On three two one, it’s 2013!!

Bismillah, Happy new year all πŸ™‚

Rasanya belum lama deh nulis Review tahun 2011, kok sekarang sudah awal tahun 2013 aja. Lots of HUGE things happened last year and most of it was always been a resolutions for sooo many years πŸ˜€

Firstly, tahun 2012 dibuka dengan salah satu milestone yang selalu menjadi resolusi akhir tahun sejak beberapa tahun sebelumnya. I am getting married. Tepatnya tanggal 3 Maret 2012 kemarin, Alhamdulillah saya dan Reza resmi sudah menjadi sepasang suami istri. The event was very beautiful, everything went really well. Meskipun rombongan saya sempat telat sampai di lokasi akad, dan keduluan sama rombongan keluarga Reza. Hampiiiir saja gagal diumpetin di belakang mimbar masjid, tapi untungnya banyak yang kooperatif, jadinya Reza berhasil nggak lihat saya dulu sampai waktunya pembacaan akad πŸ˜€

03.03.2012
03.03.2012

I was really nervous that time, moment di saat keluar dari persembunyian, dan melihat Reza, Bapak, penghulu, dan dua saksi di meja kecil itu rasanya nggak bisa hilang dari memori. Apalagi saat dengan lantangnya Reza menjawab akad nikah yang dihaturkan bapak padanya. Saya sempat kaget juga mendengar betapa Reza rasanya seperti berteriak tegas, mengatakan “Saya terima nikah dan kawinnya Sitty Asiah binti Darmadi dengan mas kawin yang tersebut tunai!”. Itulah pernyataan cinta paling indah yang pernah saya dengar selama hidup. Terimakasih sayangku, terimakasih karena sudah bersedia menjadi Imamku πŸ™‚

Acara resepsi juga berlangsung lancar, saya bahagia banget lihat banyak teman-teman yang meluangkan waktu untuk datang. Hermesian bahkan sempat sumbang suara menyanyikan lagu Satu Dalam Sejuta Hasta bareng-bareng. Murid-murid SIF Al Fikri juga banyak yang datang, i was really surprised seeing them, i wanted to just hug them one by one. One of the best moment in life banget deh pokoknya. Start of my new beginning πŸ˜€

USG Pertama

After those firstly, came another HUGE news. I am pregnant. Di awal bulan Juli akhirnya muncullah dua garis di dua test kehamilan yang saya ambil. Nggak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana campur aduknya perasaan saya saat itu. Senang tentu saja, tapi sekaligus takut dan kebingungan hahaha.. I was about to become a mom, ada bibit manusia baru yang tumbuh di dalam rahim saya. Akhirnya sering sekali tanya dan baca sana sini tentang kehamilan ini. Hari ini kehamilan saya sudah memasuki trimester akhir. Insya Allah bulan Maret tahun ini akan hadir anak pertama saya dan Reza di rumah tangga kami. Banyak hal saya lalui berkaitan dengan kehamilan ini, dari mabuk berat di trimester pertama sampai makan apapun nggak selera. Sampai akhirnya menggila di trimester kedua sampai berat badan sempat naik drastis dan dibilang kegemukan sama bidan dari Puskesmas Tebet. Lalu kemarin waktu terakhir kali check up, detak jantung baby sempat mencapai 170/menit (normalnya max 160/menit). Saya dinyatakan animea sedangkan tekanan darah terhitung tinggi. Wuah.. panik luar biasa deh saat itu. Minta maaf beeerkali-kali sama anak dan suami, akhirnya sejak saat itu rajin sekali minum vitamin dan kali ini minumnya lebih lengkap dari biasanya. Haha.. balada bunda malas minum obat πŸ˜€

Dua kejadian penting itu ditutup dengan resign nya saya dari pekerjaan yang sudah saya tekuni selama dua tahun terakhir. I am leaving my children at school, hiks 😦 Akhirnya resmi menjadi a stay at home housewife lah saya. Dan dengan diterimanya Reza di kantor barunya, kami juga pindah domisili ke Rasamala.

Well, nggak begitu banyak yang bisa saya ceritakan tentang tahun 2012. But yet satu tahun ke belakang merupakan satu tahun yang sangat berkesan bagi kehidupan saya. Begitu banyak rencana untuk tahun 2013 ini, semoga Allah selalu berikan jalan yang terbaik untuk saya dan keluarga kecil saya.

Di tahun 2013 nanti Insya Allah saya dan Reza akan…

  1. Pindah ke apartemen kecil di daerah Ancol, membangun keluarga kecil kami. Thanks ayah for the opportunity, Bismillah we can do this πŸ™‚
  2. Melahirkan anak pertama kami, Insya Allah di Puskesmas Tebet. Semoga nggak ada aral melintang dan saya bisa melahirkan dengan proses normal dan lancar. Amin Yaa Rabb.
  3. Membuka bisnis kuliner kami yang pertama, Ayam Abaik (ayam organic, Halalan Thayiban) di Pondok Kelapa. Semoga Allah membukakan pintu Rezeki untuk usaha baru kami ini. Amin.
  4. Untuk saya, semoga di tahun ini saya bisa menulis kembali dan menghasilkan karya yang real dan jual-able. Amin πŸ˜€
  5. Insya Allah akan pindah ke rumah BSD ketika pembangunannya sudah selesai. Semoga bisa menemukan jalan keluar untuk transportasi Reza menuju tempat kerjanya di Tanjung Priuk, amin.
  6. Semoga saya bisa membahagiakan Ande dan Bapak, apapun itu caranya.

After all, saya berharap kehidupan di tahun 2013 ini bisa lebih baik dan saya bisa membesarkan anak kami dengan baik dan adil. Amin yaa Rabb.

Bee

Psst! Do not tell, it’s a jinx!

Tapi sebelumnya izinkan saya update sebentar, about being pregnant. Hehe πŸ˜€

So what i learn about being pregnant is…

  1. AMAZING!! kemarin saat saya harus kembali ke rumah sakit lebih awal dari jadual berkunjung Obgyn yang sudah ditetapkan, thanks to those flek-flek merah yang muncul weekend kemarin, bunda panik luar biasa, takut kamu kenapa-kenapa, nak. Despite those scary experience while i have to sit in front of my doctor’s face opening my leg widely. GOSH!! that was traumatic :,( Thankfully, seconds later i get to see my baby inside through USG. Bunda lihat degup jantung kamu nak, kamu hidup. Sangat hidup. Thankfully i was sane enough not to cry like a baby seeing that heart beat. I can’t even describe how i feel. It was just amazing.
  2. Wee bit unusual. Name it, everything that i used to like, now it’s like a nightmare to me. Everybody know how much i love cooking, sekarang tiap liat dapur rasanya mau hueeek aja. Tiap buka tudung saji, hueek lagi. Tiap liat gorengan (hell yeaaa risol) mata langsung pengen memejam saja. OMG what’s with this? i feel like so much not me.
  3. Now i understand what ngidam is. So, seperti yang saya sebutkan di atas. Di awal-awal kehamilan ini selera makan saya sangat menurun drastis. Hari ini saja saya baru makan dua kali (pertama waktu ikutan sahur sama keluarga, yang kedua barusan ini, lima menit yang lalu). Makan itu udah kayak nightmare buat saya. Serba salah, dimasukin makanan mual nggak dimasukin kasihan anakku 😦 So, apa itu ngidam? Ngidam (kayaknya) adalah saat ibu hamil (dalam hal ini saya) yang susah makan ini tiba-tiba terbesit satu jenis makanan tertentu lalu muncul keinginan untuk makan makanan itu saat itu juga. Nah, daripada nggak ada yang masuk ke perut, sangat dianjurkan bagi orang-orang di sekitarnya untuk segera mencari makanan tersebut dan menyajikannya ke hadapan si ibu hamil. Cuma biar si ibu hamil ini pokoknya masukin makanan ke perutnya. Meskipun seringkali hasilnya ya sama saja. Si ibu hamil tetap mual dan makanan hanya masuk secuil. Bhahaha.. sounds like reasoning ya πŸ˜›

Now that was things i learnt about being pregnant so far. Sebenernya masih banyak lagi sih, tapi kayaknya boleh di-save buat postingan selanjutnya karena bisa-bisa nggak keterusin deh ini tema yang sebenarnya mau disampein 😐

Okay, back to the topic!

Jadi weekend kemarin, saya dan teman-teman Hermesian kumpul di Taman Menteng untuk buka bersama sekaligus merayakan ulang tahun The Hermes yang ke tiga. Saat itu badan saya sebenarnya agak kurang fit, juga waspada. Pasalnya malam sebelumnya saya sempat mengalami flek. Flek adalah munculnya bercak-bercak darah yang mengindikasikan adanya luka di organ dalam ibu. Salah satu hal yang harus diwaspadai oleh ibu-ibu hamil. Apalagi jika usia kandungan masih sangat muda seperti saya. Karena keluarnya flek adalah salah satu gejala awal keguguran.

Saya sempat sedikit lega saat paginya flek sudah mulai berkurang. Namun setelah makan malam, saya kembali check ke kamar mandi gedung tempat kami makan. Flek kembali muncul dan kali ini terlihat lebih pekat dari sebelumnya. I panicked, but act soooo zen. I can’t show it to my friends, especially on our happy day.

But then saat di taksi saya nggak bisa menahannya lagi. Saat itu Jia, sahabat saya, ikut dengan taksi yang saya dan suami tumpangi. Saat masih ada Jia, saya bilang ke suami “Sayang, kayaknya besok aku bener-bener harus periksa deh”. Suami hanya mangangguk saja saat itu. Saya bercerita semuanya ke Jia yang terlihat cukup kebingungan. Jia sempat terdiam, lalu berkata “Sebenernya kalau usianya masih muda banget, nggak usah sebarin berita dulu kali ya”. Di sanalah pembahasan ini dimulai.

Tahu kan Jinx? itu lho, semacam kutukan yang terjadi ketika seseorang menceritakan sebuah kabar baik yang masih sangat prematur. Saya pernah menjadi orang yang sedikit percaya tentang hal ini. Dan memang, hal ini sudah sangat bercokol di benak kebanyakan orang, saat itu salah satunya adalah Jia. Tapi mungkin, Jia hanya terlalu kuatir saja pada saya dan kandungan saya.

Dulu saat baru mendapati kalau saya hamil, saya sempat bimbang untuk menyebarkan kabar gembira ini kepada semua teman-teman saya. What if this wont work? what if this only for temporary? (naudzubillah min dzalik). Tapi kemudian saya kembali berpikir, jika saya sebarkan berita baik ini pada teman-teman saya, lalu saya minta mereka mendoakan kesehatan dan keselamatan janin ini, siapa yang tahu Allah akan mendengarkan doa salah satu dari mereka. We never know which prayer will be answered. By this reason, i started spreading the news, dengan ditambah permohonan doa untuk kesehatan dan keselamatan anak saya. I tried to always do that. Because it’s not bragging what i aim to do. Saya sangat mengharapkan doa-nya. Karena saya sangat percaya pada doa. Doa siapa saja, karena Allah adalah Maha Kuasa, Maha mengabulkan doa-doa.

So i don’t believe in such things as jinx. If this is really not working (naudzubillah min dzalik) it’s not because i am spreading the news. Pasti ada alasan yang jauh lebih reasonable dari itu. Lagipula bukankah kebahagiaan akan terasa berlipat-lipat ketika kita berbagi? Sekarang coba bayangkan, saat kabar bahagia dipendam sendiri saja, lalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan setelahnya, then people will eventually know it. They will ask you “How come we didn’t know what happened? How did it happened?” and then you have to repeat those sad story over and over again. Duh, rasanya gimanaaaa gitu ya. So, don’t hesitate people, just spread the good news. It’s worth it πŸ™‚

And oh, Jia agreed with me by the way πŸ˜‰

Have a wonderful day people.

Bee

Superb Weekend

Tadi siang sebuah e mail masuk ke inbox saya, yang ternyata adalah e mail permohonan moderasi komentar dari wordpress untuk komentar dari Dansapar ini:

Hahaha.. miris juga bacanya. Memang iya sih, sejak menikah rasanya jarang banget menulis di sini. I think i know why tapi ya sudahlah hahaha..

Okay back to the topic, weekend ini serasa seperti honeymoon lagi :D. Pada pesta pernikahan kami kemarin, kami mendapatkan hadiah satu voucher menginap di Hotel Kartika Chandra dan makan malam di Jakarta Restaurant – The Dharmawangsa Hotel. Weekend kemarin kami pakai keduanya sekaligus.

Kami sudah sering sekali melewati hotel Kartika Chandra, lokasinya dekat sekali dengan rumah orang tua Reza. Tapi belum pernah mencoba menginap di sana, yang saya tahu hotel ini sudah lama sekali berdiri. Sebelumnya saya sempatkan browsing-browsing gambar dan review dari orang-orang yang pernah menginap di hotel ini. I just want to know what kind of room we will staying at. Not everybody gave a good review, kebanyakan dari mereka menyatakan hotel ini terlihat kurang perawatan. Well, melihat suami saya yang komplain tentang banyak hal di hotel ini (padahal dia bukan orang yang suka komplain), kami memberikan nilai satu dari 5 bintang untuk semua hal di hotel ini.

Malamnya, setelah reservasi satu hari sebelumnya, kami berangkat ke Hotel Dharmawangsa untuk makan malam. Hotel Dharmawangsa terlihat sangat megah dan eksklusif. Jika di Hotel tempat kami menginap pintu masuk hanya dijaga oleh beberapa satpam, di hotel ini kami bahkan harus melapor terlebih dahulu sebelum pintu gerbang hotel dibuka. Seperti akan masuk ke Istana Negara saja *lebay*.

Tiba di lobi hotel, ke-eksklusifan itu masih kental terasa. Saat pintu masuk dibuka, saya melihat seorang perempuan berjalan anggun dengan gaun indahnya. Saya melirik pada pakaian yang saya dan suami kenakan, well let’s just say we wear who we are πŸ˜€

Sampai di restaurant kami disambut seorang resepsionis berpenampilan anggun dengan seragam baju orange dan bawahan batik. So neat. Dia langsung mengenali kami sebagai tamu dari bapak Haryadi, salah satu teman Mama Yvonne yang memberi kami hadiah voucher makan malam tersebut. Seorang pelayan mempersilahkan kami untuk duduk di sebuah sudut dekat jendela. Pelayan tersebut segera menjelaskan menu makanan hari itu, saya jujur saja merasa sangat asing dengan suasana tersebut, auranya terasa sangat intimidatif. This restaurant seems too out of our league. Setelah memilih menu buffet (instead of Ala carte) kami ditunjukkan menu utama hari itu. Untuk pertama kalinya saya melihat bentuk asli Foie Gras, hati angsa itu lho.

Le Starters

Namun sebelum menyantap main dish kami dibawa ke meja starter berisikan begitu banyak pilihan sayuran untuk salad dengan beragam dressing. Ada juga scallop dan king prawn sebagai proteinnya. Saya ambil hampir semua macam sayuran dan semua dressing. It all taste sooo good, the vegetables are sooo fresh. I was overwhelmed.

Le Main Dish

Setelah menghabiskan para starters tersebut, kami kembali ke ruang kecil tempat main menu disajikan. Untuk proteinnya, ada lamb rack, ribeye, dan lobster. Untuk karbohidratnya ada nasi goreng dan potato gratin, untuk sayurannya ada tumis sayuran dan sup bunga kol atau cauliflower. Saya ambil hampir semua pilihannya, hanya lamb rack dan foie gras yang nggak mampir ke piring saya. Porsi makanan yang ada di piring suami saya jauh lebih sedikit dari yang terlihat di piring saya. When i asked why, katanya dia tahu kalau saya nggak akan mampu menghabiskan semua yang saya ambil. It turned out i ate it all. So sory honey, nggak sering-sering aku dapetin makanan semewah itu ahahaha.. *ndeso*

Le Dessert

Antusiasme saya yang membuncah pada main menu berpindah pada suami saat kami menghampiri meja dessert. Unlike him, i don’t really like sweets. Reza doyan sekali makanan (dan minuman) manis-manis. He’s gone crazy seeing so many variation of pies on the table. Dari empat pilihan pie, Reza memilih Cherry Pie dan Lemon Pie masing-masing satu slice. Ditambah lagi kiwi sorbet dan vanilla ice cream dengan peach dan chocolate topping, lengkap dengan crunchy almond slices. Saya, setelah menolak untuk menyesal karena nggak mengambil dessert sama sekali, akhirnya memilih satu scoope vanilla dan strawberry ice cream yang saya berikan vanilla dan chocolate topping, tentu saja nggak lupa crunchy almond slices itu. The almond made everything perfect.

Di sela-sela sesi makan tersebut saya dan suami menduga-duga harga yang harus kami bayar seandainya hari itu kami tidak mendapatkan hadiah voucher. My husband said it could be more than a million rupiah, i almost fainted hahaha.. Beruntung banget Pak Haryadi berbaik hati memberikan hadiah ini, we cannot thank him enough. Lunaslah sudah satu wish di bucket list saya hehe πŸ˜€

Sepulang dari Jakarta Restaurant, kami mampir dulu ke Planet Hollywood untuk membeli tiket film The Avanger. Kata Reza, sayang banget udah nginep tetanggaan sama bioskop tapi nggak nonton. Lagipula kami memang sudah menunggu-nunggu film ini. The movie was hilarious, i love it. Di beberapa bagian lucu, di mana saya dan penonton lainnya tertawa, Reza tak bergeming, Hmmm.. 😐 Di akhir film saya merenung, kenapa yah saya suka sekali film-film superhero dan hal-hal khayal semacam itu. Waktu kecil dulu saya suka sekali serial Wonder Woman dan Batman. Meskipun plot ceritanya begitu-begitu saja (kalah dulu di tengah lalu menang kemudian :D) tapi nggak pernah absen saya tonton. Sekarang muncul Lord of The Ring dan Harry Potter, lalu ada X Men Trilogy dan terakhir ini The Avanger. Ah.. exciting! Lalu saya sampai pada satu kesimpulan bahwa ketertarikan saya pada superhero tersebut lebih karena saya senang melihat kejahatan dikalahkan dengan telak. Apalagi kalau kalahnya benar-benar konyol seperti adegan Loki dibanting bolak balik sama Hulk di film ini. It gives me hope that somehow bad people, lose πŸ™‚

Have a nice weekdays everybody πŸ™‚

Bee

* The Avangers movie picture taken from here.

Tribute to you, Dad!

So here’s the story. Suatu hari bertahun-tahun yang lalu, saya mendengar suara tangis yang sangat asing terdengar dari dalam kamar orang tua saya. Saya belum pernah mendengar suara tangis itu sebelumnya. Karena penasaran saya tempelkan salah satu telinga ke daun pintu. Suara tangis itu tentu saja semakin jelas terdengar, dan agak tidak yakin (sangat tidak yakin sebenarnya) saya berkesimpulan bahwa tangis itu berasal dari suara bapak.

Sebuah pertanyaan besar langsung menyerang benak saya. I never saw my dad cried, never heard even the sound of him crying too. Kali ini, apa yang menyebabkan bapak menangis meraung-raung seperti itu, di tengah hari bolong? Saya ketuk pintu kamar. Tak sabar menunggu jawaban dari dalam saya buka pintunya, ternyata tidak terkunci. Di sanalah saya melihat satu pemandangan yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Tak hanya bapak, tapi juga ada ande (ibu) dan Mush’ab (adik laki-laki pertama) sedang duduk mengelilingi bapak. Suasananya sangat canggung. Namun dari apa yang terjadi di hari itu kemudian saya tahu begitu besarnya cinta bapak kepada kami.

Bapak memang bukanlah orang yang pintar mengemukakan perasaannya. Jangankan lewat kalimat-kalimat cinta, bapak tampak sering kali gagal menyampaikan apa yang dimaksudnya bahkan lewat mimik wajah. Rasanya tabu sekali bagi bapak mengumbar kasih sayang, rasa bangga dan kebahagiaan. Kami sebagai anak-anaknya selalu menilai bapak adalah sosok yang terlalu kaku. Mush’ab bahkan sempat meninggalkan rumah untuk waktu yang tidak sebentar karena berselisih paham dengan bapak. Namun siang itu, salah satu kalimat yang bapak sampaikan di sela isak tangisnya menampar saya. Beliau berkata…

Meski bapak tahu mungkin nggak semua anak-anak bapak sayang sama bapak, tapi bapak rela mengorbankan semuanya. Bapak rela berkubang di lumpur, kepala di kaki, kaki di kepala, demi kebahagiaan keluarga ini.

Semua kejadian ini terekam begitu jelas dalam otak saya. Tak jarang ia kembali terputar di sana. Membuat saya semakin mencintai bapak. Seperti baru-baru ini.

Hari selasa yang lalu, bapak mengantar saya membuat Visa ke Cina di gedung The East, Kuningan. Pekan depan saya memang ada rencana pergi ke Cina untuk mengikuti sebuah pelatihan guru di sana. Setelah selesai urusan saya di The East kami lanjut ke Tanah Abang, tempat bapak berbelanja barang-barang untuk dijual di toko pakaian miliknya. Saya berjalan mengikuti bapak, berpindah-pindah dari Blok B ke Blok F lalu kembali lagi ke Blok B. Banyak sekali toko yang bapak kunjungi. Dan sambil berkeliling ini bapak memanggul barang belajaannya tersebut di atas pundaknya.

Bapak memanggul belanjaan

Berjalan di belakang bapak seperti ini, melihat perjuangan di usianya yang demikian matang, demi saya dan adik-adik saya. Rasanya malu sekali mengingat masa-masa ‘tidak tahu terimakasih’ dahulu. Di sana saya mengusap air mata perlahan, bapak pasti nggak mau melihat saya menangisi ini. Karena bapak melakukan ini dengan bangga. Meski berat, saya tahu, tapi bapak bertahan.

Kembali terputar memori di hari itu, saat tangis bapak tampaknya sudah tidak dapat terbendung lagi. Kami bicara banyak hal dari hati ke hati di siang itu, saya, ande, Mush’ab dan Bapak. Saya perlahan paham mengapa Allah berikan begitu banyak perselisihan antara bapak dan anak-anaknya. Waktu kecil dulu saya bahkan sangat membenci bapak. Namun tumbuh dewasa dan mengalami begitu banyak hal dalam hidup, saya perlahan mengerti pesan-pesan yang berusaha bapak sampaikan dulu.

Suatu hari saat saya ungkapkan rasa terimakasih saya atas semua didikan bapak, saat saya mengakui bahwa tenyata apa yang bapak ajarkan selama ini memang benar adanya, bapak tersenyum. Dan kini bapak tak lagi malu mengungkapkan perasaannya kepada kami. Bapak semakin terlihat bahagia, karena saat beliau ungkapkan semuanya di tengah isak tangis itu, akhirnya Allah berikan kami kesempatan untuk terbuka. Mengungkap bahwa cinta sangat boleh diungkapkan dengan cara yang sangat gamblang. Kini bapak tak lagi kaku, sudah lebih sering mengungkapkan rasa bangga, sudah lebih sering tertawa. Semoga dengan begitu bapak selalu bahagia. Amin.

Bee

What Now?

Seorang teman menulis pada profile twitter nya sebagai berikut..

If Allah brings us to it, Allah will bring us through it..

I was like WOW! that sentence really hit me on the right place. Sudah lama sebenarnya saya membaca kalimat itu di sana, dan setiap kali saya baca setiap kali itu pula saya terkesiap. “Allah nggak akan memberikan kita cobaan yang nggak akan sanggup kita jalani” adalah kalimat yang punya makna sama dengan kalimat yang saya quote tadi. Saya selalu merasa Allah hobi sekali bermain hide and seek dengan memposisikan saya pada pinggir jurang-jurang masalah. Ketika saya tak bisa menemukan di mana Allah berada, saat itulah saya jatuh ke dalam jurang-jurang tersebut. Dan pada saat itu sepertinya masalah menutupi jalan saya menuju Allah. Namun pada saat yang entahlah kapan (cuma Allah yang tahu) IA jusru akan memunculkan wujudNYA sendiri dan membantu saya menaiki jurang-jurang tersebut. Di jalan yang benar itu tubuh saya sudah lebam-lebam, luka di mana-mana dan diri saya tak lagi sama dengan Asiah yang belum jatuh ke jurang sana.

Begitu banyak trauma, begitu banyak prasangka, begitu banyak air mata yang sudah saya produksi demi jatuh dan bangun pada permainan tersebut. Sampai kemudian saya benar-benar jatuh pada satu titik dan ingin berteriak. “Sudah ya Allah, Asiah nggak mau main lagi. Kalau memang ini tujuan hamba diciptakan, bolehkan hamba menyerah saja dan hentikan saja hidup hamba?”. Sebut saya frustasi sebut saya bodoh sebut saya pengecut, tapi memang sudah sampai tahap itu saya ingin sekali menyerah. Sempat merasa takut doa tersebut dikabulkan, mengingat dosa dan pahala yang masih sangat jomplang. Tapi ada sesuatu dalam hati saya berbisik, jika benar hal tersebut terjadi setidaknya saya akan tahu kalau hidup saya benar-benar hanya permainan.

But then voila, saya masih hidup sampai hari ini. Setelah hari itu saya masih diizinkan untuk ikut CFD (for the very first time) berdua sama Reza, masih diizinkan untuk merasakan sakit flu berat dan demam saat bertandang ke rumah Reza. Akhirnya sempat merasakan dirawat dan bermanja-manja secara berlebihan dengan dalih sakit (hampir) seharian sama Reza. Dan berusaha sedikit demi sedikit kembali optimis dan melihat segalanya dari sisi yang sedikit lebih baik. Sampai kemudian…

Reza dikirim ke Jambi…… selama DELAPAN bulan.

Bahkan Ande saja terperangah saat saya mengabarkan berita tersebut. But amazingly i didn’t feel that much surprised about it. Kemarin siang Reza sms saya untuk memberitahu kalau esok harinya dia sudah harus berada di Jambi. Saya terdiam sejenak, lalu cuma bisa pasrah. Mungkin memang ini yang terbaik untuk kami berdua. Ah.. THE HELL dengan mungkin, ini memang harus jadi yang terbaik untuk kami berdua.

Saya pikir, sudahlah apa yang kamu bisa lakukan ketika hidup memilih untuk melempari kue pie ke mukamu berkali-kali sedangkan orang lain mendapatkannya dengan cara yang pantas dan manis? Memang itu yang sudah akan kamu dapatkan, sudah tertulis sejak kamu belum betul-betul hidup di rahim ibumu. Saya mengaku sering sekali melihat kehidupan teman-teman yang lain dan merasa kesal sendiri karena hidup saya tidak semudah mereka. Tapi siapa sih yang sedang saya bohongi? who am i to judge they don’t have that much problem in their life? toh saya hanya melihat hidup mereka di kulit luarnya saja.

Kini, saya berusaha untuk mengerti. Belajar untuk menerima apapun itu yang kalimat di awal tadi maksudkan dalam hidup saya. Entah seberapa tinggi tingkat kesabaran saya sebenarnya, hanya Allah yang tahu. Jika memang saya dicoba sampai tahap ini, mungkin memang ada begitu baaanyak persediaan sabar di dalam diri saya. Kata orang, pada cobaan yang lebih berat tersedia hadiah yang lebih manis.

Reza berangkat ke Jambi sore tadi dan beberapa menit yang lalu ia mengirimkan lokasi camp nya via google satelite. Things that he thinks all people could understand. Walaupun saya nggak ngerti apa yang bisa saya lihat dari link itu….. OH WAIT! barusan saya selesai install google earth plug in pada laptop dan saya bisa melihat tampilan google earth dari link itu. Yeaayyy… norak dulu aaahhh πŸ˜€ Yah lumayan bisa kebayang ada di lokasi seperti apa pacar saya itu hohohoho…

Sejujurnya saya nggak tahu akan seperti apa kehidupan saya ke depan nanti. Surely LDR pernah menjadi tanda tanya besar dalam hidup saya, apakah saya bisa menjalaninya atau tidak. But at this point i really don’t care. Satu hal yang harus terjadi di depan nanti adalah akhir yang bahagia, akhir yang baik-baik saja. Apapun itu yang harus saya hadapi menuju ke sana…

Bee

When enough is enough, Indonesia!

β€œApa yang Alanda ingin lakukan sepuluh tahun lagi?”

Sebelumnya saya tahu, saya punya begitu banyak mimpi yang ingin dicapai, untuk membuat Ibu bangga, dan – mungkin – untuk Indonesia. Ingin mendirikan sekolah supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, ingin menyelenggarakan IYC terus menerus agar ada banyak agen perubahan di Indonesia, ingin ini dan ingin itu. Keinginan-keinginan itu mati tanpa diminta. Sekarang hanya ingin Ibu bebas dari seluruh kasus tersebut. Sekarang hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu, Papa, dan adik-adik – di rumah kami yang tidak besar tapi cukup nyaman; jalan-jalan dengan mobil yang tidak mahal tapi bisa membawa kami pergi ke tempat-tempat menyenangkan.

-Alanda Kariza-

 

Pagi ini seorang teman menitip salam untuk Alanda dan menyampaikan kesedihan saat membaca post terbaru di blog-nya. Saya yang memang belum membaca apa yang Alanda tulis di blog nya tersebut hanya meneruskan salamnya tersebut via twitter. Namun setelahnya muncul update dari Indonesian Youth Confrence dengan hashtag #helpalanda di timeline saya. OK, sebuah indikasi kalau sesuatu yang benar-benar serius terjadi. Ada apa dengan Alanda? Dia yang biasanya menyuarakan sesuatu yang harus dipedulikan, memancing kepedulian semua orang untuk lebih memperhatikan kepentingan orang lain, kini butuh perhatian? Yang saya tahu, Alanda tidak pernah butuh perhatian, dia akan dengan sendirinya bersinar dan semua mata tertuju padanya. Ini benar-benar serius sepertinya, saat itulah saya membuka blog post ini:

http://alandakariza.com/ibu/

TIDAK saya tidak menangis saat membaca tulisan Alanda tentang ibunya itu. Air mata saya seperti menolak untuk mengalir, tubuh saya lebih memilih untuk gemetaran, suhu tubuh saya langsung menyerap freon-freon dari AC di ruangan kantor untuk menggantikan bara yang (mungkin) saya pancarkan ke luar lewat pori-pori. Mungkin itulah yang terjadi saat kamu sudah menahan amarah dalam dirimu dan kamu tak lagi sanggup menahannya, emosimu menguap lewat pori-pori.

Saya MARAH sekali. Saya masih diam saat melihat Gayus Tambunan mengolok-olok pemerintahan dengan paket tamasya nya, saya bahkan masih diam saat pemerintah juga diam saja dengan olok-olok Gayus itu. Saya juga diam saja saat Susilo Bambang Yudhoyono meneriakkan kenaikan gaji, sedangkan ayah saya sibuk menutup salah satu tokonya karena tidak lagi punya biaya untuk membayar sewa tempat. Saya juga diam saat rumah keluarga Reza digusur dan tidak diberikan pengganti karena salah satu pejabat menginginkan rumah yang sudah dibangun sebagai penggantinya tersebut. Saya bahkan masih terus berupaya menanamkan sebuah harapan pada siswa-siswa saya untuk kelak menjadi manusia-manusia yang bisa memperbaiki nasib negeri ini, manusia-manusia yang Alanda sebut dengan β€œAgen Perubahan”. Saya diam, Indonesia… karena jauh di dalam hati, saya masih berharap negeri ini masih bisa diobati. Saya diam, Indonesia… karena saya lebih memilih untuk belajar dari semua kesalahan dan memperjuangkan yang masih terisa di hadapan.

Saya bahkan pernah menuliskan ini, ketika saya masih bisa mempercayakan semuanya pada orang-orang yang jujur dan benar-benar peduli pada kehidupan itu sendiri, bukan hanya untuk Indonesia.

Tapi kali ini, CUKUP sudah.. Sepertinya negara ini memang hobi melukai warganya, sepertinya ia memang ingin ditinggal rusak sendiri…

Baca ini, Indonesia! Pemuda itu yang menyuarakan aspirasi pemudamu di Gobal Changemaker, pemuda itu yang dengan inisiatifnya sendiri mengumpulkan pemuda peduli lainnya -dari seluruh Indonesia- untuk menjabarkan rencana perubahan mereka dalam IYC, pemuda itu yang peduli pada masa depan pendidikan di negeri ini. Dan IBUNDA ITULAH, perempuan yang kau berikan hukuman tak masuk akal ITULAH yang sudah membesarkan pemuda itu. Ibu Arga-lah yang sudah membesarkan Alanda. Dan sejauh saya mengenal Alanda, dialah salah satu pemuda yang SEHARUSNYA tidak kamu matikan mimpinya. Karena saat mimpi pemuda itu mati, saat itulah kamu bisa mulai mengucapkan selamat tinggal pada masa depan yang lebih baik. Kau bilang harapan bisa kau tumpukan pada pemuda semacam dia, tapi kini kau sendiri yang mematikan mimpinya. WAY TO GO, INDONESIA!!!

Jika ini semua masih berlanjut, jika pembelaan ibunda tersebut pun masih tidak berlaku. Jika masih keadilan bisa dibayar dengan kekayaan. Inilah yang akan kamu dapatkan untuk masa depan: sekumpulan lansia yang saling membunuh satu sama lain, untuk sekedar membuat perut mereka terisi. Karena inilah yang bisa, dan akan saya sampaikan kepada siswa-siswa saya:

Anak-anak, saat nanti kalian beranjak dewasa, inilah pilihan yang tersedia untuk kalian: tuntut ilmu dengan sebaiknya, tawarkan keahlian kalian untuk negara lain yang punya pemerintahan yang cukup adil untuk melindungi kehidupan kalian dan keluarga kalian. ATAU jadilah orang dengan pribadi bobrok dan menetap di sini, lalu saling menyikutlah kalian satu sama lain. Karena sungguh, keadilan hanya akan kalian dapatkan dengan menyuap pemerintah dengan uang.

 

* Bahkan saat menuliskan postingan ini, saya seolah marah pada diri sendiri karena sudah membenci negeri ini dengan sedemikian rupa. Sungguh, Indonesia bagai buah simalakama πŸ˜₯