Psst! Do not tell, it’s a jinx!

Tapi sebelumnya izinkan saya update sebentar, about being pregnant. Hehe😀

So what i learn about being pregnant is…

  1. AMAZING!! kemarin saat saya harus kembali ke rumah sakit lebih awal dari jadual berkunjung Obgyn yang sudah ditetapkan, thanks to those flek-flek merah yang muncul weekend kemarin, bunda panik luar biasa, takut kamu kenapa-kenapa, nak. Despite those scary experience while i have to sit in front of my doctor’s face opening my leg widely. GOSH!! that was traumatic :,( Thankfully, seconds later i get to see my baby inside through USG. Bunda lihat degup jantung kamu nak, kamu hidup. Sangat hidup. Thankfully i was sane enough not to cry like a baby seeing that heart beat. I can’t even describe how i feel. It was just amazing.
  2. Wee bit unusual. Name it, everything that i used to like, now it’s like a nightmare to me. Everybody know how much i love cooking, sekarang tiap liat dapur rasanya mau hueeek aja. Tiap buka tudung saji, hueek lagi. Tiap liat gorengan (hell yeaaa risol) mata langsung pengen memejam saja. OMG what’s with this? i feel like so much not me.
  3. Now i understand what ngidam is. So, seperti yang saya sebutkan di atas. Di awal-awal kehamilan ini selera makan saya sangat menurun drastis. Hari ini saja saya baru makan dua kali (pertama waktu ikutan sahur sama keluarga, yang kedua barusan ini, lima menit yang lalu). Makan itu udah kayak nightmare buat saya. Serba salah, dimasukin makanan mual nggak dimasukin kasihan anakku😦 So, apa itu ngidam? Ngidam (kayaknya) adalah saat ibu hamil (dalam hal ini saya) yang susah makan ini tiba-tiba terbesit satu jenis makanan tertentu lalu muncul keinginan untuk makan makanan itu saat itu juga. Nah, daripada nggak ada yang masuk ke perut, sangat dianjurkan bagi orang-orang di sekitarnya untuk segera mencari makanan tersebut dan menyajikannya ke hadapan si ibu hamil. Cuma biar si ibu hamil ini pokoknya masukin makanan ke perutnya. Meskipun seringkali hasilnya ya sama saja. Si ibu hamil tetap mual dan makanan hanya masuk secuil. Bhahaha.. sounds like reasoning ya😛

Now that was things i learnt about being pregnant so far. Sebenernya masih banyak lagi sih, tapi kayaknya boleh di-save buat postingan selanjutnya karena bisa-bisa nggak keterusin deh ini tema yang sebenarnya mau disampein😐

Okay, back to the topic!

Jadi weekend kemarin, saya dan teman-teman Hermesian kumpul di Taman Menteng untuk buka bersama sekaligus merayakan ulang tahun The Hermes yang ke tiga. Saat itu badan saya sebenarnya agak kurang fit, juga waspada. Pasalnya malam sebelumnya saya sempat mengalami flek. Flek adalah munculnya bercak-bercak darah yang mengindikasikan adanya luka di organ dalam ibu. Salah satu hal yang harus diwaspadai oleh ibu-ibu hamil. Apalagi jika usia kandungan masih sangat muda seperti saya. Karena keluarnya flek adalah salah satu gejala awal keguguran.

Saya sempat sedikit lega saat paginya flek sudah mulai berkurang. Namun setelah makan malam, saya kembali check ke kamar mandi gedung tempat kami makan. Flek kembali muncul dan kali ini terlihat lebih pekat dari sebelumnya. I panicked, but act soooo zen. I can’t show it to my friends, especially on our happy day.

But then saat di taksi saya nggak bisa menahannya lagi. Saat itu Jia, sahabat saya, ikut dengan taksi yang saya dan suami tumpangi. Saat masih ada Jia, saya bilang ke suami “Sayang, kayaknya besok aku bener-bener harus periksa deh”. Suami hanya mangangguk saja saat itu. Saya bercerita semuanya ke Jia yang terlihat cukup kebingungan. Jia sempat terdiam, lalu berkata “Sebenernya kalau usianya masih muda banget, nggak usah sebarin berita dulu kali ya”. Di sanalah pembahasan ini dimulai.

Tahu kan Jinx? itu lho, semacam kutukan yang terjadi ketika seseorang menceritakan sebuah kabar baik yang masih sangat prematur. Saya pernah menjadi orang yang sedikit percaya tentang hal ini. Dan memang, hal ini sudah sangat bercokol di benak kebanyakan orang, saat itu salah satunya adalah Jia. Tapi mungkin, Jia hanya terlalu kuatir saja pada saya dan kandungan saya.

Dulu saat baru mendapati kalau saya hamil, saya sempat bimbang untuk menyebarkan kabar gembira ini kepada semua teman-teman saya. What if this wont work? what if this only for temporary? (naudzubillah min dzalik). Tapi kemudian saya kembali berpikir, jika saya sebarkan berita baik ini pada teman-teman saya, lalu saya minta mereka mendoakan kesehatan dan keselamatan janin ini, siapa yang tahu Allah akan mendengarkan doa salah satu dari mereka. We never know which prayer will be answered. By this reason, i started spreading the news, dengan ditambah permohonan doa untuk kesehatan dan keselamatan anak saya. I tried to always do that. Because it’s not bragging what i aim to do. Saya sangat mengharapkan doa-nya. Karena saya sangat percaya pada doa. Doa siapa saja, karena Allah adalah Maha Kuasa, Maha mengabulkan doa-doa.

So i don’t believe in such things as jinx. If this is really not working (naudzubillah min dzalik) it’s not because i am spreading the news. Pasti ada alasan yang jauh lebih reasonable dari itu. Lagipula bukankah kebahagiaan akan terasa berlipat-lipat ketika kita berbagi? Sekarang coba bayangkan, saat kabar bahagia dipendam sendiri saja, lalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan setelahnya, then people will eventually know it. They will ask you “How come we didn’t know what happened? How did it happened?” and then you have to repeat those sad story over and over again. Duh, rasanya gimanaaaa gitu ya. So, don’t hesitate people, just spread the good news. It’s worth it🙂

And oh, Jia agreed with me by the way😉

Have a wonderful day people.

Bee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s