[Beijing Fall, 2011] Leisure

Lima hari di Beijing tentu saja nggak cukup untuk meng-eksplore Beijing. What to expect? sejak awal keberangkatan, berlibur memang bukan sama sekali tujuan saya. Mungkin karena semua biaya ditanggung penyelenggara, saya merasa sudah menjadi kewajiban untuk mengikuti semua acara yang sudah dijadualkan sejak awal. Dan memang semua pelatihan yang diadakan sangat bermanfaat, ditambah lagi peserta pelatihan yang tak lain adalah guru-guru bahasa mandarin dari berbagai negara. Jadi begitu banyak masukan datang dari mereka. Menyenangkan sekali bisa berbagi seperti itu. Semoga acara semacam ini lebih sering diadakan.

Pelatihan biasanya berakhir pada pukul empat sore waktu setempat, setiap harinya. Kami masih punya begitu banyak waktu untuk pergi berkeliling. Di hari pertama, saya dan teman-teman memutuskan untuk mengunjungi bangunan yang baru saja berfungsi di tahun 2008 yang lalu. Apa lagi kalau bukan Beijing National Stadium.

Beijing National Stadium (Bird Nest)

Kami pergi naik taksi, karena nggak mungkin satu taksinya menampung sampai 6 orang, jadilah kami berpisah. Saya bertiga dengan Mela dan Renna, sedangkan 3 orang teman lagi (Dheya, Ratih, Diana) naik taksi yang lain. Kami nggak sempat menikmati kunjungan malam itu, karena dua rombongan yang terpisah ini malah nggak bertemu di lokasi. Saya, Mela dan Rena yang sudah sampai di lokasi terlebih dahulu tentunya menunggu yang belum datang dong. Tapi tunggu punya tunggu Ratih, Dheya, dan Diana nggak juga datang. Capek menunggu selama hampir setengah jam di depan pintu gerbang, kami akhirnya memutuskan untuk masuk terlebih dahulu dan menunggu di dekat bangunan Stadium.

Kami tak dimintai biaya apapun untuk memasuki lokasi ini. Pintu gerbang lokasi wisata dijaga oleh sekelompok polisi yang dilengkapi dengan satu mesin pemindai barang seperti yang kita temui di bandara. Di Beijing, mesin ini bisa ditemui hampir di mana saja. Dari pintu masuk tempat wisata, stasiun bawah tanah, bahkan sampai mall sekalipun. Jadi keamanan barang bawaan benar-benar terpindai dengan baik, bukan hanya dengan alat pendeteksi metal yang biasa dipakai sebagai pendeteksi barang bawaan pengunjung di Indonesia. Itu lho yang berbunyi beep setiap memindai semua tas pengunjung, yang berisi bom ataupun tidak. Siapa yang bodoh sih sebenarnya?

Oops sori, hilang fokus😛

SMS dan telephone benar-benar nggak bisa membantu di sini. Dari kami ber-6, hanya Dheya yang membeli nomor lokal, itupun agar bisa mengaktifkan bbm selama di Beijing, dan entah kenapa gagal. Akhirnya hanya dapat dipakai untuk sms biasa. Renna dan Mela nggak berhenti berusaha mengirim sms untuk Ratih dan Diana. Nggak ada satupun yang dibalas. Blackberry saya nggak berfungsi sama sekali, tak usahlah ditanya kenapa😛. Akhirnya setelah kurang lebih satu jam diserang rasa panik dan khawatir, plus didesak kandung kemih yang kepenuhan (khusus saya) ada sms yang dibalas. Mereka bilang kalau sudah menunggu di depan pintu satu sejak lama. Pintu satu kan tempat kami menunggu tadi, kok nggak ketemu ya? Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke lokasi itu dan kembali menunggu di sana. Untungnya tak lama setelah kami kembali ke pintu satu Dheya, Ratih, dan Diana muncul.

Wajah Diana terlihat kusut sekali, dia langsung mengeluh lapar. Dan tentu saja yang lapar bukan hanya dia. Kami melanjutkan perjalanan untuk bertemu dengan seseorang bernama Ali. Seorang pelajar Indonesia di Beijing yang sehari-harinya bekerja paruh waktu di sebuah kantor jasa pengiriman. Ali ini yang nantinya kami titipi berkardus-kardus paket buku yang juga kami dapatkan dari Hanban University. Pertemuan dengan Ali malam itu juga untuk membicarakan hal ini. Ali mengajak kami ke salah satu resto Korea langganannya (gonna make another post talking about food ;)). Setelah makan kami berpisah dengan Ali, karena teman-teman yang lain memutuskan untuk mampir dulu di mall seberang jalan.

Hari itu kami baru sampai hotel sekitar jam 11 malam. Kaki saya sudah pegal berjalan. Karena nggak banyak angkutan umum yang bisa kami pakai di sana. Nggak berani naik bus karena takut nyasar, sedangkan taksi (entah kenapa) meski selalu berseliweran setiap saat, agak susah untuk dipanggil. Kalaupun ada, supirnya udah kayak rampok. Jarak yang kalau dengan argo biasa hanya menghabiskan sekitar 30 yuan, si supir minta tarif sampai 100 kuai. GILA!!

Bersambung...

Bee

One thought on “[Beijing Fall, 2011] Leisure

  1. Pingback: And So It Was… « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s