[Beijing Fall, 2011] The Great Wall of China

Ada satu pepatah Cina yang berbunyi 不 到 长 城 非 好 汉 yang artinya kurang lebih adalah “Belum menjadi orang Cina sejati kalau belum pernah ke Tembok Besar Cina”. Mungkin karena pepatah ini dan tentu saja karena bangunan ini merupakan salah satu kebanggaan bangsa Cina, panitia akhirnya memasukkan kunjungan ke tempat ini ke salah satu jadual pelatihan. Rombongan sudah harus standby sejak jam 8 pagi untuk perjalanan menuju Mutianyu, salah satu titik wisata di sepanjang Tembok Besar Cina (dalam bahasa Cina adalah Chang Cheng).

Perjalanan menuju Mutianyu memakan waktu kurang lebih satu jam melintasi perkotaan dan pedesaan di Beijing. Saya tentu saja memilih kursi di dekat jendela. Sempat menikmati pemandangan gedung-gedung apartemen di perkotaan, sampai akhirnya tertidur lelap. Saat kembali membuka mata, saya sudah disuguhkan pemandangan yang jauh berbeda. Gedung-gedung sudah berganti dengan rumah-rumah asri dan pepohonan yang rindang. Saya langsung jatuh cinta. Bahkan sampai saat saya membuat postingan ini, masih terbayang nikmatnya tinggal di pinggiran kota itu. Makan dari hasil kebun sendiri, belanja di pasar yang menjual hasil tanam dan daging-daging segar dari peternakan sendiri. Bukan hanya industri makanan cepat saji dan kalengan semata. Ah! ingin sekali hidup di tempat yang seperti itu.

Tak lama kemudian, kami tiba di lokasi wisata Mutianyu. Lokasi ini ternyata terletak di sebuah kaki bukit. Saya sempat kebingungan saat panitia pemandu berkata kami sudah tiba di lokasi. Sepanjang mata memandang hanya ada toko-toko souvenir saja. Ke mana Chang Cheng yang sering saya temui fotonya di internet itu?

Begitu saya mendongakkan kepala ke langit, jauh di atas sana, di sela-sela rimbunnya pepohonan, saya melihat sebuah bangunan abu-abu. Keciiil sekali. Terlihat sekali betapa jauhnya tempat itu berada. Dan bangunan itu tak lain adalah tembok besar yang dalam beberapa jam ke depan akan kami pijak lantainya. Tapi sebelum itu, kami harus mendaki beribu-ribu anak tangga terlebih dahulu.

Di kaki bukit itu, pada sekitar pijakan 30 anak tangga pertama, saya masih belum sadar dengan apa yang harus saya hadapi di atas sana. Belum, belum jauh ke bangunan bersejarah benteng pelindung bangsa Cina saat peperangan dahulu itu. Belum. Tak lama kemudian, saat nafas saya mulai tersengal, barulah saya sadar kalau saat itu saya sedang berjalan menuju bangunan kecil yang saya intip di bawah tadi. That was a zillion killos away from down here. Dan kami mendaki anak tangga? dengan menghirup udara berbau air seni binatang. Ah! satu-satunya hal yang tidak membuat saya menyerah adalah hasil foto dan cerita utuh yang nantinya akan saya bawa pulang.

Sebenarnya tersedia alternatif lain yang tidak membutuhkan sebegitu banyak energi, yaitu naik cable car atau kereta gantung seperti yang sering kita temui di TMII. Tapi untuk ke atas saja sudah memakan biaya 80 yuan, belum termasuk biaya turun. Sedangkan saya masih harus menghemat untuk mengirim paket buku ke Indonesia. Hal ini juga menjadi salah satu motivasi saya untuk tetap mendaki anak tangga itu. Poor people more healthy indeed eh?😛. Mela dan Diana sudah menyerah dan memutuskan untuk naik lift tersebut. Saya dan Ratih tetap meneruskan perjalanan. Saat nafas rasanya sudah di ujung tenggorokan, saat kaki saya sudah terasa hampir putus, sebuah tembok besar tiba-tiba saja muncul di hadapan kami. Betul-betul tiba-tiba, seperti di dalam dongeng saja. Saya dan Ratih melonjak girang, sambil tak berhenti ngos-ngosan, dan foto-foto tentu saja.

Sampai di Chang Cheng, kami bertemu dengan Dheya dan Renna. Kami sempat berjalan mengunjungi dua buah menara yang aslinya dulu berfungsi sebagai menara pengintai. Sempat bertemu dengan rombongan volunteer dari UK. Pada bagian depan kaus yang mereka kenakan tertulis kalimat “I Trekked The Great Wall Of China” sedangkan tulisan di bagian punggung lebih menjelaskan bahwa mereka adalah sekelompok pendonor ginjal yang pernah mendonorkan salah satu ginjal mereka kepada yang membutuhkan. I wonder how they live their entire life ahead. Salah satu dari mereka adalah muslimah, yang senyumnya langsung merekah saat melihat Dheya yang mengenakan jilbab. Ia langsung ingin mengabadikan moment itu di kameranya. Senyumnya semakin melebar saat melihat saya dan beberapa teman jilbaber lainnya datang menghampiri dan ingin ikut gabung. Jilbaber di Cina memang masih jarang ditemui. Sering kali orang-orang tak berkedip menatap saya dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Betul-betul tak berkedip, sampai kemudian tergagap saat saya balas menatap mereka. Hahaha..😉

Sepulang dari Chang Cheng, kami diantarkan oleh panitia ke salah satu shelter bus untuk kemudian naik salah satu bus menuju Tian An Men.

Kami lagi-lagi berpisah jalan. Dheya dan Renna yang kakinya entah terbuat dari apa, berjalan cepat sekali di depan. Meninggalkan saya, Ratih, Mela, dan Diana yang lebih memilih untuk jalan santai saja. Di sini ada beberapa polisi Cina (semacam Polisi Militer) yang berdiri di beberapa titik lapangan Tian An Men ini. Mereka benar-benar berdiri tak bergerak. Hanya dalam waktu-waktu tertentu mereka akan berjalan dalam satu garis lurus dengan gerakan yang teratur. Diana yang sepertinya punya fettish tertentu terhadap pria berseragam berkali-kali meminta kami mengambil fotonya bersama polisi-polisi tersebut. Tak ada satupun dari kami yang mengabulkan permintaannya, karena hal itu terdengar salah. Betul saja, ketika Diana dengan nekatnya meminta izin pada salah satu polisi untuk mengambil foto bersama, polisi tersebut langsung menolaknya mentah-mentah. Tetap dengan sikap sempurnanya. Saya, Mela, dan Ratih hanya bisa tertawa-tawa geli.

(masih) bersambung...

Bee

5 thoughts on “[Beijing Fall, 2011] The Great Wall of China

  1. Pingback: And So It Was… « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s