Never Before Solo Trip

Solo, sudah seperti kampung halaman kedua saya. Sejak kecil dulu, setiap lebaran saya dan keluarga hampir selalu ke Solo. Walaupun “pulang kampung” dalam kamus saya masih punya arti pergi ke Silungkang, tapi sampai saat ini Solo masih jadi destinasi paling utama setiap liburan datang. Seperti liburan kali ini, apalagi liburan kali ini sih lebih tepatnya lagi, di mana sudah ada baby Sholih yang menjadi tokoh paling ingin dikunjungi di sana😀

The most wanted baby Sholih

Tapi kunjungan kali ini bisa dibilang berbeda, karena untuk pertama kalinya saya merasakan pengalaman jalan-jalan sebagai turis bersama dua orang teman saya Jia Effendie dan Rahne Putri. Sebenarnya saya sempat membaca salah satu update twitter Rahne tentang rencananya berlibur ke Solo. Tapi saat itu keluarga saya belum memutuskan waktu fix berangkat ke sana, jadi nggak berani kasih komentar dulu. Singkat cerita, ternyata rencana Rahne ke Solo itu bertepatan dengan waktu yang ande dan bapak saya ajukan, saya langsung kegirangan. Ditambah lagi berita baru kalau Jia juga mau ikut berlibur bareng Rahne. Tadinya mau banget menawari mereka tumpangan ke Solo, tapi saya kan pergi sama keluarga dan anggota keluarga saya nggak sedikit, alhasil kurang ruang deh di mobil, jadi urung kasih tumpangan *sigh*.

Berangkat dari Depok hari Jum’at sekitar jam dua pagi, kami sampai Solo sekitar jam 9 malamnya (masih di hari yang sama). Perjalanan terhitung lancar, hanya bertemu beberapa kali kemacetan karena ada kecelakaan dan saat memasuki kawasan Kota di Semarang, yah sudah biasa sih yang seperti itu. Sampai Solo saya langsung memantau perjalanan Jia dan Rahne yang karena nggak mendapat tiket kereta (dan menolak beli tiket pesawat, due to the highly price peak season) akhirnya memilih berangkat naik travel. Pegel banget menyimak cerita perjalanan mereka yang nggak sampai-sampai itu via twitter. Agak panjang kalau mau diceritakan di sini, coba baca saja cerita lengkapnya di blog Jia ini.

Rencana untuk langsung jalan-jalan bareng mereka di hari Sabtu pupus sudah. Saya menghabiskan hari sabtu itu hanya dengan dua agenda. Agenda pertama adalah sarapan dimsum di Hotel Diamond (Jl. Slamet Riyadi No. 392). Kalau ke Solo, agenda ini adalah yang paling utama. Banyak orang mengusulkan untuk sarapan sego liwet atau beli serabi Notosuman, atau makan soto Triwindu, dll. Bagi saya kalau ke Solo sangatlah rugi kalau nggak makan dimsum di Hotel Diamond ini. Dimsum nya enak banget, kualitas hotel gitulah. Porsinya gede dan ingredients yang dipakai juga yang kualitas nomor satu. Harganya juga murah, mengingat ada diskon-diskon tertentu yang mereka berikan setiap harinya. Up to 50% loh, lumayan kan satu porsi dimsum hotel harganya bisa sampai IDR 10k, kapan lagi?

Agenda kedua adalah marathon serial variety show Running Man nya Korea. Dapet serial ini dari Kiki dan nggak bisa berhenti ketawa nontonnya. I think i wanna make a very own review for this variety show, since i consider this as a genius way to promote a country. So, stay tune😉

Okay, setelah never ending on the road moment, akhirnya Rahne dan Jia sampai juga di Solo, hari sabtu malam lebih tepatnya. Besoknya saya menghampiri mereka ke hotel tempat mereka menginap, di Jalan Cakra. Dari Hotel Cakra tersebut, kami jalan kaki mencari sarapan menuju Jl. Slamet Riyadi. Saya sempat bingung karena Solo terlihat lengang dan beberapa tempat makan nggak buka. Biasanya di sudut-sudut jalan pasti ada aja mbok-mbok yang jualan sego liwet atau nasi kucing dengan banyak gorengan. Kok hari itu sepi banget. Belakangan kami baru ingat kalau hari itu adalah hari minggu dan bertepatan dengan hari natal pulak, pantas saja banyak toko yang tutup. Akhirnya kami diselamatkan oleh dua orang follower teman twitter Rahne (salah satunya ternyata sahabatnya Alvin) yang begitu baiknya mau menyusul kami dan menemani sarapan di Soto Triwindu. Sotonya enak, ya seperti soto-soto di Solo lah. Lauk tambahan yang biasanya ramai (ada perkedel, bakwan, sosis solo, sate ampela, tahu petis, sate telor puyuh, tempe mendoan, dll) kemarin cuma tersisa tempe dan tahu goreng saja. Tapi kami sudah puas dengan itu, karena rasa tempe gorengnya the best banget, bumbunya itu lho bisa banget meresap sampai ke dalam-dalam. Nyummo deh pokoknya. Saya makan soto daging dengan tempe goreng satu buah, plus minum es teh manis, semuanya cuma habis IDR 12.5 k aja.

Sehabis dari sana kami diajak mengunjungi Pasar Triwindu yang khusus menjual barang-barang antik. Rahne seneng banget diajak ke sini, dia malah beli ‘jam waker’ (baru sadar kata ini ada kemungkinan punya arti ‘jam untuk membangunkan’ :P) yang nggak perlu baterai. Jam semacam itu dulu pernah saya temukan di kamar salah satu tante saya dulu (waktu dia masih gadis, sekarang sudah punya anak tiga). Bentuknya persis sama, atau jangan-jangan itu memang jam tante saya yang dijual ke penjual di pasar itu? Halah, ribet!😛

Setelah itu kami bergegas ke kantor dinas perhubungan kota Solo untuk ikut tour keliling kota Solo naik bis double decker Werkudara.

Bertahun-tahun liburan ke Solo, baru kali ini ada touring semacam ini. Bapak Joko Widodo, Walikota Solo yang tersohor itu memang kelihatan banget yah hebatnya. Sebelum beliau menjabat, mana ada inovasi semacam ini di Solo. Sayang banget kalo untuk periode selanjutnya beliau harus turun dari jabatannya, siapa yang bisa menggantikan? Yah, time will tell lah. Rahne dan Jia terlihat excited banget dengan tour ini. Bagi saya ini juga merupakan pengalaman baru. Begitu sampai kami langsung naik ke bagian atas bis untuk mencari tempat duduk yang strategis, kami duduk di bangku paling belakang dan bisa melihat pamandangan di luar bis dengan saaangat jelas. Tapi efek dari jendela yang terbuka lama muncul. Badan mulai terasa kebanyakan angin, beruntung Rahne punya stok tolak angin lumayan banyak di tas nya. Terselamatkanlah saya😀

Setelah dua jam hampir masuk angin keliling kota Solo dan kembali lagi di kantor dinas perhubungan, kami melanjutkan perjalanan menuju taman Sriwedari. Di dalam taman ini ada sebuah arena bernama Tempat Hiburan Rakyat Sriwedari.

Harga tiket masuknya murah banget, tuh kelihatan kan di gambar di atas. Di dalamnya ada arena mainan anak-anak dan sebuah panggung besar yang saat itu sedang dipakai tampil sebuah band remaja (seumuran murid-murid saya) yang menampilkan lagu-lagu mereka sendiri yang hampir di setiap lagu ada kata sahabatnya hmmphh.. *tertawa tertahan*. Dulu waktu kecil (sebelum tau ada dimsum enak di hotel Diamond) saya dan sepupu-sepupu selalu merengek main di tempat ini. Wahana favourite kami adalah bom bom car. Uang bapak hampir selalu habis di tempat ini, since setiap wahana membutuhkan tiket sendiri (mereka nggak sedia tiket terusan semacam di dufan :P) dan jumlah sepupu saya juga buanyak banget, tiketnya bapak semua yang bayarin ngahahaha… Going to this place brings back those memories. I almost drop a tear here.

Lalu kemudian saya menemukan wahana ini, Rumah Hantu, langsung excited mengajak Rahne dan Jia main wahana ini, beli tiketnya (seorang IDR 5k) dan berjalan riang mendekati tempat wahana.

Ternyata kosong, mana ini mas-mas yang jaga? Karena kebelet pee pee, saya akhirnya pamit ke toilet dulu. Sekembalinya dari sana, sudah ada dua anak kecil bergabung dengan Jia dan Rahne ketakutan di ruang tunggu. Mas-mas mekaniknya juga sudah hadir. Bersiaplah kami semua menuju kereta kecil yang nantinya akan membawa kami masuk ke dalam ruangan penuh hantu imitasi itu. Saya girang sendirian, Rahne dan Jia sibuk ketakutan dan berbagi perasaan ngeri mereka di timeline twitter, si dua anak kecil juga sibuk meyakinkan diri mereka sendiri kalau wahana itu cuma bohongan, nggak ada hantu beneran di dalam sana, pemandangan yang lucu sekali. Ketika kereta mulai bergerak, dua anak kecil yang duduk di kereta paling depan berteriak ketakutan, karena kereta mereka bergerak sendiri, nggak diikuti kereta Jia dan Rahne di belakangnya. Spontan mereka melompat keluar dari bangku mereka, mas-mas mekanik menekan tombol berhenti dari mejanya. Saya akhirnya berpindah duduk di bangku mereka menemani ke dalam. Sampai di dalam kedua anak itu nggak berhenti berteriak sambil mencengkram tangan saya. Saya sendiri? sibuk foto-foto sambil tertawa geli. Rahne dan Jia di belakang sana entah sedang sibuk apa, sesekali saya mendengar mereka berteriak ketakutan. It was really fun, yet really funny *LOL*.

Setelah berkeliling sebentar di arena bermain anak-anak itu, kami memutuskan untuk bergerak ke tempat selanjutnya. Berputar-putar mencari Museum Batik, kami sampai di pertigaan dekat rumah Tuo (tante) saya, tempat saya menginap. Saya melihat sebuah baliho besar memampangkan beberapa gabar makanan beserta harganya yang berkisar IDR 2k sampai IDR 5k. Ada sebuah makanan yang menarik minat saya. Jadah londo (uli bakar disiram dengan saus oncom) seharga IDR 4.5k saja. Hooo… saya langsung mengajak Rahne dan Jia berkunjung sebentar.

Tempat itu bernama Waroeng Djadoel, terletak tepat di atas sebuah butik di pertigaan sebelum pasar kembang Klewer. Menu yang ditawarkan beragam banget, kebanyakan sih makanan untuk ngemil semacam kentang goreng, sosis goreng, jamur goreng, dan heee?? ke mana itu Jadah Londo yang saya incar? di buku menu, pilihan itu ditutupi sticker besar. Ternyata menu itu nggak lagi tersedia di sana. Saya kecewa berat😦 Akhirnya kami memesan kentang, sosis, dan jamur goreng untuk menemani teh tarrik dan sekoteng hangat. Oh, Jia juga sempat memesan pecel yang datangnya lamaaa banget. The taste is not that impressive, despite the price that could only give you some cracker in Jakarta😛 Yah, apa sih yang kamu harapkan dari harga semurah itu. Tapi tempat itu cocok banget untuk ngopi-ngopi bareng teman-teman sambil bergossip ria. Atau seperti yang beberapa tamu di sana lakukan, mengundang klien atau prospekan MLM😛

Selesai makan, saya akhirnya memutuskan untuk pamit pulang sedangkan Rahne dan Jia melanjutkan petualangan mereka. I just can’t wait to see their post about the whole experience. Please do write it Ne, Jie😀

Malamnya, setelah menahan lapar dan penundaan yang seperti nggak berujung, akhirnya saya dan keluarga makan malam di sebuah Resto bernama Kusuma Sari. Letaknya nggak jauh dari Hotel Cakra tempat Jia dan Rahne menginap. Sejak dulu saya dan keluarga besar memang sering makan di tempat ini, dan baru kali ini juga saya benar-benar memperhatikan menu dan harga yang mereka tawarkan.

Menawarkan berbagai jenis makanan, dari sapi tumis lada hitam, sampai berbagai steak, juga ada nasi goreng, dan cemilan semacam kroket dan risol, ditambah lagi berbagai macam minuman dan ice cream. Kusuma Sari seperti one stop resto gitu. Harga makanannya juga nggak bikin dompet serasa kerampokan. Rasa makanannya sih ya standard aja. Saya memesan Chicken Maryland steak, yaitu ayam berbalut tepung yang digoreng lalu disiram kuah entah apa. Rasanya ya begitu, seperti ayam berbalut tepung yang digoreng lalu disiram kuah entah apa hehehe😛 Pulang dengan perasaan sangat happy karena berkesempatan untuk menggendong Sholih dari Kusuma Sari sampai berkeliling ke rumah nenek dan Tuo😀

Besoknya, sekitar jam empat pagi, saya, bapak, dan Aziz sudah bertolak lagi ke Jakarta. The time to enjoy Solo was as usual not enough. Saya masih belum mencicipi gudeg ceker dini hari itu, truss minum susu di Shi Jack juga belum. But i can still enjoy it next time. Hopefully at that time i’ll be already married, amien hehe😀 Dan semoga di kunjungan berikutnya itu, Solo sudah lebih baik lagi, terutama mental rakyatnya untuk menerima arus wisatawan yang surely melonjak tinggi.

Fiuh.. beneran panjang banget deh postingan ini. Yah begitulah, my never before Solo Trip. Akhirnya, setelah sekian lama, bisa juga menikmati Solo sebagai turis.

See you on the next trip😉

Bee

*saatnya nonton ulang Running Man :P*

4 thoughts on “Never Before Solo Trip

  1. Pingback: And So It Was… « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s