What Now?

Seorang teman menulis pada profile twitter nya sebagai berikut..

If Allah brings us to it, Allah will bring us through it..

I was like WOW! that sentence really hit me on the right place. Sudah lama sebenarnya saya membaca kalimat itu di sana, dan setiap kali saya baca setiap kali itu pula saya terkesiap. “Allah nggak akan memberikan kita cobaan yang nggak akan sanggup kita jalani” adalah kalimat yang punya makna sama dengan kalimat yang saya quote tadi. Saya selalu merasa Allah hobi sekali bermain hide and seek dengan memposisikan saya pada pinggir jurang-jurang masalah. Ketika saya tak bisa menemukan di mana Allah berada, saat itulah saya jatuh ke dalam jurang-jurang tersebut. Dan pada saat itu sepertinya masalah menutupi jalan saya menuju Allah. Namun pada saat yang entahlah kapan (cuma Allah yang tahu) IA jusru akan memunculkan wujudNYA sendiri dan membantu saya menaiki jurang-jurang tersebut. Di jalan yang benar itu tubuh saya sudah lebam-lebam, luka di mana-mana dan diri saya tak lagi sama dengan Asiah yang belum jatuh ke jurang sana.

Begitu banyak trauma, begitu banyak prasangka, begitu banyak air mata yang sudah saya produksi demi jatuh dan bangun pada permainan tersebut. Sampai kemudian saya benar-benar jatuh pada satu titik dan ingin berteriak. “Sudah ya Allah, Asiah nggak mau main lagi. Kalau memang ini tujuan hamba diciptakan, bolehkan hamba menyerah saja dan hentikan saja hidup hamba?”. Sebut saya frustasi sebut saya bodoh sebut saya pengecut, tapi memang sudah sampai tahap itu saya ingin sekali menyerah. Sempat merasa takut doa tersebut dikabulkan, mengingat dosa dan pahala yang masih sangat jomplang. Tapi ada sesuatu dalam hati saya berbisik, jika benar hal tersebut terjadi setidaknya saya akan tahu kalau hidup saya benar-benar hanya permainan.

But then voila, saya masih hidup sampai hari ini. Setelah hari itu saya masih diizinkan untuk ikut CFD (for the very first time) berdua sama Reza, masih diizinkan untuk merasakan sakit flu berat dan demam saat bertandang ke rumah Reza. Akhirnya sempat merasakan dirawat dan bermanja-manja secara berlebihan dengan dalih sakit (hampir) seharian sama Reza. Dan berusaha sedikit demi sedikit kembali optimis dan melihat segalanya dari sisi yang sedikit lebih baik. Sampai kemudian…

Reza dikirim ke Jambi…… selama DELAPAN bulan.

Bahkan Ande saja terperangah saat saya mengabarkan berita tersebut. But amazingly i didn’t feel that much surprised about it. Kemarin siang Reza sms saya untuk memberitahu kalau esok harinya dia sudah harus berada di Jambi. Saya terdiam sejenak, lalu cuma bisa pasrah. Mungkin memang ini yang terbaik untuk kami berdua. Ah.. THE HELL dengan mungkin, ini memang harus jadi yang terbaik untuk kami berdua.

Saya pikir, sudahlah apa yang kamu bisa lakukan ketika hidup memilih untuk melempari kue pie ke mukamu berkali-kali sedangkan orang lain mendapatkannya dengan cara yang pantas dan manis? Memang itu yang sudah akan kamu dapatkan, sudah tertulis sejak kamu belum betul-betul hidup di rahim ibumu. Saya mengaku sering sekali melihat kehidupan teman-teman yang lain dan merasa kesal sendiri karena hidup saya tidak semudah mereka. Tapi siapa sih yang sedang saya bohongi? who am i to judge they don’t have that much problem in their life? toh saya hanya melihat hidup mereka di kulit luarnya saja.

Kini, saya berusaha untuk mengerti. Belajar untuk menerima apapun itu yang kalimat di awal tadi maksudkan dalam hidup saya. Entah seberapa tinggi tingkat kesabaran saya sebenarnya, hanya Allah yang tahu. Jika memang saya dicoba sampai tahap ini, mungkin memang ada begitu baaanyak persediaan sabar di dalam diri saya. Kata orang, pada cobaan yang lebih berat tersedia hadiah yang lebih manis.

Reza berangkat ke Jambi sore tadi dan beberapa menit yang lalu ia mengirimkan lokasi camp nya via google satelite. Things that he thinks all people could understand. Walaupun saya nggak ngerti apa yang bisa saya lihat dari link itu….. OH WAIT! barusan saya selesai install google earth plug in pada laptop dan saya bisa melihat tampilan google earth dari link itu. Yeaayyy… norak dulu aaahhh😀 Yah lumayan bisa kebayang ada di lokasi seperti apa pacar saya itu hohohoho…

Sejujurnya saya nggak tahu akan seperti apa kehidupan saya ke depan nanti. Surely LDR pernah menjadi tanda tanya besar dalam hidup saya, apakah saya bisa menjalaninya atau tidak. But at this point i really don’t care. Satu hal yang harus terjadi di depan nanti adalah akhir yang bahagia, akhir yang baik-baik saja. Apapun itu yang harus saya hadapi menuju ke sana…

Bee

4 thoughts on “What Now?

  1. yang kamu pikir “hidup yang mudah” itu belum tentu begitu juga,lho, Siah… siapa tahu orang-orang yang kamu pikir dikasih jalan hidup mudah itu, justru iri sama kamu🙂

    we’re human kadang2 suka lupa bersyukur, ya🙂

    *hihi, reply ini saya tujukan untuk diri sendiri juga*

    • NAH.. itu dia Jie, semua orang sebenernya punya harapan masing-masing atas hidupnya. Apa yang aku alami ini jangan-jangan adalah harapan orang lain atas hidup mereka ya? Bener banget… emang paling susah tuh, bersyukur dan ikhlas. huff…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s