Terimakasih

Akad nikah

Saya terima nikah dan kawinnya Sitty Asiah binti Darmadi dengan mas kawin yang tersebut, tunai. -03032012-

Setahun yang lalu, tepatnya sekitar pukul 4 sore, lafal itu diucapkan lantang oleh Reza di hadapan bapak saya, penghulu dan dua orang saksi, juga tentunya sekian banyak tamu yang datang saat itu. Saya, seperti terlihat di foto menyimak dari sisi kanan. Suara Reza lantang sekali saat itu, membuat saya dan adik saya Azizah sedikit tersentak kaget. Tak lama kemudian, tiba-tiba saja semua orang yang ada di meja kecil itu menggumamkan kata “sah” secara bergantian. Lalu Bapak Penghulu mengucapkan Hamdalah dan doa singkat. Resmilah saya dan Reza menjadi suami istri. Selanjutnya berlangsung seperti akad-akad pada umumnya, penandatanganan buku nikah dan beberapa surat lainnya. Sejujurnya perasaan saya saat itu biasa saja, bahagia pasti, tapi tidak terlalu membuncah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Bahkan saat prosesi sungkeman dengan orang tua pun, saya hanya sedikit menitikkan air mata saat memeluk Ande. Semuanya masih terasa seperti mimpi, dan tubuh saya merasa kesulitan untuk menyerap apa yang sedang terjadi.

Namun setelah sekian lama berlalu, saya mengambil dokumentasi dari Nendia (vendor kami saat itu) dan menonton kembali video prosesi akad tadi, tanpa sadar air mata saya menggenang di pelupuk. Saya kembali mendengar betapa lantangnya suami saya mengucap kalimat akad itu. Sangat tergambar jelas di sana kesungguhan hatinya untuk meminang saya dan meletakkan beban tanggung jawab sisa hidup saya ke pundaknya. Ia yang selama ini hidup dengan bebas, terkesan terlalu menikmati masa sendirinya, bahkan keluarga dan teman-teman dekatnya pun menilainya sebagai laki-laki yang susah diajak serius, dengan tegas menyatakan bersedia menanggung semua tanggung jawab hidup saya yang selama ini berada di pundak bapak. Sejak hari itu sampai dengan hari ini, ia terus menunjukkan keseriusannya dan terus berjuang untuk keluarga kecil kami. I feel flattered and blessed.

Sejak kecil dulu, saya tidak pernah tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Saya selalu melihat diri saya sebagai gadis yang gemuk, jelek, tidak pintar, aneh, dan susah bergaul. Jangankan laki-laki, menarik perhatian teman biasa saja saya merasa kesulitan. Saya selalu merasa apapun yang saya lakukan terlihat tidak pantas dan buruk. I was really strugling, especially on high school. Begitu banyak pengalaman pahit saya rasakan yang membuat saya semakin membenci diri saya sendiri. Saat itu saya memilih untuk percaya, bahwa selamanya tak akan pernah merasakan kasih sayang, atau biasa disebut cinta. Nobody will ever love me the way i always dream, nobody will ever take me seriously, dan saya akan berakhir dengan pernikahan yang tidak saya inginkan. Saya akan berakhir menikahi orang yang terpaksa saya nikahi karena usia yang sudah tidak lagi muda. Saat itu, di dalam masjid di daerah Kalibata itu, semua prasangka saya terpatahkan.

Saya sangat percaya dengan kekuatan doa. Saya percaya Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Titik pertemuan saya dengan Reza memang merupakan titik kulminasi dalam hidup saya, di mana menyerah sudah hampir ada di genggaman. Saat itu ketakutan saya akan kesendirian sangat mempengaruhi keputusan-keputusan yang saya buat, and believe me i’ve been making loads of stupid desicion at that time. Akal sehat saya tahu semua yang saya lakukan saat itu adalah bodoh dan akan menyakiti diri saya sendiri, namun kepengecutan saya sering kali menang. Pertemuan saya dengan Reza membuat semua rasa takut itu perlahan hilang. Saya berani mengambil keputusan yang selama ini tersimpan di relung akal sehat saya. Dan Allah mengabulkan satu doa saya saat itu, untuk tidak lagi membuat saya kesepian. Untuk tidak lagi membuat saya sendirian. Hidup saya, penilaian saya terhadap harga diri saya sendiri perlahan berubah. Saya menjadi diri saya yang sekarang.

Setiap hari saya berusaha untuk tidak pernah lupa mengucapkan rasa syukur dan terimakasih saya kepada Allah atas semua cerita yang IA tuliskan di buku kehidupan saya. Every bits of it. Saya juga berusaha untuk tidak pernah lupa mengucapkan terimakasih kepada suami saya, meskipun ia selalu bertanya “Terimakasih untuk apa?”. Karena hidup yang saya jalani saat ini pernah menjadi angan-angan belaka. Karena sampai hari inipun saya tidak pernah lupa perasaan takut dan hampir menyerah itu. Tentu saja saya bersyukur, tentu saja saya berterimakasih.

Happy 1st wedding anniversary sayangku. Terimakasih untuk semuanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s