Ternyata Nenek Memang Menunggu Saya

Self Hand Writing Name Board

Pagi ini, dengan tubuh yang masih pegal-pegal berkat seharian duduk tegap di bangku istora yang kerasnya Masya Allah itu, saya terbangun dari tidur karena mendengar suara telfon. Pernah kan merasa capeeek banget hingga mampu tidur sangat lelap sampai kalaupun ada konser musik rock dilangsungkan di kamar, kamu nggak akan merasa terganggu? Nah seperti itulah kiranya kondisi saya kemarin. Tapi rupanya telfon ini memang harus tertangkap oleh telinga saya dan saya memang harus bangun untuk mengangkatnya.

Di seberang sana intonasi suara Pak Utiah (adik bapak) saya terdengar biasa saja. Tapi dari pesan yang disampaikannya, saya tahu terjadi sesuatu di rumah sakit.

“Asiah, bapak sudah bangun?”

“Udah Pak utiah, tapi lagi di Masjid dengar ceramah”

“Oh, nanti kalau bapak sudah balik dari masjid, suruh buru-buru ke rumah sakit ya”

Saya nggak banyak bertanya lagi saat itu, langsung saja saya iyakan dan menutup telfonnya.

Sudah sejak hari senin yang lalu nenek dirawat di rumah sakit. Kalau ditanyakan nenek sakit apa, agak sulit bagi saya untuk menjawabnya. Nenek memang mengidap diabetes sejak beberapa tahun belakangan ini, tapi bukan penyakit itulah yang menyebabkan nenek dibawa ke rumah sakit. Kondisi nenek memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk tetap dirawat di rumah. Sudah sejak satu bulan yang lalu kondisi nenek menurun drastis dan hari senin itu nenek sudah menolak untuk makan apapun. Karena kondisi inilah kemudian bapak dan semua anak nenek memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit untuk diberikan infus dan obat pendukung lainnya.

Sejak nenek dibawa ke rumah sakit, tak pernah sekalipun saya datang untuk menengok. Saya memang punya satu masalah dalam diri saya. Agak susah seperinya untuk saya mengungkapkan kasih yang hanya sekedar basa basi. Jika tidak bersungguh-sungguh, lebih baik tidak melakukan apapun. Begitu sekiranya yang terjadi pada saya dan nenek. Rasa yang saya miliki terhadap nenek tidak seperti rasa yang seharusnya dimiliki seorang cucu terhadap neneknya. Saya memiliki beberapa trauma yang membuat sulit bagi saya menyayangi nenek dengan semestinya. Berbeda sekali dengan apa yang saya rasakan pada nenek dari ande. Saya betul-betul menyayanginya. Tapi untuk nenek yang satu ini, sulit rasanya mengungkapkan rasa sayang. Karena sayapun tak begitu yakin dengan apa yang saya rasakan. Hal inilah yang kemudian membuat saya enggan datang ke rumah sakit.

Tapi pagi ini rasanya berbeda. Ada sesuatu dalam diri saya yang sangat kuat mendorong saya untuk datang mengunjungi nenek. Segera setelah menutup telfon dari Oom saya di atas tadi, saya ambil handuk dan mandi. Setelah itu langsung menghampiri bapak ke masjid.

Singkat cerita sampailah kami di rumah sakit. Saya, bapak, dan Nisah langsung menuju lantai 5 ke kamar nenek. Saya langsung duduk di sisi kanan nenek dan berbisik;

Nenek, ini Asiah datang. Maafin semua kesalahan Asiah ya Nek, Insya Allah semua khilaf nenek sudah Asiah maafkan juga.

Sesingkat itu saya berbisik pada nenek. Dilanjutkan kemudian ikut membisikkan kalimat tauhid berkali-kali bersama bapak di telinga nenek. Saya bisa mendengar nafas berat nenek seolah luruh satu per satu, hingga akhirnya hilang sama sekali. Saat itulah saya betul-betul merasa tertampar. Air mata tak bisa lagi dibendung. Ternyata nenek memang menunggu saya, seolah ia-pun merasakan sesuatu yang belum selesai di antara kami. Tapi lewat percakapan satu arah yang sangat singkat itu, sudah selesai semuanya. Saya lega melihat kepergian nenek yang begitu tenang. Malaikat maut seolah mencabut nyawanya dengan sangat lembut. Saya tak mau menyesali apa yang sudah terjadi, karena Allah pasti punya rencana-NYA sendiri dengan membuat hati saya baru luluh di saat terakhir.

Nenek, istirahatlah yang tenang di sana ya. Asiah sudah ikhlas, dan ya… Asiah sayang kok sama nenek. Terimakasih untuk semua pengalaman hati ini ya Nek. Insya Allah nanti kita akan berkumpul kembali di Surga-NYA. Ketika waktu itu datang, nenek harus tersenyum ya melihat Asiah, jangan cemberut lagi. Kan kita sudah baikan🙂

Love you grandma Hani. May ALLAH give you the best place on HIS side. Amin.

Bee

2 thoughts on “Ternyata Nenek Memang Menunggu Saya

  1. Pingback: And So It Was… « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s