Out of The Comfort Zone

Kegiatan terbaru belakangan ini adalah browsing harga sewa apartemen. Oh Tuhanku.. mengapa susah banget cari apartemen yang harga sewanya nggak lebih dari 20 juta setahun di daerah dekat ancol?

Pernah dengar istilah daerah strategis, Asiah? NAH! itu kira-kira jawabannya -kata Tuhan-

Belakangan ini saya dan Reza mulai merasa perlu untuk cari-cari tempat tinggal yang dekat dengan lokasi kerja Reza. Karena biaya dan tenaga juga waktu yang harus dihabiskan di jalan (oleh Reza) mulai terasa berlebihan. Berangkat dari rumah jam tujuh pagi dan sampai rumah kembali sekitar jam 8 malam, bisa dibilang waktu efektif saya bertemu dengan Reza ya cuma 2-3 jam. Ditambah lagi hari Sabtu, Reza masih harus masuk kantor sampai jam 1 siang (teorinya, prakteknya tetap saja pulang jam 2, sampai rumah sekitar jam 3). That’s almost half of our weekend time spent on work. Bagaimana nanti quality time Reza dengan anak kami? Huff.. growing up is such a hard work:/

Setelah menikah ini, banyak sekali hal-hal yang harus saya lewati dengan keluar dari zona nyaman. Resign dari pekerjaan dan jadi ibu rumah tangga sepenuhnya adalah awal dari semuanya. Banyak hal berjalan tidak sesuai dengan rencana awal kami. Sejak memutuskan menikah, saya sangat ingin tetap tinggal bersama orang tua saya di Depok. Sebelum nantinya kami tinggal di rumah kami sendiri. Tapi Reza mendapat pekerjaan yang berlokasi di ujung dunia dan mengharuskan kami pindah domisili ke rumah mertua (saya).

Sejak mengetahui kalau saya hamil, deep down inisde, i know i want to do my delivery in a hospital, in Depok. Tapi sekarang atas permintaan Reza (dan karena Mama mertua dan kakak ipar sangat akrab dengan puskesmas) saya harus kembali menelan keinginan itu dengan sedikit demi sedikit membuka pikiran saya untuk mulai periksa di puskesmas Tebet. Okay, i am a little bit sceptical about this puskesmas thingy. Seperti yang saya tulis di post sebelumnya, sejak kecil dulu saya jarang sekali pergi ke rumah sakit untuk periksa-periksa kalau sakit. Kecuali sakit gigi, dan karena pengalaman waktu kecil dengan dokter gigi yang nggak terlalu bagus, sampai sekarang saya selalu benci dokter gigi. I’d rather having my teeth rotten than have to go to the dentist. Iya, ho oh, segitunya.

DAN saya akui saya adalah orang yang sangat pilih-pilih. Sering merasa nggak nyaman dengan situasi-situasi tertentu. Sejak dulu bayangan saya tentang puskesmas (dan kantor-kantor layanan masyarakat lainnya) adalah kotor, kuno, tidak terawat dan terlalu banyak orang. Ini mungkin bisa dibilang salah satu dampak dari ke-belum percaya-nya saya terhadap pemerintah. I always thought people in the government are those who eats people’s money for their own sake. Mereka nggak mikirin rakyat sama sekali, jadi uang negara yang seharusnya dikembalikan ke rakyat lewat layanan-layanan yang memadai, akhirnya berbelok untuk kepentingan pribadi mereka saja. Saya masih belum percaya kalau puskesmas memiliki layanan dan fasilitas yang cukup memadai untuk kesehatan rakyat. Biaya pendaftarannya saja cuma 2000 rupiah. Mereka bisa saja kan dengan mudahnya berpikir “These people don’t pay us that much to give them the best effort” iya, saya sempat berpikir demikian. Sampai kemudian takdir mempertemukan saya dengan Reza dan mama Yvonne yang nggak lain adalah salah satu dokter di puskesmas Setiabudi. Keluarga suami saya ini mengubah pandangan saya terhadap puskesmas. Setelah beberapa kali diajak berkunjung ke puskesmas mama saat sakit, bahkan kemarin saya sempat tambal gigi di sana, pendapat saya tentang puskesmas mulai berubah. Tempat ini nggak kotor-kotor amat kok. Dan pelayanannya terbilang bisa bersaing dengan rumah sakit swasta. Tempat ini penuh dengan orang-orang yang berdedikasi tinggi terhadap kewajiban mereka. Well at least itu yang saya tahu berdasarkan cerita Mama Yvonne. No wonder sejak pertama kali saya mengungkapkan keberatan saya untuk melahirkan di puskesmas, Mama dan Reza selalu berkomentar “Emang bayangan Asiah sama Puskesmas itu kayak apa sih?”.

Kemarin, untuk pertama kalinya saya ikut kakak ipar (yang sedang hamil anak keduanya) periksa di Puskesmas Tebet. Di tempat ini Insya Allah saya akan percayakan proses kelahiran anak pertama saya nanti. Dari hari ke hari saya semakin yakin dengan keputusan ini. Saat periksa kemarin, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan bidan Dahlia. Beliau yang membantu kakak ipar saya melahirkan anak pertamanya, Sora. Meskipun metode yang mereka pakai untuk memeriksa keadaan janin saya masih sangat jauh dari kata modern, mereka menggunakan metode meraba dan memijat perut untuk mengetahui letak janin (instead of USG). Satu-satunya mesin yang terlibat adalah alat untuk mendengarkan detak jantung. Tapi proses konsultasi, nggak jauh berbeda dengan yang biasanya dokter Riska dan dokter Meutia lakukan. Bahkan menurut saya sedikit lebih intimate, karena bidan Dahlia juga memperhatikan berat badan dan kondisi tubuh saya. She looked at my start-to-swoolen feet, she measure my arm, and she told me that i have to really watch my weight. Argh!! she said both me and my baby are start-to-overweight. Disamping itu semua, biaya persalinan di Puskesmas ini pastinya jauuuuh lebih murah dari biaya persalinan di Rumah Sakit Swasta. Nantinya-pun kalau saya perlu mendapatkan perhatian lebih (hopefully not) mereka akan merujuk saya ke rumah sakit lainnya. I want Bunda Menteng or Kemang Medical Center ya baby, please. Puhahaha.. teteup.

Tinggal di rumah mertua dan memutuskan untuk melahirkan di Puskesmas, so far, adalah dua hal yang membuat saya nekat keluar dari comfort zone. Sampai saat ini, meskipun masih ada hal-hal yang terasa kurang nyaman di sana sini, saya merasa bisa melewati ini semua. In the end, i know i will be a better person to tell the story to people who needs it. In the end, i know this is the best for me and Reza. Dan hopefully, mulai awal tahun depan saya dan Reza bisa menemukan tempat tinggal sendiri di dekat tempat kerja Reza. For the sake of our family. At least sampai saat ini, itu yang saya rasa terbaik buat keluarga kecil kami. Semoga Allah selalu bersama kami dan memberikan jalan terbaik untuk kami. Amin.

Ps: Ada yang mau sewakan apartemennya di daerah Ancol, atau Kemayoran, atau Kelapa Gading seharga 20 Juta (or less) setahunnya untuk kami? anyone? pleaaase *insert cat in boots’s melancolic eyes here*.

Bee

4 thoughts on “Out of The Comfort Zone

  1. ka asiaaahhhh.. i have an apartment right there in Ancoooolllll.. tp sptnya udh ada yg tempatin. nanti ku tanya Papa yah kapan org itu abis masa sewanya.. kalau emg org itu udh mau abis, aku mau usahain biar ka asiah aja yg pake. hehe. kecil sih emg kak, model studio gt, tp lumayan kok klo buat berdua dl mah..

  2. Pingback: New Year New Lessons « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s