Tak Lagi Mempertanyakan Film “?”

Suatu hari saya melihat update twitter Fajar Nugros yang mengatakan sedang mencari seseorang yang bisa bahasa Mandarin untuk keperluan film. Saya bisa bahasa mandarin dan kebetulan sedang punya banyak waktu senggang untuk kegiatan baru. Langsung saja saya bbm dia dan menawarkan diri untuk bantu-bantu. Singkat kata pergilah saya ke markas Dapur Film, bertemu dengan Nugros dan Hanung yang saat itu sedang melakukan -entahlah proses film yang mana- bersama Reza Rahardian dan Rio Dewanto. Selama menunggu, seorang crew (yang sudah saya lupa namanya) menjelaskan dengan singkat jalan cerita film ini. Di sanalah untuk pertama kalinya saya tahu tentang film Tanda Tanya ini. Saat itu yang terbesit di benak saya hanya satu, betapa nekatnya Hanung mengangkat cerita semacam ini. Tapi di saat yang sama saya juga penasaran dengan hasil jadinya.

Beberapa hari yang lalu, Luckty men-tag saya pada review film ini yang ditulisnya di facebook. Setelah itu mulai bergantian muncul link-link review lainnya yang membuat saya gatal untuk buka dan baca. Review pertama (setelah milik Luckty) yang saya buka adalah review ini wow! dari judulnya saja sudah sangat provokatif. Setelah dibaca saya jadi mengusap dagu sendiri, apa benar yang ditulisnya itu? sebegitu mengina Islam kah film ini? Banyak yang memberikan komentar pada link tersebut saat saya memajangnya pada wall facebook. Tante dan Oom yang saya percaya memiliki ilmu agama lebih baik dari saya memberikan komentar yang cukup keras. On the other hand, teman-teman lainnya malah menganjurkan saya untuk membaca review lainnya. Lalu muncul kembali link tulisan ini pada news feed. Hanung Bramantyo sendiri menjawab semua pertanyaan kontroversi pada film ini. Membaca jawaban-jawaban Hanung saya jadi bingung sendiri, sekaligus penasaran. Saya benar-benar merasa harus menetralkan pikiran dulu sebelum masuk ke studio empat Margo city tadi. Ini memang berlebihan, tapi saya serius. Tak pernah sekalipun dalam hidup, saya menganggap suatu film seserius ini.

“?”

Adalah sebuah daerah bernama Pasar Baru yang di sekitarnya terdapat masjid, gereja, dan kelenteng, menggambarkan betapa beragamnya penduduk yang tinggal di sana. Adalah Tan Kat Sun (Hengky Sulaeman), seorang Budha taat pemilik restoran Chinese Food yang menjual masakan berbahan baku babi yang memahami konsep toleransi sangat kuat. Ia tak hanya mempekerjakan para muslim di restoran tersebut, tapi juga begitu menghormati aturan halal haram dalam Islam dengan memisahkan alat masak dan perkakas makan untuk masakan yang mengandung babi dan yang tidak.

Adalah Menuk (Revalina S Temat), seorang muslimah cantik berjilbab yang bekerja di restoran Cina milik Tan Kat Sun yang pernah menjalin cerita dengan anak Tan Kat Sun bernama Ping Hen (Rio Dewanto) namun kemudian lebih memilih menikah dengan Soleh (Reza Rahardian), seorang muslim yang taat beragama namun agak sulit mendapatkan pekerjaan.

Adalah Rika (Endhita), seorang muslimah yang berpisah dengan suaminya karena perselingkuhan (atau poligami?) lalu kemudian memilih untuk berpindah agama menjadi katolik. Di sepanjang hidupnya setelah perpindahan agama tersebut tak pernah lagi mudah, ia harus berjuang mempertahankan keyakinannya dan berjuang untuk bisa diterima oleh lingkungan juga bahkan anak dan orang tuanya.

Inti dari film ini tentu saja tentang toleransi antar umat beragama. Dan inilah yang kemudian membuat film ini begitu mendapat kritikan keras. Saya mengerti mengapa begitu banyak kritisi Muslim yang meneriakkan kritik paling lantang. Karena memang Hanung banyak menampilkan realita kurang mengenakkan tentang muslim yang benar terjadi di kehidupan nyata, di sini di Indonesia.

Hanung menghadirkan sosok Soleh, seorang muslim taat beragama yang frustasi dengan kekecewaannya pada diri sendiri yang tak mampu membiayai kehidupan adik, istri dan anaknya. Keadaan tersebut kemudian membuat Soleh menjadi pribadi yang tempramen, pesimis, dan kasar. Hanung juga menghadirkan sosok ibu kos yang nyinyir, tipe ibu-ibu penggosip yang hidupnya agak kurang nyaman bila lihat orang lain senang. Ibu kos ini muslimah, dia mengenakan jilbab. Lalu ada lagi segerombolan pemuda masjid yang enggan shalat berjama’ah hanya karena marah pada sang ustadz yang melerai mereka saat sedang beradu mulut dengan Ping Hen. Betul semua tokoh di atas seolah melecehkan Islam, tapi hey… ayolah berkaca! Pada negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim ini memang banyak bukan orang yang seperti itu? Coba lihat pada diri sendiri, apakah anda termasuk pada karakter yang seperti itu? kalau ya, maka pantaskah kini saya bertanya “Ini Hanung atau anda yang sudah mencoreng nama baik Islam?”

Namun tak saya sangkal memang ada beberapa hal yang masih kurang bisa saya setujui pada film ini.

  1. Bekerja pada sebuah resto yang menghidangkan masakan haram seharusnya memang menjadi pilihan terakhir seorang muslim. Semoga Menuk memang tak memiliki pilihan pekerjaan lain yang bisa melindunginya dari fitnah atas kecantikan parasnya selain pekerjaan tersebut.
  2. Menerima peran menjadi yesus pada saat paskah hanya dengan alasan ekonomi dan aktualisasi diri memang keputusan yang sangat gegabah. Tokoh Hendra (Agus Kuncoro) tak berhasil mendapat simpati saya sama sekali. Apalagi dengan kenyataan bahwa ia malah dekat dengan Rika yang jelas-jelas sudah berpindah agama. Ia terlalu gegabah bermain api. Entah sudah berapa aturan Allah yang sudah nekat ia main-mainkan.
  3. Ringan mengucap “Assalamu’alaikum” pada semua orang juga agak bertentangan dengan kepercayaan saya ketika menyimak makna dari kalimat salam itu sendiri.

Namun demikian sebagai rangkaian pertunjukkan, film ini sudah berhasil menyampaikan pesannya. Sulit memang mengangkat tema toleransi atas perbedaan yang sudah semakin rancu saja di zaman sekarang ini. Saya salut pada Hanung yang berani memaparkan semuanya pada film ini. Memang membutuhkan kelapangan hati dan kebersihan fikir atas prasangka untuk menonton film “?” ini. Berusahalah untuk positif dan jadikan ini cermin sebagai media untuk introspeksi diri. Apakah nanti, ketika jalan hidup pada tokoh dalam film tersebut masuk ke dalam takdir kita, pilihan apa yang akan kita ambil? Hidup ini adalah sebuah rangkaian waktu dengan tebaran pilihan di mana-mana. Maka jalan yang seperti apa yang akan kamu pilih?

Mengutip sebuah tulisan pada salah satu kaos yang dipakai oleh pengunjung Margo City sore tadi:

God is a genius, He create only one religion.

Maka kembalilah kita pada kepercayaan kita masing-masing.

lakum dinukum wa liyadin

Wallahua’lam bishowab.

Bee

nb: for those who curious, tidak saya tidak jadi terlibat dalam film ini. Karena yang Hanung butuhkan adalah seseorang yang mengerti bahasa Cina yang dipakai sebagian besar penduduk Semarang. Saya takut gegabah, karena setahu saya setiap Cina pendatang dan keturunan di daerah punya dialek yang berbeda-beda. Maka saya usulkan Hanung untuk mencari orang yang sesuai dengan kriteria tersebut langsung di Semarang.

2 thoughts on “Tak Lagi Mempertanyakan Film “?”

  1. Macaroni buatanmu enak… :9
    Saya suka filmnya… Bagus buat pelajaran tentang toleransi antar umat beragama… Aqidah letaknya di hati dan ditunjukkan lewat sikap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s