[Depok Sushi Place] Sushi Miyabi

So this sunday, my bestfriend opened year of  2012 by starting a new level ini her life, mariage. Saya dan Vege agak terpana juga dengan kabar baik yang dia sampaikan tiba-tiba ini. Rasanya baru kemarin kita menerka-nerka siapa yang akan menikah terlebih dahulu dari kami bertiga. Tebakan tentu saja tertuju pada saya, since i already arranging my wedding on March, 2012. Tapi jodoh memang rahasia Allah yah, Mayang malah bertemu dengan jodohnya lebih dulu dari saya, haha.. Jadi di sanalah Mayang, sudah menjadi istri orang di pembuka tahun 2012 ini. Hiks.. saya terharu..

Sehari setelah pernikahannya, Mayang mengajak saya makan di luar. Saat itu dia bilang sedang ingin sushi, so pergilah kami ke sebuah restoran sushi yang baru buka di Jalan Margonda. Namanya sushi Miyabi, setelah saya google barusan, ternyata sushi ini miliknya Christian Sugiyono. Ya baiklaah 😛

Deep fried tofu, hot ocha, ozawa salmon, green spider roll

Karena saat itu saya sedang lapar, maka kami memutuskan untuk memesan 3 porsi makanan. Saya memesan green spider roll, sushi dengan isi kepiting soka dengan avocado dan buanyak saus mayo, harganya IDR 26k. Mayang memesan Ozawa Salmon (since she love sashimi) sushi dengan salmon sashimi, harganya IDR 29k. Untuk tambahannya kami memesan Deep fried tofu yang harganya IDR 15k saja. Minumnya tentu saja hot ocha, free reffil, dan harganya IDR 5k. Yah masih reasonable lah yah dengan posisi restonya yang dekat kampus UI dan Gunadarma. Jelas sekali pangsa pasar yang mereka bidik adalah mahasiswa. Tapi kalau saya Mahasiswa, saya baru akan makan di sana saat awal bulan, ketika baru dikasih bapak uang bulanan, ngahahaha.. 😛

Rasa sushinya yah lumayan deh, mereka agak generous yah dalam hal menambahkan mayonaise. Tapi menurut saya agak berlebihan, jadinya mubazir karena nggak abis. Saya masih lebih suka makan di Sushi Rock and Roll yah, entah mengapa. But on top of that i still enjoying Sushi Tei the most hehe.. nggak bisa berpaling hati tampaknya 😀

Depok sudah berkembang lebih maju sekarang. Banyak ruko-ruko baru yang dibangun di sepanjang jalan margonda. Dan toko-toko branded juga mulai membuka gerainya di Margo City. Apartemen juga mulai menjamur di sini, di D mall sekarang malah sudah dibuka food hall, banyak bahan makanan yang tidak bisa dijumpai di hypermart, giant, dan carrefour, tersedia di ini. Wuah kalau begini Depok bisa didatangi lebih banyak orang lagi. Is this place still a nice place to stay? am i going to spend the rest of my life here? that’s another level of question i’ve got to figure out.

Bee

Never Before Solo Trip

Solo, sudah seperti kampung halaman kedua saya. Sejak kecil dulu, setiap lebaran saya dan keluarga hampir selalu ke Solo. Walaupun “pulang kampung” dalam kamus saya masih punya arti pergi ke Silungkang, tapi sampai saat ini Solo masih jadi destinasi paling utama setiap liburan datang. Seperti liburan kali ini, apalagi liburan kali ini sih lebih tepatnya lagi, di mana sudah ada baby Sholih yang menjadi tokoh paling ingin dikunjungi di sana 😀

The most wanted baby Sholih

Tapi kunjungan kali ini bisa dibilang berbeda, karena untuk pertama kalinya saya merasakan pengalaman jalan-jalan sebagai turis bersama dua orang teman saya Jia Effendie dan Rahne Putri. Sebenarnya saya sempat membaca salah satu update twitter Rahne tentang rencananya berlibur ke Solo. Tapi saat itu keluarga saya belum memutuskan waktu fix berangkat ke sana, jadi nggak berani kasih komentar dulu. Singkat cerita, ternyata rencana Rahne ke Solo itu bertepatan dengan waktu yang ande dan bapak saya ajukan, saya langsung kegirangan. Ditambah lagi berita baru kalau Jia juga mau ikut berlibur bareng Rahne. Tadinya mau banget menawari mereka tumpangan ke Solo, tapi saya kan pergi sama keluarga dan anggota keluarga saya nggak sedikit, alhasil kurang ruang deh di mobil, jadi urung kasih tumpangan *sigh*.

Berangkat dari Depok hari Jum’at sekitar jam dua pagi, kami sampai Solo sekitar jam 9 malamnya (masih di hari yang sama). Perjalanan terhitung lancar, hanya bertemu beberapa kali kemacetan karena ada kecelakaan dan saat memasuki kawasan Kota di Semarang, yah sudah biasa sih yang seperti itu. Sampai Solo saya langsung memantau perjalanan Jia dan Rahne yang karena nggak mendapat tiket kereta (dan menolak beli tiket pesawat, due to the highly price peak season) akhirnya memilih berangkat naik travel. Pegel banget menyimak cerita perjalanan mereka yang nggak sampai-sampai itu via twitter. Agak panjang kalau mau diceritakan di sini, coba baca saja cerita lengkapnya di blog Jia ini.

Rencana untuk langsung jalan-jalan bareng mereka di hari Sabtu pupus sudah. Saya menghabiskan hari sabtu itu hanya dengan dua agenda. Agenda pertama adalah sarapan dimsum di Hotel Diamond (Jl. Slamet Riyadi No. 392). Kalau ke Solo, agenda ini adalah yang paling utama. Banyak orang mengusulkan untuk sarapan sego liwet atau beli serabi Notosuman, atau makan soto Triwindu, dll. Bagi saya kalau ke Solo sangatlah rugi kalau nggak makan dimsum di Hotel Diamond ini. Dimsum nya enak banget, kualitas hotel gitulah. Porsinya gede dan ingredients yang dipakai juga yang kualitas nomor satu. Harganya juga murah, mengingat ada diskon-diskon tertentu yang mereka berikan setiap harinya. Up to 50% loh, lumayan kan satu porsi dimsum hotel harganya bisa sampai IDR 10k, kapan lagi?

Agenda kedua adalah marathon serial variety show Running Man nya Korea. Dapet serial ini dari Kiki dan nggak bisa berhenti ketawa nontonnya. I think i wanna make a very own review for this variety show, since i consider this as a genius way to promote a country. So, stay tune 😉

Okay, setelah never ending on the road moment, akhirnya Rahne dan Jia sampai juga di Solo, hari sabtu malam lebih tepatnya. Besoknya saya menghampiri mereka ke hotel tempat mereka menginap, di Jalan Cakra. Dari Hotel Cakra tersebut, kami jalan kaki mencari sarapan menuju Jl. Slamet Riyadi. Saya sempat bingung karena Solo terlihat lengang dan beberapa tempat makan nggak buka. Biasanya di sudut-sudut jalan pasti ada aja mbok-mbok yang jualan sego liwet atau nasi kucing dengan banyak gorengan. Kok hari itu sepi banget. Belakangan kami baru ingat kalau hari itu adalah hari minggu dan bertepatan dengan hari natal pulak, pantas saja banyak toko yang tutup. Akhirnya kami diselamatkan oleh dua orang follower teman twitter Rahne (salah satunya ternyata sahabatnya Alvin) yang begitu baiknya mau menyusul kami dan menemani sarapan di Soto Triwindu. Sotonya enak, ya seperti soto-soto di Solo lah. Lauk tambahan yang biasanya ramai (ada perkedel, bakwan, sosis solo, sate ampela, tahu petis, sate telor puyuh, tempe mendoan, dll) kemarin cuma tersisa tempe dan tahu goreng saja. Tapi kami sudah puas dengan itu, karena rasa tempe gorengnya the best banget, bumbunya itu lho bisa banget meresap sampai ke dalam-dalam. Nyummo deh pokoknya. Saya makan soto daging dengan tempe goreng satu buah, plus minum es teh manis, semuanya cuma habis IDR 12.5 k aja.

Sehabis dari sana kami diajak mengunjungi Pasar Triwindu yang khusus menjual barang-barang antik. Rahne seneng banget diajak ke sini, dia malah beli ‘jam waker’ (baru sadar kata ini ada kemungkinan punya arti ‘jam untuk membangunkan’ :P) yang nggak perlu baterai. Jam semacam itu dulu pernah saya temukan di kamar salah satu tante saya dulu (waktu dia masih gadis, sekarang sudah punya anak tiga). Bentuknya persis sama, atau jangan-jangan itu memang jam tante saya yang dijual ke penjual di pasar itu? Halah, ribet! 😛

Setelah itu kami bergegas ke kantor dinas perhubungan kota Solo untuk ikut tour keliling kota Solo naik bis double decker Werkudara.

Bertahun-tahun liburan ke Solo, baru kali ini ada touring semacam ini. Bapak Joko Widodo, Walikota Solo yang tersohor itu memang kelihatan banget yah hebatnya. Sebelum beliau menjabat, mana ada inovasi semacam ini di Solo. Sayang banget kalo untuk periode selanjutnya beliau harus turun dari jabatannya, siapa yang bisa menggantikan? Yah, time will tell lah. Rahne dan Jia terlihat excited banget dengan tour ini. Bagi saya ini juga merupakan pengalaman baru. Begitu sampai kami langsung naik ke bagian atas bis untuk mencari tempat duduk yang strategis, kami duduk di bangku paling belakang dan bisa melihat pamandangan di luar bis dengan saaangat jelas. Tapi efek dari jendela yang terbuka lama muncul. Badan mulai terasa kebanyakan angin, beruntung Rahne punya stok tolak angin lumayan banyak di tas nya. Terselamatkanlah saya 😀

Setelah dua jam hampir masuk angin keliling kota Solo dan kembali lagi di kantor dinas perhubungan, kami melanjutkan perjalanan menuju taman Sriwedari. Di dalam taman ini ada sebuah arena bernama Tempat Hiburan Rakyat Sriwedari.

Harga tiket masuknya murah banget, tuh kelihatan kan di gambar di atas. Di dalamnya ada arena mainan anak-anak dan sebuah panggung besar yang saat itu sedang dipakai tampil sebuah band remaja (seumuran murid-murid saya) yang menampilkan lagu-lagu mereka sendiri yang hampir di setiap lagu ada kata sahabatnya hmmphh.. *tertawa tertahan*. Dulu waktu kecil (sebelum tau ada dimsum enak di hotel Diamond) saya dan sepupu-sepupu selalu merengek main di tempat ini. Wahana favourite kami adalah bom bom car. Uang bapak hampir selalu habis di tempat ini, since setiap wahana membutuhkan tiket sendiri (mereka nggak sedia tiket terusan semacam di dufan :P) dan jumlah sepupu saya juga buanyak banget, tiketnya bapak semua yang bayarin ngahahaha… Going to this place brings back those memories. I almost drop a tear here.

Lalu kemudian saya menemukan wahana ini, Rumah Hantu, langsung excited mengajak Rahne dan Jia main wahana ini, beli tiketnya (seorang IDR 5k) dan berjalan riang mendekati tempat wahana.

Ternyata kosong, mana ini mas-mas yang jaga? Karena kebelet pee pee, saya akhirnya pamit ke toilet dulu. Sekembalinya dari sana, sudah ada dua anak kecil bergabung dengan Jia dan Rahne ketakutan di ruang tunggu. Mas-mas mekaniknya juga sudah hadir. Bersiaplah kami semua menuju kereta kecil yang nantinya akan membawa kami masuk ke dalam ruangan penuh hantu imitasi itu. Saya girang sendirian, Rahne dan Jia sibuk ketakutan dan berbagi perasaan ngeri mereka di timeline twitter, si dua anak kecil juga sibuk meyakinkan diri mereka sendiri kalau wahana itu cuma bohongan, nggak ada hantu beneran di dalam sana, pemandangan yang lucu sekali. Ketika kereta mulai bergerak, dua anak kecil yang duduk di kereta paling depan berteriak ketakutan, karena kereta mereka bergerak sendiri, nggak diikuti kereta Jia dan Rahne di belakangnya. Spontan mereka melompat keluar dari bangku mereka, mas-mas mekanik menekan tombol berhenti dari mejanya. Saya akhirnya berpindah duduk di bangku mereka menemani ke dalam. Sampai di dalam kedua anak itu nggak berhenti berteriak sambil mencengkram tangan saya. Saya sendiri? sibuk foto-foto sambil tertawa geli. Rahne dan Jia di belakang sana entah sedang sibuk apa, sesekali saya mendengar mereka berteriak ketakutan. It was really fun, yet really funny *LOL*.

Setelah berkeliling sebentar di arena bermain anak-anak itu, kami memutuskan untuk bergerak ke tempat selanjutnya. Berputar-putar mencari Museum Batik, kami sampai di pertigaan dekat rumah Tuo (tante) saya, tempat saya menginap. Saya melihat sebuah baliho besar memampangkan beberapa gabar makanan beserta harganya yang berkisar IDR 2k sampai IDR 5k. Ada sebuah makanan yang menarik minat saya. Jadah londo (uli bakar disiram dengan saus oncom) seharga IDR 4.5k saja. Hooo… saya langsung mengajak Rahne dan Jia berkunjung sebentar.

Tempat itu bernama Waroeng Djadoel, terletak tepat di atas sebuah butik di pertigaan sebelum pasar kembang Klewer. Menu yang ditawarkan beragam banget, kebanyakan sih makanan untuk ngemil semacam kentang goreng, sosis goreng, jamur goreng, dan heee?? ke mana itu Jadah Londo yang saya incar? di buku menu, pilihan itu ditutupi sticker besar. Ternyata menu itu nggak lagi tersedia di sana. Saya kecewa berat 😦 Akhirnya kami memesan kentang, sosis, dan jamur goreng untuk menemani teh tarrik dan sekoteng hangat. Oh, Jia juga sempat memesan pecel yang datangnya lamaaa banget. The taste is not that impressive, despite the price that could only give you some cracker in Jakarta 😛 Yah, apa sih yang kamu harapkan dari harga semurah itu. Tapi tempat itu cocok banget untuk ngopi-ngopi bareng teman-teman sambil bergossip ria. Atau seperti yang beberapa tamu di sana lakukan, mengundang klien atau prospekan MLM 😛

Selesai makan, saya akhirnya memutuskan untuk pamit pulang sedangkan Rahne dan Jia melanjutkan petualangan mereka. I just can’t wait to see their post about the whole experience. Please do write it Ne, Jie 😀

Malamnya, setelah menahan lapar dan penundaan yang seperti nggak berujung, akhirnya saya dan keluarga makan malam di sebuah Resto bernama Kusuma Sari. Letaknya nggak jauh dari Hotel Cakra tempat Jia dan Rahne menginap. Sejak dulu saya dan keluarga besar memang sering makan di tempat ini, dan baru kali ini juga saya benar-benar memperhatikan menu dan harga yang mereka tawarkan.

Menawarkan berbagai jenis makanan, dari sapi tumis lada hitam, sampai berbagai steak, juga ada nasi goreng, dan cemilan semacam kroket dan risol, ditambah lagi berbagai macam minuman dan ice cream. Kusuma Sari seperti one stop resto gitu. Harga makanannya juga nggak bikin dompet serasa kerampokan. Rasa makanannya sih ya standard aja. Saya memesan Chicken Maryland steak, yaitu ayam berbalut tepung yang digoreng lalu disiram kuah entah apa. Rasanya ya begitu, seperti ayam berbalut tepung yang digoreng lalu disiram kuah entah apa hehehe 😛 Pulang dengan perasaan sangat happy karena berkesempatan untuk menggendong Sholih dari Kusuma Sari sampai berkeliling ke rumah nenek dan Tuo 😀

Besoknya, sekitar jam empat pagi, saya, bapak, dan Aziz sudah bertolak lagi ke Jakarta. The time to enjoy Solo was as usual not enough. Saya masih belum mencicipi gudeg ceker dini hari itu, truss minum susu di Shi Jack juga belum. But i can still enjoy it next time. Hopefully at that time i’ll be already married, amien hehe 😀 Dan semoga di kunjungan berikutnya itu, Solo sudah lebih baik lagi, terutama mental rakyatnya untuk menerima arus wisatawan yang surely melonjak tinggi.

Fiuh.. beneran panjang banget deh postingan ini. Yah begitulah, my never before Solo Trip. Akhirnya, setelah sekian lama, bisa juga menikmati Solo sebagai turis.

See you on the next trip 😉

Bee

*saatnya nonton ulang Running Man :P*

Launching Album Viva! Hermesian

Ini sih namanya sehari bersama Sitty Asiah!

Begitu celetuk Chicko ketika saya naik panggung untuk yang kesekian kalinya. Benar juga sih, Launching album Viva! Hermesian tanggal 11 Desember yang lalu itu jadi seperti Showcase tunggal saya bersama Endy Daniyanto dan Filomonic Band, saking seringnya saya bernyanyi. Ya tapi mau bagaimana lagi? semua lagu di album itu sebisa mungkin dinyanyikan, tapi para penyanyinya nggak ada yang bisa ikut latihan, beberapa bahkan nggak bisa datang.

So, as i wrote here before, i’ve been joining Endy Daniyanto on our (Hermesian) music project, Viva! Hermesian. Awalnya album ini disebarkan secara gratis via website pribadi Endy. Tapi sejak tanggal 11 Desember yang lalu download nya sudah berbayar. $2 USD or more, begitu tulis Endy di website-nya itu. Dan berkat bantuan dari Nyoman dan Roy dari Trampolin Records, Viva! Hermesian kini sudah bisa dibeli dalam bentuk fisik, yeay! Saya sendiri sudah beli dooong, dan ditandatangani langsung sama Endy 😀

Nah! hari minggu yang lalu, tepatnya tanggal 11 Desember 2011, The Hermes dan Trampolin Records menggelar launching album ini di Backyard Cafe Kemang. Kesibukan mempersiapkan acara hari itu sudah dimulai sejak (sekitar) satu bulan sebelumnya. Kalau Endy mungkin sudah lebih lama dari itu. Saya sendiri baru mulai ikut latihan dua minggu sebelum hari H. Saat itu untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Filomonic band, yang salah satu personilnya nggak lain adalah muridnya Endy. Saat itu ternyata, untuk pertama kalinya juga Filomonic mendengar lagu-lagu The Hermes dan berusaha untuk mengiringi dengan formasi band. Saya angkat topi pada Filomonic band atas usaha dan kemauan keras mereka untuk kelangsungan acara ini. Selama dua minggu itu mereka betul-betul berlatih intensif untuk bisa  menciptakan musik yang mirip (atau bahkan lebih keren) dari versi album.

Singkat kata, datanglah hari itu di mana sejak paginya saya sudah deg-deg an dan mules-mules karena nervous. Membayangkan begitu banyaknya lagu yang harus saya bawakan hari itu. Teman-temn The Hermes berjanji untuk berkumpul di Backyard pukul 11 siang. Saya dan Jia datang hanya terlambat beberapa menit. Sesampainya di sana, karena masih sepi banget, kami memutuskan untuk mencari sarapan terlebih dahulu. Kami berjalan menyusuri jalan kecil Kemang, dan menemukan sebuah resto dengan papan nama bertuliskan Fish and Chips besar-besar. Mata saya langsung berbinar, haaa.. Fish and Chips for breakfast, sounds too much, but why not? 😛 Lalu Jia menambahkan kembali dengan bilang “Eh, Nechan pernah nulis review tentang resto ini, aku pernah nyoba dan emang enak. Mau makan di sini nggak? udah buka nih”. Saya? langsung mengangguk-angguk semangat.

Saya pesan Fish burger (IDR 35k) dan Jia memesan menu Sailors Bite (IDR 37k) dan Potato Scalops (IDR 10k) untuk minumnya teh hangat tawar saja :D. The burger taste soo good, roti bun nya nggak seperti biasa kita temui di Mc.D (ya menurut looo?), isinya ada ikan dori goreng tepung, saus tar tar, dan keju. Nggak ada sayurnya sama sekali, si Reza pasti suka banget sama burger ini. Pesanan Jia, Sailors bite adalah potongan bite size ikan dori goreng tepung dengan kentang goreng dan saus tar tar. Sedangkan potato scalop adalah kentang goreng tepung berukuran lebar-lebar kayak scalop.

Harganya ternyata sudah naik sejak kunjungan Jia sebelumnya, saya menemukan foto ini dari salah satu review di blog ini, bisa dilihat kan perbedaan harga dulu dan sekarang? sungguh signifikan 😛

Tapi dari rasa dan porsinya, harga tersebut terbilang reasonable kok. Sepertinya mulai sekarang, kalau lagi ngidam fish and chips, instead of  ke Fish and Co lebih baik ke sini aja. Ya, sayangku? 😀

Okay, lanjut ke launching album. Selesai makan kami kembali ke Backyard. Di sana Endy dan Filomonic band sudah mulai sound check, saya langsung gabung dengan mereka. Nggak lama kemudian, datanglah Alit Sastrajingga, vokalis yang ikut project Menyapa Tuhan Menyapa Alam nya Endy dan Oom Memed Budiarto (Romo nya Rahne). Kami sempat termangu sebentar saat melihat Alit di sana, takjub karena dia memutuskan untuk datang di tengah suasana berkabung. Ayah Alit beberapa hari sebelumnya dipanggil Tuhan untuk selamanya. Saya dan teman-teman langsung heboh menyabutnya dan bergantian menjabat tangannya sambil mengucap kalimat-kalimat duka. Alit pun menyambut kami dengan senyum cerahnya, suasana kembali ceria. Semoga ayah Alit sudah tenang di ‘sana’ 🙂

Sekitar jam setengah 2 siang, acara kami mulai. Dibuka dengan stand up comedy dari salah satu MC andalan The Hermes -Chicko-, yang berdiri diam di atas panggung sambil disorot matahari mentereng dan literally standup lalu berpose komedi. Bisa banget ya si Chicko ini. Acara baru benar-benar dibuka ketika Endy naik panggung dan menyanyikan jingle Trampolin Records yang ternyata baru pertama kali diperdengarkan ke Owner dan Co-owner label tersebut, Nyoman dan Roy.

Acara hari itu dibagi menjadi tiga sesi, berikut rundown aslinya:

Sesi 1

  • Prelude – Memories of Night
  • Goodnight Andromeda
  • Hanya Allah
  • Love You So
  • Video #1
  • Hermes for Charity Vol. I
  • #DuaSahabatSayaJadian
  • Video #2

Sesi 2

  • Interlude – Memories of Rain
  • Aku Bersama/Hujan Kenangan Lama
  • Cinta Pasti Kan Ada
  • Sebaik-Baik Wanita
  • Someday Baby

Sesi 3

  • For My Happiness
  • Video #3
  • My Fantasy Is You
  • Gravity
  • Keeps Coming Back
  • Video#4
  • Potret Sebuah Negeri
  • Satu Dalam Sejuta Hasta
  • Satu Kosong

Judul lagu yang berwarna merah adalah lagu-lagu yang saya nyanyikan pada hari itu. So, sangat beralasan celetukan Chicko di atas tadi. Lha yang lain paling nyanyi dua lagu, saya LIMA sendiri. *tepok jidat*

Pada kenyataannya ada satu lagu yang tidak jadi ditampilkan, yaitu #duasahabatsayajadian (THANKGOD ini nggak jadi, ya Tuhan bisa merah muka saya nahan malu :P) dan beberapa lagu yang pindah posisi karena penyanyinya masih dalam perjalanan.

Ah! bicara tentang masih di perjalanan, ada peristiwa lucu terjadi di hari itu. Jadi di dua lagu terakhir kan ada lagu Satu Dalam Sejuta Hasta yang merupakan lagu andalan di album ini ya. Penyanyinya adalah Tasya dan Djawa. Tasya sudah standby di lokasi dari awal acara, tapi Djawa sampai jam setengah empat nggak muncul juga batang hidungnya. Saya dan Tasya sudah kelabakan nge-ping dia di bbm untuk nanya posisi. Pertama dia bilang masih di Bogor (ack! dunia serasa mau runtuh), update selanjutnya sudah ada di kereta (ini geregetannya udah kayak mau ngejambak rambut Djawa begitu dia sampe), truss setengah jam sebelum Satu Dalam Sejuta Hasta ditampilkan, dia masih di Pasar Minggu (Macha udah keliatan mau nangis, gigit-gigitin kuku nggak jelas),.AKHIRNYA beberapa detik setelah intro lagu SDSH berkumandang, saya yang menunggu di depan Cafe melihat seorang laki-laki dengan kemeja biru dan celana bermuda (warna entah apa saya lupa) keluar dari mobil dan berlari kocak ke arah saya. Langsung saya arahkan dia ke panggung dan nggak pakai nafas dulu, Djawa bergabung dengan Macha yang mukul-mukul pundaknya gemes. That was so close, Wa.. SOOO CLOOOSSEEE.. Masya Allah.

Lagu Satu Kosong menjadi pilihan Endy untuk menutup acara hari itu. Semua personil The Hermes naik ke atas panggung dan menyanyikan lagu ini. Chicko semangaaat banget nyanyi lirik bagiannya sendiri, beberapa Hermesian lainnya terlihat keki sendiri, sisanya terlihat antusias dan bahagia. Termasuk saya. I was soooo happy that the show went so well. Meskipun masih ada banyak hal minor yang terjadi, tapi semuanya masih bisa ditolelir.

Terimakasih banyak banget buat tamu yang hadir hari itu, especially Romo nya Rahne, Ande dan dua adik laki-laki saya (yes, ini untuk pertama kalinya keluarga saya datang ke acara The Hermes :D), dan juga temen-temen dari Kartunet yang dengan keterbatasan mereka menyempatkan datang ke Kemang dan mengikuti acara dari awal sampai habis. Saya terharu bukan main saat melihat sosok mereka di tengah-tengah kami saat itu. Terhitung baru satu pekan kami saling mengenal (stand kami bersebelahan di acara On|Off Indonesia 2011 yang lalu), mereka sudah menunjukkan apresiasi sedemikian besar untuk kami. Yah well, tunggu kolaborasi The Hermes dengan teman-teman Kartunet untuk E Novelette selanjutnya yah, it will be owesome!! 😉

Last but not least, Terimakasih Allah untuk kesempatan dan berkah yang Engkau berikan kepada hamba dan teman-teman Hermesian selama ini. Berkahi kami terus untuk project ke depannya. Amin.

Bee

nb: Album Viva! Hermesian bisa juga dibeli di setiap pertunjukkan live Endy Daniyanto and friends, dengan promo pay what you want. Jadi, kamu bisa membeli album ini dengan harga berapapun yang kamu mau. Ada stempel tersendiri untuk harga-harga terntentu. Promo ini terbatas lho, makanya pantengin terus info live perform Endy di @EndyDaniyanto.

Late Post (Friday Night)

By that title, i mean is last weekend. 😛

Jadi internet di rumah nyala dan mati selama beberapa hari ini. Barusan teknisi speedy-nya datang ke rumah dan bilang kalau kabel internetnya (lagi-lagi) digigit tikus. Argh!! Emang nyebelin banget deh tikus-tikus di rumah ini 😦 Padahal saya banyak melakukan hal yang seru di akhir pekan yang lalu. Jadi telat banget kan posting nya 😦

Tapi customer service speedy cukup bisa diandalkan yah. Saya, kalau ada masalah dengan koneksi di rumah bisa langsung mention @DhaniSpeedy di twitter. Nggak perlu menunggu lama komplain saya langsung ditanggapi. Awalnya mereka tanya dulu nomor speedy atau nomor telfon yang dipasangi speedy. Lalu mereka akan meneruskan keluhan ke unit teknis. Kalau masalah nggak bisa diselesaikan dari sana, mereka akan langsung kirim teknisi ke rumah. Gratis, kecuali kalau memang ada alat yang harus diganti. Seperti saya, kabel internet digigit tikus, ya ganti biaya kabel baru, begitu. Thanks deh ya, siapapun kamu, @DhaniSpeedy 😀

ANYWAY.. mari kita kembali pada topik utama.

MIMPI: pertunjukkan dari Teater Tetas

Hari Jum’at minggu lalu, tepatnya tanggal 9 Desember 2011 Tasya dan teater Tetasnya menggelar pertunjukkan terbaru mereka yang berjudul mimpi. Pertama kali nonton pertunjukkan Teater Tetas adalah bulan Februari tahun lalu, saya baru saja pulang dari Solo dalam sebuah fase kontemplasi dan langsung ditodong Macha untuk nonton pertunjukkannya. Dan kali ini ceritanya hampir sama.

Sudah beberapa kali saya ketemu Macha dengan lebam-lebam biru bertebaran di sekujur badannya. Kalau sudah begitu, bisa dipastikan itu adalah hasil latihan intensif dengan Teater Tetas. Dan beberapa bulan belakangan lebam biru itu muncul lagi, dan benar saja, akhir Nopember yang lalu Macha mengundang saya via bbm untuk datang ke pertunjukan ini. Kali ini berjudul MIMPI, disutradarai oleh seorang prfesor musik dari Austria bernama Werner Schulze. Tidak seperti tahun lalu, pertunjukan mereka kali ini bersifat absurd dan perlu proses pemikiran yang agak lama untuk bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan. Di akhir acara, saat kami bertemu Macha di luar panggung, dia mengaku bahwa dia pun tak begitu mengerti dengan jalan berfikir si Sutradara dari Austria ini, hmm.. saya rasa dia hanya merendahkan diri saja. Macha gitu, dia kan punya pemikiran yang sama absurd-nya hehe.. 😛 *peace Cha*

Saya datang bersama Jia. Awalnya kami berencana untuk menghadiri acara Gerakan Indonesia Membaca Sastra terlebih dahulu di Cikini. Tapi karena ada distraksi yang cukup memakan waktu lama di kost Jia, akhirnya kami terlambat  berangkat dan sudah tidak sempat lagi mampir dulu ke Cikini.

Ah! saya ingin bercerita dulu tentang distraksi ini. Hari Jum’at yang lalu, berlokasi di kamar kost Jia, saya mendapat kejutan manis. Saya lebih dulu datang ke lokasi, karena Jia masih di perjalanan pulang dari kantor. Saat muncul, Jia bukannya mempersilahkan saya yang sudah berkeringat kepanasan untuk masuk kamar, malah disuruh menunggu lebih lama. Katanya ada kado yang belum dibungkus. Ini aneh banget deh, memang sih sejak saya masih di rumah Jia sudah lebih dulu bilang bahwa dia punya kado buat saya. Tapi ya sudah sih, nggak usah dibungkus juga kalo nggak sempet, toh nantinya juga akan saya buka lagi. Ternyata eh ternyata, bungkus kadonya pun dipilihkan khusus untuk saya. Hwaaa.. terharuuuu :’)

She gave me yellow pashmina and a cook book. I was thrilled that time, bener-bener teriak kegirangan kayak anak kecil. Belum ada yang pernah memberi saya buku masakan sebelumnya. Saya masih ingat saat melihat seorang teman kuliah saya dihadiadi sebuah buku masakan dengan tema Pasta dari salah satu dosen, saya hampir mati karena iri *OK that was too much* 😛 Dan kemarin Jia menghadiahi saya buku ini. Gimana nggak mau teriak-teriak kegirangan coba? Hari Jum’at dan sabtu itu saya menginap di kost Jia. Di hari minggu malamnya saat kembali tidur di kamar sendiri, saya tidur dengan memeluk buku ini, hahahaha..

So, that was the distraction, sekitar jam setengah 6 sore kami baru berangkat menuju TIM. Macet setengah mati di sebuah jalan menuju Mampang, saya dan Jia sampai turun dari bis dan memutuskan untuk jalan kaki dan mencari taksi. Sampai di TIM kami kelaparan, memutuskan untuk beli tiket terlebih dahulu lalu cari makan. Jia membawa saya ke sebuah kios makan yang menyediakan menu Ayam bakar goreng. Yah, kamu nggak salah baca, ada dua keterangan proses pemasakan ayam di sana 😛 Atas rekomendasi Jia yang bilang kalau menu itu enak banget, akhirnya saya pesan itu. Setelah datang penampakannya seperti ini…

Ternyata ini adalah ayam yang dibumbui dengan rempah-rempah untuk ayam bakar, lalu digoreng lagi. Disajikan dengan satu porsi besar nasi putih, sambel, lalapan dan kremes kelapa. Everything was just perfect. Saya yang biasanya sangat menghindari nasi putih di malam hari, sampai nggak bisa bertahan dan berakhir dengan menghabiskan satu porsi itu sendirian. Ack!! sejak saat itu perut saya nggak pernah berhenti kelaparan kalau malam hari, NO.. bukan salah ayam ini kok, memang perut saya saja yang aneh -_____-

Kembali ke Teater Mini Taman Ismail Marzuki, kami bertemu Anji di pintu masuk teater. Dia mengucapkan selamat ulang tahun pada saya yang melompat-lompat kecil menahan kantung kemih yang kepenuhan 😀 Saya dan Jia, dengan rekomendasi salah satu panitia, mendapat duduk di posisi yang strategis. Kami bisa melihat semua yang terjadi di panggung dengan sangat sempurna. Walaupun orang-orang di depan kami berisik sekali dengan gadget mereka masing-masing, Jia sampai menegur salah satu dari mereka untuk diam hahaha..

Secara keseluruhan pertunjukannya berlangsung lancar. Selama dua jam itu mata dan telinga saya dimanjakan dengan tampilan yang epic. Para personil Teater Tetas ini lentur-lentur sekali ya badannya. Dan yang laki-laki kekar-kekar sekali yah. Dengan segala ke-absurd-an yang sulit saya mengerti -salah satu penonoton di kursi depan saya malah ada yang berbisik ke teman di sebelahnya “Eh, emang lo ngerti ini ceritanya tentang apa?” :-))) – saya cukup terhibur.

Jadi, itu yang terjadi di Jum’at malam satu minggu yang lalu. Sepertinya kepanjangan yah kalau saya sertakan yang terjadi di hari sabtu dan minggu. So, mari kita sambung lagi di post selanjutnya. Adios 😉

Bee

ps: Kalau mau makan di Ayam bakar goreng TIM, dan kamu lebih suka ayam bagian paha, jangan lupa pesan khusus yah. Soalnya default di sana adalah ayam bagian dada. I just can’t understand why. *suara si penyuka paha*

[Beijing Fall, 2011] The Food and The Shopping Experience

The Food

Food I ate

Tentu saja susah banget cari makanan halal di sini. Karena pertanyaan “Makanan ini pakai pork atau nggak?” aja belum cukup. Tidak mengandung daging babi kan bukan berarti bebas dari minyak babi atau unsur-unsur daging tidak halal tersebut. Not to mention yang juga ditambah arak atau angciu sebagai pewanginya. Jadi kalimat yang paling ampuh ketika kita berkunjung ke Beijing tidak dengan rombongan muslim adalah “Bismillah aja yah” hahaha.. *huks*

Itulah kiranya yang terjadi selama lima hari saya menetap di sana. Rasanya iri banget lihat catatan Ollie tentang pengalaman jalan-jalannya ke Beijing, yang sesuai dengan judul, semuanya tampak Worry Free. Kalau saya, makanan yang sudah terjamin kehalalannya cuma didapatkan di pesawat. Selebihnya ya Bismillah dan nikmati saja.

Yoshinoya

Hari pertama tiba di Beijing, saya dan teman-teman memilih makan di salah satu fastfood dekat hotel, Yoshinoya. Saya memilih paket nasi dengan ayam katsu dan sayuran. Yang saya suka cuma rasa nasinya yang pulen saja. Ayamnya seperti kurang matang dan sayurnya seperti hanya ditumis dengan minyak dan garam saja. Bagi saya yang gemar memasak dan uji coba rasa, yah well cuma bisa berdecak kecewa saja.

Bebek Peking

Makanan selanjutnya yang saya coba adalah Bebek Peking di sebuah resto yang terletak di dalam Jalan Wangfujing. Ketika sebagian dari teman-teman saya asyik berbelanja di toko-toko branded di sana, saya, Dheya, dan Renna memutuskan untuk mencicipi salah satu makanan yang harus dicicipi sebelum kita mati ini. Sebenarnya menu bebek Peking sudah sering saya temui di berbagai undangan pesta pernikahan. Tapi Bebek Peking di resto ini memang oke punya. Kami bertiga memesan porsi setengah bebek. Daging dan kulitnya dipisahkan oleh si bapak penyaji. Yang saya cicipi terlebih dahulu tentunya adalah bagian kulit. OH MY GOD!! it was heaven! crunchy banget, truss pas digigit keluarlah itu minyak alami dari si bebek. Mau dimakan begitu aja, atau dibungkus dengan semacam tortila-nya, sama enaknya. Seharusnya orang Cina mengubah pepatah mereka jadi 不 吃 北 京 烤 鸭 非 好 汉 (belum jadi orang Cina sejati kalau belum makan bebek Peking ;)). Definitely worth the price. Daging bebeknya pun rasanya lembut dan dipadu dengan saus khusus yang mereka sediakan, saya mau deh seharian itu nggak makan apa-apa lagi selain bebek ini.

Sebelum makan bebek Peking ini, pengalaman kuliner saya sempat kembali rusak ketika makan pangsit isi di Tembok Besar Cina. Karena sudah terlalu lapar, akhirnya apapun dimakan deh daripada maag kumat. Salah satu bahan yang dipakai untuk pangsit isi di tempat makan ini adalah coriander. Saya nggak suka banget rasa herba yang satu itu, bikin pusing.

Korean Fried Chicken

Di malam hari pertama, sepulang dari Beijing Olympic Stadium, kami sempat dibawa (oleh Ali) ke salah satu resto Korea. Di sana kami memesan ayam goreng yang menjadi menu rekomendasi dari Ali. Selain itu kami juga memesan sup yang disajikan di pot raksasa dan sebuah menu andalan resto tersebut, ayam dengan bumbu pedas luarrr binasa. Ayam goreng yang direkomendasikan oleh Ali rasanya nyummo banget, ditambah lagi sambal cocolan sebagai extra-nya. Tapi dua menu lainnya biasa aja. Ayam bumbu pedas luar binasa itu akhirnya nggak ada yang makan. Rugi bandar! nyesel banget mesennya. Apa banget deh pedesnya kayak mau ngebunuh lidah. Truss sup raksasanya malah kayak kurang bumbu. Rasanya pengen banget mengulang hari itu dan mesen hanya 3 porsi besar ayam goreng dan nasi aja. The fried chicken is to die for. Duh ini jadi terbayang-bayang lagi deh sekarang. I want my Korean fried chicken.

Di resto Korea itu kami nggak lupa memesan nasi putih tambahan untuk dibawa ke Hotel. Jangan pernah mengira akan sangat mudah menemukan nasi putih di Beijing saudara-saudara. Itu semua hanyalah mitos. Nggak seperti warteg-warteg di sini yang menjual nasi kosongan (tanpa lauk), kita akan disambut dengan gelengan tegas saat meminta nasi kosongan di warung makan pinggir jalan di Beijing. Harus beli sama lauknya sekalian, bisa minta nasi tambahan sih, tapi kan tetep aja mubazir lauknya. Nggak jelas juga halal atau nggaknya.

Bekal dari rumah

Selama beberapa kali makan siang, saya memakan nasi kosongan ini dengan lauk yang saya bawa dari rumah. Tadinya ande mau membekali saya daging dendeng atau rendang. Tapi ujung-ujungnya cuma dibawain mie instant tuh :D. Telur rebus di dalam gambar, saya dapat dari hasil mencuri-curi bungkus menu sarapan hotel. Dan Tao Kae Noi ini terinspirasi dari bekal Azizah dan Imam waktu perjalanan ke Solo lebaran kemarin. Mie instant nya diseduh di gelas hotel yang Alhamdulillahnya besar dan mumpuni itu. Dengan menu yang kayak gini, saya rasa sensasi kenyangnya datang justru dari euphoria makan bekal dari rumah di negeri orang hehehe.. 😛

The Shopping Experience

The Wangfujing Street

Emang dasar tukang makan ya, segitu panjangnya ngejabarin pengalaman makan di negeri orang. Nah nggak usah berharap banyak dari cerita belanja saya di sana. Melati teman saya yang ikut pada rombongan ini sepertinya punya lebih banyak cerita. Tapi saya akui harga barang-barang di Cina murah-murah sekali. Meskipun mereka terkenal dengan negara peniru yang sangat handal. Saya akui barang-barang tiruan mereka tidak terlihat murahan sama sekali.

Wangfujing adalah salah satu pusat perbelanjaan yang kami kunjungi. Saya pribadi sempat dua kali mengunjungi tempat ini. Pertama saat nggak bawa banyak uang dan belum tau mau ngeluarin uang berapa untuk ngirim paket buku ke Indonesia, jadinya harus berhemat. Kali kedua adalah saat semua urusan kirim paket sudah beres dan dapat uang saku pulak dari panitia. Sebagian besar oleh-oleh saya beli di sini. Lumayanlah, nggak sampai 100 yuan sudah bisa beli oleh-oleh untuk semua orang.

Di hari ke empat, saya, Ratih, dan Diana pergi ke salah satu pertokoan yang menjual berbagai barang fashion dari tas, baju, sepatu, kacamata, sampai aksesori iPhone dan iPad. Di sini saya akhirnya bisa juga belanja untuk diri sendiri haha.. Karena tempat ini adalah tempat para mahasiswa biasa belanja, jadi harganya juga murah-murah. Ali yang merekomendasikan tempat ini pada kami.

Sempat ada cerita menarik di tempat belanja ini. Teman saya mewanti-wanti sejak awal sampai ke Beijing. Kalau mau belanja di sini menawar harga jangan tanggung-tanggung. Kalau di Indonesia kita biasa menawar dengan menurunkan harga beli sampai 50% dari yang ditawarkan, di Beijing tawarlah lebih rendah dari itu. Saya nekat mempraktekkan teori ini di salah satu toko legging. Awalnya tentu saya pegang-pegang dulu dong legging itu, lalu mendekatlah si ibu-ibu pemilik toko dengan alat andalan mereka, kalkulator. Nggak pakai saya tanya berapa harga legging itu, si ibu ini sudah menyodorkan kalkulator itu ke arah saya. Angka 50 tertera di sana. Oke, saya tawarlah legging itu dengan harga 15 yuan, dengan bahasa Cina. Si ibu menyingkirkan kalkulatornya. Bilang oke deh bisa 15. Saya kaget dong, kok bisa semudah itu dia kasih barang itu ke saya? Saya bilang aja, kalau 15 oke saya ambil 3. Truss dia ambil lagi kalkulatornya, angka 150 dia ketik di sana. Lho? ya saya bingung lagi dong. Kalo satunya 15, kenapa 3 bisa jadi 150? itungan dari mana? Si ibu itu terlihat ikut kebingungan bersama saya. Ujung-ujungnya dia menyuruh saya menunjukkan kepada dia uang 15 yuan yang saya maksud. Ibu itu langsung melotot dan meneriaki saya “Sudah gila ya? kamu berasal dari mana sih? ha? becanda kali!” begitulah kiranya terjemahan bebasnya. Saya senyum-senyum saja santai, lalu pergi menjauh dari toko itu.

Usut punya usut ternyata ada kesalah pahaman antara saya dan ibu itu. Saya menawar barang yang dia jual dengan mata uang Cina (renminbi) tentunya. Tapi ibu itu mengira saya akan bayar dengan Dollar Amerika. Lho? saya ini orang Indonesia bu, mau saya bayar pake rupiah, gimana? Kejadian ini sempat membuat saya kehilangan Ratih dan Diana. Tapi karena jilbab yang saya pakai, ketika Diana dan Ratih bertanya pada salah satu penjual, mereka langsung bisa mengenali saya. Hehehe.. ada untungnya juga jadi minoritas di tempat itu 😛

Begitulah kiranya kisah perjalanan saya di Beijing selama lima hari kemarin. I am looking forward for another chance of going abroad for free. Apalagi ditambah dengan ilmu dan buku-buku yang bisa dibawa pulang. Thankyou Allah for YOUR blessings on me.

Bee