Such a (not) long way

Ternyata sudah satu tahun berlalu sejak saya post foto bertiga dengan Reza dan Sabriyya yang masih di dalam perut. Sekejapan mata, tiba-tiba sudah lebaran lagi saja.

image

Happy Iedul Fitri semuanya. Semoga semua amalan di bulan Ramadhan diberikan pahala yang sesuai oleh Allah SWT. Mohon maaf lahir batin dari kami sekeluarga. Enjoy holiday 😉

Delivering Sabriyya To The World

Dalam kata lain bisa juga dibilang “melahirkan Sabriyya” hehehe..

Okay, it’s been almost 4 months since i gave birth to this little angel, dan sebelum saya lupa bagaimana proses kelahiran anak pertama saya ini, marilah kita torehkan di sini. So that later, if you read this my little solihah, Sabriyya, you can at least imagine how you brought to this world. Bunda menuliskan ini untuk kamu ya anak solihah 🙂

Hari itu, tanggal 11 Maret 2013, kandungan saya sudah berumur 39 bulan 2 hari. Sejak awal kehamilan, saya tahu saya nggak mau melahirkan anak ini lebih dari 40 minggu. Apalagi sejak kandungan memasuki trimester ke 3, perut sudah overly buncit, makan apapun rasanya nggak enak, kaki juga ikutan buncit, rasanya mau buru-buru saja melahirkan anak yang di dalam perut itu. So, pagi-pagi di hari itu (senin, 11 maret 2013), saya kirimlah bbm dan whatsapp ke groups keluarga dan teman-teman untuk mendoakan saya agar bisa melahirkan sebelum minggu ke 40 dengan lancar. Lalu, doa-doa pun berdatangan dari mereka semua dan saya sibuk mengamini dengan serius semua doa itu. Kita nggak pernah tau doa siapa yang saat itu sedang dikabulkan Allah toh? 😉

Siangnya, masih di hari itu saya merasa iseng sekali diam di rumah. Akhirnya dengan tenaga yang segitu-gitunya itu, saya bersih-bersih kamar dan mengangkat perabotan, dipindahkan ke sana ke mari. Kamar bersih, hatipun senang. Lalu terjadilah pergerakan itu di perut saya. Saya mulai merasakan ngilu-ngilu di perut bawah saya. Saya yang belum pernah merasakan kontraksi kelahiran, dan kebanyakan membaca tentang kontraksi palsu di internet, akhirnya tenang-tenang saja. Baru sekitar maghrib saya merasakan ngilu yang berbeda, namun masih belum yakin dengan apa yang saya rasakan itu. Bertanya pada mama mertua pun, katanya itu hanya kontraksi biasa. Saat saya bertanya bagaimana rasanya kontraksi tanda-tanda kelahiran itu, jawabnya hanya “Nanti juga tau” hampiiiir semua orang yang pernah melahirkan saya tanyakan pertanyaan yang sama, menjawab dengan jawaban tersebut. Okay, by the time i know how it feels, then it’s will be too late right? heleeeehhh >_<

Akhirnya, saya berusaha untuk menikmati rasa nggak enak itu. Mengobrol dengan suami sampai sekitar jam 10 malam, lalu masuk kamar berniat untuk tidur. Saat itu di kamar sedang ada mama mertua sedang pakai komputer, dan keponakan sedang enak tidur di kasur. Posisi tidurnya keponakan ini lumayan mengganggu kaki saya yang nggak bisa diselonjorin hehehe :P. Berniat untuk meminta suami untuk memindahkan keponakan ke kamarnya sendiri, duduklah saya dan memanggil mama. Saat saya akan melontarkan kalimat kedua, mengalirlah air ketuban itu seperti bendungan bocor. I cant stop it, of course hahaha… Sedikit panik saya panggil mama dan memberitahukannya kalau ketuban saya pecah. Mama langsung menghampiri dan menyuruh saya pergi ke kamar mandi. Saya panggil suami untuk mengambilkan pembalut dan celana bersih ke kamar mandi. Tak lama, saya sudah kembali rebahan di kasur dengan sudah berganti pakaian siap dilarikan ke puskesmas. Suami menyiapkan barang-barang yang memang sudah saya siapkan beberapa minggu sebelumnya untuk dibawa ke puskesmas. Sekitar jam 11 malam saya, suami, mertua, dan orang tua saya yang langsung datang dari Depok berangkat ke puskesmas Tebet.

Sampai di puskesmas saya diminta untuk langsung ke ruang persalinan untuk diperiksa dalam. Saat itu pembukaan masih tahap pembukaan 1 kecil. Bidan yang memeriksa saya bilang mereka akan tunggu sampai jam 4 pagi, jika bukaan belum juga maju saya akan diberikan obat induksi untuk memacu bukaan. Saya diperbolehkan untuk menunggu di kamar pasien, di sana ande saya langsung mengakupuntur saya untuk merangsang bukaan. Saya sempat merasakan mulas-mulas kecil, namun nggak terlalu sakit. Saya bahkan sempat tidur sampai sekitar jam 6 pagi.

Esoknya, sekitar jam setengah delapan pagi, mama meminta saya untuk mandi dan mengganti baju lalu langsung ke ruang persalinan. Waktu pemberian obat induksi diundur karena pagi itu ruang persalinan penuh dengan ibu yang melahirkan. Jam 8 pagi itu saya berbaring di ruang persalinan dengan obat induksi diinfuskan di tangan. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, akhirnya merasakan juga yang namanya diinfus hehehe 😀 Beberapa saat setelah infus dipasang, mulailah saya merasakan yang namanya mulas karena kontraksi. Beberapa menit sekali para asisten bidan yang adalah anak-anak murid sekolah kebidanan yang sedang PKL yang jumlahnya buanyak bener itu memeriksa denyut jantung bayi saya. Kalau di rumah sakit, pemantauan denyut jantung ini sudah dilakukan secara modern, yang muncul di monitor itu lho. Kalau di puskesmas, proses ini dilakukan secara manual, jadi posisi saya yang sedang mulas-mulas itu harus telentang sempurna agar detak jantung bayi terdeteksi secara akurat. Saat bukaan masih tahap awal sih masih oke-oke saja ya pelaksanaan proses itu. Tapi di bukaan tahap pertengahan dan akhir, Masya ALLAH.. setiap terlentang saya malah maunya mendorong, padahal belum waktunya 😦

Saya penakut, penakut akut. Sama kucing saja saya takut, sama dokter gigi apalagi. Tapi entah sejak pecah ketuban sampai akhirnya mulas-mulas di kamar bersalin, rasa takut itu hilang sama sekali. Yang ada hanya perasaan excited, sebentar lagi saya akan memeluk anak saya, di dalam pelukan sebenarnya bukan hanya di dalam perut. Sebentar lagi saya bisa melihat seperti apa wajahnya, seperti apa matanya, seperti apa parasnya. Stase awal bukaan saya bahkan masih bisa tertawa-tawa, para siswa PKL pun heran melihat saya semangat sekali seperti itu. Oh iya, salah satu dari mereka bilang kalau ada sensasi ingin buang air kecil, sebaiknya dibuangkan saja ke kamar mandi. Karena kandung kemih yang penuh akan menghambat jalan lahir yang akan ditempuh oleh anak. Sejak mendengar itu, setiap ada sensasi itu saya langsung turun dari dipan dan berjalan ke kamar mandi. Ibu-ibu lainnya yang sedang melewati fase bukaan seperti saya pun terheran-heran melihatnya. Oh iya, satu hal lagi yang harus dilewati jika melahirkan di puskesmas, kita akan berada dalam satu kamar bersalin dengan dua orang ibu lainnya, tanpa ada sekat satupun. Jadi nikmatilah deh itu wajah-wajah kesakitan ibu-ibu tersebut saat kamu juga kesakitan hahahaha… beruntung yang bareng dengan saya saat itu nggak ada yang melewatkan proses bukaannya dengan teriak-teriak histeris. Tapi tetap dong ada yang drama.

Oke, intermezo sebentar. Jadi agak siangan sedikit di hari itu, saat saya dan satu orang ibu sedang melalui proses bukaan yang seru, masuklah satu orang ibu lagi yang usianya masih 19 tahun. Periksa dalam mengatakan kalau ibu itu sudah bukaan 3. Bidan menyuruhnya untuk mengganti baju dan celana dengan kain, lalu memintanya untuk makan siang. Duduklah dia di dipan ketiga dan menyantap makan siangnya. Di sampingnya, tentu saja saya dan satu orang ibu lagi sedang mengontrol diri kami untuk tidak berteriak-teriak karena kesakitan hahahaha.. stase bukaan kami dekat, jadi mungkin ketegangan di wajah kami kurang lebih sama. Entah karena ibu berumur 19 tahun ini merasa terintimidasi atau apa, setelah menghabiskan makan siangnya dia pamit keluar ruangan bersalin. Ibu ini memang belum pecah ketuban, jadi masih boleh jalan ke sana ke mari untuk induksi alami. Tiga jam kemudian, ibu ini masuk lagi ke dalam ruang bersalin dengan dipaksa-paksa oleh bidan. Si ibu menolak masuk dan bilang mau pulang saja, padahal sudah bukaan lengkap. Woot? tiga jam dan dia sudah bukaan lengkap saja? saya yang sudah di sana sejak pagi masih saja di stase tengah (sekitar bukaan 5). Ibu ini ternyata ketakutan melihat saya dan satu ibu lagi kesakitan di dalam ruang bersalin, jadi saat dia keluar dia marah-marah ke suaminya sambil minta pulang naik bajaj. Marah-marahnya ibu ini juga superb, pakai hentak-hentak kaki dan memukul suaminya. Pantas saja 3 jam kemudian sudah bukaan lengkap. Bidan yang on duty saat itu kebetulan adalah bidan senior. Dia dengan sedikit galak meminta ibu ini untuk berbaring di dipan, karena anaknya sudah harus dilahirkan. Saya yang saat itu sudah mulai merasakan mulas yang masive harus menyaksikan adegan ini di depan mata saya dan mendengarkan bagaimana ibu remaja tersebut melahirkan anaknya. I just couldn’t describe it well, tapi yang pasti selama adegan drama tersebut berlangsung, mulas saya terasa lebih sakit dari sebelumnya 😦 Jadi buat kamu yang mau melahirkan di puskesmas, kemungkinan seperti ini boleh juga dipertimbangkan 😀

Lanjut ya ceritanya. Di bukaan stase pertengahan, sekitar bukaan 5 saya merasakan sensasi ingin mendorong. Tapi asisten bidan yang bertugas mendampingi saya wanti-wanti sekali pada saya untuk tidak mendorong, karena bukaan masih setengah jalan. “Kasihan bayinya bu, nanti kepalanya menjendol, belum lagi kalau jalan lahirnya meradang” begitu katanya. Waduh, saya langsung paranoid dong. Gimana deh, kan bukan saya yang mau mendorong, tapi ini emang rasanya begitu. Jadi kata ande cara menahannya adalah dengan mengatur nafas dengan baik. Lalu fokuslah saya pada pelajaran pernafasan yang pernah saya terima dari sekali-sekalinya datang ke kelas senam hamil. Apakah sensasi mendorongnya hilang? oh, tentu tidak, emakin lama malah semakin kuat. Akhirnya saya minta izin untuk duduk bersila, karena dengan begitu saya bisa sedikit terbantu menahan sensasi mendorong tersebut. Untung saja diizinkan, dan katanya malah bagus, posisi tersebut bisa membantu mempercepat proses bukaan. Setelah beberapa lama nyaman dengan posisi duduk, saya kembali diminta tidur untuk memeriksa denyut jantung bayi. Proses ini adalah proses yang paling saya benci saat itu hahaha.. Dan ketika saya membaringkan tubuh saya, tiba-tiba saja saya mau muntah. Nggak berapa lama setelah memberitahu mama mertua kalau saya mau muntah, muntah beneranlah saya. Kotorlah sekujur daster saya dengan muntah, lalu harus ganti baju dong saya. Mak, plis deh.. what next? >_<

Pertanyaannya what next ya? well, next adalah saat saya berkonsentrasi untuk menahan sensasi mendorong yang semakin lama semakin kuat, tiba-tiba saja saya malah mau buang air besar. Haduuuhh.. apa lagi deh iniii.. Saya bisikkan rasa ini ke ande, kata ande nggak apa-apa, itu biasa. Kalau mau keluar, ya dikeluarkan saja sambil tiduran itu. Well, yeah, this is disgusting and hmm embarasing, but then saya ‘buang-buang’lah di dipan itu ehehehehe.. *duh*. Malu nggak sih? hmmm.. kayaknya rasa malu udah nggak berlaku ya saat mulas begitu. Untungnya para asisten bidan itu juga kooperatif, mereka mungkin sudah pernah mengalami hal yang sama sebelumnya (atau mungkin worse), jadi dengan santainya mereka malah membersihkan kotoran saya. Masya Allah, begitu mulia deh pokoknya profesi mereka. Saya nggak berhenti mengucap maaf dan terimakasih pada mereka sampai esok harinya, saat saya sudah boleh pulang.

Oke, pukul 5 kurang 10 menit sore itu, ibu di samping saya diperiksa dalam untuk kesekian kalinya. Ibu ini entah masalahnya apa, padahal proses bukaan kami hampir bersamaan, tapi di stase akhir bukaan kok ya anaknya nggak turun-turun ke panggul. Akhirnya setelah berdiskusi dengan keluarganya, dirujuklah ibu ini ke rumah sakit. Segera setelah ibu ini keluar kamar bersalin, saya diperiksa dalam. Saat itu suami saya sudah boleh masuk untuk mendampingi, karena ruang bersalin sudah kosong. Sebelumnya, nggak boleh ada laki-laki di dalam ruangan itu, jadi yang mendampingi saya (secara bergantian adalah ande, mama mertua, dan Azizah). Pada periksa dalam ke tiga tersebut, ternyata bukaan saya sudah sempurna. “Oke ya, sudah boleh belajar mendorong” begitu kata bidan yang on duty saat itu.

HAH? belajar mendorong? what is that suppose to mean?

Saya benar-benar kebingungan mendengar kalimat bidan itu. Belajar mendorong? baru proses belajar? kenapa nggak dari kemarin-kemarin saya diajari? hahahaha… di tengah kebingungan saya itu, bidan dan para asistennya mulai sibuk di depan saya, menyiapkan proses kelahiran. Saya hanya senyum-senyum ke suami sambil terus kebingungan. “Yang, maksudnya belajar ndorong itu apa?” tanya saya. “Nggak tau, aku juga bingung” jawaban suami. Yaklhooo.. hahaha..

Oke, ternyata belajar mendorong yang dimaksud adalah sambil proses kelahiran yang sebenarnya. Saya yang sudah banyak membaca artikel tentang kelahiran di internet dan juga hasil tanya sana sini (kebanyakan tanya ke Azizah) akhirnya bisa mempraktekkan apa yang dijabarkan di artikel dan oleh Azizah tersebut. Dengan dibantu suami yang mengangkat tubuh saya saat saya mendorong, proses kelahiran Sabriyya berlangsung. Dengan 5 kali dorongan, terdengarlah suara tangis merdu itu untuk pertama kalinya. Saya menunduk untuk melihat putri saya yang cantik dibersihkan dan dipotong tali pusarnya oleh suami. Semua terasa surreal, kayak mimpi saja. Saya menoleh ke suami dan mendapatinya sedang berkaca-kaca melihat putri kami. I feel so flattered, Alhamdulillah he loves her that much. Segera setelah dibersihkan alakadarnya (tanpa dipindahkan dari dipan tempatnya dilahirkan), Sabriyya langsung ditidurkan di pelukan saya untuk proses IMD. Proses inilah yang saya tunggu-tunggu. Interaksi pertama kami di dunia. Hangat tubuh Sabriyya nggak hanya menghangatkan dada saya, tapi terus menjalar ke jantung hati saya. Semua sakit terbayar dengan sempurna. Nggak ada kata-kata yang sepadan dengan apa yang saya rasakan saat itu. Resmi sudah saya menjadi ibu, mencintai yang seperti itu baru kali itu saya rasakan, dan sampai saat ini tak pernah hilang sedikitpun.

Talia Sabriyya Ihsan, born on March 12, 2013. W: 3,1 kg H: 48 cm
Talia Sabriyya Ihsan, born on March 12, 2013. W: 3,1 kg H: 48 cm

Sabriyya putri bunda, terimakasih sudah mencintai bunda tanpa syarat apapun. Terimakasih sudah menerima bunda apa adanya. Terimakasih sudah hadir di tengah-tengah ayah dan bunda. We love you like we could never imagine before. Selamat datang di dunia, tumbuhlah menjadi anak yang Solihah, sehat, dan pintar. Berbahagialah selalu, dan jadilah anak yang menyenangkan.

Bee

My Breastfeeding Drama (Part 2)

Okay, selagi Sabriyya masih tidur, mari kita lanjut.

Setelah 3 sesi pertemuan di St. Carolus saya akhirnya memutuskan untuk ikhtiar di rumah saja. Sabriyya tetap saya berikan susu tambahan, saya memberikan ia susu kambing murni sebagai tambahannya. Banyak orang bertanya mengapa saya malah memberikan susu kambing murni dan bukan susu formula untuk Sabriyya. Karena ande saya bilang susu kambing itu adalah susu yang paling ramah untuk manusia. Tingkat alerginya rendah dan kandungan nutrisi-nya paling mendekati ASI. Sedangkan susu formula sudah buatan pabrik, entah apa yang ada di dalamnya. Sejak hamil saya memang membatasi minum susu sapi dan lebih sering minum susu kambing dan kopi radix (kopi herba, produk dari HPA Indonesia) untuk tambahan nutrisi pada tubuh saya dan janin. Alhamdulillah setelah ruam dan bintik-bintik memenuhi wajahnya di awal kelahiran, yang saya obati juga dengan salep herba, beberapa hari kemudian wajah Sabriyya mulus lagi. Sampai Azizah adik saya heran sendiri, kok Sabriyya bisa mulus banget begitu mukanya padahal ia minum susu tambahan, sedangkan Sholih (anak Azizah) dulu sempat alergi padahal hanya diberi ASI. Mungkin karena saat hamil dulu Azizah menambahi nutrisinya dengan susu sapi UHT. Wallahua’lam juga sih hehehe.. ini sok taunya saya aja 😀

Anywaaaaayyyy.. (kenapa jadi ke mana-mana hahahaha..)

Di rumah saya terus berusaha untuk menempelkan PD saya pada Sabriyya, meski ia tetap menolak. Sabriyya terus disuapi susu kambing dengan sendok dan cup feeder. Lalu muncul kekuatiran baru, bagaimana Sabriyya bisa terbiasa menyedot kalau setiap hari ia hanya disuapi dengan sendok dan cup feeder. Sedangkan proses menyedot itu bisa merangsang kerja otaknya juga, kalau kata orang semakin sering dia menyedot akan semakin pintar nanti dia. Bagaimana dengan anakku? masa ia akan tumbuh jadi anak yang bodoh karena nggak terbiasa menyedot? Dengan kekuatiran itu, dan belum adanya teori baru yang bisa membantu latch on Sabriyya pada saya, akhirnya saya suapi Sabriyya dengan menggunakan Tommee Tippee. Dot bayi yang konon memiliki niple yang mirip dengan payudara.

Tommie Tippee
Tommee Tippee

Di hari pertama saya memutuskan untuk menyusui Sabriyya dengan Tommee Tippee, seorang teman bbm saya dan bertanya tentang drama menyusui saya ini, ia dapat info dari suami saya. Saya ceritakan semuanya, dan ia memberikan rekomendasi seorang ahli laktasi bernama Dr. Asti Praborini yang praktek di Kemang Medical Care. Sejujurnya saya sudah mulai skeptikal dengan proses laktasi ini. Tapi teman saya ini terlihat semangat sekali, sampai menawarkan diri untuk menemani saya ke KMC. Akhirnya dengan sisa antusiasme yang ada, saya book sesi dengan dokter Asti di KMC sambil googling tentang sosok dokter ini. Saya datang ke KMC dengan perasaan gamang, ada ketakutan kalau endingnya akan sama seperti di St. Carolus, tapi tetap positif thinking. Selama di ruang tunggu, perut saya terasa mulas karena nervous. Saya sendiri heran, kenapa nervousnya sama seperti saat mengantri dokter gigi? ( i hate dentist, btw ;)).

Di dalam ruangan dokter Asti, saya dan ande dipersilahkan duduk di bangku yang bersebrangan dengan meja Dr. Asti. Dengan ramah dokter Asti menyapa kami dengan salam, lalu bertanya “Ada yang bisa saya bantu?” rasa mulas saya perlahan-lahan mereda. Saya mulai bercerita tentang kesulitan saya menyusui Sabriyya. Dokter Asti hanya mengangguk-angguk saja, yang membuat saya semakin rileks adalah, dokter Asti tidak melihat saya dengan pandangan menghakimi saat saya bilang kalau Sabriyya sudah diberikan susu tambahan. Ia kemudian meminta izin untuk memeriksa Sabriyya. Saat itulah kemudian dokter Asti mengatakan kalau Sabriyya memiliki Tongue Tie dan Lip Tie dan perlu dilakukan bedah kecil (biasa disebut frenotomi atau insisi). Saat saya googling tentang dokter Asti, memang sebagian besar berita yang saya dapatkan adalah tentang tongue tie dan frenotomi ini. Dokter Asti kemudian menunjukkan kepada saya sebuah buku dengan halaman penuh gambar bayi dengan tongue tie dan lip tie ini dan mengatakan kalau inilah yang membuat Sabriyya tidak bisa menyusu dengan optimal. Salah satu indikasinya adalah kenyataan bahwa saya cadel, karena ternyata cadel ini menurun. Dan orang-orang yang cadel biasanya memiliki masalah tongue tie. Lidah Sabriyya yang tertahan tongue tie inilah yang membuat ia nggak bisa meletakkan puting saya pada tenggorokannya dan memijat aerola untuk ASI yang ia butuhkan. Hal ini juga yang membuat puting saya luka lebih parah dibanding ibu-ibu awal menyusui lainnya. Kalau hal ini tidak diatasi, maka puting saya nggak akan pernah sembuh.

Infant_tongue_position-277x300
Ilustrasi proses menyusui bayi dengan tongue tied dengan yang normal

Lalu prosesnya cepat sekali, Dokter Asti menyodorkan sebuah surat pernyataan persetujuan frenotomi kepada saya lalu menyiapkan alat-alat untuk meng-insisi Sabriyya.  Saya sempat bimbang, karena ini adalah keputusan yang harus saya buat secepatnya dan menyangkut anak pertama saya. Namun dengan Bismillah, jika memang ini yang baik untuk Sabriyya, sambil memohon perlindungan Allah saya tanda tangani surat tersebut. Lalu nggak sampai setengah menit terdengar suara tangis Sabriyya yang kesakitan, Dokter Asti yang sebelumnya meminta saya untuk mempersiapkan PD saya untuk menyusui langsung menempelkan mulut Sabriyya ke PD saya. Alhamdulillah Sabriyya sempat mau menyedot puting saya dan ASI sempat bersemburan ke dalam mulutnya. ASI inilah yang kemudian memberhentikan perdarahan di bawah lidah Sabriyya yang tadi di-insisi. Sesaat kemudian, Sabriyya kembali menarik mulutnya. Saat itulah Dokter Asti melihat indikasi bingung puting yang Sabriyya alami, lalu keluarlah statement itu: “Wah, kalau begini kayaknya musti saya rawat inap nih”. Saya mendengar kalimat itu semacam sedang mendengarkan sabda alam *lebay* karena memang itulah yang saya inginkan. Sudah beberapa hari tersebut saya berpikir untuk dirawat inap saja untuk belajar menyusui Sabriyya, pokoknya sampai bisa. Karena di rumah saya benar-benar nggak tau harus apa.
Saya, tentu saja langsung meng-iya-kan usulan Dokter Asti tersebut. Saya telfon suami untuk meminta izin, Alhamdulillah suami memberi restunya. Lalu resmilah hari itu saya tidak kembali ke rumah Depok, tapi langsung menjadi penghuni sementara kamar Panda rumah sakit tersebut.

Di hari pertama rawat inap, kegiatan yang saya dan Sabriyya lakukan hanyalah skin to skin. Sebelumnya saya sempat diakupuntur untuk merangsang produksi ASI saya yang sudah sangat berkurang, lalu saya diajarkan untuk senam mulut Sabriyya agar tidak ada keloid di luka insisinya. Proses skin to skin hari pertama itu terasa semakin berat dari jam ke jam. Meskipun terdengar simple, saya yang tidak mengenakan selembar pakaian pun kecuali mantel rumah sakit, memeluk Sabriyya yang juga hanya mengenakan diapers saja. Namun Sabriyya terlihat gelisah di pelukan saya, ia menolak untuk saya peluk, badannya ditarik-tarik menjauhi tubuh saya. Saya sempat merasa kecewa dan cemburu pada apapun dan siapapun yang membuat Sabriyya nyaman. Kenapa dia menolak saya, ibunya sendiri? Malamnya Sabriyya terus menangis dan menolak untuk tidur. Saya sudah mulai panik, apakah hal ini normal? kenapa nggak ada satupun dokter atau suster masuk ke dalam kamar kami dan mengatakan kalau ini tidak normal? Apa yang harus saya lakukan? Malam itu Sabriyya tertidur setelah diberikan CTM oleh suster. Hati saya kembali luka, kenapa anak saya harus dicekoki CTM agar tidur? Namun karena itulah prosedur yang datang dari Dokter ahli laktasi, saya berusaha untuk menerima. Daripada ia nggak mau tidur sampai pagi.

Keesokan harinya masih tetap sama, Sabriyya menangis nggak berhenti di pelukan saya, dan masih belum mau menyusu pada saya. Perlahan-lahan rasa percaya diri saya meruntuh. Saya mulai mempertanyakan apakah rawat inap ini akan berhasil? apakah setelah ini Sabriyya akan mau menyusu pada saya? kenapa kami nggak dilatih untuk latch on seperti di St. Carolus dulu, kenapa saya hanya didiamkan dengan skin to skin ini? Bahkan kunjungan Dokter Asti dan Dokter spesialis laktasi lainnya hanya berupa kunjungan biasa yang melihat perkembangan kami dan mengajak saya mengobrol, lalu memberikan motivasi pada saya. Tidak ada sama sekali latihan latch on atau semacamnya. Ada rasa takut kalau semua biaya yang kami keluarkan akan terbuang percuma, namun ada juga perasaan nggak mau menyerah dan nggak akan pulang ke rumah sampai Sabriyya menyusu pada saya.

Lalu terjadilah keajaiban itu, di sore hari kedua rawat inap, Sabriyya mulai tenang di pelukan saya dan tak lagi menarik dirinya. Malamnya ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa diberikan CTM, saya bahkan sempat curiga suster memberinya CTM tanpa sepengetahuan saya, hahaha.. jahat ya :P. Lalu paginya, saat saya kembali mencoba menempelkan PD saya pada Sabriyya, ia mulai mau memasukkan mulutnya ke puting saya. Air mata saya perlahan menetes saat melihat mulut itu mulai menyedot puting saya. Sabriyya mulai menyusu pada saya. Saya nggak pernah merasa sebahagia itu. Saya peluk anak gadis Solehah saya itu, dan mulai menangis haru. Ibu saya yang biasanya selalu marah kalau lihat saya menangis, karena kuatir akan menghambat produksi ASI, kali itu membiarkan saja adegan itu berlangsung. Mungkin ia juga takjub dengan apa yang dilihatnya. Hari itu dokter Asti berkunjung dan saya kembali menangis haru saat memperlihatkan Sabriyya yang sedang menyusu pada saya. Tidak berhenti saya ucapkan terimakasih padanya. Dokter Asti meminta saya untuk tinggal sehari lagi untuk diajarkan memberikan susu tambahan pada Sabriyya dengan menggunakan selang dan spuit. Esok siangnya kami sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Sekarang, sudah hampir sebulan sejak rawat inap tersebut dan Sabriyya masih menyusu pada saya. Meskipun masih perlu diberikan susu tambahan lewat selang dan spuit karena produksi ASI saya yang belum kembali maksimal, namun dari hari ke hari perkembangannya semakin baik. Puting saya kini sudah berangsur sembuh, dan PD saya sudah mulai terasa berat oleh ASI kembali. Belakangan ini kami bahkan sudah mulai mengurangi pemberian susu tambahan pada Sabriyya. I can’t wait for that day to come, where i don’t need those goat milk anymore and i can breastfeed my little girl until her 2nd birthday.

Post ini saya buat untuk para ibu yang mengalami kesulitan menyusui seperti saya. I know how it feels when you need help but you dont know where to search. Well, hopefully this story will help.  Meskipun jalan yang ibu-ibu ambil nanti tidak sama seperti jalan yang saya tempuh ini, tapi mari kita berikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Saya sangat berharap semua ibu bisa memberikan ASI eksklusif untuk anaknya tanpa perlu tambahan apapun. Saat terjadi hal-hal yang sekiranya berat saat awal-awal menyusui, teruslah cari informasi dan minta pertolongan dari ahlinya. Tuhan pasti punya alasan kenapa memberikan jalan berat ini untuk saya tempuh, namun dengan terus ikhtiar dan percaya Allah pasti akan berikan jalan keluar, saya jalankan apa yang Allah ingin saya jalankan. Dan semuanya akan indah pada waktunya. Best of luck.

Okay, got to go.. Sabriyya udah bangun. Waktunya menyusui lagi 😉

ps: Ternyata nggak semua kasus tongue tie harus dilakukan frenotomi. Saya baru tahu informasi ini setelah pulang dari KMC dan membaca artikel ini : http://mommiesdaily.com/2013/01/23/breastfeeding-101part-ii/

Update:

Per tanggal 23 Juni 2013 Sabriyya sudah nggak mau lagi minum susu tambahan. Saya nggak pernah memaksa Sabriyya untuk hanya minum ASI saya. Bagi saya hal yang penting adalah Sabriyya kenyang dan bisa tidur dengan nyaman. Alhamdulillah pada tanggal 23 Juni ini Sabriyya benar-benar menolak minum susu tambahan dan hanya mau minum ASI saja. Sejak itu sampai hari ini (27 Agustus 2013) dan insya Allah sampai umurnya 2 tahun nanti, Sabriyya sudah hanya minum ASI saya saja. Alhamdulillah, terimakasih ya ALLAH 🙂

My Breastfeeding Drama (Part 1)

Huaaah akhirnyaa bisa blogging lagi. Okay news flash, saya sudah melahirkan tanggal 12 Maret 2013 kemarin. Bayi perempuan sehat dengan berat 3.1 kg dan panjang 48 cm. Kami beri nama Talia Sabriyya Ihsan, dengan nama panggilan Sabriyya.

IMG-20130313-01051-1
Talia Sabriyya Ihsan (Embun dari surga yang penyabar dan baik hati)

Proses melahirkannya normal, saya akan bercerita lebih banyak di post lainnya tentang ini, karena post kali ini saya lebih akan bercerita tentang proses menyusui Sabriyya yang Masya Allah perjuangannya.

Dulu, ketika masih hamil dan memiliki banyak waktu luang, saya lebih sering mencari informasi tentang kehamilan dan proses melahirkan instead of apa yang akan saya hadapi setelahnya. Akibatnya saya benar-benar miskin informasi tentang menyusui. Saya kira menyusui itu proses alamiah saja. Logika saya, setiap ibu melahirkan pasti akan memproduksi ASI, lalu anak yang baru lahir akan dengan alamiahnya menyusu dengan ibunya. Ternyata salah besar. Sesaat setelah melahirkan, saya dan Sabriyya sudah boleh pindah ke kamar kami sendiri. Mulailah saya mencoba untuk menyusui Sabriyya. Ternyata anak bayi pun harus melalui proses adaptasi untuk menyusui, karena selama ini makanan yang ia konsumsi dihantarkan langsung lewat tali pusat, meskipun secara naluriah pastinya ia tahu cara menyusui. Dan proses IMD dengan Sabriyya berlangsung lancar. Sabriyya melewati semua prosesnya dari tidur sejenak di dada saya, memijit perut saya dengan kakinya, mengemut tangannya sendiri, lalu merayap menuju payudara saya.

IMG-20130327-01067
wajah Sabriyya yang dipenuhi ruam dan bintik-bintik di minggu awal kelahiran

7 hari pertama menyusui Sabriyya rasanya seperti neraka, puting saya lecet dan berdarah. Setiap Sabriyya menangis minta disusui, badan saya langsung tegang, membayangkan nyerinya. Belum lagi cara menyusu Sabriyya masih belum benar, akibatnya air susu belepotan ke mana-mana, akibatnya muncul bintik-bintik ruam di sekitar wajahnya. Belum lagi Sabriyya berulang kali melepas dan menyedot kembali payudara saya. Badan saya menggeliat kesakitan setiap adegan itu berlangsung.

Saat usianya seminggu, tepat saat ia diakikah, Sabriyya menolak sama sekali untuk saya susui. Ia selalu mengamuk setiap saya dekatkan mulutnya ke PD (payudara) saya. Nggak hanya saya yang panik, ibu sayapun ikut panik karena Sabriyya nggak mau berhenti menangis sedangkan ia juga nggak mau menyusu. Rasanya sakit sekali hati saya melihat anak saya sendiri menolak saya susui. Saya sampai berpikir apa dia membenci saya, atau ada masalah dengan ASI saya. Malamnya saya pergi ke rumah mertua untuk menginap di sana, karena esoknya harus kontrol nifas dan IUD. Di rumah mertua, ibu dan mertua saya berusaha untuk memerah susu saya untuk diberikan pada Sabriyya. Susu yang keluar dari PD saya sedikit sekali, hanya setetes-setetes saja. Sabriyya yang sudah kelaparan menangis nggak berhenti seharian itu. Hati saya tambah miris, sayapun nggak berhenti menangis. Hal ini nggak membantu produksi air susu saya sama sekali. Ibu mertua yang sejak pagi wanti-wanti sekali pada saya untuk tidak memberikan Sabriyya susu formula akhirnya menyerah pada pukul 3 pagi. Adik ipar saya pergi mencarikan tempat yang menjual susu formula dan masih buka di pagi-pagi buta seperti itu. Saat itulah untuk pertama kalinya susu formula menyentuh tubuh Sabriyya. Saya? tentu saja menangis tambah kejer.

Siangnya, mama mertua mengusulkan saya pergi ke klinik laktasi St. Carolus untuk konsultasi dengan dokter Utami Roesli. Dokter Utami ini adalah salah satu orang yang menggalakkan IMD di Indonesia, begitu kata mister google. Saya langsung mengiyakan usulan mama itu. Setelah telfon untuk mendaftar, saya baru bisa datang hari rabu nya (saat itu hari selasa). Payudara saya yang sudah dua hari tidak dipakai menyusu mulai terasa berat, hari itu saya putuskan untuk pulang ke Depok dan minta tolong ande untuk meng-akupuntur PD saya. Alhamdulillah PD yang tadinya merah-merah, bengkak dan mengeras sudah terasa lebih baik. Saya terus berusaha untuk menempelkan Sabriyya pada PD saya, dan dia tetap saja menolak 😦

Rabu nya saya datang ke St. Carolus. Singkat cerita bertemulah saya dengan seorang dokter senior bernama Dr. Jeanne. Awal-awal sesi konsultasi, Dr. Jeanne bertanya banyak hal pada saya, seperti apakah Sabriyya sudah diberikan susu formula atau belum, apakah selama ini Sabriyya minum dengan dot (sejak awal saya selalu menggunakan sendok untuk menyuapi Sabriyya susu), dll. Saya menjawab pertanyaan dengan sejujur-jujurnya. Dr. Jeanne kemudian menjelaskan kepada saya pentingnya ASI dan mengapa pemberian susu dengan dot kurang baik untuk bayi. Setelah itu saya diminta untuk masuk ke sebuah ruangan di balik tirai di samping ruangan Dr. Jeanne tersebut. Di sana saya diminta untuk duduk di sebuah kursi dan seorang suster mengajarkan saya bagaimana cara memerah ASI dengan benar. Saya yang beberapa hari tersebut berkali-kali gagal memerah ASI saya (baik dengan tangan ataupun dengan breastpump), sangat terpana saat suster tersebut mencontohkan cara memerah dengan benar pada PD saya, dan ASI saya keluar dengan suksesnya. Saya bahkan bisa memerah kurang lebih 20 ml ASI hanya dalam beberapa menit saja. Biasanya boro-boro deh. Setelah mengajarkan saya memerah ASI, suster tersebut mulai mempraktekkan latch on yang benar. Sabriyya ikut dilibatkan di sini. Dan saat itu, mau puting saya dicubit-cubit seperti apapun, dipaksakan masuk ke mulut Sabriyya, ia tetap saja menolak. Semua yang ada di sana sampai ikut kebingungan, apalagi saya. Dr. Jeanne tidak ada pada proses ini, karena ia sudah harus pergi untuk menghadiri sebuah seminar. Saya memang datang terlalu siang saat itu, karena perjalanan Depok – St. Carolus lumayan memakan waktu juga. Dr. Jeanne hanya meninggalkan saya sebuah pesan untuk menyusui Sabriyya selama 20-30 menit (per saat menyusui) lalu setelahnya memerah payudara sebelahnya (yang bukan untuk menyusui) sampai kurang lebih 30 ml lalu menyuapi Sabriyya susu tersebut dengan sendok. Kami diminta untuk datang kembali seminggu setelahnya.

Saya, Sabriyya, Ande, dan Mush’ab (adik laki-laki saya) pulang dengan bingung. Sebenarnya ada sedikit rasa lega karena sudah bisa memerah dengan benar. Tapi, bagaimana saya bisa menyusui Sabriyya selama 30 menit, sedangkan anaknya saja nggak mau menyusu pada saya. Sampai di rumah saya kembali mencoba memerah, dan air susu yang keluar tidak sebanyak saat di St. Carolus tadi. Semuanya terasa salah dan gagal.

Akhirnya dua hari kemudian kami kembali lagi ke St. Carolus, kali ini berangkat lebih pagi. Saat kami datang, belum ada pasien lain yang mengantri. Oh iya, saat Sabriyya di timbang di sini, ketahuanlah kalau berat badannya sudah menyusut menjadi 2.9 kg. Tambah mencelos hati ini :(. Di pertemuan kedua ini saya kembali bertemu dengan Dr. Jeanne yang terkejut karena kami sudah datang hari itu, katanya kalau baru dua hari bagaimana dia mau melihat progres Sabriyya. Saya jawab saja, anak saya belum bisa latch on dokter, apa yang terjadi kalau saya tunggu seminggu baru datang?

Pada pertemuan kedua ini kami fokus pada latch on Sabriyya. Kembali puting saya dicubit-cubit untuk dipaksakan masuk ke mulut Sabriyya. Jangan tanya sakitnya, bukan main, tapi demi anak saya nggak keberatan. Yang membuat saya hesitate di hari itu justru tangisan Sabriyya yang terdengar marah dan putus asa. Karena memang ia dipaksa melakukan hal yang dia nggak suka. Kepalanya didorong paksa ke arah PD saya, mulutnya dipaksa terbuka, mukanya sampai merah karena menangis kejer. Setelah kurang lebih setengah jam, akhirnya saya minta berhenti saja. Percobaan kedua di Carolus masih terhitung gagal. Di perjalanan pulang nyeri pada PD saya terasa semakin dahsyat. Sampai di rumah saya meriang dan menggigil. Beruntung ande adalah therapist, di-akupuntur dan dipijat sebentar, saya perlahan-lahan pulih. Tapi hari itu, Sabriyya rewel seharian, dia nggak bisa tidur dengan nyenyak, setiap matanya terpejam sebentar tak lama kemudian melotot kembali seperti waspada. Sepertinya dia trauma 😦

Saya belum menyerah, 4 hari kemudian kami kembali lagi ke St. Carolus, sesuai dengan permintaan Dr. Jeanne. Hal yang terjadi pada pertemuan kedua terjadi lagi, Sabriyya masih menolak latch on dan menangis frustasi, PD saya kembali terasa nyeri dan sekujur badan mulai terasa panas dan lemas. Saya nggak melanjutkan sesi itu lama-lama, saya nggak mau Sabriyya mengalami apa yang dia alami di pertemuan kedua yang lalu. Sesi ketiga tersebut selesai dengan ditutup dengan pernyataan Dr. Jeanne:

Waduh, nggak ada jalan lain ibu, memang harus ekstra sabar.

Pernyataan tersebut sukses membuat saya menutup harapan pada St. Carolus. Sudah cukup, hari itu adalah hari terakhir saya datang. Sudah banyak ibu dan anak yang berhasil latch on atau relaktasi dengan Dr. Jeanne, namun mungkin belum menjadi rezeki saya dan Sabriyya.

to be continued…

Update:

Per tanggal 23 Juni 2013 Sabriyya sudah nggak mau lagi minum susu tambahan. Saya nggak pernah memaksa Sabriyya untuk hanya minum ASI saya, pilihan suplemen (susu tambahan) saat itu adalah susu kambing murni. Bagi saya hal yang penting adalah Sabriyya kenyang dan bisa tidur dengan nyaman. Alhamdulillah pada tanggal 23 Juni ini Sabriyya benar-benar menolak minum susu tambahan dan hanya mau minum ASI saja. Sejak itu sampai hari ini (27 Agustus 2013) dan insya Allah sampai umurnya 2 tahun nanti, Sabriyya sudah hanya minum ASI saya saja. Alhamdulillah, terimakasih ya ALLAH 🙂