My Breastfeeding Drama (Part 1)

Huaaah akhirnyaa bisa blogging lagi. Okay news flash, saya sudah melahirkan tanggal 12 Maret 2013 kemarin. Bayi perempuan sehat dengan berat 3.1 kg dan panjang 48 cm. Kami beri nama Talia Sabriyya Ihsan, dengan nama panggilan Sabriyya.

IMG-20130313-01051-1

Talia Sabriyya Ihsan (Embun dari surga yang penyabar dan baik hati)

Proses melahirkannya normal, saya akan bercerita lebih banyak di post lainnya tentang ini, karena post kali ini saya lebih akan bercerita tentang proses menyusui Sabriyya yang Masya Allah perjuangannya.

Dulu, ketika masih hamil dan memiliki banyak waktu luang, saya lebih sering mencari informasi tentang kehamilan dan proses melahirkan instead of apa yang akan saya hadapi setelahnya. Akibatnya saya benar-benar miskin informasi tentang menyusui. Saya kira menyusui itu proses alamiah saja. Logika saya, setiap ibu melahirkan pasti akan memproduksi ASI, lalu anak yang baru lahir akan dengan alamiahnya menyusu dengan ibunya. Ternyata salah besar. Sesaat setelah melahirkan, saya dan Sabriyya sudah boleh pindah ke kamar kami sendiri. Mulailah saya mencoba untuk menyusui Sabriyya. Ternyata anak bayi pun harus melalui proses adaptasi untuk menyusui, karena selama ini makanan yang ia konsumsi dihantarkan langsung lewat tali pusat, meskipun secara naluriah pastinya ia tahu cara menyusui. Dan proses IMD dengan Sabriyya berlangsung lancar. Sabriyya melewati semua prosesnya dari tidur sejenak di dada saya, memijit perut saya dengan kakinya, mengemut tangannya sendiri, lalu merayap menuju payudara saya.

IMG-20130327-01067

wajah Sabriyya yang dipenuhi ruam dan bintik-bintik di minggu awal kelahiran

7 hari pertama menyusui Sabriyya rasanya seperti neraka, puting saya lecet dan berdarah. Setiap Sabriyya menangis minta disusui, badan saya langsung tegang, membayangkan nyerinya. Belum lagi cara menyusu Sabriyya masih belum benar, akibatnya air susu belepotan ke mana-mana, akibatnya muncul bintik-bintik ruam di sekitar wajahnya. Belum lagi Sabriyya berulang kali melepas dan menyedot kembali payudara saya. Badan saya menggeliat kesakitan setiap adegan itu berlangsung.

Saat usianya seminggu, tepat saat ia diakikah, Sabriyya menolak sama sekali untuk saya susui. Ia selalu mengamuk setiap saya dekatkan mulutnya ke PD (payudara) saya. Nggak hanya saya yang panik, ibu sayapun ikut panik karena Sabriyya nggak mau berhenti menangis sedangkan ia juga nggak mau menyusu. Rasanya sakit sekali hati saya melihat anak saya sendiri menolak saya susui. Saya sampai berpikir apa dia membenci saya, atau ada masalah dengan ASI saya. Malamnya saya pergi ke rumah mertua untuk menginap di sana, karena esoknya harus kontrol nifas dan IUD. Di rumah mertua, ibu dan mertua saya berusaha untuk memerah susu saya untuk diberikan pada Sabriyya. Susu yang keluar dari PD saya sedikit sekali, hanya setetes-setetes saja. Sabriyya yang sudah kelaparan menangis nggak berhenti seharian itu. Hati saya tambah miris, sayapun nggak berhenti menangis. Hal ini nggak membantu produksi air susu saya sama sekali. Ibu mertua yang sejak pagi wanti-wanti sekali pada saya untuk tidak memberikan Sabriyya susu formula akhirnya menyerah pada pukul 3 pagi. Adik ipar saya pergi mencarikan tempat yang menjual susu formula dan masih buka di pagi-pagi buta seperti itu. Saat itulah untuk pertama kalinya susu formula menyentuh tubuh Sabriyya. Saya? tentu saja menangis tambah kejer.

Siangnya, mama mertua mengusulkan saya pergi ke klinik laktasi St. Carolus untuk konsultasi dengan dokter Utami Roesli. Dokter Utami ini adalah salah satu orang yang menggalakkan IMD di Indonesia, begitu kata mister google. Saya langsung mengiyakan usulan mama itu. Setelah telfon untuk mendaftar, saya baru bisa datang hari rabu nya (saat itu hari selasa). Payudara saya yang sudah dua hari tidak dipakai menyusu mulai terasa berat, hari itu saya putuskan untuk pulang ke Depok dan minta tolong ande untuk meng-akupuntur PD saya. Alhamdulillah PD yang tadinya merah-merah, bengkak dan mengeras sudah terasa lebih baik. Saya terus berusaha untuk menempelkan Sabriyya pada PD saya, dan dia tetap saja menolak😦

Rabu nya saya datang ke St. Carolus. Singkat cerita bertemulah saya dengan seorang dokter senior bernama Dr. Jeanne. Awal-awal sesi konsultasi, Dr. Jeanne bertanya banyak hal pada saya, seperti apakah Sabriyya sudah diberikan susu formula atau belum, apakah selama ini Sabriyya minum dengan dot (sejak awal saya selalu menggunakan sendok untuk menyuapi Sabriyya susu), dll. Saya menjawab pertanyaan dengan sejujur-jujurnya. Dr. Jeanne kemudian menjelaskan kepada saya pentingnya ASI dan mengapa pemberian susu dengan dot kurang baik untuk bayi. Setelah itu saya diminta untuk masuk ke sebuah ruangan di balik tirai di samping ruangan Dr. Jeanne tersebut. Di sana saya diminta untuk duduk di sebuah kursi dan seorang suster mengajarkan saya bagaimana cara memerah ASI dengan benar. Saya yang beberapa hari tersebut berkali-kali gagal memerah ASI saya (baik dengan tangan ataupun dengan breastpump), sangat terpana saat suster tersebut mencontohkan cara memerah dengan benar pada PD saya, dan ASI saya keluar dengan suksesnya. Saya bahkan bisa memerah kurang lebih 20 ml ASI hanya dalam beberapa menit saja. Biasanya boro-boro deh. Setelah mengajarkan saya memerah ASI, suster tersebut mulai mempraktekkan latch on yang benar. Sabriyya ikut dilibatkan di sini. Dan saat itu, mau puting saya dicubit-cubit seperti apapun, dipaksakan masuk ke mulut Sabriyya, ia tetap saja menolak. Semua yang ada di sana sampai ikut kebingungan, apalagi saya. Dr. Jeanne tidak ada pada proses ini, karena ia sudah harus pergi untuk menghadiri sebuah seminar. Saya memang datang terlalu siang saat itu, karena perjalanan Depok – St. Carolus lumayan memakan waktu juga. Dr. Jeanne hanya meninggalkan saya sebuah pesan untuk menyusui Sabriyya selama 20-30 menit (per saat menyusui) lalu setelahnya memerah payudara sebelahnya (yang bukan untuk menyusui) sampai kurang lebih 30 ml lalu menyuapi Sabriyya susu tersebut dengan sendok. Kami diminta untuk datang kembali seminggu setelahnya.

Saya, Sabriyya, Ande, dan Mush’ab (adik laki-laki saya) pulang dengan bingung. Sebenarnya ada sedikit rasa lega karena sudah bisa memerah dengan benar. Tapi, bagaimana saya bisa menyusui Sabriyya selama 30 menit, sedangkan anaknya saja nggak mau menyusu pada saya. Sampai di rumah saya kembali mencoba memerah, dan air susu yang keluar tidak sebanyak saat di St. Carolus tadi. Semuanya terasa salah dan gagal.

Akhirnya dua hari kemudian kami kembali lagi ke St. Carolus, kali ini berangkat lebih pagi. Saat kami datang, belum ada pasien lain yang mengantri. Oh iya, saat Sabriyya di timbang di sini, ketahuanlah kalau berat badannya sudah menyusut menjadi 2.9 kg. Tambah mencelos hati ini😦. Di pertemuan kedua ini saya kembali bertemu dengan Dr. Jeanne yang terkejut karena kami sudah datang hari itu, katanya kalau baru dua hari bagaimana dia mau melihat progres Sabriyya. Saya jawab saja, anak saya belum bisa latch on dokter, apa yang terjadi kalau saya tunggu seminggu baru datang?

Pada pertemuan kedua ini kami fokus pada latch on Sabriyya. Kembali puting saya dicubit-cubit untuk dipaksakan masuk ke mulut Sabriyya. Jangan tanya sakitnya, bukan main, tapi demi anak saya nggak keberatan. Yang membuat saya hesitate di hari itu justru tangisan Sabriyya yang terdengar marah dan putus asa. Karena memang ia dipaksa melakukan hal yang dia nggak suka. Kepalanya didorong paksa ke arah PD saya, mulutnya dipaksa terbuka, mukanya sampai merah karena menangis kejer. Setelah kurang lebih setengah jam, akhirnya saya minta berhenti saja. Percobaan kedua di Carolus masih terhitung gagal. Di perjalanan pulang nyeri pada PD saya terasa semakin dahsyat. Sampai di rumah saya meriang dan menggigil. Beruntung ande adalah therapist, di-akupuntur dan dipijat sebentar, saya perlahan-lahan pulih. Tapi hari itu, Sabriyya rewel seharian, dia nggak bisa tidur dengan nyenyak, setiap matanya terpejam sebentar tak lama kemudian melotot kembali seperti waspada. Sepertinya dia trauma😦

Saya belum menyerah, 4 hari kemudian kami kembali lagi ke St. Carolus, sesuai dengan permintaan Dr. Jeanne. Hal yang terjadi pada pertemuan kedua terjadi lagi, Sabriyya masih menolak latch on dan menangis frustasi, PD saya kembali terasa nyeri dan sekujur badan mulai terasa panas dan lemas. Saya nggak melanjutkan sesi itu lama-lama, saya nggak mau Sabriyya mengalami apa yang dia alami di pertemuan kedua yang lalu. Sesi ketiga tersebut selesai dengan ditutup dengan pernyataan Dr. Jeanne:

Waduh, nggak ada jalan lain ibu, memang harus ekstra sabar.

Pernyataan tersebut sukses membuat saya menutup harapan pada St. Carolus. Sudah cukup, hari itu adalah hari terakhir saya datang. Sudah banyak ibu dan anak yang berhasil latch on atau relaktasi dengan Dr. Jeanne, namun mungkin belum menjadi rezeki saya dan Sabriyya.

to be continued…

Update:

Per tanggal 23 Juni 2013 Sabriyya sudah nggak mau lagi minum susu tambahan. Saya nggak pernah memaksa Sabriyya untuk hanya minum ASI saya, pilihan suplemen (susu tambahan) saat itu adalah susu kambing murni. Bagi saya hal yang penting adalah Sabriyya kenyang dan bisa tidur dengan nyaman. Alhamdulillah pada tanggal 23 Juni ini Sabriyya benar-benar menolak minum susu tambahan dan hanya mau minum ASI saja. Sejak itu sampai hari ini (27 Agustus 2013) dan insya Allah sampai umurnya 2 tahun nanti, Sabriyya sudah hanya minum ASI saya saja. Alhamdulillah, terimakasih ya ALLAH🙂

2 thoughts on “My Breastfeeding Drama (Part 1)

  1. Pingback: My Breastfeeding Drama (Part 2) | A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s