New Year New Lessons

Januari belum juga berakhir, tapi kejadian-kejadian penting penuh pembelajaran udah bertebaran aja di mana-mana 😀

Sejak akhir tahun lalu kami sekeluarga sudah mempersiapkan satu kejadian penting yang akan terjadi di awal tahun ini, lahirnya satu anggota keluarga baru dari rahim kakak ipar saya.  Jadilah sejak minggu-minggu pertama Januari, mbak Nia menetap di Rasamala. Saya kebagian tugas menemani mbak Nia jalan-jalan di mall untuk memperlancar pembukaan. Tapi karena cuaca yang kurang mendukung, baru satu hari saya menemani mbak Nia menyusuri Kota Kasablanka, saya malah ambruk. Beruntung masih ada stock herba dan kopi Radix di rumah Rasamala, jadilah saya minum herba-herba itu sesering mungkin. I can feel my body fighting back the viruses, walhasil saya tetap kena flu, tapi nggak separah yang kemungkinan bisa terjadi. I love herba 😉

Setelah mules-mules selama kurang lebih satu minggu, tanggal 13 Januari 2013 kemarin, akhirnya lahirlah si mungil yang ditunggu-tunggu. Kairi Fairuzia lahir dengan proses persalinan normal dengan berat 3.3 kg. Resmi sudah Sora Willens menjadi kakak. Look at this picture, can you see how proud Sora is?

Image
Sora & Kairi

Proses kelahiran Kairi dan kehadiran Kairi di rumah menjadi salah satu pelajaran berharga bagi saya yang insya ALLAH juga akan melahirkan anak pertama kami di bulan Maret nanti. Newborn baby itu kecil banget yaaa.. gendongnya serba salah sendiri jadinya, takut kenapa-kenapa, apalagi mandiinya, haduuuh ngeliat Mama mandiin Kairi aja rasanya udah nervous sendiri hahaha.. but Insya ALLAH i will learn fast, amin.

Another important lesson, sebenarnya didapat sebelum kelahiran Kairi. Remember i wrote about moving to the apartment in Ancol in my last post? Memiliki tempat tinggal sendiri dan menjadi mandiri adalah impian saya bahkan sejak sebelum saya menikah. Saya, entah kenapa nggak pernah berjodoh dengan pengalaman yang satu itu. Dulu sempat ingin sekali kost di dekat kampus, walaupun rumah pun terbilang kepleset nyampe dari kampus. Tentu saja niat itu ditolak habis-habisan. Waktu kerja sempat juga ingin mengambil salah satu kamar kost yang kosong di samping kamar kost rekan kerja, tapi kemudian saya malah disuruh pulang pergi naik motor. Sekarang saat sudah berkeluarga dan seharusnya kesempatan tinggal sendiri dan mandiri menjadi lebih besar, kok ya ndilalah malah susah juga. Padahal setelah menulis post ini sepertinya ALLAH memberikan jalan untuk bisa menyewa apartemen di daerah Ancol dengan harga yang jauh lebih rendah dari pasaran. Wyna salah satu teman mengajar dulu menulis komentar yang membuat saya deg-degan luar biasa pada post tersebut. Setelah di-follow up, sampai kemudian survei ke lokasi, bayangan hidup sendiri seperti sudah menari-nari di hadapan. Tinggal satu langkah lagi, saya bisa sampai ke impian tersebut. Tapi sayang, sepertinya ALLAH memang belum memberi izin. Setelah memohon ketenangan untuk berfikir, setelah sebelumnya sempat sangat emosional sampai memohon-mohon pada suami untuk memberi kesempatan itu pada saya, akhirnya ALLAH seperti memberikan keikhlasan kepada saya untuk bersabar lagi. Mempertimbangkan kondisi di mana saya dan Reza masih membutuhkan banyak biaya untuk kelahiran anak pertama kami dan sebagai modal usaha baru kami, ALLAH kemudian memberikan rasa lega di dalam hati saya saat mengatakan kalimat sakti itu pada suami saya.

Sayang, apartemennya nggak usah kita ambil dulu yah. Uangnya masih perlu ditabung dulu.

Tentu saja air mata sempat mengambang di pelupuk mata saat akhirnya mengucap kalimat itu. Tapi di dalam hati ini saya yakin ALLAH akan memberikan kesempatan itu pada saat yang tepat nanti. Dan ketika waktu itu datang, segala sesuatunya pasti akan berjalan dengan lancar. Amin.

Pelajaran berharga selanjutnya berhubungan dengan bisnis baru kami. Sejak awal tahun ini, kami Insya ALLAH sudah mulai membuka booth ayam A’baik kami.

Image
Ayam Goreng Organik A’baik

Dibuka di depan Fire Net (warnet milik adik ipar) di daerah Pondok Kelapa. Sebenarnya niat untuk membuka usaha ini sudah tercetus dari pertengahan tahun lalu. Awalnya mau dibuka di Depok, tapi rupanya ALLAH memberikan jalannya untuk dibuka di daerah Pondok Kelapa. Saya selama ini nggak pernah membayangkan memiliki usaha sendiri, nggak pernah berani membayangkan sebenarnya, mengingat kepercayaan diri saya di bidang ini terbilang kecil. I’d rather work for a company and get paid every single month than have to maintain my own bussines. Pengecut sebenarnya, takut malah jadinya rugi bandar hahaha.. Tapi karena sekarang sudah ada suami yang semangat wiraswasta-nya tinggi, dan ande yang juga kasih semangat, akhirnya dengan modal nekat dibelilah franchaise ayam ini.

Belum sebulan kami mulai usaha ini, weekend kemarin kami sudah diberikan tantangan. Alkisah stock ayam di booth kami semakin hari semakin menipis. Alhamdulillah, ini menandakan penjualan yang berjalan dengan lancar. Setelah pesan di pemasok yang biasanya, ternyata mereka juga sedang kehabisan stock. HALAH. Dan nggak mungkin juga kami menunggu stock di pemasok tersebut datang, karena persediaan sudah benar-benar menipis. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil stock ayam dari daerah Bekasi Utara. Sejak pagi saya menghubungi bapak pemasok dari Bekasi tapi nggak juga dapat jawaban. Dengan nekatnya, saya dan Reza meminjam mobil Mama pergi ke Bekasi Utara. Hanya berbekal google Maps dan alamat yang diberikan sebelumnya, sambil terus berusaha menghubungi bapak Bekasi. Alhamdulillah perjalanan kami terbilang lancar, tapi sampai lokasi kami malah dihadapkan dengan satu fakta bahwa daerah tempat tinggal bapak Bekasi terkena banjir sampai setinggi lutut. Reza nekat saja melewati banjir itu, Alhamdulillah ALLAH masih melindungi kami dari bencana mati mesin 😀

Tapi rupanya ALLAH masih belum memberikan kami kesempatan untuk bernafas lega. Perjalanan pulang menuju Pondok Kelapa yang sama-sama belum pernah kami tempuh sebelumnya menanti di hadapan. Hape samsung saya dan Reza sudah sama-sama habis baterai. Akhirnya mengandalkan google maps pada blackberry saya. Real time nya google maps di Blackberry yang nggak secanggih Samsung membuat kami kebingungan saat berhadapan dengan salah satu pertigaan. Peta di tangan saya mengatakan kami masih harus lurus, tapi jalan di hadapan sudah bercabang-cabang. Pengambilan keputusan yang terbilang terlambat membuat Reza harus melakukan manuver belok kanan tajam, lalu DUAR! ban belakang sebelah kanan menabrak separator. Mobil mulai terasa oleng, benar saja setelah diperiksa ternyata ban belakang sebelah kanan kempes sekempes-kempesnya. Situasinya saat itu sedang di tengah gerimis yang sudah turun sejak kami beranjak dari Bekasi Utara. Jalanan sudah basah dan licin, udara pun sudah terasa dingin, sedangkan bengkel tak terlihat di manapun. Akhirnya diambillah keputusan untuk mengganti ban tersebut dengan ban serep yang ada.

ayah Reza is doing his best
ayah Reza is doing his best

Di tengah hujan yang semakin deras itu, Reza mengganti sendiri ban yang bocor itu dengan ban serep. Saya sempat kebagian tugas untuk memayungi Reza sebelum akhirnya disuruh menunggu di dalam mobil saja karena hujan turun semakin deras. Saya sebenarnya sangat ingin menemani Reza di luar sana, tapi mengingat sedang mengandung, rasanya resiko sakit setelahnya malah nanti akan membuat Reza menjadi semakin repot. Akhirnya saya memperhatikan saja perjuangan suami dari dalam mobil sambil terus berdoa agar tak ada orang yang berniat jahat menghampiri kami, dan agar setelah ini Reza nggak tambah sakit, karena sebenarnya hari itu ia sedang menjalani sick leave karena gejala typhus. Sudah berulang kali kisah ini saya ceritakan pada keluarga di Rasamala dan Depok, tapi rasanya tak cukup menggambarkan bagaimana terharu dan bangganya saya pada suami saya saat itu. At times like this, being husband and wife feels real.

Setelah ban selesai diganti, kami melanjutkan perjalanan menuju Pondok Kelapa. Reza sempat membahas tentang laporan keuangan dengan dua pegawai kami di sana. Akhirnya sekitar jam 7 malam kami bertolak ke Tebet untuk menjemput Mama Yvonne yang sedang menemani mbak Nia dan adik Kairi. Di perjalanan pulang ini pun kami kembali berhadapan dengan satu cobaan. Kami sempat dibuang ke Cililitan karena ada luapan air yang datang di daerah setelah Pasar Gembrong. Alhamdulillah saat kami tiba di jalan itu, air masih belum tinggi. Reza nekat saja melewati luapan air itu, Alhamdulillah kami aman sampai di Puskesmas Tebet.

Hufff.. what a day. Ternyata hari itu juga merupakan hari yang berat bagi seluruh bagian Jakarta. Hujan yang nggak juga reda sampai keesokan harinya membuat Jakarta tergenang air, sampai bunderan HI pun terlihat seperti banjir susu coklat. Banyak foto daerah-daerah yang kebanjiran beredar di media social. Saya pun semakin bersyukur karena apa yang kami alami saat itu masih terbilang ringan. ALLAH surely wants to show us HIS blessings despite all of those trouble.

Selama sehari itu saya nggak merasa over worried sama sekali, knowing that i have Reza on my side, i know everything will be okay. Dan kalaupun nggak, setidaknya saya mengalaminya bersama Reza. Maybe this is what they call love 🙂

Bee

On three two one, it’s 2013!!

Bismillah, Happy new year all 🙂

Rasanya belum lama deh nulis Review tahun 2011, kok sekarang sudah awal tahun 2013 aja. Lots of HUGE things happened last year and most of it was always been a resolutions for sooo many years 😀

Firstly, tahun 2012 dibuka dengan salah satu milestone yang selalu menjadi resolusi akhir tahun sejak beberapa tahun sebelumnya. I am getting married. Tepatnya tanggal 3 Maret 2012 kemarin, Alhamdulillah saya dan Reza resmi sudah menjadi sepasang suami istri. The event was very beautiful, everything went really well. Meskipun rombongan saya sempat telat sampai di lokasi akad, dan keduluan sama rombongan keluarga Reza. Hampiiiir saja gagal diumpetin di belakang mimbar masjid, tapi untungnya banyak yang kooperatif, jadinya Reza berhasil nggak lihat saya dulu sampai waktunya pembacaan akad 😀

03.03.2012
03.03.2012

I was really nervous that time, moment di saat keluar dari persembunyian, dan melihat Reza, Bapak, penghulu, dan dua saksi di meja kecil itu rasanya nggak bisa hilang dari memori. Apalagi saat dengan lantangnya Reza menjawab akad nikah yang dihaturkan bapak padanya. Saya sempat kaget juga mendengar betapa Reza rasanya seperti berteriak tegas, mengatakan “Saya terima nikah dan kawinnya Sitty Asiah binti Darmadi dengan mas kawin yang tersebut tunai!”. Itulah pernyataan cinta paling indah yang pernah saya dengar selama hidup. Terimakasih sayangku, terimakasih karena sudah bersedia menjadi Imamku 🙂

Acara resepsi juga berlangsung lancar, saya bahagia banget lihat banyak teman-teman yang meluangkan waktu untuk datang. Hermesian bahkan sempat sumbang suara menyanyikan lagu Satu Dalam Sejuta Hasta bareng-bareng. Murid-murid SIF Al Fikri juga banyak yang datang, i was really surprised seeing them, i wanted to just hug them one by one. One of the best moment in life banget deh pokoknya. Start of my new beginning 😀

USG Pertama

After those firstly, came another HUGE news. I am pregnant. Di awal bulan Juli akhirnya muncullah dua garis di dua test kehamilan yang saya ambil. Nggak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana campur aduknya perasaan saya saat itu. Senang tentu saja, tapi sekaligus takut dan kebingungan hahaha.. I was about to become a mom, ada bibit manusia baru yang tumbuh di dalam rahim saya. Akhirnya sering sekali tanya dan baca sana sini tentang kehamilan ini. Hari ini kehamilan saya sudah memasuki trimester akhir. Insya Allah bulan Maret tahun ini akan hadir anak pertama saya dan Reza di rumah tangga kami. Banyak hal saya lalui berkaitan dengan kehamilan ini, dari mabuk berat di trimester pertama sampai makan apapun nggak selera. Sampai akhirnya menggila di trimester kedua sampai berat badan sempat naik drastis dan dibilang kegemukan sama bidan dari Puskesmas Tebet. Lalu kemarin waktu terakhir kali check up, detak jantung baby sempat mencapai 170/menit (normalnya max 160/menit). Saya dinyatakan animea sedangkan tekanan darah terhitung tinggi. Wuah.. panik luar biasa deh saat itu. Minta maaf beeerkali-kali sama anak dan suami, akhirnya sejak saat itu rajin sekali minum vitamin dan kali ini minumnya lebih lengkap dari biasanya. Haha.. balada bunda malas minum obat 😀

Dua kejadian penting itu ditutup dengan resign nya saya dari pekerjaan yang sudah saya tekuni selama dua tahun terakhir. I am leaving my children at school, hiks 😦 Akhirnya resmi menjadi a stay at home housewife lah saya. Dan dengan diterimanya Reza di kantor barunya, kami juga pindah domisili ke Rasamala.

Well, nggak begitu banyak yang bisa saya ceritakan tentang tahun 2012. But yet satu tahun ke belakang merupakan satu tahun yang sangat berkesan bagi kehidupan saya. Begitu banyak rencana untuk tahun 2013 ini, semoga Allah selalu berikan jalan yang terbaik untuk saya dan keluarga kecil saya.

Di tahun 2013 nanti Insya Allah saya dan Reza akan…

  1. Pindah ke apartemen kecil di daerah Ancol, membangun keluarga kecil kami. Thanks ayah for the opportunity, Bismillah we can do this 🙂
  2. Melahirkan anak pertama kami, Insya Allah di Puskesmas Tebet. Semoga nggak ada aral melintang dan saya bisa melahirkan dengan proses normal dan lancar. Amin Yaa Rabb.
  3. Membuka bisnis kuliner kami yang pertama, Ayam Abaik (ayam organic, Halalan Thayiban) di Pondok Kelapa. Semoga Allah membukakan pintu Rezeki untuk usaha baru kami ini. Amin.
  4. Untuk saya, semoga di tahun ini saya bisa menulis kembali dan menghasilkan karya yang real dan jual-able. Amin 😀
  5. Insya Allah akan pindah ke rumah BSD ketika pembangunannya sudah selesai. Semoga bisa menemukan jalan keluar untuk transportasi Reza menuju tempat kerjanya di Tanjung Priuk, amin.
  6. Semoga saya bisa membahagiakan Ande dan Bapak, apapun itu caranya.

After all, saya berharap kehidupan di tahun 2013 ini bisa lebih baik dan saya bisa membesarkan anak kami dengan baik dan adil. Amin yaa Rabb.

Bee

Family Vacation (Mercure Hotel)

So, suatu hari sebelum lebaran Papa (mertua) sempat buat pengumuman kalau punya voucher senilai 3 juta rupiah dari Antatour untuk produk apa saja, yang masa berlakunya habis akhir tahun ini. Waktu itu karena merasa masih jauh dari akhir tahun, ya kami anak-anaknya nggak begitu menanggapi, selain itu kami juga sedang merencanakan liburan lebaran ke Malang saat itu. But then, as time goes by, akhirnya Desember pun datang. Sebagian besar dari kami sudah lupa tentang voucher itu. Untung papa masih ingat. Akhirnya setelah diskusi panjang, kami memutuskan untuk menukarkan voucher itu dengan akomodasi menginap di Hotel Mercure Ancol. Pertimbangannya, lokasinya masih di Jakarta, jadi perjalanan menuju lokasi nggak bikin para ibu hamil (saya dan kakak ipar) encok pegel linu, hahaha.. dan lokasi ini dekat dengan Tanjung Priuk, tempat Reza bekerja. Yup, karena hari Sabtu pun Reza masih harus bekerja, jadi dipilihlah lokasi liburan sekitar Ancol yang nggak susah untuk dicapainya. Jadilah kami menukarkan voucher tersebut dengan 4 kamar Superior di Mercure Ancol.

Hari Sabtu (8 Desember 2012) pagi-pagi saya sudah dipanggil Mama untuk menyiapkan burger sebagai sarapan. I was really happy because Arby (Reza’s nephew) who is actually don’t really love eating, enjoyed my burger so much 😉 Saya senang sekali, kali itu adik dan kakak Reza yang masing-masing sudah punya keluarga kecil sendiri sama-sama bisa meluangkan waktu untuk liburan ini. Especially this little family:

20121208_122635

So, here was the itinerary:

Sabtu (sekitar jam 8) pagi berangkat ke Ancol dan main di Gelanggang Samudra, lihat lumba-lumba, ikan pesut, dll sampai siang. Siangnya langsung check in hotel dan leyeh-leyeh sebentar. Sekitar jam 3 sore jalan-jalan ke pantai, main air dan pasir di sana. While emak-emak hamil menikmati angin cepoi-cepoi berharap nggak masuk angin di pinggir pantai. Menjelang malam, jalan ke Bandar Jakarta untuk makan malam di sana, merayakan *ehem* hari ulang tahun saya, padahal yang nraktir tetep aja Papa Mama, hahaha 😛 Pulang dari Bandar Jakarta, langsung ke Hotel, then spend the rest of the day at our own room. Terserah deh tuh para pasangan mau ngapain aja 😛

the hotel room
the hotel room

While, in reality, this was what exactly happened:

Sabtu, sekitar jam 12 siang kami baru berangkat dari rumah Rasamala. Langsung menuju pantai sambil menunggu kedatangan keluarga kecil Mbak Nia (kakak pertama Reza). Nggak lama setelah mbak Nia datang, saya, Mama dan Mbak Nia berangkat ke Hotel lebih dulu untuk check in. Proses check in ternyata lumayan memakan waktu, karena kamar yang kami minta (Superior dengan 1 king size bed) nggak tersedia di satu lantai. Jadi kami harus legowo dengan 2 kamar dengan 1 king size bed, dan 2 kamar dengan 2 kasur single kalau ingin ada di lantai yang sama. Sempat berdebat-debat juga sih dengan resepsionis, that’s why it takes more time. Nggak lama setelah Mama mendapat semua kunci kamar, rombongan pantai pun datang dengan baju basah. Masuklah kami semua ke kamar masing-masing dan saya memutuskan untuk Shalat dan leyeh-leyeh sebentar. Nggak lama, Reza menelfon kalau dia sudah on the way ke Ancol, Mas Reno (suami mbak Nia), Mama, dan Saya menjemput Reza di Gerbang Utama Ancol. There we go, husband and wife reunited, yeaaaayy.. *levhay* 😛

husband and wife reunited
husband and wife reunited

Sore menjelang malam kami memutuskan untuk naik kereta gantung, dengan ini resmi sudah kunjungan ke Gelanggang Samudra dibatalkan 😛 Abis itu, ganjel-ganjel perut dengan CFC (hell yeah junk food), cemana pulak sih CFC dibilang ganjel-ganjel perut *d’oh*. Saya sempat mengira kalau agenda dinner di Bandar Jakarta juga dibatalkan, karena setelah dari CFC kami kembali ke Hotel. Padahal saya sudah ganti baju dengan piyama, siap untuk bobok cantik. Eh tiba-tiba ada telp dari adik bungsu Reza, Yudith, mengajak ke Bandar Jakarta. Ya sudah, ganti baju lagilah saya. Sebelum ke Bandar Jakarta, kami sempat berhenti di pinggir pantai (tempat banyak pasangan mesra-mesra an) untuk makan duren. Bayangkan, satu keluarga besar, consist of: Papa Mama, Mbak Nia suami dan 1 anak, Saya dan Reza, Yudith suami dan 2 anak, menyerbu tempat sejoli sejoli sayang-sayangan, sambil menenteng duren dan bersiap untuk pesta duren di sana. Nggak sampe lima menit kok para pasangan itu satu per satu bubar, ngahahaha.. muups yaw 😛 Padahal mah durennya juga ternyata belum matang, duren ini memang hasil jatuhan pohon duren di depan rumah. Ternyata jatuhnya bukan karena matang, tapi karena hujan angin beberapa hari sebelumnya 😦

Selesai pesta duren yang gagal total, akhirnya mampirlah kami ke Bandar Jakarta. Makan malam enak di sana. Saya sempat teler sebentar, bener-bener deh sejak hamil ini gampang banget capek dan ngantuknya. Tapi makanan di Bandar Jakarta agak susah ditolak yah. Yang saya paling suka saat itu adalah cumi goreng tepung dan kangkung tumis bawang putihnya. Saya sempat kaget waktu intip-intip bill makan malam saat itu. Kami sekeluarga besar, terdiri dari 8 orang dewasa dan 3 anak kecil, makan bersama dengan lauk yang lumayan menggiurkan, cuma habis sekitar IDR 350k. That was IDR 35k/person. Murah yah ternyata.

Dinner at Bandar Jakarta

Hari minggunya kami bangun pagi-pagi untuk sarapan di Hotel. I usually always love hotel breakfast. So many variety and the quality are often good. Tapi di hotel Mercure ini menu sarapannya kurang menggiurkan. Macamnya sih ada banyak, tapi dari segi kualitas rasa, biasa banget. That’s a huge turn off for me 😦

Setelah sarapan, Reza dan Mas Reno menemani anak-anak berenang di kolam renang hotel. Lumayan, mereka punya slide yang lumayan seru untuk anak-anak. Saya memutuskan untuk take another nap di kamar. Sebagian besar hari itu kami habiskan di hotel sampai waktunya check out. Iky, anak bungsu Yudith sempat histeris terkunci di lift hotel saat kami semua sibuk bersiap check out. Saya sempat bengong saat mendengar suara tangis histeris anak-anak di dalam lift, yang ternyata malah keponakan sendiri mwahahaha.. But it didn’t take long when finally the door opened again. Iky langsung kapok, seharian itu dia nggak melepaskan gandengan tangan ibunya sekalipun. Setelah check out kami kembali ke Bandar Jakarta untuk makan siang. Ternyata suasana Bandar Jakarta siang hari berbeda jauh dengan suasana malam sebelumnya. The music are Overly loud and not really comfortable. Belum lagi meja kami mendapat waiter yang kurang friendly. Malam sebelumnya waiter meja kami memberikan banyak rekomendasi seafood enak dan murah. Siang itu, si waiter malah memberikan rekomendasi seafood-seafood mahal. Akhirnya makan siang kali itu menghabiskan biaya dua kali lipat sebelumnya. Pelajaran untuk yang mau mampir ke Bandar Jakarta, waspada sama waiter yang suka iming-iming seafood mahal. Menurut saya, chef di Bandar Jakarta sudah oke punya untuk mengolah semua jenis seafood. So, be smart choosing the variety of fish or shrimp. Otherwise you might pay way too much that you actually have to.

Sejak dulu, diam-diam saya selalu memimpikan mendapatkan pasangan yang dekat dengan keluarga. A family man, they often called it. Dan Reza adalah family man sejati, Alhamdulillah hubungan saya dengan semua anggota keluarga Reza juga sangat baik. Liburan kemarin adalah salah satu harapan saya yang menjadi kenyataan. I always love a family vacation, and for next year hopefully we will have lots of it. Akan lebih seru lagi, karena saat itu kami sudah menggendong anak pertama kami. Amin yaa Rabb.

Allah, please take care of my little family. Give us a healthy and happy life, until the end. Amin.

Bee

Out of The Comfort Zone

Kegiatan terbaru belakangan ini adalah browsing harga sewa apartemen. Oh Tuhanku.. mengapa susah banget cari apartemen yang harga sewanya nggak lebih dari 20 juta setahun di daerah dekat ancol?

Pernah dengar istilah daerah strategis, Asiah? NAH! itu kira-kira jawabannya -kata Tuhan-

Belakangan ini saya dan Reza mulai merasa perlu untuk cari-cari tempat tinggal yang dekat dengan lokasi kerja Reza. Karena biaya dan tenaga juga waktu yang harus dihabiskan di jalan (oleh Reza) mulai terasa berlebihan. Berangkat dari rumah jam tujuh pagi dan sampai rumah kembali sekitar jam 8 malam, bisa dibilang waktu efektif saya bertemu dengan Reza ya cuma 2-3 jam. Ditambah lagi hari Sabtu, Reza masih harus masuk kantor sampai jam 1 siang (teorinya, prakteknya tetap saja pulang jam 2, sampai rumah sekitar jam 3). That’s almost half of our weekend time spent on work. Bagaimana nanti quality time Reza dengan anak kami? Huff.. growing up is such a hard work :/

Setelah menikah ini, banyak sekali hal-hal yang harus saya lewati dengan keluar dari zona nyaman. Resign dari pekerjaan dan jadi ibu rumah tangga sepenuhnya adalah awal dari semuanya. Banyak hal berjalan tidak sesuai dengan rencana awal kami. Sejak memutuskan menikah, saya sangat ingin tetap tinggal bersama orang tua saya di Depok. Sebelum nantinya kami tinggal di rumah kami sendiri. Tapi Reza mendapat pekerjaan yang berlokasi di ujung dunia dan mengharuskan kami pindah domisili ke rumah mertua (saya).

Sejak mengetahui kalau saya hamil, deep down inisde, i know i want to do my delivery in a hospital, in Depok. Tapi sekarang atas permintaan Reza (dan karena Mama mertua dan kakak ipar sangat akrab dengan puskesmas) saya harus kembali menelan keinginan itu dengan sedikit demi sedikit membuka pikiran saya untuk mulai periksa di puskesmas Tebet. Okay, i am a little bit sceptical about this puskesmas thingy. Seperti yang saya tulis di post sebelumnya, sejak kecil dulu saya jarang sekali pergi ke rumah sakit untuk periksa-periksa kalau sakit. Kecuali sakit gigi, dan karena pengalaman waktu kecil dengan dokter gigi yang nggak terlalu bagus, sampai sekarang saya selalu benci dokter gigi. I’d rather having my teeth rotten than have to go to the dentist. Iya, ho oh, segitunya.

DAN saya akui saya adalah orang yang sangat pilih-pilih. Sering merasa nggak nyaman dengan situasi-situasi tertentu. Sejak dulu bayangan saya tentang puskesmas (dan kantor-kantor layanan masyarakat lainnya) adalah kotor, kuno, tidak terawat dan terlalu banyak orang. Ini mungkin bisa dibilang salah satu dampak dari ke-belum percaya-nya saya terhadap pemerintah. I always thought people in the government are those who eats people’s money for their own sake. Mereka nggak mikirin rakyat sama sekali, jadi uang negara yang seharusnya dikembalikan ke rakyat lewat layanan-layanan yang memadai, akhirnya berbelok untuk kepentingan pribadi mereka saja. Saya masih belum percaya kalau puskesmas memiliki layanan dan fasilitas yang cukup memadai untuk kesehatan rakyat. Biaya pendaftarannya saja cuma 2000 rupiah. Mereka bisa saja kan dengan mudahnya berpikir “These people don’t pay us that much to give them the best effort” iya, saya sempat berpikir demikian. Sampai kemudian takdir mempertemukan saya dengan Reza dan mama Yvonne yang nggak lain adalah salah satu dokter di puskesmas Setiabudi. Keluarga suami saya ini mengubah pandangan saya terhadap puskesmas. Setelah beberapa kali diajak berkunjung ke puskesmas mama saat sakit, bahkan kemarin saya sempat tambal gigi di sana, pendapat saya tentang puskesmas mulai berubah. Tempat ini nggak kotor-kotor amat kok. Dan pelayanannya terbilang bisa bersaing dengan rumah sakit swasta. Tempat ini penuh dengan orang-orang yang berdedikasi tinggi terhadap kewajiban mereka. Well at least itu yang saya tahu berdasarkan cerita Mama Yvonne. No wonder sejak pertama kali saya mengungkapkan keberatan saya untuk melahirkan di puskesmas, Mama dan Reza selalu berkomentar “Emang bayangan Asiah sama Puskesmas itu kayak apa sih?”.

Kemarin, untuk pertama kalinya saya ikut kakak ipar (yang sedang hamil anak keduanya) periksa di Puskesmas Tebet. Di tempat ini Insya Allah saya akan percayakan proses kelahiran anak pertama saya nanti. Dari hari ke hari saya semakin yakin dengan keputusan ini. Saat periksa kemarin, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan bidan Dahlia. Beliau yang membantu kakak ipar saya melahirkan anak pertamanya, Sora. Meskipun metode yang mereka pakai untuk memeriksa keadaan janin saya masih sangat jauh dari kata modern, mereka menggunakan metode meraba dan memijat perut untuk mengetahui letak janin (instead of USG). Satu-satunya mesin yang terlibat adalah alat untuk mendengarkan detak jantung. Tapi proses konsultasi, nggak jauh berbeda dengan yang biasanya dokter Riska dan dokter Meutia lakukan. Bahkan menurut saya sedikit lebih intimate, karena bidan Dahlia juga memperhatikan berat badan dan kondisi tubuh saya. She looked at my start-to-swoolen feet, she measure my arm, and she told me that i have to really watch my weight. Argh!! she said both me and my baby are start-to-overweight. Disamping itu semua, biaya persalinan di Puskesmas ini pastinya jauuuuh lebih murah dari biaya persalinan di Rumah Sakit Swasta. Nantinya-pun kalau saya perlu mendapatkan perhatian lebih (hopefully not) mereka akan merujuk saya ke rumah sakit lainnya. I want Bunda Menteng or Kemang Medical Center ya baby, please. Puhahaha.. teteup.

Tinggal di rumah mertua dan memutuskan untuk melahirkan di Puskesmas, so far, adalah dua hal yang membuat saya nekat keluar dari comfort zone. Sampai saat ini, meskipun masih ada hal-hal yang terasa kurang nyaman di sana sini, saya merasa bisa melewati ini semua. In the end, i know i will be a better person to tell the story to people who needs it. In the end, i know this is the best for me and Reza. Dan hopefully, mulai awal tahun depan saya dan Reza bisa menemukan tempat tinggal sendiri di dekat tempat kerja Reza. For the sake of our family. At least sampai saat ini, itu yang saya rasa terbaik buat keluarga kecil kami. Semoga Allah selalu bersama kami dan memberikan jalan terbaik untuk kami. Amin.

Ps: Ada yang mau sewakan apartemennya di daerah Ancol, atau Kemayoran, atau Kelapa Gading seharga 20 Juta (or less) setahunnya untuk kami? anyone? pleaaase *insert cat in boots’s melancolic eyes here*.

Bee

Mini Panic Attack

Semalam saya terserang mini panic attack, waktu suami lagi asyik meng-update pembukuan hariannya. Jadi dia, nggak tau kalau saya sedang terserang serangan panik, kecil sih, but still.

Begini awalnya.

Kemarin, saya dan Reza datang ke acara ulang tahun anak dari salah satu sahabat Reza. Anak mereka berulang tahun yang pertama. Lucu deh, lihat anak kecil itu kebingungan dengan keramaian yang nggak biasa ada di rumahnya. Tiba-tiba saja langit-langit ruang tamu dihiasi balon dan kertas dekorasi. Tiba-tiba saja ada badut Hello Kitty raksasa berjoged-joged di dekatnya. Saya dan Reza terlambat datang hampir satu jam, jadi hanya bisa melihat keriaan yang terjadi satu jam sebelumnya lewat foto saja. Yah, kebingungan si anak dan keberadaan badut yang saya ceritakan di atas cuma deskripsi dari foto saja hehehe 😀

So, setelah makan-makan dan ngobrol-ngobrol dengan suami istri sahabat Reza ini, beberapa tamu pamit pulang. Si suami mengantarkan mereka sampai stasiun terdekat, karena para tamu tersebut tinggal di Bogor dan mau pulang naik kereta. Tinggallah saya dan suami dengan sepasang teman kami juga tuan rumah melanjutkan mengobrol di ruang tamu. Si tuan rumah tiba-tiba saja mengajukan satu pertanyaan pada saya “Asiah, nanti lo mau ngelahirin di mana?”. Saya diam sedetik, lalu mantap menjawab “Nggak tau”. Si penanya kaget dan mengatakan kalau dulu, dia sudah membuat keputusan untuk melahirkan di mana tepat setelah tahu kalau positif hamil. Saya tercekat, merasa semakin amatir.

Jujur saja, saya sangat amatir tentang dunia kehamilan ini. Sejak awal dinyatakan positif, saya banyak sekali bertanya ke sana ke mari tentang apapun. Apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya waspadai. Bagaimana seharusnya rasanya hamil itu. Di minggu-minggu awal, saya bahkan terus bertanya-tanya bagaimana caranya mengetahui kalau bayi di perut saya masih hidup dan sehat? Rasanya ingin sekali tinggal di rumah sakit saja, biar setiap hari bisa USG dan menyapa anak saya. But that was really stupid, and childish, i know. In the end yang bisa saya lakukan ya hanya menunggu saja. Menikmati setiap hari dengan menjaga diri dan anak ini. Berusaha untuk makan 3 kali dalam sehari, ini lumayan susah, karena dulu saya terbiasa hanya makan 2 kali saja. Kalau lapar, ya tidur. Sekarang? ya nggak bisa lah kayak begitu. Anak baru di perut kok sudah di-dzalimi? Ibu macam apa?

I love my baby, i really do, words can not describe it though. Tapi saya ini nggak ngerti apa-apa. Seumur hidup nggak pernah dirawat di rumah sakit. Bahkan dulu waktu terkena TBC saya memaksa untuk dirawat di rumah saja. Menolak sama sekali tinggal di Rumah Sakit. Jangankan itu, kalau sakit saya bahkan nggak pernah tuh periksa ke dokter. Semuanya saya percayakan ke ande. I trust my mom for my medicine. Tapi ya masa saya mau melahirkan sama ande juga? saya tahu pilihan itu sangat nggak mungkin. Bahkan meski ibu mertua saya adalah dokter saja (which pastinya sebenarnya bisa juga membantu melahirkan, meski nggak ahli), saya tahu kalau pilihan melahirkan di Rumah Sakit itu jauh lebih aman, dan hopefully nyaman. Jadi mau nggak mau saya harus memilih Rumah Sakit kan? Ini yang membuat saya panik kemarin malam.

Saya mau melahirkan di mana? Selama ini saya masih fokus dengan pilihan Obgyn yang menurut saya menyenangkan. Sudah dapat sih Obgyn yang nyaman, tapi prakteknya di Rumah Sakit Bunda Menteng yang nggak usah pake ditanya pun biaya persalinan di sana pastinya mahal. Sebenarnya saya sudah sering sih tanya sana sini tentang biaya bersalin di beberapa rumah sakit. Baik di Depok atau di sekitar Tebet. Tapi belum pernah diskusi serius sama suami sampai muncul satu nama Rumah Sakit yang pasti. Ini yang juga sedikit banyak membuat saya panik kemarin malam. Saya yang nggak pernah dirawat di Rumah Sakit, saya yang seumur hidup nggak pernah berobat ke dokter. Saya yang sering nggak nyaman dengan ruangan kotor dan gelap. Saya yang nggak tahu apa-apa tentang bagaimana nanti. Bagiamana nggak panik?

Nak, maafkan bunda yah kebingungan dan sedih begini. Kamu pasti juga jadi sedikit sedih ya? But don’t worry, kita pasti bisa cari jalan keluarnya. After all, bunda percaya semua orang pasti ingin yang terbaik untuk kamu dan bunda, untuk hari bersejarah itu. Bagaimana kalau sekarang kita tidur? bunda udah oleng-oleng nih hehe 😀