Delivering Sabriyya To The World

Dalam kata lain bisa juga dibilang “melahirkan Sabriyya” hehehe..

Okay, it’s been almost 4 months since i gave birth to this little angel, dan sebelum saya lupa bagaimana proses kelahiran anak pertama saya ini, marilah kita torehkan di sini. So that later, if you read this my little solihah, Sabriyya, you can at least imagine how you brought to this world. Bunda menuliskan ini untuk kamu ya anak solihah🙂

Hari itu, tanggal 11 Maret 2013, kandungan saya sudah berumur 39 bulan 2 hari. Sejak awal kehamilan, saya tahu saya nggak mau melahirkan anak ini lebih dari 40 minggu. Apalagi sejak kandungan memasuki trimester ke 3, perut sudah overly buncit, makan apapun rasanya nggak enak, kaki juga ikutan buncit, rasanya mau buru-buru saja melahirkan anak yang di dalam perut itu. So, pagi-pagi di hari itu (senin, 11 maret 2013), saya kirimlah bbm dan whatsapp ke groups keluarga dan teman-teman untuk mendoakan saya agar bisa melahirkan sebelum minggu ke 40 dengan lancar. Lalu, doa-doa pun berdatangan dari mereka semua dan saya sibuk mengamini dengan serius semua doa itu. Kita nggak pernah tau doa siapa yang saat itu sedang dikabulkan Allah toh?😉

Siangnya, masih di hari itu saya merasa iseng sekali diam di rumah. Akhirnya dengan tenaga yang segitu-gitunya itu, saya bersih-bersih kamar dan mengangkat perabotan, dipindahkan ke sana ke mari. Kamar bersih, hatipun senang. Lalu terjadilah pergerakan itu di perut saya. Saya mulai merasakan ngilu-ngilu di perut bawah saya. Saya yang belum pernah merasakan kontraksi kelahiran, dan kebanyakan membaca tentang kontraksi palsu di internet, akhirnya tenang-tenang saja. Baru sekitar maghrib saya merasakan ngilu yang berbeda, namun masih belum yakin dengan apa yang saya rasakan itu. Bertanya pada mama mertua pun, katanya itu hanya kontraksi biasa. Saat saya bertanya bagaimana rasanya kontraksi tanda-tanda kelahiran itu, jawabnya hanya “Nanti juga tau” hampiiiir semua orang yang pernah melahirkan saya tanyakan pertanyaan yang sama, menjawab dengan jawaban tersebut. Okay, by the time i know how it feels, then it’s will be too late right? heleeeehhh >_<

Akhirnya, saya berusaha untuk menikmati rasa nggak enak itu. Mengobrol dengan suami sampai sekitar jam 10 malam, lalu masuk kamar berniat untuk tidur. Saat itu di kamar sedang ada mama mertua sedang pakai komputer, dan keponakan sedang enak tidur di kasur. Posisi tidurnya keponakan ini lumayan mengganggu kaki saya yang nggak bisa diselonjorin hehehe😛. Berniat untuk meminta suami untuk memindahkan keponakan ke kamarnya sendiri, duduklah saya dan memanggil mama. Saat saya akan melontarkan kalimat kedua, mengalirlah air ketuban itu seperti bendungan bocor. I cant stop it, of course hahaha… Sedikit panik saya panggil mama dan memberitahukannya kalau ketuban saya pecah. Mama langsung menghampiri dan menyuruh saya pergi ke kamar mandi. Saya panggil suami untuk mengambilkan pembalut dan celana bersih ke kamar mandi. Tak lama, saya sudah kembali rebahan di kasur dengan sudah berganti pakaian siap dilarikan ke puskesmas. Suami menyiapkan barang-barang yang memang sudah saya siapkan beberapa minggu sebelumnya untuk dibawa ke puskesmas. Sekitar jam 11 malam saya, suami, mertua, dan orang tua saya yang langsung datang dari Depok berangkat ke puskesmas Tebet.

Sampai di puskesmas saya diminta untuk langsung ke ruang persalinan untuk diperiksa dalam. Saat itu pembukaan masih tahap pembukaan 1 kecil. Bidan yang memeriksa saya bilang mereka akan tunggu sampai jam 4 pagi, jika bukaan belum juga maju saya akan diberikan obat induksi untuk memacu bukaan. Saya diperbolehkan untuk menunggu di kamar pasien, di sana ande saya langsung mengakupuntur saya untuk merangsang bukaan. Saya sempat merasakan mulas-mulas kecil, namun nggak terlalu sakit. Saya bahkan sempat tidur sampai sekitar jam 6 pagi.

Esoknya, sekitar jam setengah delapan pagi, mama meminta saya untuk mandi dan mengganti baju lalu langsung ke ruang persalinan. Waktu pemberian obat induksi diundur karena pagi itu ruang persalinan penuh dengan ibu yang melahirkan. Jam 8 pagi itu saya berbaring di ruang persalinan dengan obat induksi diinfuskan di tangan. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, akhirnya merasakan juga yang namanya diinfus hehehe😀 Beberapa saat setelah infus dipasang, mulailah saya merasakan yang namanya mulas karena kontraksi. Beberapa menit sekali para asisten bidan yang adalah anak-anak murid sekolah kebidanan yang sedang PKL yang jumlahnya buanyak bener itu memeriksa denyut jantung bayi saya. Kalau di rumah sakit, pemantauan denyut jantung ini sudah dilakukan secara modern, yang muncul di monitor itu lho. Kalau di puskesmas, proses ini dilakukan secara manual, jadi posisi saya yang sedang mulas-mulas itu harus telentang sempurna agar detak jantung bayi terdeteksi secara akurat. Saat bukaan masih tahap awal sih masih oke-oke saja ya pelaksanaan proses itu. Tapi di bukaan tahap pertengahan dan akhir, Masya ALLAH.. setiap terlentang saya malah maunya mendorong, padahal belum waktunya😦

Saya penakut, penakut akut. Sama kucing saja saya takut, sama dokter gigi apalagi. Tapi entah sejak pecah ketuban sampai akhirnya mulas-mulas di kamar bersalin, rasa takut itu hilang sama sekali. Yang ada hanya perasaan excited, sebentar lagi saya akan memeluk anak saya, di dalam pelukan sebenarnya bukan hanya di dalam perut. Sebentar lagi saya bisa melihat seperti apa wajahnya, seperti apa matanya, seperti apa parasnya. Stase awal bukaan saya bahkan masih bisa tertawa-tawa, para siswa PKL pun heran melihat saya semangat sekali seperti itu. Oh iya, salah satu dari mereka bilang kalau ada sensasi ingin buang air kecil, sebaiknya dibuangkan saja ke kamar mandi. Karena kandung kemih yang penuh akan menghambat jalan lahir yang akan ditempuh oleh anak. Sejak mendengar itu, setiap ada sensasi itu saya langsung turun dari dipan dan berjalan ke kamar mandi. Ibu-ibu lainnya yang sedang melewati fase bukaan seperti saya pun terheran-heran melihatnya. Oh iya, satu hal lagi yang harus dilewati jika melahirkan di puskesmas, kita akan berada dalam satu kamar bersalin dengan dua orang ibu lainnya, tanpa ada sekat satupun. Jadi nikmatilah deh itu wajah-wajah kesakitan ibu-ibu tersebut saat kamu juga kesakitan hahahaha… beruntung yang bareng dengan saya saat itu nggak ada yang melewatkan proses bukaannya dengan teriak-teriak histeris. Tapi tetap dong ada yang drama.

Oke, intermezo sebentar. Jadi agak siangan sedikit di hari itu, saat saya dan satu orang ibu sedang melalui proses bukaan yang seru, masuklah satu orang ibu lagi yang usianya masih 19 tahun. Periksa dalam mengatakan kalau ibu itu sudah bukaan 3. Bidan menyuruhnya untuk mengganti baju dan celana dengan kain, lalu memintanya untuk makan siang. Duduklah dia di dipan ketiga dan menyantap makan siangnya. Di sampingnya, tentu saja saya dan satu orang ibu lagi sedang mengontrol diri kami untuk tidak berteriak-teriak karena kesakitan hahahaha.. stase bukaan kami dekat, jadi mungkin ketegangan di wajah kami kurang lebih sama. Entah karena ibu berumur 19 tahun ini merasa terintimidasi atau apa, setelah menghabiskan makan siangnya dia pamit keluar ruangan bersalin. Ibu ini memang belum pecah ketuban, jadi masih boleh jalan ke sana ke mari untuk induksi alami. Tiga jam kemudian, ibu ini masuk lagi ke dalam ruang bersalin dengan dipaksa-paksa oleh bidan. Si ibu menolak masuk dan bilang mau pulang saja, padahal sudah bukaan lengkap. Woot? tiga jam dan dia sudah bukaan lengkap saja? saya yang sudah di sana sejak pagi masih saja di stase tengah (sekitar bukaan 5). Ibu ini ternyata ketakutan melihat saya dan satu ibu lagi kesakitan di dalam ruang bersalin, jadi saat dia keluar dia marah-marah ke suaminya sambil minta pulang naik bajaj. Marah-marahnya ibu ini juga superb, pakai hentak-hentak kaki dan memukul suaminya. Pantas saja 3 jam kemudian sudah bukaan lengkap. Bidan yang on duty saat itu kebetulan adalah bidan senior. Dia dengan sedikit galak meminta ibu ini untuk berbaring di dipan, karena anaknya sudah harus dilahirkan. Saya yang saat itu sudah mulai merasakan mulas yang masive harus menyaksikan adegan ini di depan mata saya dan mendengarkan bagaimana ibu remaja tersebut melahirkan anaknya. I just couldn’t describe it well, tapi yang pasti selama adegan drama tersebut berlangsung, mulas saya terasa lebih sakit dari sebelumnya😦 Jadi buat kamu yang mau melahirkan di puskesmas, kemungkinan seperti ini boleh juga dipertimbangkan😀

Lanjut ya ceritanya. Di bukaan stase pertengahan, sekitar bukaan 5 saya merasakan sensasi ingin mendorong. Tapi asisten bidan yang bertugas mendampingi saya wanti-wanti sekali pada saya untuk tidak mendorong, karena bukaan masih setengah jalan. “Kasihan bayinya bu, nanti kepalanya menjendol, belum lagi kalau jalan lahirnya meradang” begitu katanya. Waduh, saya langsung paranoid dong. Gimana deh, kan bukan saya yang mau mendorong, tapi ini emang rasanya begitu. Jadi kata ande cara menahannya adalah dengan mengatur nafas dengan baik. Lalu fokuslah saya pada pelajaran pernafasan yang pernah saya terima dari sekali-sekalinya datang ke kelas senam hamil. Apakah sensasi mendorongnya hilang? oh, tentu tidak, emakin lama malah semakin kuat. Akhirnya saya minta izin untuk duduk bersila, karena dengan begitu saya bisa sedikit terbantu menahan sensasi mendorong tersebut. Untung saja diizinkan, dan katanya malah bagus, posisi tersebut bisa membantu mempercepat proses bukaan. Setelah beberapa lama nyaman dengan posisi duduk, saya kembali diminta tidur untuk memeriksa denyut jantung bayi. Proses ini adalah proses yang paling saya benci saat itu hahaha.. Dan ketika saya membaringkan tubuh saya, tiba-tiba saja saya mau muntah. Nggak berapa lama setelah memberitahu mama mertua kalau saya mau muntah, muntah beneranlah saya. Kotorlah sekujur daster saya dengan muntah, lalu harus ganti baju dong saya. Mak, plis deh.. what next? >_<

Pertanyaannya what next ya? well, next adalah saat saya berkonsentrasi untuk menahan sensasi mendorong yang semakin lama semakin kuat, tiba-tiba saja saya malah mau buang air besar. Haduuuhh.. apa lagi deh iniii.. Saya bisikkan rasa ini ke ande, kata ande nggak apa-apa, itu biasa. Kalau mau keluar, ya dikeluarkan saja sambil tiduran itu. Well, yeah, this is disgusting and hmm embarasing, but then saya ‘buang-buang’lah di dipan itu ehehehehe.. *duh*. Malu nggak sih? hmmm.. kayaknya rasa malu udah nggak berlaku ya saat mulas begitu. Untungnya para asisten bidan itu juga kooperatif, mereka mungkin sudah pernah mengalami hal yang sama sebelumnya (atau mungkin worse), jadi dengan santainya mereka malah membersihkan kotoran saya. Masya Allah, begitu mulia deh pokoknya profesi mereka. Saya nggak berhenti mengucap maaf dan terimakasih pada mereka sampai esok harinya, saat saya sudah boleh pulang.

Oke, pukul 5 kurang 10 menit sore itu, ibu di samping saya diperiksa dalam untuk kesekian kalinya. Ibu ini entah masalahnya apa, padahal proses bukaan kami hampir bersamaan, tapi di stase akhir bukaan kok ya anaknya nggak turun-turun ke panggul. Akhirnya setelah berdiskusi dengan keluarganya, dirujuklah ibu ini ke rumah sakit. Segera setelah ibu ini keluar kamar bersalin, saya diperiksa dalam. Saat itu suami saya sudah boleh masuk untuk mendampingi, karena ruang bersalin sudah kosong. Sebelumnya, nggak boleh ada laki-laki di dalam ruangan itu, jadi yang mendampingi saya (secara bergantian adalah ande, mama mertua, dan Azizah). Pada periksa dalam ke tiga tersebut, ternyata bukaan saya sudah sempurna. “Oke ya, sudah boleh belajar mendorong” begitu kata bidan yang on duty saat itu.

HAH? belajar mendorong? what is that suppose to mean?

Saya benar-benar kebingungan mendengar kalimat bidan itu. Belajar mendorong? baru proses belajar? kenapa nggak dari kemarin-kemarin saya diajari? hahahaha… di tengah kebingungan saya itu, bidan dan para asistennya mulai sibuk di depan saya, menyiapkan proses kelahiran. Saya hanya senyum-senyum ke suami sambil terus kebingungan. “Yang, maksudnya belajar ndorong itu apa?” tanya saya. “Nggak tau, aku juga bingung” jawaban suami. Yaklhooo.. hahaha..

Oke, ternyata belajar mendorong yang dimaksud adalah sambil proses kelahiran yang sebenarnya. Saya yang sudah banyak membaca artikel tentang kelahiran di internet dan juga hasil tanya sana sini (kebanyakan tanya ke Azizah) akhirnya bisa mempraktekkan apa yang dijabarkan di artikel dan oleh Azizah tersebut. Dengan dibantu suami yang mengangkat tubuh saya saat saya mendorong, proses kelahiran Sabriyya berlangsung. Dengan 5 kali dorongan, terdengarlah suara tangis merdu itu untuk pertama kalinya. Saya menunduk untuk melihat putri saya yang cantik dibersihkan dan dipotong tali pusarnya oleh suami. Semua terasa surreal, kayak mimpi saja. Saya menoleh ke suami dan mendapatinya sedang berkaca-kaca melihat putri kami. I feel so flattered, Alhamdulillah he loves her that much. Segera setelah dibersihkan alakadarnya (tanpa dipindahkan dari dipan tempatnya dilahirkan), Sabriyya langsung ditidurkan di pelukan saya untuk proses IMD. Proses inilah yang saya tunggu-tunggu. Interaksi pertama kami di dunia. Hangat tubuh Sabriyya nggak hanya menghangatkan dada saya, tapi terus menjalar ke jantung hati saya. Semua sakit terbayar dengan sempurna. Nggak ada kata-kata yang sepadan dengan apa yang saya rasakan saat itu. Resmi sudah saya menjadi ibu, mencintai yang seperti itu baru kali itu saya rasakan, dan sampai saat ini tak pernah hilang sedikitpun.

Talia Sabriyya Ihsan, born on March 12, 2013. W: 3,1 kg H: 48 cm

Talia Sabriyya Ihsan, born on March 12, 2013. W: 3,1 kg H: 48 cm

Sabriyya putri bunda, terimakasih sudah mencintai bunda tanpa syarat apapun. Terimakasih sudah menerima bunda apa adanya. Terimakasih sudah hadir di tengah-tengah ayah dan bunda. We love you like we could never imagine before. Selamat datang di dunia, tumbuhlah menjadi anak yang Solihah, sehat, dan pintar. Berbahagialah selalu, dan jadilah anak yang menyenangkan.

Bee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s