Nggak tau, aku juga bingung” jawaban suami. Yaklhooo.. hahaha..

Oke, ternyata belajar mendorong yang dimaksud adalah sambil proses kelahiran yang sebenarnya. Saya yang sudah banyak membaca artikel tentang kelahiran di internet dan juga hasil tanya sana sini (kebanyakan tanya ke Azizah) akhirnya bisa mempraktekkan apa yang dijabarkan di artikel dan oleh Azizah tersebut. Dengan dibantu suami yang mengangkat tubuh saya saat saya mendorong, proses kelahiran Sabriyya berlangsung. Dengan 5 kali dorongan, terdengarlah suara tangis merdu itu untuk pertama kalinya. Saya menunduk untuk melihat putri saya yang cantik dibersihkan dan dipotong tali pusarnya oleh suami. Semua terasa surreal, kayak mimpi saja. Saya menoleh ke suami dan mendapatinya sedang berkaca-kaca melihat putri kami. I feel so flattered, Alhamdulillah he loves her that much. Segera setelah dibersihkan alakadarnya (tanpa dipindahkan dari dipan tempatnya dilahirkan), Sabriyya langsung ditidurkan di pelukan saya untuk proses IMD. Proses inilah yang saya tunggu-tunggu. Interaksi pertama kami di dunia. Hangat tubuh Sabriyya nggak hanya menghangatkan dada saya, tapi terus menjalar ke jantung hati saya. Semua sakit terbayar dengan sempurna. Nggak ada kata-kata yang sepadan dengan apa yang saya rasakan saat itu. Resmi sudah saya menjadi ibu, mencintai yang seperti itu baru kali itu saya rasakan, dan sampai saat ini tak pernah hilang sedikitpun.

Talia Sabriyya Ihsan, born on March 12, 2013. W: 3,1 kg H: 48 cm
Talia Sabriyya Ihsan, born on March 12, 2013. W: 3,1 kg H: 48 cm

Sabriyya putri bunda, terimakasih sudah mencintai bunda tanpa syarat apapun. Terimakasih sudah menerima bunda apa adanya. Terimakasih sudah hadir di tengah-tengah ayah dan bunda. We love you like we could never imagine before. Selamat datang di dunia, tumbuhlah menjadi anak yang Solihah, sehat, dan pintar. Berbahagialah selalu, dan jadilah anak yang menyenangkan.

Bee