[30 Days Challenges] Day 4: The Meaning Behind Your Blog’s Name

Sungguh? lama amat sih cuma mau nulis penjelasan di belakang nama blog aja.

Image

A Happy Ending Seeker. Okay, kalau diterjemahkan secara bebas, artinya pencari akhir yang bahagia. Dulu saya pernah membaca sebuah kutipan yang berbunyi seperti ini:

Life must have a happy ending, if it’s not happy, then it’s not the endΒ (Hidup harus memiliki akhir yang bahagia, kalau belum bahagia, maka belum (harus) berakhir).

Dibaca saat hampir menyerah karena sedih yang datangnya bertubi-tubi. Saat itu saya sangat terpengaruh, dan semangat hidup kembali menyala. Jadilah kutipan tersebut menjadi kutipan yang paling disukai dan mulai memproklamirkan diri sebagai pencari akhir yang bahagia.

Lalu, bagaimana dengan kutipan di bawah nama blog tadi?

In the end, it’s not romance that makes you stay (Pada akhirnya, bukan romansa yang membuatmu bertahan).

Kutipan ini adalah hasil pemikiran sendiri (cieee :P). Saya pernah sangat muak dengan romansa-romansa yang bertebaran di lingkungan saya dan orang-orang yang sangat memujanya. Romansa itu, bagi saya penuh dengan omong kosong dan rayuan gombal. Saat itu, pikir saya, saya butuh yang lebih. Karena pada akhirnya nanti, bukan romansa yang akan membuat sebuah hubungan bertahan.

Kemunculan suami saya yang datang dengan tidak menawarkan romansa apapun, justru membuat saya sangat tertarik. Dengannya, semua terasa berbeda dengan apa yang pernah saya rasakan terhadap lawan jenis. Saya tidak pernah merasakan letupan yang terlalu dahsyat, hati saya tidak membuncah pecah dalam hitungan detik. Sebelumnya, jika saya jatuh cinta, semuanya terasa sangat berlebihan. Hati saya pecah berantakan. Bersama suami saya, degup hati saya seperti menghasilkan dendangan lagu yang menenangkan. Ternyata, sayapun bisa merasakan jatuh cinta yang seperti itu. Yah, orang yang penuh drama seperti saya bisa jatuh cinta perlahan-lahan. Rasanya aneh sekali. Tapi itu yang paling saya suka πŸ˜‰

Jadi, bukan romansa yang membuat saya bertahan sampai hari ini. Dan bukannya saya dan suami miskin romansa juga, kami setiap hari masih selalu saling mencurahkan cinta. Tapi hidup saya jadi nggak melulu tentang romansa, hidup saya jadi jauh lebih berwarna.

Begitulah, ternyata panjang juga ya menjelaskan tentang nama blog saja. Baguslah, berarti gairah menulis saya sudah mulai tumbuh kembali, kan? πŸ˜‰

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Bee

[30 Days Challenge] Day 3: Your Day in Great Details

Okay, i’m back for another day of challenge.

My day in great detail. Hmm.. this is interesting, since i have a daughter now, so my days are completely different from those when i was still single, or pregnant.

My gets up from bed time was constantly changing, due to my daughter’s sleeping time. It’s really up to her. She wakes up, i wake up too. But, she will not sleep until more than 6 o’clock. So, let’s say 6 o’clock is the time i wake up in the morning.

05.00 : wake up for my Subuh. And then sleep again, until the baby wakes up.

06.00 : The baby wakes up, time to jump from bed too πŸ˜‰ During this time, i will put her in her bouncer and switch on the TV to Baby First channel. While i make my pre-breakfast drink. because my stomach haven’t totally ready for heavy meal, so i made a glass of honey (mix with water) for me and husband, i also preparing spirulina for my husband and some of vitamin dose (Green Palapa, Gama Life, Natura Omega Squa, Harumi) for me. Then, i will prepare breakfast for husband and my daughter who are now still 6 months old, so she still eats only fruits puree. Made the puree then feeds her. After that, i will make protein mix for me, drink that while preparing warm water and clothes for daughter.

07.00 : bath my baby daughter. I want to get my daughter used to take a bath twice a day (unlike her parents who only take a bath once a day bhahaha.. *gross, i know* :D) So, when she was still exclusively breastfeed, she will take her first bath right after she wakes up in the morning. But now, since she already given solids, so take a morning bath is scheduled a moment after she finished her breakfast. So that when she is being bathed, her stomach wont still be very full. Fortunately, my daughter realy loves taking a bath, so she enjoys this routine even when her eyes sometimes screams for a nap hahaha..

07.15: Taking daughter back to sleep. After finish her bath, Sabriyya will have her morning nap right away. The nap wont take really long, an hour is the longest time. And because of the condition of our bunk bed, which always producing a noise when we make a move while sleeping, so during this nap time, i will probably spend half of it sleeping in her side, sometimes opening path or instagram.

08.00: Sabriyya wakes up from her morning nap, and i put her in her bouncer again. During this time i will eat my breakfast, the heavy meal one. After that, if Sabriyya still in her mood, i will take a bath. If not, i will stay beside her, playing with her. Sabriyya now already able to rolling around the bed, so i am not sure to leave her alone.

10.00 : Two hours after her first nap, Sabriyya usually ask for breastmilk again. So, i breastfeeds her again. If she is in the mood to sleep again, she’ll sleep. If not, she will continue playing and rolling around the bed. And me, as usual accompany her.

(alrighty this getting sooo boring, right. But, welcome to my life hahahaha…)

12.00 : Changing Sabriyya’s diapers. And, if Sabriyya is in her mood again, i will (surely) take a bath. After that i will give Sabriyya Extragreen (spirulina and honey mix). She already given this mix from newborn, it’s for her body endurance, antivirus, etc. So, who says honey is not good for baby, if you could choose the right honey, it will actually great for your baby. Rasulullah gave us the example to drink honey for our health, so why we now againts it? or the right question is, who makes us against it? πŸ˜‰

13.00 : Eating lunch. And Sabriyya usually will have her day nap around this hours. And sometimes, if i’m in the mood for walking, we will walk around the blocks until Sabriyya sleeps again.

14.30 : Preparing Sabriyya’s second meal. Sabriyya still only have two meals a day, and she is not really fond of eating, so she don’t do snacking although i will be so happy if she would want one.

16.00 : Bathing Sabriyya again. After that i will have my dinner.

19.00 : Hubby arrives home and i will prepare his clean clothes and dinner. Sometimes i will hand Sabriyya to him so i can have a little me time, watching Running Man, bhahaha… *so much for a quality time* πŸ˜›

21.00 : Sabriyya will already sleepy around this time, and that’s when i called it a night.

That’s all, the life of a housewife with one child. I don’t really explain my Shalat time, because i don’t think i have to hahaha.. Do the Shalat on the time. When i look again this post, i realize how boring it looks like, but really having one daughter who is so cute and smart, couldn’t make you bored. And usually around those activity, i still can update my social media oftenly and being a full time housewifes gives you more stretch time to meet your friends on weekdays. Especially those who are also a full time housewifes. I enjoy my life so much although sometimes i missed being alone and having so many me time hahahaha.. and a day in a beauty salon, having a spa. Hwaaaa… when do i get to taste those again? anyone?

Bee

[30 Days Challenges] Day 2: 10 Likes and Dislikes

10 Hal Yang Disukai:

  • Suka salah tingkah kalo makan nggak ada kerupuk atau yang kriuk-kriuk
  • Suka banget masak tapi sekarang udah jarang punya waktu panjang, kadang masih suka maksain masak meski kemudian anak nangis-nangis karena kelamaan ditinggal >_<
  • Suka banget dimsum dan sushi
  • Suka lebah dan warna kuning, dan kadang terkesan terobsesi :p
  • Suka minum air putih
  • (Lebih) suka lihat gambar daripada tulisan
  • Suka nonton youtube, apalagi waktu hamil dan sudah resign. Sehari-hari kerjaannya makan, minum, Shalat, dan nonton youtube.
  • Suka ngobrol, apalagi sama suami karena pasti selalu ada ilmu baru dan nggak pernah kehabisan topik.Β  Meskipun hampir selalu ada yang jadi perdebatan hahaha..
  • Suka dengar cerita masa lalu, rasanya selalu menarik melihat bagaimana proses sesuatu bisa menjadi seperti sekarang. Apapun itu, sejarah nabi, sejarah negara, otobiografi, bahkan sampai cerita sehari-hari.
  • (Lebih) suka produk Samsung daripada produk Apple. Terimakasih suami yang sudah membuka mata saya lebar-lebar πŸ˜‰

10 Hal Yang Tidak Disukai:

  • TIdak suka sayur oyong, beri saya sayur apa saja asal jangan sayuran aneh yang satu itu :-&
  • Tidak suka diganggu jadual sehari-harinya. Jadi setiap hari saya punya jadual. Bangun tidur lalu langsung mengerjakan apa lalu apa lalu apa. Kalau di tengah-tengah itu tau-tau ada yang menyelak dengan apapun, saya suka bete sendiri.
  • Tidak suka online shop. Maaf ya, baru 3 kali saya belanja online dan 2 kali kecewa dengan barang yang datang. Memang belanja langsung di toko dan melihat langsung terlebih dahulu barang yang ingin saya beli lebih cocok untuk saya.
  • Tidak suka orang yang besar omong padahal kosong. Seperti Vicky siapalah itu yang kemarin (atau masih?) tenar itu. Saya merasa orang seperti itu sudah sepantasnya diasingkan ke galaksi lain. Terimakasih.
  • Tidak suka soda. Titik, nggak pakai penjelasan lanjutan.
  • Tidak suka obat-obatan dokter (kimia). Sejak 2006 saya sudah berhijrah ke pengobatan alami a la nabi. Alhamdulillah punya ande yang sudah lama mendalami ini jadi kalau sakit perginya ke ande. Diakupuntur, dibekam, atau dipijat refleksi. Meskipun saya…
  • Tidak suka pijat refleksi. Saya nggak tahan sakitnya, Masya Allah. Kalau memang harus pijat refleksi, pasti saya dan ande kayak lagi berantem, tendang-tendangan >_<
  • Tidak suka sensasi habis muntah (lagian, memang ada yang suka?). Waktu hamil, rasanya tersiksa banget setiap abis muntah. Hufff.. tapi saya nggak kapok kok, hamil πŸ™‚
  • Tidak suka orang yang mengandalkan mbak dalam melakukan apapun. Kalau bisa dikerjakan sendiri, kenapa harus suruh mbak? Kalau nggak suka dengan hasil yang dikerjakan mbak, ya kerjain sendiri dong. Begitu aja kok, repot :p

Hoho.. akhirnya berhasil juga menulis dengan bahasa indonesia, kecuali judul dan online shop. Post selanjutnya, mari kita kembali melatih kemampuan menulis dalam bahasa Inggris.

Sampai jumpa di post berikutnya πŸ˜‰

Bee

[30 Days Challenge] Day 1: Write Some Basic Things About Yourself

I am a mom. That is what basically define me right now. I used to be a woman who is working, i’ve worked on a publisher once and spend most of my working record as a mandarin teacher. I already start my teaching career since college, and it gave me pretty good extra money ;).

I also used to be a singer, until i married my husband and he forbid me to sing (on a stage) again. As a singer, i already record my album once, with my nasyid group called Bestari, then record some songs for The Hermes, with Endy Daniyanto. I kept recieving this tempting offer to sing again, but my husband still hold his words, so no stage for me again, then. Kind of sad, of course, considering it is pretty much define who i am, but yeah life is about making sacrifice sometimes.

i write. I don’t want to put past tense on that, because words sometimes becomes real. I remember falling in love with Indonesian movie, starring Dian Sastro and Nicholas Saputra called Ada Apa Dengan Cinta (AADC) with the fact how Rangga loves reading and writing poet. You can describe the way you feel by disguising it into a poem. You can make it blur, or straight to the point. You can make it beautiful and adding some personal phrase that you made. I remember buying a note book that have a red hard cover and start writing poem in it. I think most of them was about my first love. Yeah, i fell in love for the first time at high school (kinda late blomer), and stay in love for the same person until college. So, everytime i write, he is the only person appear on my thought. What a shame :p. After graduating and working on a publisher (as a secretary), i found this one writer Fajar Nugros (who currently directs some movies). He used to write a lot of fictions on his facebook notes. I did not remember how i met him on facebook, but he is the one who inspire me to also write fiction. I wrote my first fiction, actually on high school. It was a kids fiction, about a monster called Loath hahaha.. i wonder where i kept that writing. I wrote by hand that time, so i guess it’s already gone. I used to write a lot back then, couple of my writings even published on several books. But since two years a go i start writing less. I didn’t write fictions anymore, i just can’t. I have reasons actually why i can’t write fictions anymore, but let it be my own secret :p. No, i dont want to quit writing fictions. To write a whole novel is still one of my dreams, it still on my to do lists. It dont have to be published, but i want to make it as a book. I mean, i probably will self publish it if no publisher want to take it. Oh yeah, it was not complete telling about my writing career by not mentioning this writer community i have. Me and bunch of cool people made a writer comunity called The Hermes. We used to write A LOT back then, you can read our writings on our website: The Hermes.

I am a wife. i survived a crappy romance plenty of times until i met my husband. My life was pretty complicated and full of drama back then and i am SO GLAD that i never gave up. Yes there were times when i think i can’t stand my life for being so pathetic and unwanted, but i never thought of commit suicide, Alhamdulillah. I was just cried, A LOT. I am a crier (is that even a word? :p), you can not imagine how i cry over everything even until now. I remember crying a lot after doing Shalat. I asked for mercy and begging and begging and begging like crazy to Allah to guide my way out of that crappy romances and find my destiny. And here i am, married to a man who really loves me for me. I used to think that i will get married to a man that i dont really love, and i said yes because i have to, considering my age. BUT Alhamdulillah it didn’t happen. I love my husband so much that i thankful for my past to be exist, because that way i can understand why ALLAH put me in such a sad situations. I need to learn so much to finally met this guy and be grateful about everything that he is and everything that he is not. Now we are happily married and to add that, ALLAH gave us a beautiful little daughter, Sabriyya. And that made me, a mom.

I am a mom. A full time one. I quit my job since 4 months pregnant with Sabriyya and never regret a thing until now. This is what i want for a long time. To raise my kids on my own, to make their meal by my own hand, and to educate them to be a good people. And i feel so blessed that i could do it now. I enjoy being with Sabriyya all the time, talking with her, playing with her, seeing her grow, bath her, and see those smile blooms everytime i appear. I even enjoy seeing her cry when i leave the room hahaha.. that shows how much i meant to her.

OK, that’s pretty much it. Basic things about me. My first writings for this 30 days challenge, i guess it’s challenging seeing the fact that i start writing this post at 8 in the morning and finish it almost at three in the afternoon. Bhahahaha… not bad, huh? And why do i keep writing in english? okay, next post should be (no, must be) all in bahasa Indonesia. See you next post πŸ˜‰

-Bee-

30 Days Challenge (in an attempt to write again)

30 days challenge-1

Blog ini terbengkalai sekali, sih 😦

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin sering update blog ini seperti dulu, tapi kehidupan saya belakangan ini nggak jauh-jauh dari mengurus anak sih ya, jadi yaaah.. for some people it was so boring reading blogs who talked only about the kids hahaha.. maka dari itu, perkembangan Sabriyya saya simpan sendiri di blog ini.

Sudah lumayan lama saya mengikuti blog Febie, dan sejak bulan lalu ia posting tentang 30 days challenge ini. Awalnya saya pikir, ehm yaaah, nggak dulu deh, kayak punya waktu banyak aja buat nge-blog. Ikut 30 days photo challenge di Instagram aja nggak bisa nyelesein, apalagi ini yang harus duduk diam di depan komputer dan mengetik post baru setiap hari. But then lately i was thinking, hey! i could do it everytime i want. 30 hari kan nggak harus setiap hari berturut-turut gitu, seminggu sekali update post baru selama 30 minggu juga bisa dinamakan 30 hari, kan? *pembenaran* πŸ˜‰

Akhirnya saya putuskan untuk ikut tantangan 30 hari menulis ini. Saya belum sanggup ikutan yang 30 hari menulis fiksi, just because. So, marilah mulai kembali rutin menulis dengan tantangan ini. Walaupun untuk tantangan hari ke 22, err.. do i really have to post my picture wearing my so-emak-emak daster? haha *doh*

Bee – in an attempt to write again

Tanpa Perasaan Adalah…

Finding this picture on your facebook page…

and realize that your writings is once again being published without your permission.

Saya kaget bukan main waktu melihat foto itu di facebook, langsung saya buka halaman foto tersebut dan memberi komentar. Berikut adalah komentar saya dan teman-teman pada halaman foto tersebut:

Buku tersebut adalah buku Bunuh Diri Massal yang pada tahun 2009 yang lalu sempat diterbitkan oleh Ufuk Press dan kini di-republish kembali. Bunuh Diri Massal sendiri adalah sebuah serial yang ditulis oleh Fajar Nugros dan Alanda Kariza di facebook dan multiply yang menjadi besar dan banyak dibaca setelah dimuat di website sebuah band Trip Hop yang bernama Everybody Loves Irene. Widi Asmoro yang bertanggung jawab atas penyajian kolaborasi BDM dan ELI ini benar-benar piawai dalam mengemas karya tersebut. Semakin banyak orang kemudian membaca serial ini, lalu disusul oleh semakin ramainya penulis yang menuliskan side-story versi mereka. Lalu sampailah serial ini menjadi sebuah fenomena di mana sekitar 165.000 orang membacanya, dalam jangka waktu satu bulan.

Mungkin karena fenomena inilah kemudian Fajar Nugros memutuskan untuk membawanya ke penerbit untuk kemudian dikomersilkan. Ufuk Press menyambutnya dengan senang hati. Dikemaslah Bunuh Diri Massal menjadi sebuah buku dengan tebal 186 halaman dengan mencantumkan nama Fajar Nugros dan Alanda Kariza pada kavernya. Dan ajaibnya, Alanda nggak tahu apapun tentang hal ini. Apalagi saya. Padahal tulisan saya juga dimuat di dalamnya.

Awalnya saya merasa senang-senang saja dengan penerbitan buku ini, apalagi dengan konfirmasi dari Fajar kalau royalti buku akan disumbangkan. Tapi sampai saat ini, Fajar nggak pernah memberikan kejelasan kepada siapakah royalti tersebut akan disumbangkan. Awalnya Fajar bilang mau menyumbangkannya pada The Cure For Tomorrow milik Alanda, tapi sampai saat ini Alanda bahkan tak pernah diajak bicara tentang hal ini. Semua prosesnya menjadi semakin membingungkan ketika saya akhirnya bertanya tentang keberadaan Perjanjian Penerbitan pada Fajar. Banyak sekali alasan yang dia lontarkan dan nggak pernah sama di setiap pengucapannya. Bahkan ketika saya meminta kontak penerbit pun, tak pernah dia berikan. Saat inilah saya mulai merasa ada yang salah. Apalagi ternyata Alanda pun mengalami hal yang sama dengan saya. Ini Alanda lho, dia yang namanya ikut dicantumkan di kaver.

Dua tahun kami menutup mata, mulut dan telinga tentang buku ini. Sampai akhirnya gambar di atas muncul. Ini seperti membuka luka lama. Dan sebagai penderita yang ingin sembuh, kami langsung bereaksi. Tindakan pertama yang kami lakukan adalah menuliskan komentar pada halaman facebook tersebut. Sampai akhirnya Ufuk mengundang Alanda untuk bertemu. Beberapa saat setelahnya Alanda mengirimkan draft surat perjanjian penerbitan buku dan beberapa point hasil pertemuannya dengan Ufuk, via e mail.

Saya teruskan e mail tersebut kepada teman-teman penulis side-story lainnya untuk mengkonfirmasi izin penerbitan karya mereka pada buku ini. Satu penulis langsung menyatakan tidak mengizinkan tulisannya diterbitkan lewat media manapun. Dan penulis lainnya masih ingin merelakan tulisan mereka dengan catatan adanya kejelasan ke mana royalti buku ini diberikan. Kami hampir bersepakat kalau royalti tersebut ditujukan untuk yayasan yang menangani mereka yang pernah hampir bunuh diri atau semacamnya, kami hampir bersepakat untuk meminta Ufuk mengemas buku ini dengan lebih baik. Karena ternyata ada beberapa hal yang tertinggal di cetakan pertama dulu. Kami hampir bersepakat untuk mempromosikan buku ini dengan baik. Kami seolah melihat sebuah pintu terbuka untuk buku ini. Namun sekali lagi Fajar Nugros meruntuhkan semuanya. Berkomentar lah ia pada e mail tersebut yang saya rasa nggak pantas untuk saya tuliskan di sini. Komentar yang cukup membuat kami bersepakat untuk tidak memberikan izin penerbitan tulisan masing-masing pada buku tersebut.

Tapi ternyata semuanya sudah terlambat. Di saat Ufuk mengundang Alanda bicara, buku tersebut sudah rilis. Jadi apa point dari semua ini?

Saya menuliskan post ini lebih karena rasa kecewa saya. Nggak pernah terjadi dalam hidup saya, begitu tidak bahagia melihat tulisan saya diterbitkan. Tulisan saya mungkin hanyalah sebuah karya kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan karya di dalamnya. Siapalah saya yang begitu besar kepalanya memohon-mohon mereka untuk menghargai karya saya. Saya memang bukan siapa-siapa. Tapi karya tersebut tetap milik saya. Dan dengan ini, saya menyatakan tidak bersedia karya tersebut diterbitkan secara komersil dalam bentuk apapun.

Pengantin Padang milik saya sudah saya berikan kepada Bunuh Diri Massal versi website ini sejak tahun 2008 lalu. Dan sampai saat ini, hanya di sanalah saya ingin karya ini bisa dibaca. Semoga mereka yang masih punya perasaan bisa mengerti. Terimakasih.

Bee

My Newest Book: Empat Elemen

Hermesian dan Siska Dengan Empat Elemen

Wohoooo… it’s finally done!!

Setelah beribu-ribu meeting, berpuluh-puluh e mail, dan dengan curahan peluh dan air mata *iyak saya lebay, biar dong* πŸ˜› Akhirnya pembuatan buku Empat Elemen pun se le sai..

Disponsori oleh Helios Capital dan Yayasan Warna Warni akhirnya saya dan teman-teman The Hermes berhasil juga mewujudkan impian kami belakangan ini. Sungguh ini sama sekali bukan hal yang kami sangka-sangka, bahkan sampai awal tahun ini kami nggak pernah mencetuskan apapun tentang membuat buku bersama. Kami memang selalu punya impian itu, tapi untuk benar-benar mewujudkannya, kami tahu nggak akan mudah.

Butuh biaya besar untuk mencetak dan menerbitkan buku sendiri. Kemarin kami sempat diundang menjadi pembicara sebuah talk show bertajuk Self Publishing dan bertemu beberapa penulis yang menerbitkan bukunya sendiri. Mendengar cerita mereka saya hanya bisa berdecak kagum saja. Belum bisa membayangkan akan nekat mengeluarkan sebegitu banyak uang untuk mencetak karya sendiri. Hmm.. saya rasa sih alasan kuatnya justru karena nggak punya kepercayaan sama sekali dengan tulisan sendiri hehehehehe.. πŸ˜€

Tapi untuk yang satu ini saya sangat percaya diri. Berawal dari pembuatan E Book Hermes for Charity Vol 2: Empat Elemen akhir tahun lalu dan obrolan-obrolan santai tentang rencana dan mimpi masa depan, lahir lah buku ini. Maria Sekundanti punya andil sangat besar atas terwujudnya buku ini, tanpa bantuannya mungkin kami nggak akan berkenalan dengan Helios Capital dan Yayasan Warna Warni sebagai sponsor. Senang sekali saya bisa berpartisipasi penuh dalam proses pembuatannya. Jadi banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Lumayan panjang kalau ditulis dalam post ini, lain kali mungkin akan saya tulis kembali ya…

Setelah proses produksi, tentu kami harus lanjut dengan proses ditribusi ya.. Karena distributor buku di Indonesia belum ada yang berani mengambil buku dengan jumlah kecil (kami hanya mencetak 1000 buku, sedangkan dominasi kontributor meminta 3000 buku) maka dengan semangat tinggi kami menjualnya secara mandiri.

Buku Empat Elemen ini kami beri harga minimal Rp. 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim). Karena seluruh hasil penjualan akan disumbangkan untuk recovery korban bencana meletusnya gunung merapi di Jawa Tengah, maka kami tetapkan harga minimum tersebut. Jika teman-teman ingin menyumbang lebih, akan dengan senang hati kami tampung.

Kalau kamu tertarik untuk membelinya, boleh langsung kunjungi alamat website ini:

http://hermesian.wordpress.com/

Dan isi kolom pembelian Empat Elemen yang ada pada side-bar sebelah kanan. Hanya dengan jumlah tersebut kamu sudah bisa membantu proses recovery saudara kita di Jawa Tengah dan membaca karya-karya menyentuh dari The Hermes and friends, termasuk saya πŸ˜€ Kapan lagi bisa menyumbang dan mendapat buku sekaligus?

Tunggu apa lagi? ayo klik website nya dan pesan sekarang juga. Untuk partisipasimu, sebelumnya, saya ucapkan terimakasih yaaaa… πŸ™‚

Bee