New Year New Lessons

Januari belum juga berakhir, tapi kejadian-kejadian penting penuh pembelajaran udah bertebaran aja di mana-mana😀

Sejak akhir tahun lalu kami sekeluarga sudah mempersiapkan satu kejadian penting yang akan terjadi di awal tahun ini, lahirnya satu anggota keluarga baru dari rahim kakak ipar saya.  Jadilah sejak minggu-minggu pertama Januari, mbak Nia menetap di Rasamala. Saya kebagian tugas menemani mbak Nia jalan-jalan di mall untuk memperlancar pembukaan. Tapi karena cuaca yang kurang mendukung, baru satu hari saya menemani mbak Nia menyusuri Kota Kasablanka, saya malah ambruk. Beruntung masih ada stock herba dan kopi Radix di rumah Rasamala, jadilah saya minum herba-herba itu sesering mungkin. I can feel my body fighting back the viruses, walhasil saya tetap kena flu, tapi nggak separah yang kemungkinan bisa terjadi. I love herba😉

Setelah mules-mules selama kurang lebih satu minggu, tanggal 13 Januari 2013 kemarin, akhirnya lahirlah si mungil yang ditunggu-tunggu. Kairi Fairuzia lahir dengan proses persalinan normal dengan berat 3.3 kg. Resmi sudah Sora Willens menjadi kakak. Look at this picture, can you see how proud Sora is?

Image

Sora & Kairi

Proses kelahiran Kairi dan kehadiran Kairi di rumah menjadi salah satu pelajaran berharga bagi saya yang insya ALLAH juga akan melahirkan anak pertama kami di bulan Maret nanti. Newborn baby itu kecil banget yaaa.. gendongnya serba salah sendiri jadinya, takut kenapa-kenapa, apalagi mandiinya, haduuuh ngeliat Mama mandiin Kairi aja rasanya udah nervous sendiri hahaha.. but Insya ALLAH i will learn fast, amin.

Another important lesson, sebenarnya didapat sebelum kelahiran Kairi. Remember i wrote about moving to the apartment in Ancol in my last post? Memiliki tempat tinggal sendiri dan menjadi mandiri adalah impian saya bahkan sejak sebelum saya menikah. Saya, entah kenapa nggak pernah berjodoh dengan pengalaman yang satu itu. Dulu sempat ingin sekali kost di dekat kampus, walaupun rumah pun terbilang kepleset nyampe dari kampus. Tentu saja niat itu ditolak habis-habisan. Waktu kerja sempat juga ingin mengambil salah satu kamar kost yang kosong di samping kamar kost rekan kerja, tapi kemudian saya malah disuruh pulang pergi naik motor. Sekarang saat sudah berkeluarga dan seharusnya kesempatan tinggal sendiri dan mandiri menjadi lebih besar, kok ya ndilalah malah susah juga. Padahal setelah menulis post ini sepertinya ALLAH memberikan jalan untuk bisa menyewa apartemen di daerah Ancol dengan harga yang jauh lebih rendah dari pasaran. Wyna salah satu teman mengajar dulu menulis komentar yang membuat saya deg-degan luar biasa pada post tersebut. Setelah di-follow up, sampai kemudian survei ke lokasi, bayangan hidup sendiri seperti sudah menari-nari di hadapan. Tinggal satu langkah lagi, saya bisa sampai ke impian tersebut. Tapi sayang, sepertinya ALLAH memang belum memberi izin. Setelah memohon ketenangan untuk berfikir, setelah sebelumnya sempat sangat emosional sampai memohon-mohon pada suami untuk memberi kesempatan itu pada saya, akhirnya ALLAH seperti memberikan keikhlasan kepada saya untuk bersabar lagi. Mempertimbangkan kondisi di mana saya dan Reza masih membutuhkan banyak biaya untuk kelahiran anak pertama kami dan sebagai modal usaha baru kami, ALLAH kemudian memberikan rasa lega di dalam hati saya saat mengatakan kalimat sakti itu pada suami saya.

Sayang, apartemennya nggak usah kita ambil dulu yah. Uangnya masih perlu ditabung dulu.

Tentu saja air mata sempat mengambang di pelupuk mata saat akhirnya mengucap kalimat itu. Tapi di dalam hati ini saya yakin ALLAH akan memberikan kesempatan itu pada saat yang tepat nanti. Dan ketika waktu itu datang, segala sesuatunya pasti akan berjalan dengan lancar. Amin.

Pelajaran berharga selanjutnya berhubungan dengan bisnis baru kami. Sejak awal tahun ini, kami Insya ALLAH sudah mulai membuka booth ayam A’baik kami.

Image

Ayam Goreng Organik A’baik

Dibuka di depan Fire Net (warnet milik adik ipar) di daerah Pondok Kelapa. Sebenarnya niat untuk membuka usaha ini sudah tercetus dari pertengahan tahun lalu. Awalnya mau dibuka di Depok, tapi rupanya ALLAH memberikan jalannya untuk dibuka di daerah Pondok Kelapa. Saya selama ini nggak pernah membayangkan memiliki usaha sendiri, nggak pernah berani membayangkan sebenarnya, mengingat kepercayaan diri saya di bidang ini terbilang kecil. I’d rather work for a company and get paid every single month than have to maintain my own bussines. Pengecut sebenarnya, takut malah jadinya rugi bandar hahaha.. Tapi karena sekarang sudah ada suami yang semangat wiraswasta-nya tinggi, dan ande yang juga kasih semangat, akhirnya dengan modal nekat dibelilah franchaise ayam ini.

Belum sebulan kami mulai usaha ini, weekend kemarin kami sudah diberikan tantangan. Alkisah stock ayam di booth kami semakin hari semakin menipis. Alhamdulillah, ini menandakan penjualan yang berjalan dengan lancar. Setelah pesan di pemasok yang biasanya, ternyata mereka juga sedang kehabisan stock. HALAH. Dan nggak mungkin juga kami menunggu stock di pemasok tersebut datang, karena persediaan sudah benar-benar menipis. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil stock ayam dari daerah Bekasi Utara. Sejak pagi saya menghubungi bapak pemasok dari Bekasi tapi nggak juga dapat jawaban. Dengan nekatnya, saya dan Reza meminjam mobil Mama pergi ke Bekasi Utara. Hanya berbekal google Maps dan alamat yang diberikan sebelumnya, sambil terus berusaha menghubungi bapak Bekasi. Alhamdulillah perjalanan kami terbilang lancar, tapi sampai lokasi kami malah dihadapkan dengan satu fakta bahwa daerah tempat tinggal bapak Bekasi terkena banjir sampai setinggi lutut. Reza nekat saja melewati banjir itu, Alhamdulillah ALLAH masih melindungi kami dari bencana mati mesin😀

Tapi rupanya ALLAH masih belum memberikan kami kesempatan untuk bernafas lega. Perjalanan pulang menuju Pondok Kelapa yang sama-sama belum pernah kami tempuh sebelumnya menanti di hadapan. Hape samsung saya dan Reza sudah sama-sama habis baterai. Akhirnya mengandalkan google maps pada blackberry saya. Real time nya google maps di Blackberry yang nggak secanggih Samsung membuat kami kebingungan saat berhadapan dengan salah satu pertigaan. Peta di tangan saya mengatakan kami masih harus lurus, tapi jalan di hadapan sudah bercabang-cabang. Pengambilan keputusan yang terbilang terlambat membuat Reza harus melakukan manuver belok kanan tajam, lalu DUAR! ban belakang sebelah kanan menabrak separator. Mobil mulai terasa oleng, benar saja setelah diperiksa ternyata ban belakang sebelah kanan kempes sekempes-kempesnya. Situasinya saat itu sedang di tengah gerimis yang sudah turun sejak kami beranjak dari Bekasi Utara. Jalanan sudah basah dan licin, udara pun sudah terasa dingin, sedangkan bengkel tak terlihat di manapun. Akhirnya diambillah keputusan untuk mengganti ban tersebut dengan ban serep yang ada.

ayah Reza is doing his best

ayah Reza is doing his best

Di tengah hujan yang semakin deras itu, Reza mengganti sendiri ban yang bocor itu dengan ban serep. Saya sempat kebagian tugas untuk memayungi Reza sebelum akhirnya disuruh menunggu di dalam mobil saja karena hujan turun semakin deras. Saya sebenarnya sangat ingin menemani Reza di luar sana, tapi mengingat sedang mengandung, rasanya resiko sakit setelahnya malah nanti akan membuat Reza menjadi semakin repot. Akhirnya saya memperhatikan saja perjuangan suami dari dalam mobil sambil terus berdoa agar tak ada orang yang berniat jahat menghampiri kami, dan agar setelah ini Reza nggak tambah sakit, karena sebenarnya hari itu ia sedang menjalani sick leave karena gejala typhus. Sudah berulang kali kisah ini saya ceritakan pada keluarga di Rasamala dan Depok, tapi rasanya tak cukup menggambarkan bagaimana terharu dan bangganya saya pada suami saya saat itu. At times like this, being husband and wife feels real.

Setelah ban selesai diganti, kami melanjutkan perjalanan menuju Pondok Kelapa. Reza sempat membahas tentang laporan keuangan dengan dua pegawai kami di sana. Akhirnya sekitar jam 7 malam kami bertolak ke Tebet untuk menjemput Mama Yvonne yang sedang menemani mbak Nia dan adik Kairi. Di perjalanan pulang ini pun kami kembali berhadapan dengan satu cobaan. Kami sempat dibuang ke Cililitan karena ada luapan air yang datang di daerah setelah Pasar Gembrong. Alhamdulillah saat kami tiba di jalan itu, air masih belum tinggi. Reza nekat saja melewati luapan air itu, Alhamdulillah kami aman sampai di Puskesmas Tebet.

Hufff.. what a day. Ternyata hari itu juga merupakan hari yang berat bagi seluruh bagian Jakarta. Hujan yang nggak juga reda sampai keesokan harinya membuat Jakarta tergenang air, sampai bunderan HI pun terlihat seperti banjir susu coklat. Banyak foto daerah-daerah yang kebanjiran beredar di media social. Saya pun semakin bersyukur karena apa yang kami alami saat itu masih terbilang ringan. ALLAH surely wants to show us HIS blessings despite all of those trouble.

Selama sehari itu saya nggak merasa over worried sama sekali, knowing that i have Reza on my side, i know everything will be okay. Dan kalaupun nggak, setidaknya saya mengalaminya bersama Reza. Maybe this is what they call love🙂

Bee

One thought on “New Year New Lessons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s