New Life

Barusan saya blog walking ke banyak blog, truss tiba-tiba keinget kalau udah lama banget nggak update blog ini. Astaga jumaga, what did i do? I’m so sory my lovely blog😦

So, the new life has come. I am a wife now and sooo happy to say that. It’s like a dream come true. I always knew this is what i want for my life and fortunately i found the right guy to share. Then, the story goes…

Sejak tanggal 3 Maret yang lalu status saya berganti, sudah tak lagi menjadi tanggung jawab ande dan bapak. Saya resmi menjadi istri dari mantan pacar saya (klise yah :P) Bapak Reza Ihsan. Rasanya masih geli sendiri menyebut Reza sebagai suami saya. One day di bank, saat ingin membuat buku tabungan baru untuk Reza (karena yang lama silab entah di mana), ada sensasi berbeda di perut saya ketika mengatakan “Ini, suami saya  kehilangan buku tabungan” pada customer service. Saya lirik cincin yang melingkar di jari manis tangan kanan saya dan perasaan aneh itu muncul lagi. Ternyata begini rasanya menjadi istri.

Masih teringat di benak saya saat seorang teman yang baru saja menikah dengan laki-laki yang sudah dipacarinya bertahun-tahun bercerita pada saya. Katanya setelah pernikahan ia langsung terkaget-kaget dengan kebiasaan suaminya yang tak ia ketahui saat mereka masih berpacaran. Saya, anehnya tidak merasakan hal tersebut (atau belum?). Tentu ada beberapa hal tentang Reza yang baru saya ketahui setelah menikah dengannya. Namun kata terkaget-kaget rasanya terlalu berlebihan untuk menggambarkan kondisi tersebut. Semoga Allah selalu memberkahi keluarga kecil kami ini. Amin.

Saya selalu menilai diri saya sebagai anak yang malas ketika sudah sampai di rumah. Dalam hal pekerjaan, saya Insya Allah adalah pegawai yang bertanggung jawab *uhuk*. Tapi kalau sudah sampai rumah lagi, saya kembali malas. Sebegitu banyak waktu luang yang saya miliki, biasanya saya habiskan di dalam kamar. Tidur, makan, nonton, membaca, semua saya lakukan di dalam kamar. Di atas tempat tidur (ehem, ketauan deh). Saat masih jomblo dulu, saya pernah membayangkan akan menjadi istri macam apa saya setelah menikah. Saya nggak terlalu bisa bangun pagi, baru akan bangun ketika subuh hampir berakhir. Setelah shalat subuh, barulah saya mandi, lalu langsung bersiap berangkat bekerja. Terkadang bahkan menambahkan waktu tidur lagi setelah shalat. Tak terbayangkan jika harus menyisipkan waktu untuk mempersiapkan ini itu sarapan untuk suami. Terbayang bagaimana chaosnya nanti, atau jangan-jangan saya nggak akan punya waktu untuk itu.

Tapi Alhamdulillah ternyata saya bisa mengatasi hal tersebut. Saya masih sempat membuatkan suami protein campur susu setiap pagi sebelum berangkat kerja. Ini membuat perasaan saya lebih baik, daripada membiarkan perut suami saya kosong sama sekali. Ternyata menyenangkan memiliki kegiatan yang lebih banyak untuk dilakukan. Ternyata saya tidak semalas itu juga kok. Ahahahaha.. boleh dong puji diri sendiri😛 Misi selanjutnya adalah lebih sering memasak, karena selama ini suami masih lebih sering makan masakan ande.

Tapi misi tersebut masih harus saya simpan dulu sejenak, karena sejak dua hari yang lalu Reza sudah harus kembali ke Jambi untuk melanjutkan pekerjaannya. Akhirnya kesampaian juga saya membantu Reza packing, sempat mendambakan hal ini sejak kami berpacaran dulu. Simple things indeed could make you very happy😀 Yah, meskipun packingnya sambil menahan sesak juga sih. Di hari keberangkatannya ke Jambi saya menelfon ande (yang saat itu nggak ada di rumah) dengan menangis tersedak-sedak (saking kejernya). It’s a good thing i called my mom first before i called my husband. Saya bener-bener kayak anak kecil yang ngambek nggak mau ditinggal sendirian. Saya mengeluh berkali-kali, kesal dengan kondisi yang harus kami lewati. Tapi nasihat ande dan nasihat Reza di hari sebelumnya mampu menenangkan kembali hati saya. Maybe it’s only PMS. Sesaat setelah menelfon ande sambil nangis tersedak-sedak itu, saya telfon suami saya (yang sudah di perjalanan menuju bandara) sambil akting ceria. Saya yakin suami saya tau kalau saya sedang berakting. I usually am a good actress, but at that time i could’t hide my feeling at all. Dan yah, terjadi kembalilah hal tersebut. Another long distance relationship.

Ah, saya nggak mau menutup postingan ini dengan rasa sendu seperti di atas. I just want to say, despite all this LDR thingy, i feel really happy being married. Looking forward to more exciting experience ahead. Masih banyak yang harus saya pelajari, masih banyak yang harus kami lewati. Seperti yang selalu mereka semua bilang (jangan tanya saya mereka itu siapa, pokoknya jangan), ini adalah awal baru bagi kehidupan kami.

Sekarang saya sudah punya keluarga kecil sendiri. Kelak, akan ada undangan datang khusus untuk kami, bertuliskan Kepada Yth. Bapak Reza Ihsan dan Istri. Kelak akan ada janin-janin tumbuh di dalam rahim saya (amin yaa Rabb), lalu hadirlah Reza dan Asiah kecil berlarian di rumah kami sendiri (Amin lagi). Lalu saya akan menjadi seorang istri dan ibu yang sibuk memasak untuk keluarga dan mengantar anak ke sekolah lalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang selama ini hampir nggak pernah saya lakukan mwehehehe.. Lalu saya dan Reza akan punya bisnis sendiri. Haish haish.. masih selalu deg-deg an dengan hal yang terakhir itu. Tapi saya tahu saya selalu ingin membuka sebuah restoran. Semoga Allah memberi restu pada impian saya itu, Amin. Meski sejujurnya saya masih suka takut sendiri kalau dengar kata bisnis😛

Jadi intinya ya itu tadi, saya bahagia😉

ciao,

Bee

5 thoughts on “New Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s