[Beijing Fall, 2011] The Food and The Shopping Experience

The Food

Food I ate

Tentu saja susah banget cari makanan halal di sini. Karena pertanyaan “Makanan ini pakai pork atau nggak?” aja belum cukup. Tidak mengandung daging babi kan bukan berarti bebas dari minyak babi atau unsur-unsur daging tidak halal tersebut. Not to mention yang juga ditambah arak atau angciu sebagai pewanginya. Jadi kalimat yang paling ampuh ketika kita berkunjung ke Beijing tidak dengan rombongan muslim adalah “Bismillah aja yah” hahaha.. *huks*

Itulah kiranya yang terjadi selama lima hari saya menetap di sana. Rasanya iri banget lihat catatan Ollie tentang pengalaman jalan-jalannya ke Beijing, yang sesuai dengan judul, semuanya tampak Worry Free. Kalau saya, makanan yang sudah terjamin kehalalannya cuma didapatkan di pesawat. Selebihnya ya Bismillah dan nikmati saja.

Yoshinoya

Hari pertama tiba di Beijing, saya dan teman-teman memilih makan di salah satu fastfood dekat hotel, Yoshinoya. Saya memilih paket nasi dengan ayam katsu dan sayuran. Yang saya suka cuma rasa nasinya yang pulen saja. Ayamnya seperti kurang matang dan sayurnya seperti hanya ditumis dengan minyak dan garam saja. Bagi saya yang gemar memasak dan uji coba rasa, yah well cuma bisa berdecak kecewa saja.

Bebek Peking

Makanan selanjutnya yang saya coba adalah Bebek Peking di sebuah resto yang terletak di dalam Jalan Wangfujing. Ketika sebagian dari teman-teman saya asyik berbelanja di toko-toko branded di sana, saya, Dheya, dan Renna memutuskan untuk mencicipi salah satu makanan yang harus dicicipi sebelum kita mati ini. Sebenarnya menu bebek Peking sudah sering saya temui di berbagai undangan pesta pernikahan. Tapi Bebek Peking di resto ini memang oke punya. Kami bertiga memesan porsi setengah bebek. Daging dan kulitnya dipisahkan oleh si bapak penyaji. Yang saya cicipi terlebih dahulu tentunya adalah bagian kulit. OH MY GOD!! it was heaven! crunchy banget, truss pas digigit keluarlah itu minyak alami dari si bebek. Mau dimakan begitu aja, atau dibungkus dengan semacam tortila-nya, sama enaknya. Seharusnya orang Cina mengubah pepatah mereka jadi 不 吃 北 京 烤 鸭 非 好 汉 (belum jadi orang Cina sejati kalau belum makan bebek Peking ;)). Definitely worth the price. Daging bebeknya pun rasanya lembut dan dipadu dengan saus khusus yang mereka sediakan, saya mau deh seharian itu nggak makan apa-apa lagi selain bebek ini.

Sebelum makan bebek Peking ini, pengalaman kuliner saya sempat kembali rusak ketika makan pangsit isi di Tembok Besar Cina. Karena sudah terlalu lapar, akhirnya apapun dimakan deh daripada maag kumat. Salah satu bahan yang dipakai untuk pangsit isi di tempat makan ini adalah coriander. Saya nggak suka banget rasa herba yang satu itu, bikin pusing.

Korean Fried Chicken

Di malam hari pertama, sepulang dari Beijing Olympic Stadium, kami sempat dibawa (oleh Ali) ke salah satu resto Korea. Di sana kami memesan ayam goreng yang menjadi menu rekomendasi dari Ali. Selain itu kami juga memesan sup yang disajikan di pot raksasa dan sebuah menu andalan resto tersebut, ayam dengan bumbu pedas luarrr binasa. Ayam goreng yang direkomendasikan oleh Ali rasanya nyummo banget, ditambah lagi sambal cocolan sebagai extra-nya. Tapi dua menu lainnya biasa aja. Ayam bumbu pedas luar binasa itu akhirnya nggak ada yang makan. Rugi bandar! nyesel banget mesennya. Apa banget deh pedesnya kayak mau ngebunuh lidah. Truss sup raksasanya malah kayak kurang bumbu. Rasanya pengen banget mengulang hari itu dan mesen hanya 3 porsi besar ayam goreng dan nasi aja. The fried chicken is to die for. Duh ini jadi terbayang-bayang lagi deh sekarang. I want my Korean fried chicken.

Di resto Korea itu kami nggak lupa memesan nasi putih tambahan untuk dibawa ke Hotel. Jangan pernah mengira akan sangat mudah menemukan nasi putih di Beijing saudara-saudara. Itu semua hanyalah mitos. Nggak seperti warteg-warteg di sini yang menjual nasi kosongan (tanpa lauk), kita akan disambut dengan gelengan tegas saat meminta nasi kosongan di warung makan pinggir jalan di Beijing. Harus beli sama lauknya sekalian, bisa minta nasi tambahan sih, tapi kan tetep aja mubazir lauknya. Nggak jelas juga halal atau nggaknya.

Bekal dari rumah

Selama beberapa kali makan siang, saya memakan nasi kosongan ini dengan lauk yang saya bawa dari rumah. Tadinya ande mau membekali saya daging dendeng atau rendang. Tapi ujung-ujungnya cuma dibawain mie instant tuh😀. Telur rebus di dalam gambar, saya dapat dari hasil mencuri-curi bungkus menu sarapan hotel. Dan Tao Kae Noi ini terinspirasi dari bekal Azizah dan Imam waktu perjalanan ke Solo lebaran kemarin. Mie instant nya diseduh di gelas hotel yang Alhamdulillahnya besar dan mumpuni itu. Dengan menu yang kayak gini, saya rasa sensasi kenyangnya datang justru dari euphoria makan bekal dari rumah di negeri orang hehehe..😛

The Shopping Experience

The Wangfujing Street

Emang dasar tukang makan ya, segitu panjangnya ngejabarin pengalaman makan di negeri orang. Nah nggak usah berharap banyak dari cerita belanja saya di sana. Melati teman saya yang ikut pada rombongan ini sepertinya punya lebih banyak cerita. Tapi saya akui harga barang-barang di Cina murah-murah sekali. Meskipun mereka terkenal dengan negara peniru yang sangat handal. Saya akui barang-barang tiruan mereka tidak terlihat murahan sama sekali.

Wangfujing adalah salah satu pusat perbelanjaan yang kami kunjungi. Saya pribadi sempat dua kali mengunjungi tempat ini. Pertama saat nggak bawa banyak uang dan belum tau mau ngeluarin uang berapa untuk ngirim paket buku ke Indonesia, jadinya harus berhemat. Kali kedua adalah saat semua urusan kirim paket sudah beres dan dapat uang saku pulak dari panitia. Sebagian besar oleh-oleh saya beli di sini. Lumayanlah, nggak sampai 100 yuan sudah bisa beli oleh-oleh untuk semua orang.

Di hari ke empat, saya, Ratih, dan Diana pergi ke salah satu pertokoan yang menjual berbagai barang fashion dari tas, baju, sepatu, kacamata, sampai aksesori iPhone dan iPad. Di sini saya akhirnya bisa juga belanja untuk diri sendiri haha.. Karena tempat ini adalah tempat para mahasiswa biasa belanja, jadi harganya juga murah-murah. Ali yang merekomendasikan tempat ini pada kami.

Sempat ada cerita menarik di tempat belanja ini. Teman saya mewanti-wanti sejak awal sampai ke Beijing. Kalau mau belanja di sini menawar harga jangan tanggung-tanggung. Kalau di Indonesia kita biasa menawar dengan menurunkan harga beli sampai 50% dari yang ditawarkan, di Beijing tawarlah lebih rendah dari itu. Saya nekat mempraktekkan teori ini di salah satu toko legging. Awalnya tentu saya pegang-pegang dulu dong legging itu, lalu mendekatlah si ibu-ibu pemilik toko dengan alat andalan mereka, kalkulator. Nggak pakai saya tanya berapa harga legging itu, si ibu ini sudah menyodorkan kalkulator itu ke arah saya. Angka 50 tertera di sana. Oke, saya tawarlah legging itu dengan harga 15 yuan, dengan bahasa Cina. Si ibu menyingkirkan kalkulatornya. Bilang oke deh bisa 15. Saya kaget dong, kok bisa semudah itu dia kasih barang itu ke saya? Saya bilang aja, kalau 15 oke saya ambil 3. Truss dia ambil lagi kalkulatornya, angka 150 dia ketik di sana. Lho? ya saya bingung lagi dong. Kalo satunya 15, kenapa 3 bisa jadi 150? itungan dari mana? Si ibu itu terlihat ikut kebingungan bersama saya. Ujung-ujungnya dia menyuruh saya menunjukkan kepada dia uang 15 yuan yang saya maksud. Ibu itu langsung melotot dan meneriaki saya “Sudah gila ya? kamu berasal dari mana sih? ha? becanda kali!” begitulah kiranya terjemahan bebasnya. Saya senyum-senyum saja santai, lalu pergi menjauh dari toko itu.

Usut punya usut ternyata ada kesalah pahaman antara saya dan ibu itu. Saya menawar barang yang dia jual dengan mata uang Cina (renminbi) tentunya. Tapi ibu itu mengira saya akan bayar dengan Dollar Amerika. Lho? saya ini orang Indonesia bu, mau saya bayar pake rupiah, gimana? Kejadian ini sempat membuat saya kehilangan Ratih dan Diana. Tapi karena jilbab yang saya pakai, ketika Diana dan Ratih bertanya pada salah satu penjual, mereka langsung bisa mengenali saya. Hehehe.. ada untungnya juga jadi minoritas di tempat itu😛

Begitulah kiranya kisah perjalanan saya di Beijing selama lima hari kemarin. I am looking forward for another chance of going abroad for free. Apalagi ditambah dengan ilmu dan buku-buku yang bisa dibawa pulang. Thankyou Allah for YOUR blessings on me.

Bee

2 thoughts on “[Beijing Fall, 2011] The Food and The Shopping Experience

  1. Pingback: And So It Was… « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s