Tribute to you, Dad!

So here’s the story. Suatu hari bertahun-tahun yang lalu, saya mendengar suara tangis yang sangat asing terdengar dari dalam kamar orang tua saya. Saya belum pernah mendengar suara tangis itu sebelumnya. Karena penasaran saya tempelkan salah satu telinga ke daun pintu. Suara tangis itu tentu saja semakin jelas terdengar, dan agak tidak yakin (sangat tidak yakin sebenarnya) saya berkesimpulan bahwa tangis itu berasal dari suara bapak.

Sebuah pertanyaan besar langsung menyerang benak saya. I never saw my dad cried, never heard even the sound of him crying too. Kali ini, apa yang menyebabkan bapak menangis meraung-raung seperti itu, di tengah hari bolong? Saya ketuk pintu kamar. Tak sabar menunggu jawaban dari dalam saya buka pintunya, ternyata tidak terkunci. Di sanalah saya melihat satu pemandangan yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Tak hanya bapak, tapi juga ada ande (ibu) dan Mush’ab (adik laki-laki pertama) sedang duduk mengelilingi bapak. Suasananya sangat canggung. Namun dari apa yang terjadi di hari itu kemudian saya tahu begitu besarnya cinta bapak kepada kami.

Bapak memang bukanlah orang yang pintar mengemukakan perasaannya. Jangankan lewat kalimat-kalimat cinta, bapak tampak sering kali gagal menyampaikan apa yang dimaksudnya bahkan lewat mimik wajah. Rasanya tabu sekali bagi bapak mengumbar kasih sayang, rasa bangga dan kebahagiaan. Kami sebagai anak-anaknya selalu menilai bapak adalah sosok yang terlalu kaku. Mush’ab bahkan sempat meninggalkan rumah untuk waktu yang tidak sebentar karena berselisih paham dengan bapak. Namun siang itu, salah satu kalimat yang bapak sampaikan di sela isak tangisnya menampar saya. Beliau berkata…

Meski bapak tahu mungkin nggak semua anak-anak bapak sayang sama bapak, tapi bapak rela mengorbankan semuanya. Bapak rela berkubang di lumpur, kepala di kaki, kaki di kepala, demi kebahagiaan keluarga ini.

Semua kejadian ini terekam begitu jelas dalam otak saya. Tak jarang ia kembali terputar di sana. Membuat saya semakin mencintai bapak. Seperti baru-baru ini.

Hari selasa yang lalu, bapak mengantar saya membuat Visa ke Cina di gedung The East, Kuningan. Pekan depan saya memang ada rencana pergi ke Cina untuk mengikuti sebuah pelatihan guru di sana. Setelah selesai urusan saya di The East kami lanjut ke Tanah Abang, tempat bapak berbelanja barang-barang untuk dijual di toko pakaian miliknya. Saya berjalan mengikuti bapak, berpindah-pindah dari Blok B ke Blok F lalu kembali lagi ke Blok B. Banyak sekali toko yang bapak kunjungi. Dan sambil berkeliling ini bapak memanggul barang belajaannya tersebut di atas pundaknya.

Bapak memanggul belanjaan

Berjalan di belakang bapak seperti ini, melihat perjuangan di usianya yang demikian matang, demi saya dan adik-adik saya. Rasanya malu sekali mengingat masa-masa ‘tidak tahu terimakasih’ dahulu. Di sana saya mengusap air mata perlahan, bapak pasti nggak mau melihat saya menangisi ini. Karena bapak melakukan ini dengan bangga. Meski berat, saya tahu, tapi bapak bertahan.

Kembali terputar memori di hari itu, saat tangis bapak tampaknya sudah tidak dapat terbendung lagi. Kami bicara banyak hal dari hati ke hati di siang itu, saya, ande, Mush’ab dan Bapak. Saya perlahan paham mengapa Allah berikan begitu banyak perselisihan antara bapak dan anak-anaknya. Waktu kecil dulu saya bahkan sangat membenci bapak. Namun tumbuh dewasa dan mengalami begitu banyak hal dalam hidup, saya perlahan mengerti pesan-pesan yang berusaha bapak sampaikan dulu.

Suatu hari saat saya ungkapkan rasa terimakasih saya atas semua didikan bapak, saat saya mengakui bahwa tenyata apa yang bapak ajarkan selama ini memang benar adanya, bapak tersenyum. Dan kini bapak tak lagi malu mengungkapkan perasaannya kepada kami. Bapak semakin terlihat bahagia, karena saat beliau ungkapkan semuanya di tengah isak tangis itu, akhirnya Allah berikan kami kesempatan untuk terbuka. Mengungkap bahwa cinta sangat boleh diungkapkan dengan cara yang sangat gamblang. Kini bapak tak lagi kaku, sudah lebih sering mengungkapkan rasa bangga, sudah lebih sering tertawa. Semoga dengan begitu bapak selalu bahagia. Amin.

Bee

3 thoughts on “Tribute to you, Dad!

  1. Wow! Mau ke Tiongkok?πŸ˜€

    Oh ya, bukan Cina, tapi Tiongkok. Saya ngikutin penggunaan kata Pak Dahlan Iskan. Cina itu kata yang diciptakan oleh Jepang untuk menghina Tiongkok.😐

  2. sukaaaaa, terharu nih bacanya Asiah, kadang emang kita kudu disodori suatu peristiwa baru bener2 tersadar betapa besar pengorbanan orang yang peduli dan sayang sama kita, unlimited feeling, right?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s