Seru banget! SocMedFest..

Hermesian and friends

Akhirnyaaa bisa nulis postingan ini juga!!

Baiklah, jadi seperti yang sudah saya uraikan (caelah uraikaaan) pada postingan sebelumnya, hari Kamis sampai Sabtu yang lalu (yup itu artinya tanggal 22 sampai 24 September 2011) saya dan teman-teman The Hermes ikut berpartisipasi di acara Social Media Festival yang diadakan oleh salingsilang.com. Bertempat di plaza FX yang di post lalu saya bilang tersusun dari 8 lantai, ternyata cuma ada 7  lantai ding hehehe.. :D. Acaranya super seru! FX yang selama ini (yah itungan selama ininya, selama saya pernah mampir ke situ ya) nggak pernah ramai pengunjung, selama acara itu jadi puadat pengunjung. Emang nggak luput dari sangkaan semua orang tampaknya. Jangankan acara ini ya, yang mengundang hampir seluruh komunitas yang basis kegiatannya mengandalkan Social Media -sehingga promosinya bisa super maksimal- Waktu launching Empat Elemen kemarin aja, yang mana promosinya cuma mengandalkan cuap cuap dua komunitas aktif di twitter (@thehermes dan @anjinggombal -karena beberapa hermesian juga termasuk pelopor Anjing Gombal-). Itu yang dateng yaaa.. Subhanallah, sampai nggak nampung deh itu venue dari Times Book Store. LOL. Nah, bisa kebayang kan gimana penuhnya plaza FX Senayan saat itu.

Acara yang disajikan oleh panitia pun tampak sangat beragam dan nggak neko-neko. Saya sempat melihat ada briptu Eka atau siapalah itu namanya berkeliaran juga di sana, abis isi acara tampaknya. Then i thought, ini beneran semua interest diangkat di sini kayaknya yah. Nggak cuma itu, ada juga Glenn Fredly yang saya udah luammaa banget nggak denger kabarnya (deuu.. bilang aja emang suka ketinggalan berita :D), truss di hari terakhir di venue lantai F3 bahkan acara talkshow Mata Najwa pindah set ke panggung di situ. Bintang tamunya waktu itu Fitri Tropika, yang dibahas adalah buku barunya Fitrop yang berjudul “Kening”. Sungguh loh yang namanya Fitrop ini juara banget tingkah sama celetukan-celetukannya. Saya aja sampai betah tuh nontonin sambil berdiri di samping salah satu kameramen. Saya kan orangnya nggak betah berdiri lama-lama 😀

Okeh, truss gimana acara saya dan teman-teman The Hermes? huwow.. nggak kalah sukses dooong, ya iyalaaahh kita kan keren gitu lohhh. Pfftt.. Ampuuun! jangan berenti baca ya plis, itu tadi saya cuma becanda..

The Booth

Jadi dari hari rabu malam, Emmy, Kiki, Galuh, dan Danang sudah standby di gedung FX untuk bikin printilan-printilan di atas itu. Yang kecil-kecil itu adalah mini box unyu yang mewakili E Novelette The Hermes yang sudah pernah terbit sejak dua tahun yang lalu. Yang gede itu bukan kotak amal yah, itu box raksasa bertulisan The Hermes yang menggambarkan betapa Maha nya ide-ide kami selama ini (hahaha.. nggak! kalo yang itu saya ngasal :D).

Saya baru bisa hadir di FX di hari ke dua (Jum’at 23 September), saya sengaja switch jam ngajar demi bisa sampai venue lebih awal. Yang mana nggak awal-awal banget juga sih, tetep aja saya datangnya sekitar jam 4 sore :P. Nggak lama setelah saya datang, muncul adiknya Jia (yang bernama Widya) lari-lari dari eskalator dengan wajah yang sangat sumringah. Dia langsung membantu saya menyusun printilan-printilan yang dibuat Galuh, Emmy, Kiki, dan Danang di hari rabunya di meja yang disediakan panitia. Saya terkagum-kagum sama buku tamu dan scrap book profile hasil karya mereka. Keren! dengan budget yang memang terbatas (membuat kami nggak mungkin bikin flyer atau media printed keren selain x banner) akhirnya kreatifitas malah jadi muncul maksimal. Thumbs up deh buat kalian semua! 😉

Ketika saya sedang menjelaskan kepada pengunjung jawaban dari pertanyaan paling laku di tiga hari itu “Apa sih komunitas The Hermes itu?” (ya iyalah woy!). Tiba-tiba Alanda muncul aja gitu dari belakang pengunjung itu. Manggil-manggil nama saya sambil dadah dadah. Wuah! excited dong langsung, rasa pengen ngegossip langsung membuncah. (apa seh? nggak lah, pengen ngomongin BDM padahal mah :D). Tapi ndilalah pas saya minta tunggu sebentar sambil ngebut njelasin ke pengunjung barusan, eh udah raib aja orangnya. Haish! ini anak udah susah diajakin ketemu nya. Mana pas dicari-cari sampai ngelilingin semua booth tetep enggak ketemu. Ya udahlah, nggak jodoh 😩

nih! bukti kalo saya beneran dateng ke situ hehe 😀

Nah, jam delapan lewat lima belas menit malam itu The Hermes dapat slot acara di ministage lantai F6. Oh iya, booth The Hermes juga adanya di lantai F6, tetanggaan sama booth nya @fiksimini, @pedemunegeRI, dan @anjinggombal. Inti acaranya sih Launching E Novelette Hikayat Nusantara, tapi kita kemas dengan bentuk interaktif gitu. Sangat santai dan buanyak games dan bagi-bagi hadiahnya.

Jia Effendie, lagi baca puisi karyanya sendiri "Lutung Kasarung"

Jia yang tiba-tiba aja datengnya sambil nenteng-nenteng iPad baru. Heuuuh.. ya perasaan baru kemarenan itu nanya mendingan beli iPad apa Galaxy Tab, tau-tau udah ditenteng aja itu device baru <– lagi iri :P. Di panggung dia bacain puisi sambil diiringi lagu “Good Night Andromeda” (ini ide iringan lagunya last minute banget, untung ada Kiki yang jadi sound enginer dadakan). Jia nggak ngebacain puisinya secara lengkap, dikirain mau bikin penontonnya penasaran, biar pada donlot Hikayat Nusantara. Eh, nggak taunya pas di kost dia bilang “Aku kan tadi nggak bacain puisinya sampai selesai, abisan bosen” laahh.. ppfftt..

Macha dan Djawa menyanyikan lagu "Satu Dalam Sejuta Hasta"

NAH! ini dia penutup yang seru banget. Sekali lagi Macha dan Djawa nyanyiin lagu “Satu Dalam Sejuta Hasta” sambil hampir semua penonton (yang hafal liriknya) ikutan nyanyi. Lagu itu emang keren banget, liriknya dalem pulak. Djawa sampai salto salto loh dia saking excited nya. SE RI US gueee.. Dan waktu acara berakhir dan kami sudah kembali ke booth, Jia tiba-tiba ngedeketin saya truss bisik-bisik.” Tadi panitianya ada yang bilang gini masaaa; Ministage F6 kayaknya belum pernah seramai ini”. Yiiihhhaaa… seneng banget dong dibilang begitu. Berarti ke-eksis-an rangkaian acara kita berhasil.

Jia dan iPad barunya yang bikin pengen (pengen ngambil iPad-nya) 😛

Oh iya, jangan lupa unduh The Hermes E Novelette yang baru ya, judulnya Hikayat Nusantara. Saya yang jadi editor edisi itu lhoo 😉 Yuk, klik tautan ini untuk mengunduh yah. Kalau mau lihat gimana serunya acara kemarin itu, Danang sudah mengkompile semua dokumentasinya di tautan ini. Whoah.. can’t wait for the next big thing with Hermesian 🙂

Bee

Tanpa Perasaan Adalah…

Finding this picture on your facebook page…

and realize that your writings is once again being published without your permission.

Saya kaget bukan main waktu melihat foto itu di facebook, langsung saya buka halaman foto tersebut dan memberi komentar. Berikut adalah komentar saya dan teman-teman pada halaman foto tersebut:

Buku tersebut adalah buku Bunuh Diri Massal yang pada tahun 2009 yang lalu sempat diterbitkan oleh Ufuk Press dan kini di-republish kembali. Bunuh Diri Massal sendiri adalah sebuah serial yang ditulis oleh Fajar Nugros dan Alanda Kariza di facebook dan multiply yang menjadi besar dan banyak dibaca setelah dimuat di website sebuah band Trip Hop yang bernama Everybody Loves Irene. Widi Asmoro yang bertanggung jawab atas penyajian kolaborasi BDM dan ELI ini benar-benar piawai dalam mengemas karya tersebut. Semakin banyak orang kemudian membaca serial ini, lalu disusul oleh semakin ramainya penulis yang menuliskan side-story versi mereka. Lalu sampailah serial ini menjadi sebuah fenomena di mana sekitar 165.000 orang membacanya, dalam jangka waktu satu bulan.

Mungkin karena fenomena inilah kemudian Fajar Nugros memutuskan untuk membawanya ke penerbit untuk kemudian dikomersilkan. Ufuk Press menyambutnya dengan senang hati. Dikemaslah Bunuh Diri Massal menjadi sebuah buku dengan tebal 186 halaman dengan mencantumkan nama Fajar Nugros dan Alanda Kariza pada kavernya. Dan ajaibnya, Alanda nggak tahu apapun tentang hal ini. Apalagi saya. Padahal tulisan saya juga dimuat di dalamnya.

Awalnya saya merasa senang-senang saja dengan penerbitan buku ini, apalagi dengan konfirmasi dari Fajar kalau royalti buku akan disumbangkan. Tapi sampai saat ini, Fajar nggak pernah memberikan kejelasan kepada siapakah royalti tersebut akan disumbangkan. Awalnya Fajar bilang mau menyumbangkannya pada The Cure For Tomorrow milik Alanda, tapi sampai saat ini Alanda bahkan tak pernah diajak bicara tentang hal ini. Semua prosesnya menjadi semakin membingungkan ketika saya akhirnya bertanya tentang keberadaan Perjanjian Penerbitan pada Fajar. Banyak sekali alasan yang dia lontarkan dan nggak pernah sama di setiap pengucapannya. Bahkan ketika saya meminta kontak penerbit pun, tak pernah dia berikan. Saat inilah saya mulai merasa ada yang salah. Apalagi ternyata Alanda pun mengalami hal yang sama dengan saya. Ini Alanda lho, dia yang namanya ikut dicantumkan di kaver.

Dua tahun kami menutup mata, mulut dan telinga tentang buku ini. Sampai akhirnya gambar di atas muncul. Ini seperti membuka luka lama. Dan sebagai penderita yang ingin sembuh, kami langsung bereaksi. Tindakan pertama yang kami lakukan adalah menuliskan komentar pada halaman facebook tersebut. Sampai akhirnya Ufuk mengundang Alanda untuk bertemu. Beberapa saat setelahnya Alanda mengirimkan draft surat perjanjian penerbitan buku dan beberapa point hasil pertemuannya dengan Ufuk, via e mail.

Saya teruskan e mail tersebut kepada teman-teman penulis side-story lainnya untuk mengkonfirmasi izin penerbitan karya mereka pada buku ini. Satu penulis langsung menyatakan tidak mengizinkan tulisannya diterbitkan lewat media manapun. Dan penulis lainnya masih ingin merelakan tulisan mereka dengan catatan adanya kejelasan ke mana royalti buku ini diberikan. Kami hampir bersepakat kalau royalti tersebut ditujukan untuk yayasan yang menangani mereka yang pernah hampir bunuh diri atau semacamnya, kami hampir bersepakat untuk meminta Ufuk mengemas buku ini dengan lebih baik. Karena ternyata ada beberapa hal yang tertinggal di cetakan pertama dulu. Kami hampir bersepakat untuk mempromosikan buku ini dengan baik. Kami seolah melihat sebuah pintu terbuka untuk buku ini. Namun sekali lagi Fajar Nugros meruntuhkan semuanya. Berkomentar lah ia pada e mail tersebut yang saya rasa nggak pantas untuk saya tuliskan di sini. Komentar yang cukup membuat kami bersepakat untuk tidak memberikan izin penerbitan tulisan masing-masing pada buku tersebut.

Tapi ternyata semuanya sudah terlambat. Di saat Ufuk mengundang Alanda bicara, buku tersebut sudah rilis. Jadi apa point dari semua ini?

Saya menuliskan post ini lebih karena rasa kecewa saya. Nggak pernah terjadi dalam hidup saya, begitu tidak bahagia melihat tulisan saya diterbitkan. Tulisan saya mungkin hanyalah sebuah karya kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan karya di dalamnya. Siapalah saya yang begitu besar kepalanya memohon-mohon mereka untuk menghargai karya saya. Saya memang bukan siapa-siapa. Tapi karya tersebut tetap milik saya. Dan dengan ini, saya menyatakan tidak bersedia karya tersebut diterbitkan secara komersil dalam bentuk apapun.

Pengantin Padang milik saya sudah saya berikan kepada Bunuh Diri Massal versi website ini sejak tahun 2008 lalu. Dan sampai saat ini, hanya di sanalah saya ingin karya ini bisa dibaca. Semoga mereka yang masih punya perasaan bisa mengerti. Terimakasih.

Bee

My Newest Book: Empat Elemen

Hermesian dan Siska Dengan Empat Elemen

Wohoooo… it’s finally done!!

Setelah beribu-ribu meeting, berpuluh-puluh e mail, dan dengan curahan peluh dan air mata *iyak saya lebay, biar dong* 😛 Akhirnya pembuatan buku Empat Elemen pun se le sai..

Disponsori oleh Helios Capital dan Yayasan Warna Warni akhirnya saya dan teman-teman The Hermes berhasil juga mewujudkan impian kami belakangan ini. Sungguh ini sama sekali bukan hal yang kami sangka-sangka, bahkan sampai awal tahun ini kami nggak pernah mencetuskan apapun tentang membuat buku bersama. Kami memang selalu punya impian itu, tapi untuk benar-benar mewujudkannya, kami tahu nggak akan mudah.

Butuh biaya besar untuk mencetak dan menerbitkan buku sendiri. Kemarin kami sempat diundang menjadi pembicara sebuah talk show bertajuk Self Publishing dan bertemu beberapa penulis yang menerbitkan bukunya sendiri. Mendengar cerita mereka saya hanya bisa berdecak kagum saja. Belum bisa membayangkan akan nekat mengeluarkan sebegitu banyak uang untuk mencetak karya sendiri. Hmm.. saya rasa sih alasan kuatnya justru karena nggak punya kepercayaan sama sekali dengan tulisan sendiri hehehehehe.. 😀

Tapi untuk yang satu ini saya sangat percaya diri. Berawal dari pembuatan E Book Hermes for Charity Vol 2: Empat Elemen akhir tahun lalu dan obrolan-obrolan santai tentang rencana dan mimpi masa depan, lahir lah buku ini. Maria Sekundanti punya andil sangat besar atas terwujudnya buku ini, tanpa bantuannya mungkin kami nggak akan berkenalan dengan Helios Capital dan Yayasan Warna Warni sebagai sponsor. Senang sekali saya bisa berpartisipasi penuh dalam proses pembuatannya. Jadi banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Lumayan panjang kalau ditulis dalam post ini, lain kali mungkin akan saya tulis kembali ya…

Setelah proses produksi, tentu kami harus lanjut dengan proses ditribusi ya.. Karena distributor buku di Indonesia belum ada yang berani mengambil buku dengan jumlah kecil (kami hanya mencetak 1000 buku, sedangkan dominasi kontributor meminta 3000 buku) maka dengan semangat tinggi kami menjualnya secara mandiri.

Buku Empat Elemen ini kami beri harga minimal Rp. 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim). Karena seluruh hasil penjualan akan disumbangkan untuk recovery korban bencana meletusnya gunung merapi di Jawa Tengah, maka kami tetapkan harga minimum tersebut. Jika teman-teman ingin menyumbang lebih, akan dengan senang hati kami tampung.

Kalau kamu tertarik untuk membelinya, boleh langsung kunjungi alamat website ini:

http://hermesian.wordpress.com/

Dan isi kolom pembelian Empat Elemen yang ada pada side-bar sebelah kanan. Hanya dengan jumlah tersebut kamu sudah bisa membantu proses recovery saudara kita di Jawa Tengah dan membaca karya-karya menyentuh dari The Hermes and friends, termasuk saya 😀 Kapan lagi bisa menyumbang dan mendapat buku sekaligus?

Tunggu apa lagi? ayo klik website nya dan pesan sekarang juga. Untuk partisipasimu, sebelumnya, saya ucapkan terimakasih yaaaa… 🙂

Bee

Hermes For Charity Vol.2

Hermes For Charity Vol.2

 

Sayang… Sungguh aku tak berdusta kala berkata aku terbangun malam ini karena tiba-tiba merindukanmu. Saat diam-diam kuintip rembulan sedang berpendar kisruh di langit sana, aku bertanya. Apa yang sedang kau lakukan di seberang sana? Apa kita sama-sama sedang menatap kegelisahan gemintang? mengharap mentari tetap jejaka perkasa menyinari rembulan. Hingga kekisruhannya yang berpendar semacam itu, tak akan tertelan langit luas.ï»ż

Cinta Sepasang Batu Dari Masa Lalu – 210409

 

Satu tahun yang lalu saya menuliskan kisah ini saat menunggu giliran take vokal dalam sebuah sesi rekaman (oh i missed those days :(). Beberapa saat lalu teman-teman The Hermes mencetuskan untuk menerbitkan Hermes For Charity Vol.2 yang semua hasil penjualannya akan disumbangkan untuk korban bencana yang belakangan ini memang sedang bertubi-tubi datang melanda ibu pertiwi. Saya yang belakangan ini memang mengalami writer block yang kronis akhirnya mengais kembali tulisan-tulisan lama dan memilih kisah ini untuk dikirim ke Jia dan Astrid sebagai redaktur edisi ini. Mengingat banyak sekali kontributor dengan tulisan-tulisan keren mereka masuk ke redaksi, saya agak tertegun juga waktu menemukan nama saya pada salah satu daftar kontributor di blog The Hermes. Tulisan saya lolos, thankyou Jia and Astrid *kecup*

Sekilas Tentang Hermes For Charity Vol.1

Satu tahun lalu, saat Sumatera Barat diguncang gempa dahsyat hingga merobohkan banyak bangunan dan tempat tinggal, juga memakan begitu banyak korban, semua orang berbondong-bondong mengucapkan bela sungkawa dan menyisihkan sedikit harta mereka untuk disumbangkan. Dedo, salah satu Hermesian, pada salah satu sesi kumpul-kumpul (yang belakangan ini sudah sangat jarang terjadi :() mencetuskan ide ini. Dia mengusulkan untuk menjual tulisan-tulisan kita dan semua hasil penjualannya disumbangkan untuk korban gempa Padang.

Obrolan demi obrolan pun terjadi hingga akhirnya tercetuslah satu konsep e book berbayar yang dijual via online. Pelan-pelan kami jalankan project ini bersama-sama, mulai dari pengumpulan naskah, pembuatan kaver, layout e book, sampai akhirnya datanglah Endy Daniyanto yang bersedia menyumbangkan soundtrack. Lengkap sudah paket Hermes For Charity kami.

Promosi kecil-kecilan kami lakukan. Mulai dari update status facebook, update twitter, update blog masing-masing, sampai bombardir ke semua account ym!, msn, dll. Lalu sedikit demi sedikit nominal masuk ke dalam rekening Hermes For Charity, permintaan demi permintaan datang ke e mail kami, pundi-pundi-pun terisi lebih banyak dari perkiraan awal kami. Dari penjualan Rp. 15.000,- untuk setiap download, sekitar 150 lebih download sudah terjual. Lalu hasil penjualanpun sudah kami salurkan (laporan penjualan dan proses penyaluran sumbangan akan dituliskan oleh The Hermes di blog mereka [hermesian.wordpress.com]).

Saya pribadi nggak pernah menyangka animo teman-teman bisa sedemikian besarnya. Hermesian saat itu baru saja terbentuk dan komunitas The Hermes belum begitu terdengar gaungnya. Sekarang sudah lebih banyak teman yang tahu tentang The Hermes, dapat dilihat dari beragamnya kalangan yang mengirimkan tulisan mereka untuk Hermes For Charity Vol.2 ini. Semoga niat baik ini bisa diberkahi Tuhan dan disambut baik oleh teman-teman sekalian.

Ibu Pertiwi, jangan menangis lagi. Terimakasih atas naungan langitmu selama ini, kini maafkan semua kecerobohan kami dan terimalah persembahan ini, tulus dari hati kami.

–oOo–

Hermes For Charity Vol.2, terbit 25 November 2010. Follow twitter @thehermes untuk update terbaru.

 

-bee-

Klik, Submit [Ubud Writer Festival]

Hihi… akhirnya ikutan juga nih yang lagi heboh banget di twitter.. Sudah dari beberapa hari kemarin banyak banget teman-teman saya mencantumkan link cerita mereka di Festival penulis ini untuk kemudian dibaca dan di-vote. Setelah saya buka link nya dan baca -baca cara mainnya sepertinya menarik juga untuk dicoba. Akhirnya tadi iseng-iseng tulis satu cerita dan kirim ke sana. Nggak berapa lama kemudian di-publish sama admin nya yang bernama mbak Sarah. Terimakasih ya mbak Sarah..

And here goes the story..

My Writings on Kilat! The Flash Fiction Challenge

KLIK, SUBMIT

Di atas sana, jauuuhhh di langit ke tujuh sana, Tuhan sedang duduk terpaku melihat kehidupan ciptaan-Nya di dunia.

KLIK. SUBMIT.

Bersahutan ia mendengar doa dipanjatkan dari mulut hambaNya. Di pinggiran rel kereta di sebuah gubuk kardus tak berjendela, seorang anak perempuan memohon ibunya cepat pulang membawa obat untuk ayahnya yang sedang terkapar sakit. Lalu, KLIK. SUBMIT. Si ibu muncul dari kejauhan, tergopoh-gopoh berlari pulang. Tangannya menggenggam sebutir obat yang ia dapat dari hasil meminta-minta sejak subuh tadi, satu butir obat untuk menyambung nyawa suaminya hari itu, sambil berharap esok akan ada butir lainnya dalam genggaman. Tuhan mendengar harapan itu, dan menunggu untuk..

KLIK. SUBMIT.

Di sebuah rumah megah dan mewah, seorang bapak menangis dalam sujudnya. Di kamar paling besar rumah tersebut ia memohonkan keselamatan dunia akhirat untuk keluarganya. Doa yang setiap hari selalu dipanjatkan dalam sujud akhir shalat fardhu. Di sebuah gang kecil di perkampungan belakang rumah mewah itu, seorang gadis cantik berjalan pulang setelah berkunjung ke rumah sahabatnya. Di ujung lainnya sekelompok pemuda mabuk berjalan sempoyongan ke arahnya. Tak berapa detik sampai pandangan para pemuda itu tertumbuk padanya, ia teringat akan barangnya yang tertinggal. KLIK. SUBMIT. Ia memutar badannya kembali ke arah kampung. Tuhan mengabulkan doa bapak tadi.

***

Pada sebuah sudut dunia, Tuhan memicingkan matanya jauh lebih tajam. Di sana hening, tak ada doa.

“Papa selingkuh kan?” PRANG.. suara vas bunga yang pecah di dekat kaki lelaki yang dipanggil papa.

“Mama nggak usah munafik!! Itu siapa yang kemarin nganterin mama pulang? Jangan kira Papa nggak tau!!” BLESK.. suara tubuh wanita yang dipanggil mama terjerembab di atas sofa, setelah dilempar kasar oleh laki-laki yang ia panggil papa.

Di sudut ini, hanya suara-suara itu yang Tuhan dengar. Tak ada doa.

Oh tunggu.. di sudut kamar itu..

“Tuhan.. jika memang Engkau ada, jika memang benar kata para orang-orang beragama itu, Kau bisa mengabulkan doa-doa. Ini aku berdoa untuk pertama kalinya dalam hidupku. Hentikan semua keributan ini!!”

KLIK. SUBMIT.

Esok harinya, pasangan papa dan mama tersebut ditemukan dalam keadaan mengenaskan di mobil masing-masing bersama pasangan masing-masing. Mobil mereka saling berhantaman di tikungan kompleks, keributan pun berhenti.

Click here to vote

-bee-

ps: kayaknya dulu pernah denger tentang Festival Penulis Ubud ini waktu masih jadi Promosi nya Lingkar Pena. Ini festival yang sama bukan ya? hmm…

E-Magz Special Edition #2 – Wishes From Us (via The Hermes Story)

Another Hermes E Magazine (special edition). Kali ini adalah tulisan tentang pengharapan terhadap masa depan. Ada juga tulisan ibu dari salah satu Hermesian yang bener-bener mengharukan. Dipadu dengan OST. Hanya Allah yang dinyanyikan oleh Andre Ramadhan. Subhanallah suara dia di situ. Beniiiing sebening-beningnya suara..

Setelah E Magz (special edition) ini, kita mau liburan dulu deehhh… sampai akhir Oktober nanti, baru menerbitkan E Magazine ke empat, setelah Hermes Constellation. Selamat membaca semuanyaaaa 🙂

klik saja link nya dan unduh e magz dan OST nya hanya dengan membayarnya dengan tweet kamu 🙂

-enjoy-

E-Magz Special Edition #2 – Wishes From Us Klik pada sampul untuk mengunduh dengan satu Kicauan* Ketika hati hanya bisa berharap Maka mulut akan berdoa Ketika pikiran mulai bermimpi Maka tubuh akan berusaha mewujudkannya Inilah persembahan spesial dari kami di pertengahan menuju akhir tahun 2010. Kami berharap dan berdoa agar semua impian di awal tahun dapat terwujud di akhir tahun. Edisi  spesial ini berisi puisi, doa, pengharapan, cerita singkat dari kami kepada Tuhan dan orang spesial  … Read More

via The Hermes Story