Something Phenomenal

Me, The Hermes, and Friends on Empat Elemen Book Launching

I surely gonna be part of something phenomenal

Saya pernah menuliskan kalimat di atas pada profile facebook saya. Dengan layout facebook zaman baheula sih seharusnya kalimat itu terpampang di bawah foto profile. Tapi dengan pembaharuan layout yang sekarang ini, kalimat itu entah sudah tenggelam ke mana. Endy seriiing banget mengutip kalimat tersebut setiap The Hermes mencapai suatu prestasi. Saya pribadi sebenarnya juga sering teringat kalimat tersebut ketika mencapai suatu prestasi tertentu, baik itu sendiri atau beramai-ramai seperti sekarang ini.

Saya nggak pernah percaya dengan apapun yang diberi nama kebetulan. Segalanya yang sudah dan akan terjadi di hidup saya sudah dirajut dengan sedemikian indahnya oleh Allah. Termasuk yang satu ini, yah.. apalagi yang satu ini sih lebih tepatnya lagi. Seperti kejadian-kejadian mengejutkan lainnya yang bertebaran di masa lalu saya, menemukan cerpen Fajar Nugros di facebook (lagi-lagi) nggak pernah saya sangka bisa berujung puaaaanjaaang sekali. Waktu itu masih era Bunuh Diri Massal (BDM), tepatnya di tahun 2008. Saya iseng menulis comment di cerpen Nugros tentang seorang laki-laki yang begitu cengeng nya mau bunuh diri cuma karena cinta itu.  Seinget saya sih comment yang saya tulis agak kurang mengenakkan. Saya memang nggak pernah setuju dengan bunuh diri, apalagi karena cinta, APALAGI pelakunya adalah laki-laki, ngajak-ngajak banyak orang pulak. Itu namanya super mega terra pengecut laaa.

Dari comment itu, saya malah selalu di-tag Nugros pada cerpen-cerpen BDM selanjutnya. Singkat kata, cerpen itu bermutasi jadi cerbung lalu ber-evolusi menjadi sebuah buku yang berjudul Bunuh Diri Massal 2008. Diterbitkan oleh Ufuk dan sekarang sepertinya sudah Write Off deh, sudah nggak lagi beredar di manapun😦 Kendati begitu, tulisan saya juga ikut masuk ke dalam rangkaian cerita dalam buku tersebut.

Then.. nggak lama setelah BDM, Nugros kembali menulis cerita pendek yang kemudian bermutasi menjadi cerbung. Kali ini respon yang datang nggak se-heboh saat BDM dulu. Kuantitas pemberi komen tak sebanyak yang dulu, tapi agaknya yang satu ini punya kualitas yang berbeda. Terlihat dari pernyataan Nugros dan Artasya (partner menulisnya saat itu) yang mengakui bahwa dari komentar mereka itulah cerpen tersebut bisa terus mengalir. Dan para komentator inilah yang kemudian menjadi cikal bakal komunitas The Hermes. Dan saya adalah salah satu dari mereka😀

Nggak pernah lho terbesit dalam khayal saya sekalipun kalau pertemanan dari dunia maya bisa berbuah se-manis dan se-ranum ini. Sejak bertemu dengan teman-teman Hermesian, akhir pekan saya  nggak lagi sama. Pengetahuan mereka tentang sejarah yang sangat luas dan rasa penasaran untuk mengunjungi museum ini dan itu membuat kami menjadi sekelompok geek yang rela berjauh-jauh ke Bogor cuma karena ingin melihat makam Adriana Van Der Bosch secara langsung. Kami bahkan nekat menyelinap masuk ke museum Fatahillah malam-malam, dari pintu samping pulak (padahal pintunya di-rantein loh), cuma karena ingin berfoto bersama patung Hermes yang asli. Bener-bener deh kalau inget kelakuan Hermesian zaman dulu, rasanya geli sendiri.

Dari sekelompok geek yang nggak tau malu, selalu bikin rusuh, dan berpenyakit narsis akut tersebut, The Hermes malah ber-evolusi jadi komunitas penulis yang bisa dibilang sudah punya pembacanya sendiri. Secara berkala kami menerbitkan E Magazine dengan tema yang berubah-ubah setiap edisinya. Ditambah soundtrack dari Blue Summer Music yang terkadang dinyanyikan oleh salah satu atau bahkan hampir semua Hermesian. Semua paket E magazine dan soundtrack ini bisa diunduh secara gratis dari website The Hermes.

Awal tahun ini kami menerbitkan sebuah buku secara independen. Buku yang diberi judul Empat Elemen ini dibuat sebagai proyek Hermes For Charity yang kedua. Kalau satu tahun yang lalu, semua dana hasil penjualan Hermes For Charity 1 kami tujukan untuk Padang. Proyek kedua ini, akan kami berikan untuk proses recovery korban letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah.

Sampai sekarang saya masih selalu terkagum-kagum dengan cara Allah mengabulkan doa-doa saya. Seperti yang kata orang tua kita katakan sejak dulu, kalau perkataan itu adalah doa. Saya amat sangat bersyukur perkataan saya di awal post ini malah bisa membawa saya berkenalan dengan teman-teman Hermesian dan terlibat dalam proyek-proyek hebat di dalamnya.

Saya bersyukur dengan pertemanan ini. Saya menyukai kesederhanaan-nya. Sejauh ingatan saya, The Hermes tidak pernah terlalu mengejar sesuatu dan lupa diri karenanya. Semuanya berjalan begitu saja, mengikuti apa yang Tuhan berikan. Karena kami percaya, dengan niat baik pasti Tuhan merestui semua yang kami lakukan. Semoga kesederhanaan ini terus bertahan. Semoga pertemanan ini terus tumbuh menjadi apa yang kita sebut (mendekati) sempurna.

Terimakasih Allah.. Mohon terus jaga hati kami dari keserakahan dan kesombongan. Amin..

Bee

Note: Pada hari Sabtu, 26 Maret 2011 yang lalu kami mengadakan Launching Empat Elemen di Times Book Store Pejaten Village. Saya menuliskan reportasenya di sini.

5 thoughts on “Something Phenomenal

  1. Pingback: And So It Was… « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s