The Stage

Disclaimer:

Tulisan ini saya buat pada tanggal 4 April 2012 dan baru sempat di-publish tanggal 17 Mei 2012. So, kalau teman-teman baca pada tanggal 17 Mei dan merasa post ini telat satu bulan lebih, ya emang iya😀

Saya akan edit tanggal publish post ini di tanggal 4 April, supaya nanti saat (entah kapan) saya baca-baca lagi, sayanya nggak kebingungan.

So, here goes…

Kemarin malam, Jia sahabat saya memenangkan lomba menulis puisi untuk konser Kla project bersama Reza Artamevia yang berlangsung di Rolling Stone Cafe. Hadiah utamanya adalah sebuah kesempatan untuk membacakan puisi ciptaannya itu sebagai pembuka konser. Dari beberapa hari sebelumnya Jia sudah sangat kegirangan mengirim bbm pada saya untuk memberitahukan hal ini. Dan kemarin, sejak jam 3 sore dia kembali mengirim bbm pada saya curhat tentang kegugupannya melihat panggung besar yang harus ditaklukkan malamnya. Dan pagi ini dia menyolek saya untuk membaca tulisannya di sini. Saya tersenyum membaca tulisannya itu, dan saat melihat sebuah kalimat berbunyi “This entry was posted in THE STAGE” senyum saya semakin lebar.

Ah.. THE STAGE. Bahkan saat saya mengetik kata tersebut seperti ada kupu-kupu beterbangan di perut saya dan senyum ini nggak bisa berhenti hilang dari pipi saya *nyengir*.

Lalu, dalam persiapan menuliskan tulisan ini saya search “Nasyid Bestari” di google dan menemukan sebuah video berlatarkan salah satu lagu Bestari dari album paling akhir, di mana saya juga ikut sumbang suara *ehem*. Mendengar intro musiknya saja saya langsung teringat masa-masa dulu. Lengkap dari zaman latihan, rekaman, sampai tampil dari satu panggung ke panggung yang lain. Bersama Bestari saya mencicipi berbagai jenis panggung, dari tampil di acara rohis sekolah sampai manggung di depan bapak Yusuf Kalla (waktu belum jadi wakil presiden), dan oh.. kami juga pernah satu panggung dengan Rhoma Irama, jadi tampilan pembuka konser Bang Oma dan Soneta Group. Bhahahahaha.. kalau ingat itu rasanya geli sendiri.

Saya selalu menikmati sensasi saat bernyanyi di atas panggung, melihat tatapan semua orang di bangku penonton yang memerhatikan apa yang coba saya bawakan untuk menghibur mereka. Rasanya berbeda saja bernyanyi di panggung dengan bernyanyi di bilik karaoke, i like it more on the stage😀 Karenanya saya jarang sekali menolak ajakan untuk tampil. Hampir semua kesempatan saya ambil. Makanya saya sangat bahagia saat Allah kasih kesempatan untuk bertemu dengan Endy dan The Hermes. Saya jadi berkesempatan untuk tampil untuk audience yang berbeda dengan konsep tampilan yang berbeda pula. Kalau Bestari dulu mengusung lagu-lagu religi, dengan Endy dan The Hermes temanya lebih umum dan kebanyakan bercerita tentang cinta. It is actually one of my dreams, performing a casual song, i mean not a nasyid. And i love Endy’s songs, so it’s perfect right?😉

Dan beberapa saat yang lalu, sebuah kesempatan kembali datang pada saya. Dila, seorang sahabat (dulunya juga personil Bestari) mengajak saya untuk bergabung dengan grup vokal barunya. Saat itu mereka sedang dalam proses rekaman. They want me to join the group. Saya seperti biasa langsung saja menerima ajakan tersebut, lalu terlupa kalau sekarang harus izin suami dulu hehehe😛 Reza awalnya nggak keberatan dan mengizinkan saya rekaman walaupun terlihat sekali ada ragu di balik izinnya itu. Benar saja, saat saya jelaskan kemungkinan saya tampil di atas panggung lagi, dia langsung mengubah keputusannya. Dengan wajah polosnya itu dia ungkapkan keberatannya. Reza memang tak begitu suka kalau saya menjadi pusat perhatian orang banyak. Sejak berpacaran dulu kami sering membahas hal ini, tapi karena status kami masih berpacaran, saya masih bebas melakukan apapun yang saya mau. Sempat beberapa kali saya ikut Endy tampil di beberapa event untuk mempromosikan album Viva Hermesian. Dan kami juga sempat merekam sebuah wawancara untuk acara musik remaja di TVRI (yang sampai sekarang ternyata masih sering diputar). Lalu sekarang saya nggak akan pernah bisa merasakan sensasi itu lagi.

Hanya satu reaksi yang spontan muncul saat topik tentang larangan manggung ini. Terdiam. Saya terdiam cukup lama. Saya tahu ini pasti juga sangat berat bagi Reza, melarang saya melakukan hal yang sangat saya sukai. Saat ia kemudian berkata “Tapi kamu ngerti kan sayang, kenapa aku nggak mau kamu tampil di panggung?”, saya surprisingly langsung menjawab “Aku ngerti kok, aku cuma sedang meresapi situasi ini aja”.

Bagi saya, butuh hanya sekedar pengertian saat salah satu mimpi di hidupmu harus meredup karena orang lain. Hal ini juga pernah terjadi pada salah satu personil bestari dahulu, ia yang baru saja menikah tiba-tiba nggak pernah bisa ikut manggung lagi karena suaminya nggak mengizinkan. Di saat teman-teman yang lain kebingungan dengan sikap suaminya itu, saya berusaha untuk mengerti. Sekarang, bertahun-tahun setelahnya, saat ternyata suami saya pun punya pemikiran yang sama, saya sudah tidak kebingungan. Saya tahu larangan suami saya itu bukan hanya sekedar iseng, ada rasa sayang dan peduli yang begitu besar terlibat di dalamnya. Seperti yang saya tulis di atas tadi, pastinya nggak mudah baginya melihat saya harus meredupkan satu mimpi demi dia. Bagi saya cobaan terbesar adalah saat harus melihat teman-teman saya tampil on the stage that could also be my stage. And the fact that there will be no more stage on my life, beside those karaoke room😛

Tapi, tak pernah ada batas untuk mimpi bukan? Saat satu mimpi harus diredupkan, mimpi yang lain masih tetap menari-nari ceria di masa depan sana untuk dicapai.

One thought on “The Stage

  1. Pingback: [30 Days Challenge] Day 1: Write Some Basic Things About Yourself | A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s