Kuliner Malang: Warung Wareg (Gurame Sadis)

Liburan lebaran kemarin (well, setelah liburan lebaran selesai lebih tepatnya lagi), saya ikut orang tua mudik ke Solo lanjut ke Malang untuk mengantarkan si bungsu yang bersekolah di salah satu pesantren di sana. Sabriyya tentu saja ikut serta. Surprisingly (well not really, actually), she seems OK for a long road like that, considering that we went on car. Ande saya mengatur bangku belakang sedemikian rupa hingga mirip dengan kasur untuk tidur Sabriyya. Alhamdulillah Sabriyya nggak rewel sama sekali saat saya rebahkan di bangku belakang itu, ia bahkan tidur nyenyak sekali. Kayaknya goyangan mobil dan sejuknya AC membuat ia tidur lebih nyaman. Kami sempat menginap 2 hari di Solo lalu sambung ke Malang.

Nggak terlalu banyak tempat kami kunjungi di Solo, karena Solo memang sudah menjadi destinasi hampir setiap tahunnya sejak kami kecil. Jadi makan di nasi liwet sini dan tahu koprak sana sepertinya sudah biasa saja. Nah, ketika di Malang kami sempat makan di beberapa tempat makan, tapi restoran satu ini layak diberikan review karena nggak hanya tempatnya yang nyaman, tapi juga harga yang nggak sama sekali menguras kantong (for my opinion).

warung wareg 1Menemukan tempat makan ini waktu jalan pulang dari mengunjungi tante suami di Malang menuju Villa tempat menginap di Batu. Perut saya sudah minta diisi lagi setelah sari-sari makan sebelumnya hampir habis jadi ASI untuk Sabriyya. Celingukanlah kami di jalan, mencari tempat makan yang menarik. Sebenarnya saat melihat spanduk besar yang bertuliskan Warung Wareg Gurame Sadis ini, saya sudah antipati duluan. Pasalnya kalau di Jakarta, makanan apapun yang punya embel-embel sadis pasti nggak jauh-jauh dari sambal rawit dan bawang yang kalau dijadikan teman makan nggak ubahnya malah jadi pengganggu saja. Udah nutupin rasa sedap lainnya, setelah makan masih ditambah perut panas segala. Hufft.. no way hose.

Tapi setelah celingukan berkali-kali, kok ya nggak ada lagi tempat makan yang terlihat menarik. Instead, Warung Wareg ini malah terus terngiang-ngiang di kelapa. Ya sudah, berbeloklah kami memasuki halaman parkirnya. Halaman parkir tempat makan ini sangat luas, saat itu bahkan ada satu bus wisata yang parkir di sana, dan masih tersisa banyak ruang untuk sekitar 10 atau lebih mobil lagi. Area makan terlihat jelas dari luar, karena konsep ruangannya yang memang minimalis tanpa banyak sekat. Pilar-pilarnya bahkan terlihat masih hanya tertutup semen kasar. Salah satu yang menjadi daya tarik pengunjung adalah satu lapangan kecil terbuka yang menyediakan tempat main anak-anak, jadi kalau bawa anak makan di sini, nggak perlu kuatir anak-anak akan bosan dan mulai mengacak-acak makanannya.

Area bermain anak-anak
Area bermain anak-anak

For foods? awalnya saya sempat kuatir juga dengan embel-embel sadis tadi, jadi agak menghindari menu makanan dengan embel-embel sadis di belakangnya. Tapi tanya punya tanya, yang mereka sebut sadis itu ternyata adalah saus asam manis. So, Gurame sadis = gurame goreng tepung dengan saus asam manis. Wah, kalau itu sih saya suka banget haha.. so, we ended up memesan:

20130818_125148
Gurame menthor (kiri) Gurame sadhies (kanan)
20130818_125225
Sambal Terong
20130818_125231
Tahu Penyet

Ditambah tempe penyet dan cah kangkung yang luput dari jepretan kamera :p

jeruk manis hangat (kiri) es milo (tengah) es teh tarik (kanan)
jeruk manis hangat (kiri) es milo (tengah) es teh tarik (kanan)

Dan jeruk nipis hangat juga se antri stress (which is jus timun campur sereh kalo nggak salah), mereka juga luput dari jepretan kamera πŸ˜€

Nggak cuma porsinya yang besar, rasa semua makanannya juga enak. Terutama menu andalan mereka si gurame-gurame goreng itu. Saya kalau bisa, mau deh menghabiskan itu semuanya sendiri (guramenya loh yaa :D). Bagaimana dengan minumannya? hmm.. nggak ada yang istimewa, bahkan teh tariknya adalah teh tarik instant sachetan itu. Tapi minuman anti stress itu sepertinya cukup membuat ande saya mengangguk-angguk puas.

Okay, mata dan perut sudah bahagia. Bagaimana dengan dompet pak boss? Saya sempat kuatir bapak saya bakal geleng-geleng kepala lagi (seperti saat kami makan di salah satu restoran khusus ayam goreng kampung di perjalanan menuju Solo). Tapi ternyata, total harga semua makanan dan minuman yang cukup memuaskan tersebut hanya sejumlah Rp. 205.000 saja saudara-saudara. Really worth it. Official sudahlah, nanti kalau ke Batu lagi, pasti kami akan mampir ke resto ini lagi. Hmm.. kalau keluarga Reza lagi mudik ke Malang, mau nggak ya saya ajak makan-makan di sini? karena katanya gurame menthis nya oke punya.

-Bee-

Advertisements

Family Vacation (Mercure Hotel)

So, suatu hari sebelum lebaran Papa (mertua) sempat buat pengumuman kalau punya voucher senilai 3 juta rupiah dari Antatour untuk produk apa saja, yang masa berlakunya habis akhir tahun ini. Waktu itu karena merasa masih jauh dari akhir tahun, ya kami anak-anaknya nggak begitu menanggapi, selain itu kami juga sedang merencanakan liburan lebaran ke Malang saat itu. But then, as time goes by, akhirnya Desember pun datang. Sebagian besar dari kami sudah lupa tentang voucher itu. Untung papa masih ingat. Akhirnya setelah diskusi panjang, kami memutuskan untuk menukarkan voucher itu dengan akomodasi menginap di Hotel Mercure Ancol. Pertimbangannya, lokasinya masih di Jakarta, jadi perjalanan menuju lokasi nggak bikin para ibu hamil (saya dan kakak ipar) encok pegel linu, hahaha.. dan lokasi ini dekat dengan Tanjung Priuk, tempat Reza bekerja. Yup, karena hari Sabtu pun Reza masih harus bekerja, jadi dipilihlah lokasi liburan sekitar Ancol yang nggak susah untuk dicapainya. Jadilah kami menukarkan voucher tersebut dengan 4 kamar Superior di Mercure Ancol.

Hari Sabtu (8 Desember 2012) pagi-pagi saya sudah dipanggil Mama untuk menyiapkan burger sebagai sarapan. I was really happy because Arby (Reza’s nephew) who is actually don’t really love eating, enjoyed my burger so much πŸ˜‰ Saya senang sekali, kali itu adik dan kakak Reza yang masing-masing sudah punya keluarga kecil sendiri sama-sama bisa meluangkan waktu untuk liburan ini. Especially this little family:

20121208_122635

So, here was the itinerary:

Sabtu (sekitar jam 8) pagi berangkat ke Ancol dan main di Gelanggang Samudra, lihat lumba-lumba, ikan pesut, dll sampai siang. Siangnya langsung check in hotel dan leyeh-leyeh sebentar. Sekitar jam 3 sore jalan-jalan ke pantai, main air dan pasir di sana. While emak-emak hamil menikmati angin cepoi-cepoi berharap nggak masuk angin di pinggir pantai. Menjelang malam, jalan ke Bandar Jakarta untuk makan malam di sana, merayakan *ehem* hari ulang tahun saya, padahal yang nraktir tetep aja Papa Mama, hahaha πŸ˜› Pulang dari Bandar Jakarta, langsung ke Hotel, then spend the rest of the day at our own room. Terserah deh tuh para pasangan mau ngapain aja πŸ˜›

the hotel room
the hotel room

While, in reality, this was what exactly happened:

Sabtu, sekitar jam 12 siang kami baru berangkat dari rumah Rasamala. Langsung menuju pantai sambil menunggu kedatangan keluarga kecil Mbak Nia (kakak pertama Reza). Nggak lama setelah mbak Nia datang, saya, Mama dan Mbak Nia berangkat ke Hotel lebih dulu untuk check in. Proses check in ternyata lumayan memakan waktu, karena kamar yang kami minta (Superior dengan 1 king size bed) nggak tersedia di satu lantai. Jadi kami harus legowo dengan 2 kamar dengan 1 king size bed, dan 2 kamar dengan 2 kasur single kalau ingin ada di lantai yang sama. Sempat berdebat-debat juga sih dengan resepsionis, that’s why it takes more time. Nggak lama setelah Mama mendapat semua kunci kamar, rombongan pantai pun datang dengan baju basah. Masuklah kami semua ke kamar masing-masing dan saya memutuskan untuk Shalat dan leyeh-leyeh sebentar. Nggak lama, Reza menelfon kalau dia sudah on the way ke Ancol, Mas Reno (suami mbak Nia), Mama, dan Saya menjemput Reza di Gerbang Utama Ancol. There we go, husband and wife reunited, yeaaaayy.. *levhay* πŸ˜›

husband and wife reunited
husband and wife reunited

Sore menjelang malam kami memutuskan untuk naik kereta gantung, dengan ini resmi sudah kunjungan ke Gelanggang Samudra dibatalkan πŸ˜› Abis itu, ganjel-ganjel perut dengan CFC (hell yeah junk food), cemana pulak sih CFC dibilang ganjel-ganjel perut *d’oh*. Saya sempat mengira kalau agenda dinner di Bandar Jakarta juga dibatalkan, karena setelah dari CFC kami kembali ke Hotel. Padahal saya sudah ganti baju dengan piyama, siap untuk bobok cantik. Eh tiba-tiba ada telp dari adik bungsu Reza, Yudith, mengajak ke Bandar Jakarta. Ya sudah, ganti baju lagilah saya. Sebelum ke Bandar Jakarta, kami sempat berhenti di pinggir pantai (tempat banyak pasangan mesra-mesra an) untuk makan duren. Bayangkan, satu keluarga besar, consist of: Papa Mama, Mbak Nia suami dan 1 anak, Saya dan Reza, Yudith suami dan 2 anak, menyerbu tempat sejoli sejoli sayang-sayangan, sambil menenteng duren dan bersiap untuk pesta duren di sana. Nggak sampe lima menit kok para pasangan itu satu per satu bubar, ngahahaha.. muups yaw πŸ˜› Padahal mah durennya juga ternyata belum matang, duren ini memang hasil jatuhan pohon duren di depan rumah. Ternyata jatuhnya bukan karena matang, tapi karena hujan angin beberapa hari sebelumnya 😦

Selesai pesta duren yang gagal total, akhirnya mampirlah kami ke Bandar Jakarta. Makan malam enak di sana. Saya sempat teler sebentar, bener-bener deh sejak hamil ini gampang banget capek dan ngantuknya. Tapi makanan di Bandar Jakarta agak susah ditolak yah. Yang saya paling suka saat itu adalah cumi goreng tepung dan kangkung tumis bawang putihnya. Saya sempat kaget waktu intip-intip bill makan malam saat itu. Kami sekeluarga besar, terdiri dari 8 orang dewasa dan 3 anak kecil, makan bersama dengan lauk yang lumayan menggiurkan, cuma habis sekitar IDR 350k. That was IDR 35k/person. Murah yah ternyata.

Dinner at Bandar Jakarta

Hari minggunya kami bangun pagi-pagi untuk sarapan di Hotel. I usually always love hotel breakfast. So many variety and the quality are often good. Tapi di hotel Mercure ini menu sarapannya kurang menggiurkan. Macamnya sih ada banyak, tapi dari segi kualitas rasa, biasa banget. That’s a huge turn off for me 😦

Setelah sarapan, Reza dan Mas Reno menemani anak-anak berenang di kolam renang hotel. Lumayan, mereka punya slide yang lumayan seru untuk anak-anak. Saya memutuskan untuk take another nap di kamar. Sebagian besar hari itu kami habiskan di hotel sampai waktunya check out. Iky, anak bungsu Yudith sempat histeris terkunci di lift hotel saat kami semua sibuk bersiap check out. Saya sempat bengong saat mendengar suara tangis histeris anak-anak di dalam lift, yang ternyata malah keponakan sendiri mwahahaha.. But it didn’t take long when finally the door opened again. Iky langsung kapok, seharian itu dia nggak melepaskan gandengan tangan ibunya sekalipun. Setelah check out kami kembali ke Bandar Jakarta untuk makan siang. Ternyata suasana Bandar Jakarta siang hari berbeda jauh dengan suasana malam sebelumnya. The music are Overly loud and not really comfortable. Belum lagi meja kami mendapat waiter yang kurang friendly. Malam sebelumnya waiter meja kami memberikan banyak rekomendasi seafood enak dan murah. Siang itu, si waiter malah memberikan rekomendasi seafood-seafood mahal. Akhirnya makan siang kali itu menghabiskan biaya dua kali lipat sebelumnya. Pelajaran untuk yang mau mampir ke Bandar Jakarta, waspada sama waiter yang suka iming-iming seafood mahal. Menurut saya, chef di Bandar Jakarta sudah oke punya untuk mengolah semua jenis seafood. So, be smart choosing the variety of fish or shrimp. Otherwise you might pay way too much that you actually have to.

Sejak dulu, diam-diam saya selalu memimpikan mendapatkan pasangan yang dekat dengan keluarga. A family man, they often called it. Dan Reza adalah family man sejati, Alhamdulillah hubungan saya dengan semua anggota keluarga Reza juga sangat baik. Liburan kemarin adalah salah satu harapan saya yang menjadi kenyataan. I always love a family vacation, and for next year hopefully we will have lots of it. Akan lebih seru lagi, karena saat itu kami sudah menggendong anak pertama kami. Amin yaa Rabb.

Allah, please take care of my little family. Give us a healthy and happy life, until the end. Amin.

Bee

[Resto Review] Warung Jepang Samurai

Sebenarnya tempat ini masih belum pantas disebut resto. Banyak orang menyebutnya dengan warung makanan Jepang saja. Letaknya tepat di seberang gerbang kompleks tempat tinggal saya, dan tempat ini sudah menjadi langganan tetap keluarga saya kalau seisi rumah lagi pada males masak semua πŸ˜€

Suasana Warung

Seperti yang saya tulis di judul, warung masakan Jepang ini diberi nama Samurai. Di atas adalah suasana warung dari tempat saya duduk beberapa hari yang lalu, saat mengajak keluarga yang berkunjung dari Solo untuk makan malam di sana. As you can see, tempatnya belum begitu berkompeten untuk diberi gelar restoran, but cozy enough to eat with you big family.

The open kitchen

Tepat di belakang pengamen dari foto pertama, adalah open kitchen dari warung ini. Ini baru namanya open kitchen, kita benar-benar bisa merasakan panas dari kompor yang mereka pakai hehehehe πŸ˜€ Dulu sekali waktu saya baru-baru mengenal warung ini, saya sempat datang ketika warungnya masih baru banget mau buka (sekitar jam 4 sore). Pegawainya masih sibuk mempersiapkan ini itu, termasuk kuah teriyaki yang rasanya lain dari yang lain. Saya sebenarnya ingin sekali mengambil foto adonan kuah yang masih mereka masak di sebuah wajan super besar itu. Tapi nggak enak sama pegawainya, kayaknya itu secret recipe mereka. Saya berusahan untuk mengingat-ingat kembali bumbu apa saja yang bisa saya lihat di wajan itu. Tapi sampai sekarang saya masih saja lupa. They really take this sauce seriously. Banyak banget herb yang mereka pakai di sana. Menurut informasi dari mereka sih, saus ini biasanya dibuat 4 hari sekali, dengan jumlah yang sama. Dan selama 4 hari tersebut sausnya dipanaskan setiap hari hingga rasanya jadi lebih Β special.

Untuk makan malam kemarin, saya dan suami memesan menu di atas ini. Chicken katsu untuk saya (IDR 17k), beef teriyaki untuk suami (IDR 14.5K), Salad (IDR 5.5K), nasi putih untuk saya dan suami (@ IDR 2k), minumnya kami sama-sama memesan teh manis hangat (@ IDR 2k). Percaya atau tidak, untuk salad tambahan, yang memesan adalah suami saya. Vegetables is his worst nightmare, tapi di resto ini dia makan semua saladnya dan bahkan memesan satu porsi lagi (meskipun akhirnya nggak dimakan di sana sih).

Chicken katsu di resto ini adalah daging bagian paha ayam yang dipotong bite size dan digoreng dengan tepung tempura. Dilengkapi juga dengan saus celup yang beraroma jahe. Kalau kamu nggak terlalu suka jahe, jangan lupa minta saus celupnya yang tanpa jahe. Beef teriyakinya, seperti terlihat di gambar adalah potongan daging sapi yang disiram saus teriyaki buatan mereka sendiri. Kedua menu tersebut dilengkapi juga dengan salad. Saladnya sendiri adalah irisan kol (lots of it), wortel, dan lettuce yang disiram dengan mayonaise racikan mereka sendiri juga. Sayangnya warung ini nggak menyediakan paket-paket tertentu. Semua makanan dijual terpisah, termasuk nasi putihnya. Minumannya juga nggak terlalu special, ya teh manis biasa πŸ™‚

Bagi kamu yang tinggal di daerah Depok Dua Tengah atau dekat jalan Raden Saleh, boleh banget mampir ke resto ini. I swear i did not know the owner so they didn’t pay me anything for this review. I just want to share a good place to eat and the price is so reasonable. Andai saja ada tempat makan semacam ini di margo city (hahaha.. ngayal).

Warung Jepang Samurai

Jl. Tole Iskandar

(Seberang Gema Pesona Estate)

-Bee-

Superb Weekend

Tadi siang sebuah e mail masuk ke inbox saya, yang ternyata adalah e mail permohonan moderasi komentar dari wordpress untuk komentar dari Dansapar ini:

Hahaha.. miris juga bacanya. Memang iya sih, sejak menikah rasanya jarang banget menulis di sini. I think i know why tapi ya sudahlah hahaha..

Okay back to the topic, weekend ini serasa seperti honeymoon lagi :D. Pada pesta pernikahan kami kemarin, kami mendapatkan hadiah satu voucher menginap di Hotel Kartika Chandra dan makan malam di Jakarta Restaurant – The Dharmawangsa Hotel. Weekend kemarin kami pakai keduanya sekaligus.

Kami sudah sering sekali melewati hotel Kartika Chandra, lokasinya dekat sekali dengan rumah orang tua Reza. Tapi belum pernah mencoba menginap di sana, yang saya tahu hotel ini sudah lama sekali berdiri. Sebelumnya saya sempatkan browsing-browsing gambar dan review dari orang-orang yang pernah menginap di hotel ini. I just want to know what kind of room we will staying at. Not everybody gave a good review, kebanyakan dari mereka menyatakan hotel ini terlihat kurang perawatan. Well, melihat suami saya yang komplain tentang banyak hal di hotel ini (padahal dia bukan orang yang suka komplain), kami memberikan nilai satu dari 5 bintang untuk semua hal di hotel ini.

Malamnya, setelah reservasi satu hari sebelumnya, kami berangkat ke Hotel Dharmawangsa untuk makan malam. Hotel Dharmawangsa terlihat sangat megah dan eksklusif. Jika di Hotel tempat kami menginap pintu masuk hanya dijaga oleh beberapa satpam, di hotel ini kami bahkan harus melapor terlebih dahulu sebelum pintu gerbang hotel dibuka. Seperti akan masuk ke Istana Negara saja *lebay*.

Tiba di lobi hotel, ke-eksklusifan itu masih kental terasa. Saat pintu masuk dibuka, saya melihat seorang perempuan berjalan anggun dengan gaun indahnya. Saya melirik pada pakaian yang saya dan suami kenakan, well let’s just say we wear who we are πŸ˜€

Sampai di restaurant kami disambut seorang resepsionis berpenampilan anggun dengan seragam baju orange dan bawahan batik. So neat. Dia langsung mengenali kami sebagai tamu dari bapak Haryadi, salah satu teman Mama Yvonne yang memberi kami hadiah voucher makan malam tersebut. Seorang pelayan mempersilahkan kami untuk duduk di sebuah sudut dekat jendela. Pelayan tersebut segera menjelaskan menu makanan hari itu, saya jujur saja merasa sangat asing dengan suasana tersebut, auranya terasa sangat intimidatif. This restaurant seems too out of our league. Setelah memilih menu buffet (instead of Ala carte) kami ditunjukkan menu utama hari itu. Untuk pertama kalinya saya melihat bentuk asli Foie Gras, hati angsa itu lho.

Le Starters

Namun sebelum menyantap main dish kami dibawa ke meja starter berisikan begitu banyak pilihan sayuran untuk salad dengan beragam dressing. Ada juga scallop dan king prawn sebagai proteinnya. Saya ambil hampir semua macam sayuran dan semua dressing. It all taste sooo good, the vegetables are sooo fresh. I was overwhelmed.

Le Main Dish

Setelah menghabiskan para starters tersebut, kami kembali ke ruang kecil tempat main menu disajikan. Untuk proteinnya, ada lamb rack, ribeye, dan lobster. Untuk karbohidratnya ada nasi goreng dan potato gratin, untuk sayurannya ada tumis sayuran dan sup bunga kol atau cauliflower. Saya ambil hampir semua pilihannya, hanya lamb rack dan foie gras yang nggak mampir ke piring saya. Porsi makanan yang ada di piring suami saya jauh lebih sedikit dari yang terlihat di piring saya. When i asked why, katanya dia tahu kalau saya nggak akan mampu menghabiskan semua yang saya ambil. It turned out i ate it all. So sory honey, nggak sering-sering aku dapetin makanan semewah itu ahahaha.. *ndeso*

Le Dessert

Antusiasme saya yang membuncah pada main menu berpindah pada suami saat kami menghampiri meja dessert. Unlike him, i don’t really like sweets. Reza doyan sekali makanan (dan minuman) manis-manis. He’s gone crazy seeing so many variation of pies on the table. Dari empat pilihan pie, Reza memilih Cherry Pie dan Lemon Pie masing-masing satu slice. Ditambah lagi kiwi sorbet dan vanilla ice cream dengan peach dan chocolate topping, lengkap dengan crunchy almond slices. Saya, setelah menolak untuk menyesal karena nggak mengambil dessert sama sekali, akhirnya memilih satu scoope vanilla dan strawberry ice cream yang saya berikan vanilla dan chocolate topping, tentu saja nggak lupa crunchy almond slices itu. The almond made everything perfect.

Di sela-sela sesi makan tersebut saya dan suami menduga-duga harga yang harus kami bayar seandainya hari itu kami tidak mendapatkan hadiah voucher. My husband said it could be more than a million rupiah, i almost fainted hahaha.. Beruntung banget Pak Haryadi berbaik hati memberikan hadiah ini, we cannot thank him enough. Lunaslah sudah satu wish di bucket list saya hehe πŸ˜€

Sepulang dari Jakarta Restaurant, kami mampir dulu ke Planet Hollywood untuk membeli tiket film The Avanger. Kata Reza, sayang banget udah nginep tetanggaan sama bioskop tapi nggak nonton. Lagipula kami memang sudah menunggu-nunggu film ini. The movie was hilarious, i love it. Di beberapa bagian lucu, di mana saya dan penonton lainnya tertawa, Reza tak bergeming, Hmmm.. 😐 Di akhir film saya merenung, kenapa yah saya suka sekali film-film superhero dan hal-hal khayal semacam itu. Waktu kecil dulu saya suka sekali serial Wonder Woman dan Batman. Meskipun plot ceritanya begitu-begitu saja (kalah dulu di tengah lalu menang kemudian :D) tapi nggak pernah absen saya tonton. Sekarang muncul Lord of The Ring dan Harry Potter, lalu ada X Men Trilogy dan terakhir ini The Avanger. Ah.. exciting! Lalu saya sampai pada satu kesimpulan bahwa ketertarikan saya pada superhero tersebut lebih karena saya senang melihat kejahatan dikalahkan dengan telak. Apalagi kalau kalahnya benar-benar konyol seperti adegan Loki dibanting bolak balik sama Hulk di film ini. It gives me hope that somehow bad people, lose πŸ™‚

Have a nice weekdays everybody πŸ™‚

Bee

* The Avangers movie picture taken from here.

Wisata Ngidam

Mengutip salah satu tulisan Jia di akun twitternya,

NGIDAM adalah saat pergi ke FX cuma buat makan spaghetti saus telur asin, truss balik lagi.

Dan kami sepertinya memang sedang ngidam-ngidamnya. As for me ini memang tidak bisa dinyana lagi. Pasalnya beberapa saat sebelum sesi makan sore di FX itu, saya baru saja selesai sesi makan siang bersama keluarga besarnya Reza. Tapi memang sudah sejak lama saya ingin mencicipi kembali masakan ini. Pernah beberapa kali mencoba membuat di rumah, tapi hasilnya nol besar. Saya jadi sebal, sepertinya saya memang penasaran saja yah. Kali ini penasaran yang lumayan menguras isi dompet. Meh!

Me and Jasmine Tea

Saya dan Jia sampai di FX sekitar jam setengah lima sore. Langsung saja naik lift ke lantai paling atas dan jalan mantap memasuki resto yang ada di pojokan deket lorong menuju toilet. Setelah memilih satu tempat duduk yang sepertinya cozy kami langsung buka-buka buku menu. Jia malah langsung memesan Spaghetti saus telur asin ke Mas Maulana (waiter kami saat itu) tanpa buka buku menu. Saya masih mau lihat-lihat dulu, siapa tau ada yang lebih menarik. Kata Siska kepiting soka saus telur asin di sana juga juara, tapi saya nggak menemukan makanan itu di buku menu. Saya takut pas sudah dipesan nanti harganya malah melebihi budget. Heuu.. Jadilah akhirnya ikutan Jia pesan Spaghetti saus telur asin. Minumnya kami sama-sama pilih teh hangat. Saya pilih jasmine tea, sedangkan Jia pilih lemon tea.

welcome bread

Sambil menunggu pesanan datang saya merasa dingin sekali. Ternyata tepat di atas saya ada lubang AC yang menyemprot angin dingin ke arah saya. Kebetulan belakangan ini kondisi badan saya sedang nggak fit, saya nggak mau ambil resiko dengan tetap duduk di spot itu, meskipun sepertinya cozy. Akhirnya saya minta pindah ke pojok yang lain. Tak lama kami duduk di sana, seorang waiter membawakan minuman pesanan kami, ditambah satu keranjang berisi dua roti polos dan dua stick keju. Ada juga tambahan butter dan pesto untuk olesan roti. Jia langsung saja menyambar salah satu roti yang ternyata masih hangat dan memotongnya menjadi dua, mengolesi butter dan pesto sambil nyerocos “Eh sumpah ya, ini enak banget loh. Yang ijo-ijo ini enak banget loh, apaan sih ini namanya? gimana ya cara bikinnya?”. Well Jie, itu namanya pesto, cara bikinnya tinggal ulek semua daunnya truss tambahin olive oil, salt and pepper. Begitu sih yang sering saya lihat di food channel hahaha.. *sok tau padahal belum pernah coba bikin* πŸ˜›

The famous spaghetti with spicy duck egg sauce

Nggak lama setelah roti dan stick kejunya habis kami gerogoti, datanglah dua pesanan utama itu. Saya pernah beberapa kali mencoba bikin sendiri di rumah tapi selalu gagal. Di percobaan pertama saya pakai telur asin yang sudah matang (boiled) dan warna saus nya nggak sekuning gambar di atas, lalu bentuknya masih berupa gumpalan-gumpalan gitu. Meskipun secara rasa sih sudah bisa disamakan lah ya.

Percobaan kedua saya coba pakai telur asin yang masih mentah. Jadi yah ternyata kuning telur bebek yang sudah diasinkan ini, meskipun mentah bentuknya sudah mengeras gitu. Kalau kita pecahkan telurnya, maka putihnya akan mengalir keluar, sedangkan kuningnya masih bertahan dengan bentuk bulatnya. Saat itu saya baru sadar kalau blender di rumah rusak 😦 jadi agak kesulitan menghancurkan si kuning telur ini. Mungkin di percobaan selanjutnya saya akan coba menghancurkannya dengan ditambahkan air panas. Semoga teksturnya bisa jadi cair.

Sebagai makanan yang memang sudah kami idam-idamkan, rasanya nikmat sekali bisa menghabiskan satu porsi itu sendirian ahahaha.. Spaghetti ini adalah salah satu makanan yang wajib dicicipi siapa saja yang suka wisata kuliner. Meski bandrol harganya bikin mikir beberapa kali dulu buat mampir, tapi worth the try kok πŸ™‚

Seperti yang saya bilang di awal tadi, selesai makan, saya dan Jia keliling-keliling sebentar lalu langsung pulang. Bener-bener wisata ngidam ini namanya πŸ˜›

Bee

Spaghetti Telur Asin IDR 71k |Β Hot Jasmine Tea IDR 19k |Β Hot lemon tea IDR 19k

*semua harga di atas belum termasuk PBI dan service

[Depok Sushi Place] Sushi Miyabi

So this sunday, my bestfriend opened year of Β 2012 by starting a new level ini her life, mariage. Saya dan Vege agak terpana juga dengan kabar baik yang dia sampaikan tiba-tiba ini. Rasanya baru kemarin kita menerka-nerka siapa yang akan menikah terlebih dahulu dari kami bertiga. Tebakan tentu saja tertuju pada saya, since i already arranging my wedding on March, 2012. Tapi jodoh memang rahasia Allah yah, Mayang malah bertemu dengan jodohnya lebih dulu dari saya, haha.. Jadi di sanalah Mayang, sudah menjadi istri orang di pembuka tahun 2012 ini. Hiks.. saya terharu..

Sehari setelah pernikahannya, Mayang mengajak saya makan di luar. Saat itu dia bilang sedang ingin sushi, so pergilah kami ke sebuah restoran sushi yang baru buka di Jalan Margonda. Namanya sushi Miyabi, setelah saya google barusan, ternyata sushi ini miliknya Christian Sugiyono. Ya baiklaah πŸ˜›

Deep fried tofu, hot ocha, ozawa salmon, green spider roll

Karena saat itu saya sedang lapar, maka kami memutuskan untuk memesan 3 porsi makanan. Saya memesan green spider roll, sushi dengan isi kepiting soka dengan avocado dan buanyak saus mayo, harganya IDR 26k. Mayang memesan Ozawa Salmon (since she love sashimi) sushi dengan salmon sashimi, harganya IDR 29k. Untuk tambahannya kami memesan Deep fried tofu yang harganya IDR 15k saja. Minumnya tentu saja hot ocha, free reffil, dan harganya IDR 5k. Yah masih reasonable lah yah dengan posisi restonya yang dekat kampus UI dan Gunadarma. Jelas sekali pangsa pasar yang mereka bidik adalah mahasiswa. Tapi kalau saya Mahasiswa, saya baru akan makan di sana saat awal bulan, ketika baru dikasih bapak uang bulanan, ngahahaha.. πŸ˜›

Rasa sushinya yah lumayan deh, mereka agak generous yah dalam hal menambahkan mayonaise. Tapi menurut saya agak berlebihan, jadinya mubazir karena nggak abis. Saya masih lebih suka makan di Sushi Rock and Roll yah, entah mengapa. But on top of that i still enjoying Sushi Tei the most hehe.. nggak bisa berpaling hati tampaknya πŸ˜€

Depok sudah berkembang lebih maju sekarang. Banyak ruko-ruko baru yang dibangun di sepanjang jalan margonda. Dan toko-toko branded juga mulai membuka gerainya di Margo City. Apartemen juga mulai menjamur di sini, di D mall sekarang malah sudah dibuka food hall, banyak bahan makanan yang tidak bisa dijumpai di hypermart, giant, dan carrefour, tersedia di ini. Wuah kalau begini Depok bisa didatangi lebih banyak orang lagi. Is this place still a nice place to stay? am i going to spend the rest of my life here? that’s another level of question i’ve got to figure out.

Bee

Never Before Solo Trip

Solo, sudah seperti kampung halaman kedua saya. Sejak kecil dulu, setiap lebaran saya dan keluarga hampir selalu ke Solo. Walaupun “pulang kampung” dalam kamus saya masih punya arti pergi ke Silungkang, tapi sampai saat ini Solo masih jadi destinasi paling utama setiap liburan datang. Seperti liburan kali ini, apalagi liburan kali ini sih lebih tepatnya lagi, di mana sudah ada baby Sholih yang menjadi tokoh paling ingin dikunjungi di sana πŸ˜€

The most wanted baby Sholih

Tapi kunjungan kali ini bisa dibilang berbeda, karena untuk pertama kalinya saya merasakan pengalaman jalan-jalan sebagai turis bersama dua orang teman saya Jia Effendie dan Rahne Putri. Sebenarnya saya sempat membaca salah satu update twitter Rahne tentang rencananya berlibur ke Solo. Tapi saat itu keluarga saya belum memutuskan waktu fix berangkat ke sana, jadi nggak berani kasih komentar dulu. Singkat cerita, ternyata rencana Rahne ke Solo itu bertepatan dengan waktu yang ande dan bapak saya ajukan, saya langsung kegirangan. Ditambah lagi berita baru kalau Jia juga mau ikut berlibur bareng Rahne.Β Tadinya mau banget menawari mereka tumpangan ke Solo, tapi saya kan pergi sama keluarga dan anggota keluarga saya nggak sedikit, alhasil kurang ruang deh di mobil, jadi urung kasih tumpangan *sigh*.

Berangkat dari Depok hari Jum’at sekitar jam dua pagi, kami sampai Solo sekitar jam 9 malamnya (masih di hari yang sama). Perjalanan terhitung lancar, hanya bertemu beberapa kali kemacetan karena ada kecelakaan dan saat memasuki kawasan Kota di Semarang, yah sudah biasa sih yang seperti itu. Sampai Solo saya langsung memantau perjalanan Jia dan Rahne yang karena nggak mendapat tiket kereta (dan menolak beli tiket pesawat, due to the highly price peak season) akhirnya memilih berangkat naik travel. Pegel banget menyimak cerita perjalanan mereka yang nggak sampai-sampai itu via twitter. Agak panjang kalau mau diceritakan di sini, coba baca saja cerita lengkapnya di blog Jia ini.

Rencana untuk langsung jalan-jalan bareng mereka di hari Sabtu pupus sudah. Saya menghabiskan hari sabtu itu hanya dengan dua agenda. Agenda pertama adalah sarapan dimsum di Hotel Diamond (Jl. Slamet Riyadi No. 392). Kalau ke Solo, agenda ini adalah yang paling utama. Banyak orang mengusulkan untuk sarapan sego liwet atau beli serabi Notosuman, atau makan soto Triwindu, dll. Bagi saya kalau ke Solo sangatlah rugi kalau nggak makan dimsum di Hotel Diamond ini. Dimsum nya enak banget, kualitas hotel gitulah. Porsinya gede dan ingredients yang dipakai juga yang kualitas nomor satu. Harganya juga murah, mengingat ada diskon-diskon tertentu yang mereka berikan setiap harinya. Up to 50% loh, lumayan kan satu porsi dimsum hotel harganya bisa sampai IDR 10k, kapan lagi?

Agenda kedua adalah marathon serial variety show Running Man nya Korea. Dapet serial ini dari KikiΒ dan nggak bisa berhenti ketawa nontonnya. I think i wanna make a very own review for this variety show, since i consider this as a genius way to promote a country. So, stay tune πŸ˜‰

Okay, setelah never ending on the road moment, akhirnya Rahne dan Jia sampai juga di Solo, hari sabtu malam lebih tepatnya. Besoknya saya menghampiri mereka ke hotel tempat mereka menginap, di Jalan Cakra. Dari Hotel Cakra tersebut, kami jalan kaki mencari sarapan menuju Jl. Slamet Riyadi. Saya sempat bingung karena Solo terlihat lengang dan beberapa tempat makan nggak buka. Biasanya di sudut-sudut jalan pasti ada aja mbok-mbok yang jualan sego liwet atau nasi kucing dengan banyak gorengan. Kok hari itu sepi banget. Belakangan kami baru ingat kalau hari itu adalah hari minggu dan bertepatan dengan hari natal pulak, pantas saja banyak toko yang tutup. Akhirnya kami diselamatkan oleh dua orang follower teman twitter Rahne (salah satunya ternyata sahabatnya Alvin) yang begitu baiknya mau menyusul kami dan menemani sarapan di Soto Triwindu. Sotonya enak, ya seperti soto-soto di Solo lah. Lauk tambahan yang biasanya ramai (ada perkedel, bakwan, sosis solo, sate ampela, tahu petis, sate telor puyuh, tempe mendoan, dll) kemarin cuma tersisa tempe dan tahu goreng saja. Tapi kami sudah puas dengan itu, karena rasa tempe gorengnya the best banget, bumbunya itu lho bisa banget meresap sampai ke dalam-dalam. Nyummo deh pokoknya. Saya makan soto daging dengan tempe goreng satu buah, plus minum es teh manis, semuanya cuma habis IDR 12.5 k aja.

Sehabis dari sana kami diajak mengunjungi Pasar Triwindu yang khusus menjual barang-barang antik. Rahne seneng banget diajak ke sini, dia malah beli ‘jam waker’ (baru sadar kata ini ada kemungkinan punya arti ‘jam untuk membangunkan’ :P) yang nggak perlu baterai. Jam semacam itu dulu pernah saya temukan di kamar salah satu tante saya dulu (waktu dia masih gadis, sekarang sudah punya anak tiga). Bentuknya persis sama, atau jangan-jangan itu memang jam tante saya yang dijual ke penjual di pasar itu? Halah, ribet! πŸ˜›

Setelah itu kami bergegas ke kantor dinas perhubungan kota Solo untuk ikut tour keliling kota Solo naik bis double decker Werkudara.

Bertahun-tahun liburan ke Solo, baru kali ini ada touring semacam ini. Bapak Joko Widodo, Walikota Solo yang tersohor itu memang kelihatan banget yah hebatnya. Sebelum beliau menjabat, mana ada inovasi semacam ini di Solo. Sayang banget kalo untuk periode selanjutnya beliau harus turun dari jabatannya, siapa yang bisa menggantikan? Yah, time will tell lah. Rahne dan Jia terlihat excited banget dengan tour ini. Bagi saya ini juga merupakan pengalaman baru. Begitu sampai kami langsung naik ke bagian atas bis untuk mencari tempat duduk yang strategis, kami duduk di bangku paling belakang dan bisa melihat pamandangan di luar bis dengan saaangat jelas. Tapi efek dari jendela yang terbuka lama muncul. Badan mulai terasa kebanyakan angin, beruntung Rahne punya stok tolak angin lumayan banyak di tas nya. Terselamatkanlah saya πŸ˜€

Setelah dua jam hampir masuk angin keliling kota Solo dan kembali lagi di kantor dinas perhubungan, kami melanjutkan perjalanan menuju taman Sriwedari. Di dalam taman ini ada sebuah arena bernama Tempat Hiburan Rakyat Sriwedari.

Harga tiket masuknya murah banget, tuh kelihatan kan di gambar di atas. Di dalamnya ada arena mainan anak-anak dan sebuah panggung besar yang saat itu sedang dipakai tampil sebuah band remaja (seumuran murid-murid saya) yang menampilkan lagu-lagu mereka sendiri yang hampir di setiap lagu ada kata sahabatnya hmmphh.. *tertawa tertahan*. Dulu waktu kecil (sebelum tau ada dimsum enak di hotel Diamond) saya dan sepupu-sepupu selalu merengek main di tempat ini. Wahana favourite kami adalah bom bom car. Uang bapak hampir selalu habis di tempat ini, since setiap wahana membutuhkan tiket sendiri (mereka nggak sedia tiket terusan semacam di dufan :P) dan jumlah sepupu saya juga buanyak banget, tiketnya bapak semua yang bayarin ngahahaha…Β Going to this place brings back those memories. I almost drop a tear here.

Lalu kemudian saya menemukan wahana ini, Rumah Hantu, langsung excited mengajak Rahne dan Jia main wahana ini, beli tiketnya (seorang IDR 5k) dan berjalan riang mendekati tempat wahana.

Ternyata kosong, mana ini mas-mas yang jaga? Karena kebelet pee pee, saya akhirnya pamit ke toilet dulu. Sekembalinya dari sana, sudah ada dua anak kecil bergabung dengan Jia dan Rahne ketakutan di ruang tunggu. Mas-mas mekaniknya juga sudah hadir. Bersiaplah kami semua menuju kereta kecil yang nantinya akan membawa kami masuk ke dalam ruangan penuh hantu imitasi itu. Saya girang sendirian, Rahne dan Jia sibuk ketakutan dan berbagi perasaan ngeri mereka di timeline twitter, si dua anak kecil juga sibuk meyakinkan diri mereka sendiri kalau wahana itu cuma bohongan, nggak ada hantu beneran di dalam sana, pemandangan yang lucu sekali. Ketika kereta mulai bergerak, dua anak kecil yang duduk di kereta paling depan berteriak ketakutan, karena kereta mereka bergerak sendiri, nggak diikuti kereta Jia dan Rahne di belakangnya. Spontan mereka melompat keluar dari bangku mereka, mas-mas mekanik menekan tombol berhenti dari mejanya. Saya akhirnya berpindah duduk di bangku mereka menemani ke dalam. Sampai di dalam kedua anak itu nggak berhenti berteriak sambil mencengkram tangan saya. Saya sendiri? sibuk foto-foto sambil tertawa geli. Rahne dan Jia di belakang sana entah sedang sibuk apa, sesekali saya mendengar mereka berteriak ketakutan. It was really fun, yet really funny *LOL*.

Setelah berkeliling sebentar di arena bermain anak-anak itu, kami memutuskan untuk bergerak ke tempat selanjutnya. Berputar-putar mencari Museum Batik, kami sampai di pertigaan dekat rumah Tuo (tante) saya, tempat saya menginap. Saya melihat sebuah baliho besar memampangkan beberapa gabar makanan beserta harganya yang berkisar IDR 2k sampai IDR 5k. Ada sebuah makanan yang menarik minat saya. Jadah londo (uli bakar disiram dengan saus oncom) seharga IDR 4.5k saja. Hooo… saya langsung mengajak Rahne dan Jia berkunjung sebentar.

Tempat itu bernama Waroeng Djadoel, terletak tepat di atas sebuah butik di pertigaan sebelum pasar kembang Klewer. Menu yang ditawarkan beragam banget, kebanyakan sih makanan untuk ngemil semacam kentang goreng, sosis goreng, jamur goreng, dan heee?? ke mana itu Jadah Londo yang saya incar? di buku menu, pilihan itu ditutupi sticker besar. Ternyata menu itu nggak lagi tersedia di sana. Saya kecewa berat 😦 Akhirnya kami memesan kentang, sosis, dan jamur goreng untuk menemani teh tarrik dan sekoteng hangat. Oh, Jia juga sempat memesan pecel yang datangnya lamaaa banget. The taste is not that impressive, despite the price that could only give you some cracker in Jakarta πŸ˜› Yah, apa sih yang kamu harapkan dari harga semurah itu. Tapi tempat itu cocok banget untuk ngopi-ngopi bareng teman-teman sambil bergossip ria. Atau seperti yang beberapa tamu di sana lakukan, mengundang klien atau prospekan MLM πŸ˜›

Selesai makan, saya akhirnya memutuskan untuk pamit pulang sedangkan Rahne dan Jia melanjutkan petualangan mereka. I just can’t wait to see their post about the whole experience. Please do write it Ne, Jie πŸ˜€

Malamnya, setelah menahan lapar dan penundaan yang seperti nggak berujung, akhirnya saya dan keluarga makan malam di sebuah Resto bernama Kusuma Sari. Letaknya nggak jauh dari Hotel Cakra tempat Jia dan Rahne menginap. Sejak dulu saya dan keluarga besar memang sering makan di tempat ini, dan baru kali ini juga saya benar-benar memperhatikan menu dan harga yang mereka tawarkan.

Menawarkan berbagai jenis makanan, dari sapi tumis lada hitam, sampai berbagai steak, juga ada nasi goreng, dan cemilan semacam kroket dan risol, ditambah lagi berbagai macam minuman dan ice cream. Kusuma Sari seperti one stop resto gitu. Harga makanannya juga nggak bikin dompet serasa kerampokan. Rasa makanannya sih ya standard aja. Saya memesan Chicken Maryland steak, yaitu ayam berbalut tepung yang digoreng lalu disiram kuah entah apa. Rasanya ya begitu, sepertiΒ ayam berbalut tepung yang digoreng lalu disiram kuah entah apa hehehe πŸ˜› Pulang dengan perasaan sangat happy karena berkesempatan untuk menggendong Sholih dari Kusuma Sari sampai berkeliling ke rumah nenek dan Tuo πŸ˜€

Besoknya, sekitar jam empat pagi, saya, bapak, dan Aziz sudah bertolak lagi ke Jakarta. The time to enjoy Solo was as usual not enough. Saya masih belum mencicipi gudeg ceker dini hari itu, truss minum susu di Shi Jack juga belum. But i can still enjoy it next time. Hopefully at that time i’ll be alreadyΒ married, amien hehe πŸ˜€ Dan semoga di kunjungan berikutnya itu, Solo sudah lebih baik lagi, terutama mental rakyatnya untuk menerima arus wisatawan yang surely melonjak tinggi.

Fiuh.. beneran panjang banget deh postingan ini. Yah begitulah, my never before Solo Trip. Akhirnya, setelah sekian lama, bisa juga menikmati Solo sebagai turis.

See you on the next trip πŸ˜‰

Bee

*saatnya nonton ulang Running Man :P*