Mini Panic Attack

Semalam saya terserang mini panic attack, waktu suami lagi asyik meng-update pembukuan hariannya. Jadi dia, nggak tau kalau saya sedang terserang serangan panik, kecil sih, but still.

Begini awalnya.

Kemarin, saya dan Reza datang ke acara ulang tahun anak dari salah satu sahabat Reza. Anak mereka berulang tahun yang pertama. Lucu deh, lihat anak kecil itu kebingungan dengan keramaian yang nggak biasa ada di rumahnya. Tiba-tiba saja langit-langit ruang tamu dihiasi balon dan kertas dekorasi. Tiba-tiba saja ada badut Hello Kitty raksasa berjoged-joged di dekatnya. Saya dan Reza terlambat datang hampir satu jam, jadi hanya bisa melihat keriaan yang terjadi satu jam sebelumnya lewat foto saja. Yah, kebingungan si anak dan keberadaan badut yang saya ceritakan di atas cuma deskripsi dari foto saja hehehe😀

So, setelah makan-makan dan ngobrol-ngobrol dengan suami istri sahabat Reza ini, beberapa tamu pamit pulang. Si suami mengantarkan mereka sampai stasiun terdekat, karena para tamu tersebut tinggal di Bogor dan mau pulang naik kereta. Tinggallah saya dan suami dengan sepasang teman kami juga tuan rumah melanjutkan mengobrol di ruang tamu. Si tuan rumah tiba-tiba saja mengajukan satu pertanyaan pada saya “Asiah, nanti lo mau ngelahirin di mana?”. Saya diam sedetik, lalu mantap menjawab “Nggak tau”. Si penanya kaget dan mengatakan kalau dulu, dia sudah membuat keputusan untuk melahirkan di mana tepat setelah tahu kalau positif hamil. Saya tercekat, merasa semakin amatir.

Jujur saja, saya sangat amatir tentang dunia kehamilan ini. Sejak awal dinyatakan positif, saya banyak sekali bertanya ke sana ke mari tentang apapun. Apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya waspadai. Bagaimana seharusnya rasanya hamil itu. Di minggu-minggu awal, saya bahkan terus bertanya-tanya bagaimana caranya mengetahui kalau bayi di perut saya masih hidup dan sehat? Rasanya ingin sekali tinggal di rumah sakit saja, biar setiap hari bisa USG dan menyapa anak saya. But that was really stupid, and childish, i know. In the end yang bisa saya lakukan ya hanya menunggu saja. Menikmati setiap hari dengan menjaga diri dan anak ini. Berusaha untuk makan 3 kali dalam sehari, ini lumayan susah, karena dulu saya terbiasa hanya makan 2 kali saja. Kalau lapar, ya tidur. Sekarang? ya nggak bisa lah kayak begitu. Anak baru di perut kok sudah di-dzalimi? Ibu macam apa?

I love my baby, i really do, words can not describe it though. Tapi saya ini nggak ngerti apa-apa. Seumur hidup nggak pernah dirawat di rumah sakit. Bahkan dulu waktu terkena TBC saya memaksa untuk dirawat di rumah saja. Menolak sama sekali tinggal di Rumah Sakit. Jangankan itu, kalau sakit saya bahkan nggak pernah tuh periksa ke dokter. Semuanya saya percayakan ke ande. I trust my mom for my medicine. Tapi ya masa saya mau melahirkan sama ande juga? saya tahu pilihan itu sangat nggak mungkin. Bahkan meski ibu mertua saya adalah dokter saja (which pastinya sebenarnya bisa juga membantu melahirkan, meski nggak ahli), saya tahu kalau pilihan melahirkan di Rumah Sakit itu jauh lebih aman, dan hopefully nyaman. Jadi mau nggak mau saya harus memilih Rumah Sakit kan? Ini yang membuat saya panik kemarin malam.

Saya mau melahirkan di mana? Selama ini saya masih fokus dengan pilihan Obgyn yang menurut saya menyenangkan. Sudah dapat sih Obgyn yang nyaman, tapi prakteknya di Rumah Sakit Bunda Menteng yang nggak usah pake ditanya pun biaya persalinan di sana pastinya mahal. Sebenarnya saya sudah sering sih tanya sana sini tentang biaya bersalin di beberapa rumah sakit. Baik di Depok atau di sekitar Tebet. Tapi belum pernah diskusi serius sama suami sampai muncul satu nama Rumah Sakit yang pasti. Ini yang juga sedikit banyak membuat saya panik kemarin malam. Saya yang nggak pernah dirawat di Rumah Sakit, saya yang seumur hidup nggak pernah berobat ke dokter. Saya yang sering nggak nyaman dengan ruangan kotor dan gelap. Saya yang nggak tahu apa-apa tentang bagaimana nanti. Bagiamana nggak panik?

Nak, maafkan bunda yah kebingungan dan sedih begini. Kamu pasti juga jadi sedikit sedih ya? But don’t worry, kita pasti bisa cari jalan keluarnya. After all, bunda percaya semua orang pasti ingin yang terbaik untuk kamu dan bunda, untuk hari bersejarah itu. Bagaimana kalau sekarang kita tidur? bunda udah oleng-oleng nih hehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s