Late Post (Friday Night)

By that title, i mean is last weekend.😛

Jadi internet di rumah nyala dan mati selama beberapa hari ini. Barusan teknisi speedy-nya datang ke rumah dan bilang kalau kabel internetnya (lagi-lagi) digigit tikus. Argh!! Emang nyebelin banget deh tikus-tikus di rumah ini😦 Padahal saya banyak melakukan hal yang seru di akhir pekan yang lalu. Jadi telat banget kan posting nya😦

Tapi customer service speedy cukup bisa diandalkan yah. Saya, kalau ada masalah dengan koneksi di rumah bisa langsung mention @DhaniSpeedy di twitter. Nggak perlu menunggu lama komplain saya langsung ditanggapi. Awalnya mereka tanya dulu nomor speedy atau nomor telfon yang dipasangi speedy. Lalu mereka akan meneruskan keluhan ke unit teknis. Kalau masalah nggak bisa diselesaikan dari sana, mereka akan langsung kirim teknisi ke rumah. Gratis, kecuali kalau memang ada alat yang harus diganti. Seperti saya, kabel internet digigit tikus, ya ganti biaya kabel baru, begitu. Thanks deh ya, siapapun kamu, @DhaniSpeedy😀

ANYWAY.. mari kita kembali pada topik utama.

MIMPI: pertunjukkan dari Teater Tetas

Hari Jum’at minggu lalu, tepatnya tanggal 9 Desember 2011 Tasya dan teater Tetasnya menggelar pertunjukkan terbaru mereka yang berjudul mimpi. Pertama kali nonton pertunjukkan Teater Tetas adalah bulan Februari tahun lalu, saya baru saja pulang dari Solo dalam sebuah fase kontemplasi dan langsung ditodong Macha untuk nonton pertunjukkannya. Dan kali ini ceritanya hampir sama.

Sudah beberapa kali saya ketemu Macha dengan lebam-lebam biru bertebaran di sekujur badannya. Kalau sudah begitu, bisa dipastikan itu adalah hasil latihan intensif dengan Teater Tetas. Dan beberapa bulan belakangan lebam biru itu muncul lagi, dan benar saja, akhir Nopember yang lalu Macha mengundang saya via bbm untuk datang ke pertunjukan ini. Kali ini berjudul MIMPI, disutradarai oleh seorang prfesor musik dari Austria bernama Werner Schulze. Tidak seperti tahun lalu, pertunjukan mereka kali ini bersifat absurd dan perlu proses pemikiran yang agak lama untuk bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan. Di akhir acara, saat kami bertemu Macha di luar panggung, dia mengaku bahwa dia pun tak begitu mengerti dengan jalan berfikir si Sutradara dari Austria ini, hmm.. saya rasa dia hanya merendahkan diri saja. Macha gitu, dia kan punya pemikiran yang sama absurd-nya hehe..😛 *peace Cha*

Saya datang bersama Jia. Awalnya kami berencana untuk menghadiri acara Gerakan Indonesia Membaca Sastra terlebih dahulu di Cikini. Tapi karena ada distraksi yang cukup memakan waktu lama di kost Jia, akhirnya kami terlambat  berangkat dan sudah tidak sempat lagi mampir dulu ke Cikini.

Ah! saya ingin bercerita dulu tentang distraksi ini. Hari Jum’at yang lalu, berlokasi di kamar kost Jia, saya mendapat kejutan manis. Saya lebih dulu datang ke lokasi, karena Jia masih di perjalanan pulang dari kantor. Saat muncul, Jia bukannya mempersilahkan saya yang sudah berkeringat kepanasan untuk masuk kamar, malah disuruh menunggu lebih lama. Katanya ada kado yang belum dibungkus. Ini aneh banget deh, memang sih sejak saya masih di rumah Jia sudah lebih dulu bilang bahwa dia punya kado buat saya. Tapi ya sudah sih, nggak usah dibungkus juga kalo nggak sempet, toh nantinya juga akan saya buka lagi. Ternyata eh ternyata, bungkus kadonya pun dipilihkan khusus untuk saya. Hwaaa.. terharuuuu :’)

She gave me yellow pashmina and a cook book. I was thrilled that time, bener-bener teriak kegirangan kayak anak kecil. Belum ada yang pernah memberi saya buku masakan sebelumnya. Saya masih ingat saat melihat seorang teman kuliah saya dihadiadi sebuah buku masakan dengan tema Pasta dari salah satu dosen, saya hampir mati karena iri *OK that was too much*😛 Dan kemarin Jia menghadiahi saya buku ini. Gimana nggak mau teriak-teriak kegirangan coba? Hari Jum’at dan sabtu itu saya menginap di kost Jia. Di hari minggu malamnya saat kembali tidur di kamar sendiri, saya tidur dengan memeluk buku ini, hahahaha..

So, that was the distraction, sekitar jam setengah 6 sore kami baru berangkat menuju TIM. Macet setengah mati di sebuah jalan menuju Mampang, saya dan Jia sampai turun dari bis dan memutuskan untuk jalan kaki dan mencari taksi. Sampai di TIM kami kelaparan, memutuskan untuk beli tiket terlebih dahulu lalu cari makan. Jia membawa saya ke sebuah kios makan yang menyediakan menu Ayam bakar goreng. Yah, kamu nggak salah baca, ada dua keterangan proses pemasakan ayam di sana😛 Atas rekomendasi Jia yang bilang kalau menu itu enak banget, akhirnya saya pesan itu. Setelah datang penampakannya seperti ini…

Ternyata ini adalah ayam yang dibumbui dengan rempah-rempah untuk ayam bakar, lalu digoreng lagi. Disajikan dengan satu porsi besar nasi putih, sambel, lalapan dan kremes kelapa. Everything was just perfect. Saya yang biasanya sangat menghindari nasi putih di malam hari, sampai nggak bisa bertahan dan berakhir dengan menghabiskan satu porsi itu sendirian. Ack!! sejak saat itu perut saya nggak pernah berhenti kelaparan kalau malam hari, NO.. bukan salah ayam ini kok, memang perut saya saja yang aneh -_____-

Kembali ke Teater Mini Taman Ismail Marzuki, kami bertemu Anji di pintu masuk teater. Dia mengucapkan selamat ulang tahun pada saya yang melompat-lompat kecil menahan kantung kemih yang kepenuhan😀 Saya dan Jia, dengan rekomendasi salah satu panitia, mendapat duduk di posisi yang strategis. Kami bisa melihat semua yang terjadi di panggung dengan sangat sempurna. Walaupun orang-orang di depan kami berisik sekali dengan gadget mereka masing-masing, Jia sampai menegur salah satu dari mereka untuk diam hahaha..

Secara keseluruhan pertunjukannya berlangsung lancar. Selama dua jam itu mata dan telinga saya dimanjakan dengan tampilan yang epic. Para personil Teater Tetas ini lentur-lentur sekali ya badannya. Dan yang laki-laki kekar-kekar sekali yah. Dengan segala ke-absurd-an yang sulit saya mengerti -salah satu penonoton di kursi depan saya malah ada yang berbisik ke teman di sebelahnya “Eh, emang lo ngerti ini ceritanya tentang apa?” :-))) – saya cukup terhibur.

Jadi, itu yang terjadi di Jum’at malam satu minggu yang lalu. Sepertinya kepanjangan yah kalau saya sertakan yang terjadi di hari sabtu dan minggu. So, mari kita sambung lagi di post selanjutnya. Adios😉

Bee

ps: Kalau mau makan di Ayam bakar goreng TIM, dan kamu lebih suka ayam bagian paha, jangan lupa pesan khusus yah. Soalnya default di sana adalah ayam bagian dada. I just can’t understand why. *suara si penyuka paha*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s