Such a (not) long way

Ternyata sudah satu tahun berlalu sejak saya post foto bertiga dengan Reza dan Sabriyya yang masih di dalam perut. Sekejapan mata, tiba-tiba sudah lebaran lagi saja.

image

Happy Iedul Fitri semuanya. Semoga semua amalan di bulan Ramadhan diberikan pahala yang sesuai oleh Allah SWT. Mohon maaf lahir batin dari kami sekeluarga. Enjoy holiday 😉

Delivering Sabriyya To The World

Dalam kata lain bisa juga dibilang “melahirkan Sabriyya” hehehe..

Okay, it’s been almost 4 months since i gave birth to this little angel, dan sebelum saya lupa bagaimana proses kelahiran anak pertama saya ini, marilah kita torehkan di sini. So that later, if you read this my little solihah, Sabriyya, you can at least imagine how you brought to this world. Bunda menuliskan ini untuk kamu ya anak solihah 🙂

Hari itu, tanggal 11 Maret 2013, kandungan saya sudah berumur 39 bulan 2 hari. Sejak awal kehamilan, saya tahu saya nggak mau melahirkan anak ini lebih dari 40 minggu. Apalagi sejak kandungan memasuki trimester ke 3, perut sudah overly buncit, makan apapun rasanya nggak enak, kaki juga ikutan buncit, rasanya mau buru-buru saja melahirkan anak yang di dalam perut itu. So, pagi-pagi di hari itu (senin, 11 maret 2013), saya kirimlah bbm dan whatsapp ke groups keluarga dan teman-teman untuk mendoakan saya agar bisa melahirkan sebelum minggu ke 40 dengan lancar. Lalu, doa-doa pun berdatangan dari mereka semua dan saya sibuk mengamini dengan serius semua doa itu. Kita nggak pernah tau doa siapa yang saat itu sedang dikabulkan Allah toh? 😉

Siangnya, masih di hari itu saya merasa iseng sekali diam di rumah. Akhirnya dengan tenaga yang segitu-gitunya itu, saya bersih-bersih kamar dan mengangkat perabotan, dipindahkan ke sana ke mari. Kamar bersih, hatipun senang. Lalu terjadilah pergerakan itu di perut saya. Saya mulai merasakan ngilu-ngilu di perut bawah saya. Saya yang belum pernah merasakan kontraksi kelahiran, dan kebanyakan membaca tentang kontraksi palsu di internet, akhirnya tenang-tenang saja. Baru sekitar maghrib saya merasakan ngilu yang berbeda, namun masih belum yakin dengan apa yang saya rasakan itu. Bertanya pada mama mertua pun, katanya itu hanya kontraksi biasa. Saat saya bertanya bagaimana rasanya kontraksi tanda-tanda kelahiran itu, jawabnya hanya “Nanti juga tau” hampiiiir semua orang yang pernah melahirkan saya tanyakan pertanyaan yang sama, menjawab dengan jawaban tersebut. Okay, by the time i know how it feels, then it’s will be too late right? heleeeehhh >_<

Akhirnya, saya berusaha untuk menikmati rasa nggak enak itu. Mengobrol dengan suami sampai sekitar jam 10 malam, lalu masuk kamar berniat untuk tidur. Saat itu di kamar sedang ada mama mertua sedang pakai komputer, dan keponakan sedang enak tidur di kasur. Posisi tidurnya keponakan ini lumayan mengganggu kaki saya yang nggak bisa diselonjorin hehehe :P. Berniat untuk meminta suami untuk memindahkan keponakan ke kamarnya sendiri, duduklah saya dan memanggil mama. Saat saya akan melontarkan kalimat kedua, mengalirlah air ketuban itu seperti bendungan bocor. I cant stop it, of course hahaha… Sedikit panik saya panggil mama dan memberitahukannya kalau ketuban saya pecah. Mama langsung menghampiri dan menyuruh saya pergi ke kamar mandi. Saya panggil suami untuk mengambilkan pembalut dan celana bersih ke kamar mandi. Tak lama, saya sudah kembali rebahan di kasur dengan sudah berganti pakaian siap dilarikan ke puskesmas. Suami menyiapkan barang-barang yang memang sudah saya siapkan beberapa minggu sebelumnya untuk dibawa ke puskesmas. Sekitar jam 11 malam saya, suami, mertua, dan orang tua saya yang langsung datang dari Depok berangkat ke puskesmas Tebet.

Sampai di puskesmas saya diminta untuk langsung ke ruang persalinan untuk diperiksa dalam. Saat itu pembukaan masih tahap pembukaan 1 kecil. Bidan yang memeriksa saya bilang mereka akan tunggu sampai jam 4 pagi, jika bukaan belum juga maju saya akan diberikan obat induksi untuk memacu bukaan. Saya diperbolehkan untuk menunggu di kamar pasien, di sana ande saya langsung mengakupuntur saya untuk merangsang bukaan. Saya sempat merasakan mulas-mulas kecil, namun nggak terlalu sakit. Saya bahkan sempat tidur sampai sekitar jam 6 pagi.

Esoknya, sekitar jam setengah delapan pagi, mama meminta saya untuk mandi dan mengganti baju lalu langsung ke ruang persalinan. Waktu pemberian obat induksi diundur karena pagi itu ruang persalinan penuh dengan ibu yang melahirkan. Jam 8 pagi itu saya berbaring di ruang persalinan dengan obat induksi diinfuskan di tangan. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, akhirnya merasakan juga yang namanya diinfus hehehe 😀 Beberapa saat setelah infus dipasang, mulailah saya merasakan yang namanya mulas karena kontraksi. Beberapa menit sekali para asisten bidan yang adalah anak-anak murid sekolah kebidanan yang sedang PKL yang jumlahnya buanyak bener itu memeriksa denyut jantung bayi saya. Kalau di rumah sakit, pemantauan denyut jantung ini sudah dilakukan secara modern, yang muncul di monitor itu lho. Kalau di puskesmas, proses ini dilakukan secara manual, jadi posisi saya yang sedang mulas-mulas itu harus telentang sempurna agar detak jantung bayi terdeteksi secara akurat. Saat bukaan masih tahap awal sih masih oke-oke saja ya pelaksanaan proses itu. Tapi di bukaan tahap pertengahan dan akhir, Masya ALLAH.. setiap terlentang saya malah maunya mendorong, padahal belum waktunya 😦

Saya penakut, penakut akut. Sama kucing saja saya takut, sama dokter gigi apalagi. Tapi entah sejak pecah ketuban sampai akhirnya mulas-mulas di kamar bersalin, rasa takut itu hilang sama sekali. Yang ada hanya perasaan excited, sebentar lagi saya akan memeluk anak saya, di dalam pelukan sebenarnya bukan hanya di dalam perut. Sebentar lagi saya bisa melihat seperti apa wajahnya, seperti apa matanya, seperti apa parasnya. Stase awal bukaan saya bahkan masih bisa tertawa-tawa, para siswa PKL pun heran melihat saya semangat sekali seperti itu. Oh iya, salah satu dari mereka bilang kalau ada sensasi ingin buang air kecil, sebaiknya dibuangkan saja ke kamar mandi. Karena kandung kemih yang penuh akan menghambat jalan lahir yang akan ditempuh oleh anak. Sejak mendengar itu, setiap ada sensasi itu saya langsung turun dari dipan dan berjalan ke kamar mandi. Ibu-ibu lainnya yang sedang melewati fase bukaan seperti saya pun terheran-heran melihatnya. Oh iya, satu hal lagi yang harus dilewati jika melahirkan di puskesmas, kita akan berada dalam satu kamar bersalin dengan dua orang ibu lainnya, tanpa ada sekat satupun. Jadi nikmatilah deh itu wajah-wajah kesakitan ibu-ibu tersebut saat kamu juga kesakitan hahahaha… beruntung yang bareng dengan saya saat itu nggak ada yang melewatkan proses bukaannya dengan teriak-teriak histeris. Tapi tetap dong ada yang drama.

Oke, intermezo sebentar. Jadi agak siangan sedikit di hari itu, saat saya dan satu orang ibu sedang melalui proses bukaan yang seru, masuklah satu orang ibu lagi yang usianya masih 19 tahun. Periksa dalam mengatakan kalau ibu itu sudah bukaan 3. Bidan menyuruhnya untuk mengganti baju dan celana dengan kain, lalu memintanya untuk makan siang. Duduklah dia di dipan ketiga dan menyantap makan siangnya. Di sampingnya, tentu saja saya dan satu orang ibu lagi sedang mengontrol diri kami untuk tidak berteriak-teriak karena kesakitan hahahaha.. stase bukaan kami dekat, jadi mungkin ketegangan di wajah kami kurang lebih sama. Entah karena ibu berumur 19 tahun ini merasa terintimidasi atau apa, setelah menghabiskan makan siangnya dia pamit keluar ruangan bersalin. Ibu ini memang belum pecah ketuban, jadi masih boleh jalan ke sana ke mari untuk induksi alami. Tiga jam kemudian, ibu ini masuk lagi ke dalam ruang bersalin dengan dipaksa-paksa oleh bidan. Si ibu menolak masuk dan bilang mau pulang saja, padahal sudah bukaan lengkap. Woot? tiga jam dan dia sudah bukaan lengkap saja? saya yang sudah di sana sejak pagi masih saja di stase tengah (sekitar bukaan 5). Ibu ini ternyata ketakutan melihat saya dan satu ibu lagi kesakitan di dalam ruang bersalin, jadi saat dia keluar dia marah-marah ke suaminya sambil minta pulang naik bajaj. Marah-marahnya ibu ini juga superb, pakai hentak-hentak kaki dan memukul suaminya. Pantas saja 3 jam kemudian sudah bukaan lengkap. Bidan yang on duty saat itu kebetulan adalah bidan senior. Dia dengan sedikit galak meminta ibu ini untuk berbaring di dipan, karena anaknya sudah harus dilahirkan. Saya yang saat itu sudah mulai merasakan mulas yang masive harus menyaksikan adegan ini di depan mata saya dan mendengarkan bagaimana ibu remaja tersebut melahirkan anaknya. I just couldn’t describe it well, tapi yang pasti selama adegan drama tersebut berlangsung, mulas saya terasa lebih sakit dari sebelumnya 😦 Jadi buat kamu yang mau melahirkan di puskesmas, kemungkinan seperti ini boleh juga dipertimbangkan 😀

Lanjut ya ceritanya. Di bukaan stase pertengahan, sekitar bukaan 5 saya merasakan sensasi ingin mendorong. Tapi asisten bidan yang bertugas mendampingi saya wanti-wanti sekali pada saya untuk tidak mendorong, karena bukaan masih setengah jalan. “Kasihan bayinya bu, nanti kepalanya menjendol, belum lagi kalau jalan lahirnya meradang” begitu katanya. Waduh, saya langsung paranoid dong. Gimana deh, kan bukan saya yang mau mendorong, tapi ini emang rasanya begitu. Jadi kata ande cara menahannya adalah dengan mengatur nafas dengan baik. Lalu fokuslah saya pada pelajaran pernafasan yang pernah saya terima dari sekali-sekalinya datang ke kelas senam hamil. Apakah sensasi mendorongnya hilang? oh, tentu tidak, emakin lama malah semakin kuat. Akhirnya saya minta izin untuk duduk bersila, karena dengan begitu saya bisa sedikit terbantu menahan sensasi mendorong tersebut. Untung saja diizinkan, dan katanya malah bagus, posisi tersebut bisa membantu mempercepat proses bukaan. Setelah beberapa lama nyaman dengan posisi duduk, saya kembali diminta tidur untuk memeriksa denyut jantung bayi. Proses ini adalah proses yang paling saya benci saat itu hahaha.. Dan ketika saya membaringkan tubuh saya, tiba-tiba saja saya mau muntah. Nggak berapa lama setelah memberitahu mama mertua kalau saya mau muntah, muntah beneranlah saya. Kotorlah sekujur daster saya dengan muntah, lalu harus ganti baju dong saya. Mak, plis deh.. what next? >_<

Pertanyaannya what next ya? well, next adalah saat saya berkonsentrasi untuk menahan sensasi mendorong yang semakin lama semakin kuat, tiba-tiba saja saya malah mau buang air besar. Haduuuhh.. apa lagi deh iniii.. Saya bisikkan rasa ini ke ande, kata ande nggak apa-apa, itu biasa. Kalau mau keluar, ya dikeluarkan saja sambil tiduran itu. Well, yeah, this is disgusting and hmm embarasing, but then saya ‘buang-buang’lah di dipan itu ehehehehe.. *duh*. Malu nggak sih? hmmm.. kayaknya rasa malu udah nggak berlaku ya saat mulas begitu. Untungnya para asisten bidan itu juga kooperatif, mereka mungkin sudah pernah mengalami hal yang sama sebelumnya (atau mungkin worse), jadi dengan santainya mereka malah membersihkan kotoran saya. Masya Allah, begitu mulia deh pokoknya profesi mereka. Saya nggak berhenti mengucap maaf dan terimakasih pada mereka sampai esok harinya, saat saya sudah boleh pulang.

Oke, pukul 5 kurang 10 menit sore itu, ibu di samping saya diperiksa dalam untuk kesekian kalinya. Ibu ini entah masalahnya apa, padahal proses bukaan kami hampir bersamaan, tapi di stase akhir bukaan kok ya anaknya nggak turun-turun ke panggul. Akhirnya setelah berdiskusi dengan keluarganya, dirujuklah ibu ini ke rumah sakit. Segera setelah ibu ini keluar kamar bersalin, saya diperiksa dalam. Saat itu suami saya sudah boleh masuk untuk mendampingi, karena ruang bersalin sudah kosong. Sebelumnya, nggak boleh ada laki-laki di dalam ruangan itu, jadi yang mendampingi saya (secara bergantian adalah ande, mama mertua, dan Azizah). Pada periksa dalam ke tiga tersebut, ternyata bukaan saya sudah sempurna. “Oke ya, sudah boleh belajar mendorong” begitu kata bidan yang on duty saat itu.

HAH? belajar mendorong? what is that suppose to mean?

Saya benar-benar kebingungan mendengar kalimat bidan itu. Belajar mendorong? baru proses belajar? kenapa nggak dari kemarin-kemarin saya diajari? hahahaha… di tengah kebingungan saya itu, bidan dan para asistennya mulai sibuk di depan saya, menyiapkan proses kelahiran. Saya hanya senyum-senyum ke suami sambil terus kebingungan. “Yang, maksudnya belajar ndorong itu apa?” tanya saya. “Nggak tau, aku juga bingung” jawaban suami. Yaklhooo.. hahaha..

Oke, ternyata belajar mendorong yang dimaksud adalah sambil proses kelahiran yang sebenarnya. Saya yang sudah banyak membaca artikel tentang kelahiran di internet dan juga hasil tanya sana sini (kebanyakan tanya ke Azizah) akhirnya bisa mempraktekkan apa yang dijabarkan di artikel dan oleh Azizah tersebut. Dengan dibantu suami yang mengangkat tubuh saya saat saya mendorong, proses kelahiran Sabriyya berlangsung. Dengan 5 kali dorongan, terdengarlah suara tangis merdu itu untuk pertama kalinya. Saya menunduk untuk melihat putri saya yang cantik dibersihkan dan dipotong tali pusarnya oleh suami. Semua terasa surreal, kayak mimpi saja. Saya menoleh ke suami dan mendapatinya sedang berkaca-kaca melihat putri kami. I feel so flattered, Alhamdulillah he loves her that much. Segera setelah dibersihkan alakadarnya (tanpa dipindahkan dari dipan tempatnya dilahirkan), Sabriyya langsung ditidurkan di pelukan saya untuk proses IMD. Proses inilah yang saya tunggu-tunggu. Interaksi pertama kami di dunia. Hangat tubuh Sabriyya nggak hanya menghangatkan dada saya, tapi terus menjalar ke jantung hati saya. Semua sakit terbayar dengan sempurna. Nggak ada kata-kata yang sepadan dengan apa yang saya rasakan saat itu. Resmi sudah saya menjadi ibu, mencintai yang seperti itu baru kali itu saya rasakan, dan sampai saat ini tak pernah hilang sedikitpun.

Talia Sabriyya Ihsan, born on March 12, 2013. W: 3,1 kg H: 48 cm
Talia Sabriyya Ihsan, born on March 12, 2013. W: 3,1 kg H: 48 cm

Sabriyya putri bunda, terimakasih sudah mencintai bunda tanpa syarat apapun. Terimakasih sudah menerima bunda apa adanya. Terimakasih sudah hadir di tengah-tengah ayah dan bunda. We love you like we could never imagine before. Selamat datang di dunia, tumbuhlah menjadi anak yang Solihah, sehat, dan pintar. Berbahagialah selalu, dan jadilah anak yang menyenangkan.

Bee

Terimakasih

Akad nikah

Saya terima nikah dan kawinnya Sitty Asiah binti Darmadi dengan mas kawin yang tersebut, tunai. -03032012-

Setahun yang lalu, tepatnya sekitar pukul 4 sore, lafal itu diucapkan lantang oleh Reza di hadapan bapak saya, penghulu dan dua orang saksi, juga tentunya sekian banyak tamu yang datang saat itu. Saya, seperti terlihat di foto menyimak dari sisi kanan. Suara Reza lantang sekali saat itu, membuat saya dan adik saya Azizah sedikit tersentak kaget. Tak lama kemudian, tiba-tiba saja semua orang yang ada di meja kecil itu menggumamkan kata “sah” secara bergantian. Lalu Bapak Penghulu mengucapkan Hamdalah dan doa singkat. Resmilah saya dan Reza menjadi suami istri. Selanjutnya berlangsung seperti akad-akad pada umumnya, penandatanganan buku nikah dan beberapa surat lainnya. Sejujurnya perasaan saya saat itu biasa saja, bahagia pasti, tapi tidak terlalu membuncah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Bahkan saat prosesi sungkeman dengan orang tua pun, saya hanya sedikit menitikkan air mata saat memeluk Ande. Semuanya masih terasa seperti mimpi, dan tubuh saya merasa kesulitan untuk menyerap apa yang sedang terjadi.

Namun setelah sekian lama berlalu, saya mengambil dokumentasi dari Nendia (vendor kami saat itu) dan menonton kembali video prosesi akad tadi, tanpa sadar air mata saya menggenang di pelupuk. Saya kembali mendengar betapa lantangnya suami saya mengucap kalimat akad itu. Sangat tergambar jelas di sana kesungguhan hatinya untuk meminang saya dan meletakkan beban tanggung jawab sisa hidup saya ke pundaknya. Ia yang selama ini hidup dengan bebas, terkesan terlalu menikmati masa sendirinya, bahkan keluarga dan teman-teman dekatnya pun menilainya sebagai laki-laki yang susah diajak serius, dengan tegas menyatakan bersedia menanggung semua tanggung jawab hidup saya yang selama ini berada di pundak bapak. Sejak hari itu sampai dengan hari ini, ia terus menunjukkan keseriusannya dan terus berjuang untuk keluarga kecil kami. I feel flattered and blessed.

Sejak kecil dulu, saya tidak pernah tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Saya selalu melihat diri saya sebagai gadis yang gemuk, jelek, tidak pintar, aneh, dan susah bergaul. Jangankan laki-laki, menarik perhatian teman biasa saja saya merasa kesulitan. Saya selalu merasa apapun yang saya lakukan terlihat tidak pantas dan buruk. I was really strugling, especially on high school. Begitu banyak pengalaman pahit saya rasakan yang membuat saya semakin membenci diri saya sendiri. Saat itu saya memilih untuk percaya, bahwa selamanya tak akan pernah merasakan kasih sayang, atau biasa disebut cinta. Nobody will ever love me the way i always dream, nobody will ever take me seriously, dan saya akan berakhir dengan pernikahan yang tidak saya inginkan. Saya akan berakhir menikahi orang yang terpaksa saya nikahi karena usia yang sudah tidak lagi muda. Saat itu, di dalam masjid di daerah Kalibata itu, semua prasangka saya terpatahkan.

Saya sangat percaya dengan kekuatan doa. Saya percaya Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Titik pertemuan saya dengan Reza memang merupakan titik kulminasi dalam hidup saya, di mana menyerah sudah hampir ada di genggaman. Saat itu ketakutan saya akan kesendirian sangat mempengaruhi keputusan-keputusan yang saya buat, and believe me i’ve been making loads of stupid desicion at that time. Akal sehat saya tahu semua yang saya lakukan saat itu adalah bodoh dan akan menyakiti diri saya sendiri, namun kepengecutan saya sering kali menang. Pertemuan saya dengan Reza membuat semua rasa takut itu perlahan hilang. Saya berani mengambil keputusan yang selama ini tersimpan di relung akal sehat saya. Dan Allah mengabulkan satu doa saya saat itu, untuk tidak lagi membuat saya kesepian. Untuk tidak lagi membuat saya sendirian. Hidup saya, penilaian saya terhadap harga diri saya sendiri perlahan berubah. Saya menjadi diri saya yang sekarang.

Setiap hari saya berusaha untuk tidak pernah lupa mengucapkan rasa syukur dan terimakasih saya kepada Allah atas semua cerita yang IA tuliskan di buku kehidupan saya. Every bits of it. Saya juga berusaha untuk tidak pernah lupa mengucapkan terimakasih kepada suami saya, meskipun ia selalu bertanya “Terimakasih untuk apa?”. Karena hidup yang saya jalani saat ini pernah menjadi angan-angan belaka. Karena sampai hari inipun saya tidak pernah lupa perasaan takut dan hampir menyerah itu. Tentu saja saya bersyukur, tentu saja saya berterimakasih.

Happy 1st wedding anniversary sayangku. Terimakasih untuk semuanya 🙂

New Year New Lessons

Januari belum juga berakhir, tapi kejadian-kejadian penting penuh pembelajaran udah bertebaran aja di mana-mana 😀

Sejak akhir tahun lalu kami sekeluarga sudah mempersiapkan satu kejadian penting yang akan terjadi di awal tahun ini, lahirnya satu anggota keluarga baru dari rahim kakak ipar saya.  Jadilah sejak minggu-minggu pertama Januari, mbak Nia menetap di Rasamala. Saya kebagian tugas menemani mbak Nia jalan-jalan di mall untuk memperlancar pembukaan. Tapi karena cuaca yang kurang mendukung, baru satu hari saya menemani mbak Nia menyusuri Kota Kasablanka, saya malah ambruk. Beruntung masih ada stock herba dan kopi Radix di rumah Rasamala, jadilah saya minum herba-herba itu sesering mungkin. I can feel my body fighting back the viruses, walhasil saya tetap kena flu, tapi nggak separah yang kemungkinan bisa terjadi. I love herba 😉

Setelah mules-mules selama kurang lebih satu minggu, tanggal 13 Januari 2013 kemarin, akhirnya lahirlah si mungil yang ditunggu-tunggu. Kairi Fairuzia lahir dengan proses persalinan normal dengan berat 3.3 kg. Resmi sudah Sora Willens menjadi kakak. Look at this picture, can you see how proud Sora is?

Image
Sora & Kairi

Proses kelahiran Kairi dan kehadiran Kairi di rumah menjadi salah satu pelajaran berharga bagi saya yang insya ALLAH juga akan melahirkan anak pertama kami di bulan Maret nanti. Newborn baby itu kecil banget yaaa.. gendongnya serba salah sendiri jadinya, takut kenapa-kenapa, apalagi mandiinya, haduuuh ngeliat Mama mandiin Kairi aja rasanya udah nervous sendiri hahaha.. but Insya ALLAH i will learn fast, amin.

Another important lesson, sebenarnya didapat sebelum kelahiran Kairi. Remember i wrote about moving to the apartment in Ancol in my last post? Memiliki tempat tinggal sendiri dan menjadi mandiri adalah impian saya bahkan sejak sebelum saya menikah. Saya, entah kenapa nggak pernah berjodoh dengan pengalaman yang satu itu. Dulu sempat ingin sekali kost di dekat kampus, walaupun rumah pun terbilang kepleset nyampe dari kampus. Tentu saja niat itu ditolak habis-habisan. Waktu kerja sempat juga ingin mengambil salah satu kamar kost yang kosong di samping kamar kost rekan kerja, tapi kemudian saya malah disuruh pulang pergi naik motor. Sekarang saat sudah berkeluarga dan seharusnya kesempatan tinggal sendiri dan mandiri menjadi lebih besar, kok ya ndilalah malah susah juga. Padahal setelah menulis post ini sepertinya ALLAH memberikan jalan untuk bisa menyewa apartemen di daerah Ancol dengan harga yang jauh lebih rendah dari pasaran. Wyna salah satu teman mengajar dulu menulis komentar yang membuat saya deg-degan luar biasa pada post tersebut. Setelah di-follow up, sampai kemudian survei ke lokasi, bayangan hidup sendiri seperti sudah menari-nari di hadapan. Tinggal satu langkah lagi, saya bisa sampai ke impian tersebut. Tapi sayang, sepertinya ALLAH memang belum memberi izin. Setelah memohon ketenangan untuk berfikir, setelah sebelumnya sempat sangat emosional sampai memohon-mohon pada suami untuk memberi kesempatan itu pada saya, akhirnya ALLAH seperti memberikan keikhlasan kepada saya untuk bersabar lagi. Mempertimbangkan kondisi di mana saya dan Reza masih membutuhkan banyak biaya untuk kelahiran anak pertama kami dan sebagai modal usaha baru kami, ALLAH kemudian memberikan rasa lega di dalam hati saya saat mengatakan kalimat sakti itu pada suami saya.

Sayang, apartemennya nggak usah kita ambil dulu yah. Uangnya masih perlu ditabung dulu.

Tentu saja air mata sempat mengambang di pelupuk mata saat akhirnya mengucap kalimat itu. Tapi di dalam hati ini saya yakin ALLAH akan memberikan kesempatan itu pada saat yang tepat nanti. Dan ketika waktu itu datang, segala sesuatunya pasti akan berjalan dengan lancar. Amin.

Pelajaran berharga selanjutnya berhubungan dengan bisnis baru kami. Sejak awal tahun ini, kami Insya ALLAH sudah mulai membuka booth ayam A’baik kami.

Image
Ayam Goreng Organik A’baik

Dibuka di depan Fire Net (warnet milik adik ipar) di daerah Pondok Kelapa. Sebenarnya niat untuk membuka usaha ini sudah tercetus dari pertengahan tahun lalu. Awalnya mau dibuka di Depok, tapi rupanya ALLAH memberikan jalannya untuk dibuka di daerah Pondok Kelapa. Saya selama ini nggak pernah membayangkan memiliki usaha sendiri, nggak pernah berani membayangkan sebenarnya, mengingat kepercayaan diri saya di bidang ini terbilang kecil. I’d rather work for a company and get paid every single month than have to maintain my own bussines. Pengecut sebenarnya, takut malah jadinya rugi bandar hahaha.. Tapi karena sekarang sudah ada suami yang semangat wiraswasta-nya tinggi, dan ande yang juga kasih semangat, akhirnya dengan modal nekat dibelilah franchaise ayam ini.

Belum sebulan kami mulai usaha ini, weekend kemarin kami sudah diberikan tantangan. Alkisah stock ayam di booth kami semakin hari semakin menipis. Alhamdulillah, ini menandakan penjualan yang berjalan dengan lancar. Setelah pesan di pemasok yang biasanya, ternyata mereka juga sedang kehabisan stock. HALAH. Dan nggak mungkin juga kami menunggu stock di pemasok tersebut datang, karena persediaan sudah benar-benar menipis. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil stock ayam dari daerah Bekasi Utara. Sejak pagi saya menghubungi bapak pemasok dari Bekasi tapi nggak juga dapat jawaban. Dengan nekatnya, saya dan Reza meminjam mobil Mama pergi ke Bekasi Utara. Hanya berbekal google Maps dan alamat yang diberikan sebelumnya, sambil terus berusaha menghubungi bapak Bekasi. Alhamdulillah perjalanan kami terbilang lancar, tapi sampai lokasi kami malah dihadapkan dengan satu fakta bahwa daerah tempat tinggal bapak Bekasi terkena banjir sampai setinggi lutut. Reza nekat saja melewati banjir itu, Alhamdulillah ALLAH masih melindungi kami dari bencana mati mesin 😀

Tapi rupanya ALLAH masih belum memberikan kami kesempatan untuk bernafas lega. Perjalanan pulang menuju Pondok Kelapa yang sama-sama belum pernah kami tempuh sebelumnya menanti di hadapan. Hape samsung saya dan Reza sudah sama-sama habis baterai. Akhirnya mengandalkan google maps pada blackberry saya. Real time nya google maps di Blackberry yang nggak secanggih Samsung membuat kami kebingungan saat berhadapan dengan salah satu pertigaan. Peta di tangan saya mengatakan kami masih harus lurus, tapi jalan di hadapan sudah bercabang-cabang. Pengambilan keputusan yang terbilang terlambat membuat Reza harus melakukan manuver belok kanan tajam, lalu DUAR! ban belakang sebelah kanan menabrak separator. Mobil mulai terasa oleng, benar saja setelah diperiksa ternyata ban belakang sebelah kanan kempes sekempes-kempesnya. Situasinya saat itu sedang di tengah gerimis yang sudah turun sejak kami beranjak dari Bekasi Utara. Jalanan sudah basah dan licin, udara pun sudah terasa dingin, sedangkan bengkel tak terlihat di manapun. Akhirnya diambillah keputusan untuk mengganti ban tersebut dengan ban serep yang ada.

ayah Reza is doing his best
ayah Reza is doing his best

Di tengah hujan yang semakin deras itu, Reza mengganti sendiri ban yang bocor itu dengan ban serep. Saya sempat kebagian tugas untuk memayungi Reza sebelum akhirnya disuruh menunggu di dalam mobil saja karena hujan turun semakin deras. Saya sebenarnya sangat ingin menemani Reza di luar sana, tapi mengingat sedang mengandung, rasanya resiko sakit setelahnya malah nanti akan membuat Reza menjadi semakin repot. Akhirnya saya memperhatikan saja perjuangan suami dari dalam mobil sambil terus berdoa agar tak ada orang yang berniat jahat menghampiri kami, dan agar setelah ini Reza nggak tambah sakit, karena sebenarnya hari itu ia sedang menjalani sick leave karena gejala typhus. Sudah berulang kali kisah ini saya ceritakan pada keluarga di Rasamala dan Depok, tapi rasanya tak cukup menggambarkan bagaimana terharu dan bangganya saya pada suami saya saat itu. At times like this, being husband and wife feels real.

Setelah ban selesai diganti, kami melanjutkan perjalanan menuju Pondok Kelapa. Reza sempat membahas tentang laporan keuangan dengan dua pegawai kami di sana. Akhirnya sekitar jam 7 malam kami bertolak ke Tebet untuk menjemput Mama Yvonne yang sedang menemani mbak Nia dan adik Kairi. Di perjalanan pulang ini pun kami kembali berhadapan dengan satu cobaan. Kami sempat dibuang ke Cililitan karena ada luapan air yang datang di daerah setelah Pasar Gembrong. Alhamdulillah saat kami tiba di jalan itu, air masih belum tinggi. Reza nekat saja melewati luapan air itu, Alhamdulillah kami aman sampai di Puskesmas Tebet.

Hufff.. what a day. Ternyata hari itu juga merupakan hari yang berat bagi seluruh bagian Jakarta. Hujan yang nggak juga reda sampai keesokan harinya membuat Jakarta tergenang air, sampai bunderan HI pun terlihat seperti banjir susu coklat. Banyak foto daerah-daerah yang kebanjiran beredar di media social. Saya pun semakin bersyukur karena apa yang kami alami saat itu masih terbilang ringan. ALLAH surely wants to show us HIS blessings despite all of those trouble.

Selama sehari itu saya nggak merasa over worried sama sekali, knowing that i have Reza on my side, i know everything will be okay. Dan kalaupun nggak, setidaknya saya mengalaminya bersama Reza. Maybe this is what they call love 🙂

Bee

On three two one, it’s 2013!!

Bismillah, Happy new year all 🙂

Rasanya belum lama deh nulis Review tahun 2011, kok sekarang sudah awal tahun 2013 aja. Lots of HUGE things happened last year and most of it was always been a resolutions for sooo many years 😀

Firstly, tahun 2012 dibuka dengan salah satu milestone yang selalu menjadi resolusi akhir tahun sejak beberapa tahun sebelumnya. I am getting married. Tepatnya tanggal 3 Maret 2012 kemarin, Alhamdulillah saya dan Reza resmi sudah menjadi sepasang suami istri. The event was very beautiful, everything went really well. Meskipun rombongan saya sempat telat sampai di lokasi akad, dan keduluan sama rombongan keluarga Reza. Hampiiiir saja gagal diumpetin di belakang mimbar masjid, tapi untungnya banyak yang kooperatif, jadinya Reza berhasil nggak lihat saya dulu sampai waktunya pembacaan akad 😀

03.03.2012
03.03.2012

I was really nervous that time, moment di saat keluar dari persembunyian, dan melihat Reza, Bapak, penghulu, dan dua saksi di meja kecil itu rasanya nggak bisa hilang dari memori. Apalagi saat dengan lantangnya Reza menjawab akad nikah yang dihaturkan bapak padanya. Saya sempat kaget juga mendengar betapa Reza rasanya seperti berteriak tegas, mengatakan “Saya terima nikah dan kawinnya Sitty Asiah binti Darmadi dengan mas kawin yang tersebut tunai!”. Itulah pernyataan cinta paling indah yang pernah saya dengar selama hidup. Terimakasih sayangku, terimakasih karena sudah bersedia menjadi Imamku 🙂

Acara resepsi juga berlangsung lancar, saya bahagia banget lihat banyak teman-teman yang meluangkan waktu untuk datang. Hermesian bahkan sempat sumbang suara menyanyikan lagu Satu Dalam Sejuta Hasta bareng-bareng. Murid-murid SIF Al Fikri juga banyak yang datang, i was really surprised seeing them, i wanted to just hug them one by one. One of the best moment in life banget deh pokoknya. Start of my new beginning 😀

USG Pertama

After those firstly, came another HUGE news. I am pregnant. Di awal bulan Juli akhirnya muncullah dua garis di dua test kehamilan yang saya ambil. Nggak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana campur aduknya perasaan saya saat itu. Senang tentu saja, tapi sekaligus takut dan kebingungan hahaha.. I was about to become a mom, ada bibit manusia baru yang tumbuh di dalam rahim saya. Akhirnya sering sekali tanya dan baca sana sini tentang kehamilan ini. Hari ini kehamilan saya sudah memasuki trimester akhir. Insya Allah bulan Maret tahun ini akan hadir anak pertama saya dan Reza di rumah tangga kami. Banyak hal saya lalui berkaitan dengan kehamilan ini, dari mabuk berat di trimester pertama sampai makan apapun nggak selera. Sampai akhirnya menggila di trimester kedua sampai berat badan sempat naik drastis dan dibilang kegemukan sama bidan dari Puskesmas Tebet. Lalu kemarin waktu terakhir kali check up, detak jantung baby sempat mencapai 170/menit (normalnya max 160/menit). Saya dinyatakan animea sedangkan tekanan darah terhitung tinggi. Wuah.. panik luar biasa deh saat itu. Minta maaf beeerkali-kali sama anak dan suami, akhirnya sejak saat itu rajin sekali minum vitamin dan kali ini minumnya lebih lengkap dari biasanya. Haha.. balada bunda malas minum obat 😀

Dua kejadian penting itu ditutup dengan resign nya saya dari pekerjaan yang sudah saya tekuni selama dua tahun terakhir. I am leaving my children at school, hiks 😦 Akhirnya resmi menjadi a stay at home housewife lah saya. Dan dengan diterimanya Reza di kantor barunya, kami juga pindah domisili ke Rasamala.

Well, nggak begitu banyak yang bisa saya ceritakan tentang tahun 2012. But yet satu tahun ke belakang merupakan satu tahun yang sangat berkesan bagi kehidupan saya. Begitu banyak rencana untuk tahun 2013 ini, semoga Allah selalu berikan jalan yang terbaik untuk saya dan keluarga kecil saya.

Di tahun 2013 nanti Insya Allah saya dan Reza akan…

  1. Pindah ke apartemen kecil di daerah Ancol, membangun keluarga kecil kami. Thanks ayah for the opportunity, Bismillah we can do this 🙂
  2. Melahirkan anak pertama kami, Insya Allah di Puskesmas Tebet. Semoga nggak ada aral melintang dan saya bisa melahirkan dengan proses normal dan lancar. Amin Yaa Rabb.
  3. Membuka bisnis kuliner kami yang pertama, Ayam Abaik (ayam organic, Halalan Thayiban) di Pondok Kelapa. Semoga Allah membukakan pintu Rezeki untuk usaha baru kami ini. Amin.
  4. Untuk saya, semoga di tahun ini saya bisa menulis kembali dan menghasilkan karya yang real dan jual-able. Amin 😀
  5. Insya Allah akan pindah ke rumah BSD ketika pembangunannya sudah selesai. Semoga bisa menemukan jalan keluar untuk transportasi Reza menuju tempat kerjanya di Tanjung Priuk, amin.
  6. Semoga saya bisa membahagiakan Ande dan Bapak, apapun itu caranya.

After all, saya berharap kehidupan di tahun 2013 ini bisa lebih baik dan saya bisa membesarkan anak kami dengan baik dan adil. Amin yaa Rabb.

Bee

Out of The Comfort Zone

Kegiatan terbaru belakangan ini adalah browsing harga sewa apartemen. Oh Tuhanku.. mengapa susah banget cari apartemen yang harga sewanya nggak lebih dari 20 juta setahun di daerah dekat ancol?

Pernah dengar istilah daerah strategis, Asiah? NAH! itu kira-kira jawabannya -kata Tuhan-

Belakangan ini saya dan Reza mulai merasa perlu untuk cari-cari tempat tinggal yang dekat dengan lokasi kerja Reza. Karena biaya dan tenaga juga waktu yang harus dihabiskan di jalan (oleh Reza) mulai terasa berlebihan. Berangkat dari rumah jam tujuh pagi dan sampai rumah kembali sekitar jam 8 malam, bisa dibilang waktu efektif saya bertemu dengan Reza ya cuma 2-3 jam. Ditambah lagi hari Sabtu, Reza masih harus masuk kantor sampai jam 1 siang (teorinya, prakteknya tetap saja pulang jam 2, sampai rumah sekitar jam 3). That’s almost half of our weekend time spent on work. Bagaimana nanti quality time Reza dengan anak kami? Huff.. growing up is such a hard work :/

Setelah menikah ini, banyak sekali hal-hal yang harus saya lewati dengan keluar dari zona nyaman. Resign dari pekerjaan dan jadi ibu rumah tangga sepenuhnya adalah awal dari semuanya. Banyak hal berjalan tidak sesuai dengan rencana awal kami. Sejak memutuskan menikah, saya sangat ingin tetap tinggal bersama orang tua saya di Depok. Sebelum nantinya kami tinggal di rumah kami sendiri. Tapi Reza mendapat pekerjaan yang berlokasi di ujung dunia dan mengharuskan kami pindah domisili ke rumah mertua (saya).

Sejak mengetahui kalau saya hamil, deep down inisde, i know i want to do my delivery in a hospital, in Depok. Tapi sekarang atas permintaan Reza (dan karena Mama mertua dan kakak ipar sangat akrab dengan puskesmas) saya harus kembali menelan keinginan itu dengan sedikit demi sedikit membuka pikiran saya untuk mulai periksa di puskesmas Tebet. Okay, i am a little bit sceptical about this puskesmas thingy. Seperti yang saya tulis di post sebelumnya, sejak kecil dulu saya jarang sekali pergi ke rumah sakit untuk periksa-periksa kalau sakit. Kecuali sakit gigi, dan karena pengalaman waktu kecil dengan dokter gigi yang nggak terlalu bagus, sampai sekarang saya selalu benci dokter gigi. I’d rather having my teeth rotten than have to go to the dentist. Iya, ho oh, segitunya.

DAN saya akui saya adalah orang yang sangat pilih-pilih. Sering merasa nggak nyaman dengan situasi-situasi tertentu. Sejak dulu bayangan saya tentang puskesmas (dan kantor-kantor layanan masyarakat lainnya) adalah kotor, kuno, tidak terawat dan terlalu banyak orang. Ini mungkin bisa dibilang salah satu dampak dari ke-belum percaya-nya saya terhadap pemerintah. I always thought people in the government are those who eats people’s money for their own sake. Mereka nggak mikirin rakyat sama sekali, jadi uang negara yang seharusnya dikembalikan ke rakyat lewat layanan-layanan yang memadai, akhirnya berbelok untuk kepentingan pribadi mereka saja. Saya masih belum percaya kalau puskesmas memiliki layanan dan fasilitas yang cukup memadai untuk kesehatan rakyat. Biaya pendaftarannya saja cuma 2000 rupiah. Mereka bisa saja kan dengan mudahnya berpikir “These people don’t pay us that much to give them the best effort” iya, saya sempat berpikir demikian. Sampai kemudian takdir mempertemukan saya dengan Reza dan mama Yvonne yang nggak lain adalah salah satu dokter di puskesmas Setiabudi. Keluarga suami saya ini mengubah pandangan saya terhadap puskesmas. Setelah beberapa kali diajak berkunjung ke puskesmas mama saat sakit, bahkan kemarin saya sempat tambal gigi di sana, pendapat saya tentang puskesmas mulai berubah. Tempat ini nggak kotor-kotor amat kok. Dan pelayanannya terbilang bisa bersaing dengan rumah sakit swasta. Tempat ini penuh dengan orang-orang yang berdedikasi tinggi terhadap kewajiban mereka. Well at least itu yang saya tahu berdasarkan cerita Mama Yvonne. No wonder sejak pertama kali saya mengungkapkan keberatan saya untuk melahirkan di puskesmas, Mama dan Reza selalu berkomentar “Emang bayangan Asiah sama Puskesmas itu kayak apa sih?”.

Kemarin, untuk pertama kalinya saya ikut kakak ipar (yang sedang hamil anak keduanya) periksa di Puskesmas Tebet. Di tempat ini Insya Allah saya akan percayakan proses kelahiran anak pertama saya nanti. Dari hari ke hari saya semakin yakin dengan keputusan ini. Saat periksa kemarin, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan bidan Dahlia. Beliau yang membantu kakak ipar saya melahirkan anak pertamanya, Sora. Meskipun metode yang mereka pakai untuk memeriksa keadaan janin saya masih sangat jauh dari kata modern, mereka menggunakan metode meraba dan memijat perut untuk mengetahui letak janin (instead of USG). Satu-satunya mesin yang terlibat adalah alat untuk mendengarkan detak jantung. Tapi proses konsultasi, nggak jauh berbeda dengan yang biasanya dokter Riska dan dokter Meutia lakukan. Bahkan menurut saya sedikit lebih intimate, karena bidan Dahlia juga memperhatikan berat badan dan kondisi tubuh saya. She looked at my start-to-swoolen feet, she measure my arm, and she told me that i have to really watch my weight. Argh!! she said both me and my baby are start-to-overweight. Disamping itu semua, biaya persalinan di Puskesmas ini pastinya jauuuuh lebih murah dari biaya persalinan di Rumah Sakit Swasta. Nantinya-pun kalau saya perlu mendapatkan perhatian lebih (hopefully not) mereka akan merujuk saya ke rumah sakit lainnya. I want Bunda Menteng or Kemang Medical Center ya baby, please. Puhahaha.. teteup.

Tinggal di rumah mertua dan memutuskan untuk melahirkan di Puskesmas, so far, adalah dua hal yang membuat saya nekat keluar dari comfort zone. Sampai saat ini, meskipun masih ada hal-hal yang terasa kurang nyaman di sana sini, saya merasa bisa melewati ini semua. In the end, i know i will be a better person to tell the story to people who needs it. In the end, i know this is the best for me and Reza. Dan hopefully, mulai awal tahun depan saya dan Reza bisa menemukan tempat tinggal sendiri di dekat tempat kerja Reza. For the sake of our family. At least sampai saat ini, itu yang saya rasa terbaik buat keluarga kecil kami. Semoga Allah selalu bersama kami dan memberikan jalan terbaik untuk kami. Amin.

Ps: Ada yang mau sewakan apartemennya di daerah Ancol, atau Kemayoran, atau Kelapa Gading seharga 20 Juta (or less) setahunnya untuk kami? anyone? pleaaase *insert cat in boots’s melancolic eyes here*.

Bee

Mini Panic Attack

Semalam saya terserang mini panic attack, waktu suami lagi asyik meng-update pembukuan hariannya. Jadi dia, nggak tau kalau saya sedang terserang serangan panik, kecil sih, but still.

Begini awalnya.

Kemarin, saya dan Reza datang ke acara ulang tahun anak dari salah satu sahabat Reza. Anak mereka berulang tahun yang pertama. Lucu deh, lihat anak kecil itu kebingungan dengan keramaian yang nggak biasa ada di rumahnya. Tiba-tiba saja langit-langit ruang tamu dihiasi balon dan kertas dekorasi. Tiba-tiba saja ada badut Hello Kitty raksasa berjoged-joged di dekatnya. Saya dan Reza terlambat datang hampir satu jam, jadi hanya bisa melihat keriaan yang terjadi satu jam sebelumnya lewat foto saja. Yah, kebingungan si anak dan keberadaan badut yang saya ceritakan di atas cuma deskripsi dari foto saja hehehe 😀

So, setelah makan-makan dan ngobrol-ngobrol dengan suami istri sahabat Reza ini, beberapa tamu pamit pulang. Si suami mengantarkan mereka sampai stasiun terdekat, karena para tamu tersebut tinggal di Bogor dan mau pulang naik kereta. Tinggallah saya dan suami dengan sepasang teman kami juga tuan rumah melanjutkan mengobrol di ruang tamu. Si tuan rumah tiba-tiba saja mengajukan satu pertanyaan pada saya “Asiah, nanti lo mau ngelahirin di mana?”. Saya diam sedetik, lalu mantap menjawab “Nggak tau”. Si penanya kaget dan mengatakan kalau dulu, dia sudah membuat keputusan untuk melahirkan di mana tepat setelah tahu kalau positif hamil. Saya tercekat, merasa semakin amatir.

Jujur saja, saya sangat amatir tentang dunia kehamilan ini. Sejak awal dinyatakan positif, saya banyak sekali bertanya ke sana ke mari tentang apapun. Apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya waspadai. Bagaimana seharusnya rasanya hamil itu. Di minggu-minggu awal, saya bahkan terus bertanya-tanya bagaimana caranya mengetahui kalau bayi di perut saya masih hidup dan sehat? Rasanya ingin sekali tinggal di rumah sakit saja, biar setiap hari bisa USG dan menyapa anak saya. But that was really stupid, and childish, i know. In the end yang bisa saya lakukan ya hanya menunggu saja. Menikmati setiap hari dengan menjaga diri dan anak ini. Berusaha untuk makan 3 kali dalam sehari, ini lumayan susah, karena dulu saya terbiasa hanya makan 2 kali saja. Kalau lapar, ya tidur. Sekarang? ya nggak bisa lah kayak begitu. Anak baru di perut kok sudah di-dzalimi? Ibu macam apa?

I love my baby, i really do, words can not describe it though. Tapi saya ini nggak ngerti apa-apa. Seumur hidup nggak pernah dirawat di rumah sakit. Bahkan dulu waktu terkena TBC saya memaksa untuk dirawat di rumah saja. Menolak sama sekali tinggal di Rumah Sakit. Jangankan itu, kalau sakit saya bahkan nggak pernah tuh periksa ke dokter. Semuanya saya percayakan ke ande. I trust my mom for my medicine. Tapi ya masa saya mau melahirkan sama ande juga? saya tahu pilihan itu sangat nggak mungkin. Bahkan meski ibu mertua saya adalah dokter saja (which pastinya sebenarnya bisa juga membantu melahirkan, meski nggak ahli), saya tahu kalau pilihan melahirkan di Rumah Sakit itu jauh lebih aman, dan hopefully nyaman. Jadi mau nggak mau saya harus memilih Rumah Sakit kan? Ini yang membuat saya panik kemarin malam.

Saya mau melahirkan di mana? Selama ini saya masih fokus dengan pilihan Obgyn yang menurut saya menyenangkan. Sudah dapat sih Obgyn yang nyaman, tapi prakteknya di Rumah Sakit Bunda Menteng yang nggak usah pake ditanya pun biaya persalinan di sana pastinya mahal. Sebenarnya saya sudah sering sih tanya sana sini tentang biaya bersalin di beberapa rumah sakit. Baik di Depok atau di sekitar Tebet. Tapi belum pernah diskusi serius sama suami sampai muncul satu nama Rumah Sakit yang pasti. Ini yang juga sedikit banyak membuat saya panik kemarin malam. Saya yang nggak pernah dirawat di Rumah Sakit, saya yang seumur hidup nggak pernah berobat ke dokter. Saya yang sering nggak nyaman dengan ruangan kotor dan gelap. Saya yang nggak tahu apa-apa tentang bagaimana nanti. Bagiamana nggak panik?

Nak, maafkan bunda yah kebingungan dan sedih begini. Kamu pasti juga jadi sedikit sedih ya? But don’t worry, kita pasti bisa cari jalan keluarnya. After all, bunda percaya semua orang pasti ingin yang terbaik untuk kamu dan bunda, untuk hari bersejarah itu. Bagaimana kalau sekarang kita tidur? bunda udah oleng-oleng nih hehe 😀