Why are you even get married?

Tadinya buka-buka profile facebook nya Endy cuma mau bilang kangen sama karya-karyanya dan minta dia bikin soundtrack buku Empat Elemen, tapi saya malah teralihkan sama notes dia yang berjudul Get Married: Function of person or function of ย Time. Tergoda untuk tulis comment, tapi kayaknya bakal panjang banget (seperti salah satu comment dari mbak Dyah โ€“yang sebenarnya nggak saya kenal, tapi sksd aja tulis-tulis namanya di sini-) ๐Ÿ˜€

Di postingan itu, Endy menulis tentang pernikahan dan alasan para pasangan akhirnya memutuskan untuk menikah. Apakah karena usia atau kriteria si calon? Dulu saya juga sering sekali mempertanyakan hal ini sampai akhirnya sekarang betul-betul bertanya pada diri sendiri. Apa sebenarnya tujuan kamu menikah, Asiah?

Jujur saja, pernikahan adalah prioritas nomor satu di hidup saya sekarang ini. Tak heran saya langsung tergerak untuk membaca notes tersebut haha.. ๐Ÿ˜€ Semua hal lain seperti kabur dari agenda. Saya jadi lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah, sedangkan dulu hampir setiap hari ada saja kegiatan di luar rumah. Bukannya kehilangan selera untuk nonton di bioskop, bukannya kehilangan selera untuk sekedar nyushi bersama sahabat, bukannya kehilangan selera untuk sekedar melepas lelah ikut ke mana saja hermesian pergi. Saya masih selalu punya keinginan untuk mengetik kata โ€œikuuuuttttโ€ setiap Rahne dan Macha merencanakan pergi ke suatu tempat via twitter. Saya masih selalu ingin meng-iya-kan ajakan Tata untuk menonton pertunjukkan teater di TIM atau apapun yang ditayangkan Kineforum. Saya masih ingin.. tapi, hanya.sekedar.ingin. Pada akhirnya saya akan kembali pada apapun kegiatan saya di rumah saat itu. Pikir saya, pundi-pundi masih harus dipupuk untuk kehidupan selanjutnya, pernikahan.

Saya tahu, banyak orang yang meragukan keputusan saya dan Reza untuk segera menikah, bahkan mungkin dari Reza sendiri. Dan kebanyakan dari semua alasan keraguan itu berujung pada satu pangkal yang sama, materi. Bahkan seorang sahabat yang baru saja menikah menganjurkan untuk memikirkan kembali keputusan saya, karena dia sudah menemukan apa yang semua orang bilang โ€œmenikah itu nggak seenak pacaranโ€. Well, sayapun nggak pernah membandingkan pernikahan dengan pacaran, karena dua hal itu memang berbeda. Seperti kita membandingkan lebih enak mana pisang goreng atau main parasailing. Dua hal itu benar-benar sangat berbeda, kan? Tapi ada satu hal yang sering sekali dilupakan banyak orang, yaitu agama. Apa yang diajarkan Nabi pada kita dan apa yang sudah Tuhan wajibkan untuk kita. Dan tentu saja, di zaman sekarang ini materi jadi jauh lebih penting dibandingkan agama. Lalu, apa masih belum kamu temukan jawaban mengapa Tuhan banyak memberikan laknat kepada kita?

Saya tentu saja bukanlah orang suci yang tak pernah berbuat salah, saya justru adalah seorang pendosa yang sadar sudah melakukan begitu banyak hal yang dilarang Tuhan. Tidak mudah bagi saya menepis godaan yang begitu besar untuk berbuat maksiat, berkali-kali gagal mengendalikan diri sampai akhirnya jatuh tunduk pada godaan tersebut. Beruntung Tuhan begitu sayang pada saya hingga teguran demi teguran datang setiap kali saya melakukan kesalahan. Tentu banyak pelajaran yang Tuhan ingin saya pelajari dalam kehidupan. Termasuk pada fase hidup yang satu ini.

Beberapa orang bilang usia saya memang sudah cukup untuk segera menikah, beberapa berpendapat saya masih punya waktu sampai usia 30 nanti. Namun bagi saya, bukan usia yang menentukan kapan saya pantas menikah. Orang tua saya sudah selalu mewanti-wanti hal ini sejak beberapa tahun yang lalu, saat mereka sibuk mencarikan saya jodoh yang sesuai. Saat mereka terus memperkenalkan saya pada laki-laki yang saya tak tahu berasal dari mana. Saat mereka berulang kali bilang โ€œKakak udah terlalu tua untuk sendiriโ€ โ€œkakak mau tolak berapa orang lagi?โ€ tapi sungguh, saya nggak pernah punya maksud untuk terlihat begitu sombong, sok menjual harga begitu tinggi. Saya tahu kapasitas diri saya, paksaan semacam itu justru bisa menjadi salah satu alasan saya meninggalkan orang itu kelak. Saya terus percaya, begitu Tuhan pertemukan saya pada orang tersebut, saat itulah saya siap untuk menikah. Pastinya, bukan tanpa alasan Tuhan hanya izinkan saya untuk menjalin hubungan dengan beberapa orang pria saja di hidup ini. Tuhan ingin saya melatih emosi dengan sabar dan usaha, lalu mengambil banyak pelajaran dari perjalanan tersebut. Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk pertemukan saya dengan orang itu.

Jadi itulah alasan saya menikah, karena saya merasa Tuhan sudah pertemukan saya dengan orang itu. Langkah selanjutnya yang Tuhan wajibkan adalah menikah, saya punya kuasa apa untuk menolaknya? Untuk perihal materi, sayangku… Nikmat Tuhan yang mana lagi โ€“sih- yang ingin kita dustakan?

Will you just, marry me already??

-bee-

Kaleidoskop 2010 (#1)

Yah well, hidup kan nggak melulu tentang cinta yaaa… dan menjelang akhir tahun ini nggak ada salahnya kembali mengintip apa yang sudah terjadi di hampir 12 bulan ke belakang. Semoga bisa jadi sarana mempermudah introspeksi diri untuk saya ๐Ÿ˜‰

Launching Adriana

 

With All Hermesian

Yak… prestasi awal tahun dimulai dengan diluncurkannya buku Adriana: Labirin Cinta di Kilometer Nol yang sudah sejak pertengahan tahun 2009 saya perjuangkan di LPPH. Saya sudah pernah menuliskan proses pengerjaannya di beberapa postingan. I also wrote it on facebook. Rasanya senaaang sekali akhirnya bisa membukukan cerita itu. Dari proses terciptanya cerita Adriana ini pula, saya mendapat sahabat-sahabat baru yang beragam dan luar biasa kreatif. Kami menyebut diri kami HERMESIAN.

 

Buy my first blackberry

 

my very first blackberry

Huahahaha… kurang penting apa coba nih yang beginian ditaro di sini ๐Ÿ˜€ Yup, akhirnya setelah menimbang-nimbang dan berpikir-pikir sekian lama, blackberry pun sampai di tangan. Rasanya memang menyebalkan ya, di mana saya sering ketinggalan berita karena teman-teman saya lebih suka membahas sesuatu di bbm groups dibandingkan sms atau bahkan facebook (kalo sekarang kayaknya lebih suka bahas di twitter). Sebel banget saat suatu hari saya hampir ketinggalan acara reuni teman-teman kampus karena mereka janjiannya via bbm. Meeehhh… nggak semua orang punya blackberry oy.. Ya tapi akhirnya saya putuskan untuk beli juga toh. Dan karena blackberry ini pula, proses pedekate sama Reza berjalan super lancar mwehehehe.. ๐Ÿ˜€

*the sad thing is.. by the time this post launched, my first blackberry happen to be broken. It appears offline permanently starting yesterday. So.. i’m using my old nokia E71 again, and i lost so many contacts. Meh.. ๐Ÿ˜ฆ

Own my first netbook

My first netbook

 

Along come with the blackberry, there is my own personal netbook. Sebenernya yang muncul duluan netbooknya sih. Kenapa barang ini begitu penting? karena saya mendapatkannya dari Azizah yang dengan baik hati menghibur saya yang agak sedikit sedih dari fakta di mana saya tetap single saat dia sudah menemukan pangerannya. Dan benda kecil ini praktis menjadi teman saya setiap hari. Efektif banget buat dibawa ke manapun, pakai tas kecil pun orang-orang nggak akan tau kalau saya bawa laptop hehe.. ๐Ÿ˜€ And of course this gadget really helpfull for the working.

Azizah’s Wedding

 

Mush'ab, Imam, Jijah, Me

Inilah dia moment paling bersejarah di keluarga saya setelah kelahiran Annisah Dz Dz (adik bungsu saya) di tahun 1998 lalu. Ande dan bapak untuk pertama kalinya melepas anak gadis mereka untuk orang lain. Keunikan yang agak menyebalkan terjadi di sesi pengajian yang ande selenggarakan menjelang pernikahan Jijah, mengundang kelompok mengaji dan murobi mereka. Saya yang saat itu sudah resign dari kantor, berkesempatan untuk ikut acara tersebut. Dari 100% acara, saya rasa 80% nya habis dengan membahas bagaimana saya begitu sabarnya meng-ikhlaskan Azizah mendahului saya menikah. Hadeeehhh… banjir air mata deh hari itu. Jujur saya nggak merasa terganggu sama sekali dengan pembahasan mereka itu (mengingat saya sering sekali kesal dengan pertanyaan “kapan nikah”). Saya malah merasa sangat terbantu dengan semua petuah Mbak Sita (Murobi ande, dkk). Dan saya percaya, berkat doa mereka jugalah pada akhirnya nggak lama kemudian saya menemukan seseorang. Alhamdulillah ๐Ÿ™‚

In a Relationship Status

The lovely stranger ๐Ÿ˜›

Nah, nggak lama setelah pernikahan Jijah, saya didekati oleh orang aneh ini. Begitu anehnya sehingga membuat saya jatuh hati (jiaaahhhh merinding bulu kudukku mwahahaha..) Akhirnya di bulan Juni kami membuat satu komitmen. Berubahlah itu relationship status di facebook. Sudah lebih dari setengah tahun saya dan dia resmi bersama. Rasanya banyaaak banget hal yang masih harus terus dipahami satu sama lain (tentang satu sama lain). Semoga Allah memberi kami pintu kemudahan menuju jalan ridho-Nya. Saya nggak pernah menyangka, kalau beribadah bisa menjadi sangat sulit. Kata ande baru-baru ini, kebenaran itu memang perlu perjuangan. Dan Allah akan selalu menguji hamba-Nya untuk bisa belajar dan terus berusaha. Yah, Bismillah saja, semoga Allah memberi kemudahan ๐Ÿ™‚

Getting a New Job

 

Teaching wardrobe, is batik ๐Ÿ˜€

Jadi guru lagiiiiii… Akhirnya setelah menimbang-nimbang karier apa yang ingin saya jalani setelah nekat jobless itu, saya kembali pada profesi lama saya. Menjadi guru. Awalnya sempat tergoda untuk kembali kerja di penerbitan, truss coba-coba melamar ke radio jadi penyiar, truss sempat dipanggil wawancara di sebuah sekolah di Cilandak. Akhirnya atas pertimbangan lokasi yang tinggal joget india langsung sampe tempat kerja, saya memutuskan untuk kembali mengajar di SIF Al Fikri. Mata pelajaran yang saya ambil ya tentu saja bahasa Cina. Sempat ditawari untuk mengajar PPKN juga demi memenuhi syarat menjadi pegawai full time, saya langsung menolak. Mengerikan… boro-boro mengajar PPKN, lha wong sebagai pelajar saja saya paling males kalau disuruh belajar PPKN hahaha.. ๐Ÿ˜€ Tapi ternyata menjadi pengajar semi full time sangat menyenangkan. Saya jadi nggak perlu berlama-lama di sekolah. Jam satu siang saya sudah bisa pulang dan mengerjakan hal lain lagi. Jadi punya banyak waktu untuk masak-masak deeh hehehe.. ๐Ÿ˜€

Jadi guru itu menyenangkan banget. Setiap hari adaaa aja tingkah murid yang bikin kita geleng-geleng kepala. Apalagi sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah inklusi (menerima siswa dengan kondisi apapun). Ada beberapa siswa yang berkebutuhan khusus, kadang tingkah mereka bikin saya dan teman-teman guru kewalahan. Tapi nggak jarang juga bikin ketawa dan jadi ngangenin kalo lagi liburan begini ๐Ÿ˜€

Ditambah lagi suasana kerja yang menyenangkan. Ibu Alam sebagai kepala sekolah merangkap koordinator guru bisaaa banget memimpin semua guru yang kadang juga bertingkat selayaknya anak berkebutuhan khusus ini dengan sabar dan penuh senyuman. Hahahaa.. jadi inget suasana rapat mingguan. Permainan tebak siswa adalah permainan favourite kami. Caranya adalah salah satu dari kita berakting meniru tingkah salah satu siswa, lalu yang lain menebak guru tersebut sedang berakting jadi siapa. Dan guess who invented this play?? MEEE.. ๐Ÿ˜›

Getting a New Blog

 

https://sittyasiah.wordpress.com/

Setelah sekian lama bercuap-cuap di multiply, saya akhirnya berpindah ke wordpress. Pertimbangannya, err.. ya banyak sih. Salah satunya adalah comment box di wordpress ini bisa diisi oleh siapa saja (bahkan non wordpress user). Walaupun nggak banyak juga sih yang mengisi comment hehe.. ๐Ÿ˜€ Berkurang drastisnya comment mungkin juga diakibatnya dari berkurang drastisnya pembaca. Tapi nggak apalah, toh jurnal ini bukan saya buat semata-mata hanya untuk dibaca. Saya hanya ingin mengabadikan perjalanan hidup saya lewat tulisan, tsaaahhh… Blog ini juga untuk keturunan saya nanti. Semoga mereka bisa belajar dari pengalaman hidup saya yang belakangan berisi masak dan makan ini, hahahaha.. ๐Ÿ˜€

-to be continued...

-bee-

 

Resolusi VS Revolusi

Seorang teman menuliskan ini di akun twitternya:

@lianamaku kata temen gue, #akhirtahun itu waktunya bikin revolusi cinta bukan #resolusicinta ๐Ÿ˜›

Saya tersenyum membacanya. Kalimat itulah yang persis saya pikirkan di akhir tahun lalu. Seperti kebanyakan orang lainnya, saya pernah terbiasa membuat resolusi akhir tahun di setiap bulan Desember. Dan poin “punya pasangan” dan “menurunkan berat badan” pasti ada di dalamnya. Bertahun-tahun saya menunggu orang itu datang di hidup saya. Tapi tahun demi tahun selalu berlalu begitu saja. Saya tetap sendiri, bahkan berkali-kali bertemu dengan orang yang salah. Dan pada akhirnya saya harus kembali menguras emosi demi melepaskan mereka dari dalam hati.

Sampai akhir tahun lalu saya merasa letih sendiri. Resolusi rasanya menjadi sebuah momok. Saya mulai tersugesti bahwa daftar itu selamanya hanya akan menjadi wacana belaka. Saya putuskan untuk berhenti ber-resolusi. Karena saya sadar yang saya butuhkan adalah sebuah revolusi.

Revolusi tersebut dimulai dari akhir tahun 2009, di mana saya dengan super nekatnya melepas pekerjaan tanpa ada back up sama sekali. Kemalangan demi kemalangan datang menjelang hengkangnya saya dari kantor, hingga tabungan terkuras sedemikian rupa. Pada akhirnya saya resmi jobless dengan nominal tabungan yang sungguh memprihatinkan. Saya takut setengah mati, terkadang bahkan meratapi nasib sendiri. Tapi di dalam hati, saya tahu kalau itulah yang terbaik untuk saya. Saya tetap percaya pada Dzat Maha Kaya yang sudah mencipta dan merawat saya selama ini.

Sehari setelah resmi resign, saya pergi meninggalkan Jakarta. Hati yang sempat remuk karena seseorang, sepertinya butuh diperbaiki di kota lain. Di sana saya menikmati kebebasan itu. Setiap hari saya usahakan untuk melakukan hal-hal baru yang tak pernah saya lakukan. Memikirkan semua hal yang terjadi di tahun menyakitkan itu. Berintrospeksi diri dan mencari solusi yang terbaik, untuk kemudian menata hidup yang benar-benar baru sekembalinya ke Jakarta nanti. Nggak bisa saya ingat, seberapa banyak air mata yang saya tumpahkan saat itu, demi kemudian bertekad untuk tak lagi meneteskannya di Jakarta. I really enjoyed that holiday.

Saya kembali ke Jakarta untuk kemudian menemukan betapa rapuhnya saya. Bukan hanya tak bisa menghapus orang itu dari dalam hati, saya bahkan tak bisa menghapusnya dari keseharian saya. Semuanya berulang kembali, seperti hilang arah, saya tak lagi bisa melihat ujung perjalanan saya dengan dia. Berulang kali berteriak pada diri sendiri untuk pergi, untuk berhenti, tapi setiap saat itu pula saya malah semakin tenggelam. Sampai suatu saat satu pernyataan datang dari mulutnya yang membuat saya terperangah. Mungkin dia hanya bergurau, tapi gurauan itu mampu membuat mata saya benar-benar terbuka. Di sanalah saya melihat titik terangnya, semakin yakin saat seorang teman dengan sangat lugas berkata pada saya:

Laki-laki macam apa yang beraninya menginjak-injak harga diri lo sampai sebegitunya, Asiah?

Di saat itulah ujung perjalanan itu mulai tampak. Ditambah lagi kedatangan Reza yang seolah membawa cahaya dalam kegelapan. Menuntun saya untuk tetap berjalan menjauh dari masa kelam itu. Sampai akhirnya saya benar-benar keluar dari sana. Semua yang remuk mulai dapat tertata kembali. Dan semua yang berjalan di jalur yang begitu berantakan, mulai kembali ke jalur yang seharusnya. Saya, dia, dan mungkin orang-orang yang pernah kami sakiti.

Tak tersisa dendam dalam hati ini. Saya bahkan sangat berterimakasih pada Tuhan karena telah mengizinkan saya untuk belajar banyak dari pengalaman tersebut. Mungkin inilah yang dinamakan revolusi. Harus terlebih dahulu luluh lantak menggugurkan begitu banyak rasa. Namun ketika semuanya berakhir, hanya kedamaian yang kemudian tertinggal. Akhir tahun ini, saya ingin sekali lagi merasakan revolusi itu. Tentu saja sudah banyak rasa luluh lantak di perjalanan kemarin. Namun jika terus berusaha, saya tahu saya pasti akan menang.

-bee-

Yuk, Berbagi Tawa

hidup ini pilihan sayang, kenapa kamu selalu memilih untuk menangis? Padahal kamu bisa terus tersenyum dan menjalani hari ini dengan bahagia.

Begitulah, berulang kali Reza tekankan kepada saya kalau hidup ini tergantung dengan apa yang kita pilih. Dan belakangan ini sepertinya saya lebih baik memilih tidak membaca twitter. Begitu banyak caci maki yang dituliskan di sana. Mungkin karena 140 karakter lebih efektif untuk mencaci dibanding memuji dan bicara hal-hal yang bisa membuat hati menjadi semakin sejuk.

Dimula saat 3 hari yang lalu, Jakarta seperti biasanya ditumpahi air dari langit. Saat itu sepertinya lebih deras dari biasanya dan banjir tentunya menjadi dampak utamanya. Lalu dari banjir itulah menyusul kemudian kemacetan yang seolah nggak ada akhirnya dan di sanalah muncul teriakan-teriakan yang memekakkan hati, oleh penghuni twitter.

Mulai dari orang-orang yang berdoa agar hujan cepat reda dan banjir cepat surut, sampai dengan curhat seorang teman yang dikabari oleh bapak kost nya kalau kamar kost nya sudah tergenang air setinggi 10 cm. Tidak terlalu tinggi memang, tapi untuk seseorang yang menjadikan konsep lesehan sebagai tata letak semua barang di kamar, hal ini tentunya menjadi masalah yang besar. Secara semua barang diletakkan di lantai, termasuk kasur dan beberapa alat elektronik. Lalu simpati pun bermunculan, saya yang saat itu memang sudah aman dan nyaman di dalam kamar cuma bisa menuliskan simpati untuknya lewat timeline saya. Walaupun nggak berapa lama kemudian kamar saya pun ikut banjir. Ah kalau hal ini sih memang sudah biasa. Entah mengapa atap kamar saya ini paling mudah dirembesi air. Bahkan ada satu titik yang sepertinya memang bolong dan selalu sukses menjadi saluran air penyalur banjir ke lantai. Sudah beberapa kali ditangani, tetap saja dia berulah. Ah.. apa perlu saya juga yang naik ke atap sana untuk melihat di mana permasalahan sebenarnya?? hmmm… *aura kuli nya muncul* ๐Ÿ˜›

Seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya, tak berapa lama setelah simpati buat beberapa orang yang terjebak macet dan banjir melayang-layang di timeline, mulailah satu per satu orang mengeluh dan mencaci maki pemerintah. Bapak menteri ini begini, bapak Gurbernur itu begitu, bapak Presiden gimana sih? Bapak yang kumisnya tebal itu begitu sih?? dan yang paling agak keluar konteks mungkin saat orang-orang mulai mencolek-colek salah satu anak mantan Gurbernur Jakarta. Bapak menteri ini dan itu, bapak presiden dan gurbernur yang kumisnya nggak kuku itu mungkin nggak menanggapi langsung lewat twitter ya, tapi si anak mantan gurbernur ini tampaknya gerah juga namanya ikut dikait-kaitkan. Dia, dengan gayanya yang nyinyir me-reply tudingan-tudingan itu. Yang menuding nggak bisa terima dijawab nyinyir begitu akhirnya me-RT ucapan nyinyir si penjawab, ramailah langsung para follower mereka. Lalu para selebritis (slash sosialita) ikut ramai membela si mulut nyinyir. KABOOOOMMMMM…. twitter jadi semacam kebakaran. Sepertinya kalau api itu diletakkan di bawah aspal Jakarta malam itu, banjir di atasnya bisa menguap dan kemacetan bisa kemudian dikendalikan ya? tapi sayang, twitter seperti biasanya hanyalah sebuah platform yang tulisannya belum tentu bertahan lama di timeline seseorang, apalagi di otak mereka. Coba tanya sekarang, mereka pasti masih ingat kejadian itu, tapi apa mereka masih ambil pusing? well, i don’t think so…

Lalu berlanjut kemudian bencana yang terjadi di Merapi dan Mentawai, semua orang menangis dan meratap sedih pada awalnya. Namun kemudian mulai kembali mencaci pemerintah. Apa nggak capek ya marah-marah terus kayak begitu?

Saya bukannya nggak ikut kesal dan marah dengan lambannya gerak pemerintah kita. Tapi saya mulai malas membaca timeline saat orang-orang mulai menulis bagaimana pemerintah kita lebih mementingkan berjalan-jalan ke luar negeri dibandingkan menolong korban bencana tersebut. Kenapa sih kita selalu berburuk sangka pada pemerintahan kita? bagaimana dengan orang-orang yang juga punya kedudukan di sana dan benar-benar mengerjakan tugasnya dengan baik? kecil mungkin, namun semua hal butuh proses. Seharusnya kita bersabar dan berikan sedikit ruang pada orang-orang yang bertugas itu untuk bergerak. Atau tindakan yang lebih kongkrit, datang saja langsung ke tempat bencana dan lihat bagaimana cara pemerintahan bekerja di sana. Kalau memang tak sesuai, teriakkan langsung di muka mereka. Berteriak di microblogging tak akan memberi pengaruh banyak.

Tom Cruise, Justin Bieber dan para selebritis hollywood itu memang sangat perhatian dan dermawan masih ingin membantu kita yang kesusahan ini. Bersyukurlah dengan itu semua. Tapi sudahlah titik sampai di situ.ย  Tak usah ditambahi embel-embel lainnya. Simpan saja semua tenaga untuk mencaci itu dan kerjakan hal-hal yang lebih bisa memberi manfaat. Seperti errrr…. mengajak saya nonton film bagus misalnya?? hehehe… ๐Ÿ˜€ *bercandaaaa*

Kita masih boleh kok, tertawa di saat-saat seperti ini, apalagi tawa itu kita bagi untuk anak-anak yang ada di sana. Ah.. ini membuat saya ingin datang ke lokasi bencana itu dengan kostum badut. Akan saya peluk semua anak yang terlihat sedih dan trauma. Akan saya bacakan banyak cerita untuk mereka… cerita tentang negeri kita yang berhasil keluar dari masa kelam ini. Tentang kehidupan yang jauh lebih baik lagi. Cerita tentang anak-anak kecil yang tertawa bermain di pantai dan kaki gunung merapi..

Untuk bapak menteri yang melarang kita tinggal di pulau itu, bagaimana kalau kita tenggelamkan saja dia ke kolam ikan belakang rumah saya? Setuju??

*cheers tweeps ;)*

-bee-