Mer’smurf’ka

Baruu nonton behind the scene nya, udah menjangkit gitu si smurf😛 Semoga film itu masuk ke Indonesia yah. Amin yah.

OK, hari ini adalah tanggal 17 Agustus, adalah hari kemerdekaan Indonesia. Katanya sih begitu. Kemarin saya sempat melihat sebuah tweet tentang pengumpulan satu juta sekian ratus ribu tweet ber-hashtag #17an untuk menarik bendera merah putih virtual menuju puncaknya (yang virtual juga). I was like ‘rollingeyes’ i mean, what’s the point doing something virtually like that, while we suppose to be celebrating something that is real? It feels like something wrong about that. Or, it’s just me?

Akhirnya saya memilih untuk merenung sejenak tentang makna dari hari ini, karena jujur saja belum ada perasaan berbeda dalam hati saya terhadap ‘hari ini’. Saya buka google dan mendapati gambar ini terpampang di layar netbook:

Tema Google untuk 'hari ini'

 

Saya klik saja gambar tersebut, lalu keluarlah di sana berbagai link yang akan membawa kita pada banyak informasi tentang apa yang terjadi pada hari ini di 66 tahun yang lalu.

66 tahun yang lalu, di bulan Agustus, pasangan bapak proklamasi Indonesia -Soekarno dan Hatta- sedang sibuk-sibuknya memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Dimulai sejak tanggal 9 Agustus di mana Nagasaki-Jepang dikirimi bom atom oleh Amerika untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya jatuh di Hiroshima. Mental negara Jepang terlihat runtuh saat itu, dan Soekarno-Hatta mengambil peluang ini untuk merumuskan kemerdekaan Indonesia. Lewat wikipedia tersebut, saya baru tahu ingat lagi kalau untuk memproklamirkan kemerdekaan, kita harus terlebih dahulu mendapatkan pernyataan dari negara yang menjajah kita (which saat itu adalah Jepang) bahwa mereka sudah melepaskan kekusaan mereka di negara ini. Saya sempat berfikir bahwa hanya dengan membacakan naskah proklamasi tersebut, maka dunia mau nggak mau mengakui kemerdekaan negara kita. No no! it’s not that simple, Asiah! *selfnote*

Jepang sempat sangat bertele-tele dalam proses pelepasan kekuasaan ini. Ya iyalah, namanya udah susah-susah ngejajah ya masa’ iya mau dilepasin begitu aja. Tapi kemudian pejuang muda di Indonesia (yang namanya muda, jiwanya bergelora gelora ya bok) sudah nggak sabar aja untuk segera membacakan proklamasi kemerdekaan. Sempat heboh juga tuh dulu, bagaimana pejuang muda dan pejuang tua sama-sama punya pendapatnya sendiri. Pejuang muda maunya buru-buru merdeka, sedangkan yang tua masih kuatir negara ini belum siap dan takut terjadi pertumpahan darah yang lebih dahsyat lagi.

Saat inilah kemudian Bapak Soekarno (bersama ibu Fatmawati dan anak mereka, Guntur) dan Bapak Hatta diculik ke Rengasdengklok. Begitu sih kata guru saya dulu. Sebetulnya mungkin diculik adalah kata yang kurang tepat ya, karena faktanya diamankannya mereka di sana justru memiliki tujuan agar kedua bapak penting ini nggak terkontaminasi pemikirannya oleh hasutan penjajah. Kalau diculik tuh kesannya mau dibunuh atau dimintain tebusan gitu. Nah selama pengamanan di Rengasdeklok ini para pejuang meyakinkan kembali kalau mereka sudah siap dengan resiko apapun yang harus dihadapi untuk kemerdekaan tersebut. Di Jakarta para pejuang tua dan muda juga berunding untuk menyatukan suara.

Akhirnya pada tanggal 16 Agustus malam, Soekarno dan Hatta mendatangi beberapa Mayor Jendral Jepang yang kemudian melempar mereka ke sana ke mari untuk mendapati bahwa Jepang masih akan tetap mempertahankan status quo mereka di Indonesia. Ini bertentangan dengan pernyataan Marsekal Terauchi di Dalat Vietnam yang menyatakan bahwa Jepang masih mencari waktu yang tepat untuk melepaskan kekuasaan mereka terhadap Indonesia. Mungkin dari sini, kedua bapak tersebut merasa lebih yakin untuk segera membuat naskah proklamasi dan membacakannya sebagai pernyataan bahwa semua kekuasaan di Indonesia, sudah menjadi milik kita sendiri. Maka, di kediaman Laksamana Maeda (harus di tempat tinggal orang Jepang, biar lebih aman) para tim perumus naskah proklamasi ini berkumpul dan menuliskan pernyataan tersebut.

Naskah Asli Proklamasi

Setelah diketik dengan rapi oleh bapak Sayuti Melik, akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 naskah ini dibacakan, di tempat tinggal bapak Soekarno Jl. Pegangsaan Timur No. 56

Pembacaan Naskah Proklamasi

Dilanjutkan kemudian dengan pengibaran bendera RI (yang dijahit oleh ibu fatmawati) untuk pertama kalinya oleh pejuang PETA Latief Hendraningrat dan Soehoed bersama pemudi lainnya yang membawa bendera dengan nampan.

Pengibaran bendera untuk pertama kalinya

Maka, resmilah sudah Indonesia memiliki kedaulatan terhadap negaranya sendiri. Pada catatan wikipedia juga dijelaskan bagaimana sulitnya pernyataan kemerdekaan ini disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia, terutama luar pulau Jawa. Kantor Domei (sekarang radio berita ANTARA) tercatat sebagai media audio pertama yang menyiarkan pembacaan naskah proklamasi ini. Pada saat itu, tentara Jepang yang masih belum bisa menerima kenyataan ini (cieh elah, move on dude!) mengamuk sejadinya dan menutup radio tersebut, bahkan sampai menyegel pemancar radio. Ya tapi ditutup satu tumbuh seribu dong. Beberapa penyiar akhirnya membuat pemancar baru di daerah Menteng 31. Penyebaran berita proklamasi kemerdekaanpun dilanjutkan.

Ada satu fakta menarik yang baru saya tahu tadi dan membuat saya sangat terkejut. Ternyata Belanda butuh waktu sampai 60 tahun untuk mengakui bahwa Indonesia sudah merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945. Selama 60 tahun itu, mereka menganggap bahwa Indonesia baru benar-benar merdeka pada tanggal 27 Desember 1949. Informasi lengkapnya bisa kamu baca di sini. Jadi baru pada tahun 2002 lah, pemerintah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia di tanggal 17 Agustus 1945. Ini semacam mantan galau gitu ya. Putusnya udah dari kapan tau, tapi ngerasanya setelah 60 tahun setelahnya. Tsk!

……………………………………………………………

Dari artikel yang saya baca tadi, saya jadi bisa membayangkan keadaan yang terjadi 66 tahun lalu. Ditambah lagi dengan foto-foto yang mendukung. Ditambah lagi saat itu juga sedang bulan Ramadhan. Lengkap sajalah sudah.

Di luar semua fakta memuakkan tentang perpolitikan negeri ini. Di luar semua lelucon tentang presiden yang ‘memprihatinkan’ bersama dengan sasak tinggi rambut isterinya dan gaya anaknya yang tak luput dari bahan ejekan. Di luar dari permainan entah apa yang dimainkan oleh mereka yang disebut ‘penguasa negeri ini’. 66 tahun yang lalu, rakyat Indoensia pernah sangat bahagia dengan kemerdekaan ini. Rakyat negeri ini pernah menangis begitu haru saat mendengar naskah proklamasi itu dibacakan.

Saya jadi malu pada diri saya sendiri, sungguh.

Bee

Ps: Oh, in case para pelaku politik memuakkan itu lupa bagaimana sulitnya perjuangan bapak Soekarno dan Bapak Hatta dulu, coba deh ini boleh dibuka sumber tulisan saya di atas: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Ps2: Bagi saya, cukup deh merenung virtual semacam ini. Semoga sakses ya bok pengerekan bendera virtualnya. Cheers.. *angkat gelas teh*

2 thoughts on “Mer’smurf’ka

  1. Pingback: And So It Was… « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s