When enough is enough, Indonesia!

“Apa yang Alanda ingin lakukan sepuluh tahun lagi?”

Sebelumnya saya tahu, saya punya begitu banyak mimpi yang ingin dicapai, untuk membuat Ibu bangga, dan – mungkin – untuk Indonesia. Ingin mendirikan sekolah supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, ingin menyelenggarakan IYC terus menerus agar ada banyak agen perubahan di Indonesia, ingin ini dan ingin itu. Keinginan-keinginan itu mati tanpa diminta. Sekarang hanya ingin Ibu bebas dari seluruh kasus tersebut. Sekarang hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu, Papa, dan adik-adik – di rumah kami yang tidak besar tapi cukup nyaman; jalan-jalan dengan mobil yang tidak mahal tapi bisa membawa kami pergi ke tempat-tempat menyenangkan.

-Alanda Kariza-

 

Pagi ini seorang teman menitip salam untuk Alanda dan menyampaikan kesedihan saat membaca post terbaru di blog-nya. Saya yang memang belum membaca apa yang Alanda tulis di blog nya tersebut hanya meneruskan salamnya tersebut via twitter. Namun setelahnya muncul update dari Indonesian Youth Confrence dengan hashtag #helpalanda di timeline saya. OK, sebuah indikasi kalau sesuatu yang benar-benar serius terjadi. Ada apa dengan Alanda? Dia yang biasanya menyuarakan sesuatu yang harus dipedulikan, memancing kepedulian semua orang untuk lebih memperhatikan kepentingan orang lain, kini butuh perhatian? Yang saya tahu, Alanda tidak pernah butuh perhatian, dia akan dengan sendirinya bersinar dan semua mata tertuju padanya. Ini benar-benar serius sepertinya, saat itulah saya membuka blog post ini:

http://alandakariza.com/ibu/

TIDAK saya tidak menangis saat membaca tulisan Alanda tentang ibunya itu. Air mata saya seperti menolak untuk mengalir, tubuh saya lebih memilih untuk gemetaran, suhu tubuh saya langsung menyerap freon-freon dari AC di ruangan kantor untuk menggantikan bara yang (mungkin) saya pancarkan ke luar lewat pori-pori. Mungkin itulah yang terjadi saat kamu sudah menahan amarah dalam dirimu dan kamu tak lagi sanggup menahannya, emosimu menguap lewat pori-pori.

Saya MARAH sekali. Saya masih diam saat melihat Gayus Tambunan mengolok-olok pemerintahan dengan paket tamasya nya, saya bahkan masih diam saat pemerintah juga diam saja dengan olok-olok Gayus itu. Saya juga diam saja saat Susilo Bambang Yudhoyono meneriakkan kenaikan gaji, sedangkan ayah saya sibuk menutup salah satu tokonya karena tidak lagi punya biaya untuk membayar sewa tempat. Saya juga diam saat rumah keluarga Reza digusur dan tidak diberikan pengganti karena salah satu pejabat menginginkan rumah yang sudah dibangun sebagai penggantinya tersebut. Saya bahkan masih terus berupaya menanamkan sebuah harapan pada siswa-siswa saya untuk kelak menjadi manusia-manusia yang bisa memperbaiki nasib negeri ini, manusia-manusia yang Alanda sebut dengan “Agen Perubahan”. Saya diam, Indonesia… karena jauh di dalam hati, saya masih berharap negeri ini masih bisa diobati. Saya diam, Indonesia… karena saya lebih memilih untuk belajar dari semua kesalahan dan memperjuangkan yang masih terisa di hadapan.

Saya bahkan pernah menuliskan ini, ketika saya masih bisa mempercayakan semuanya pada orang-orang yang jujur dan benar-benar peduli pada kehidupan itu sendiri, bukan hanya untuk Indonesia.

Tapi kali ini, CUKUP sudah.. Sepertinya negara ini memang hobi melukai warganya, sepertinya ia memang ingin ditinggal rusak sendiri…

Baca ini, Indonesia! Pemuda itu yang menyuarakan aspirasi pemudamu di Gobal Changemaker, pemuda itu yang dengan inisiatifnya sendiri mengumpulkan pemuda peduli lainnya -dari seluruh Indonesia- untuk menjabarkan rencana perubahan mereka dalam IYC, pemuda itu yang peduli pada masa depan pendidikan di negeri ini. Dan IBUNDA ITULAH, perempuan yang kau berikan hukuman tak masuk akal ITULAH yang sudah membesarkan pemuda itu. Ibu Arga-lah yang sudah membesarkan Alanda. Dan sejauh saya mengenal Alanda, dialah salah satu pemuda yang SEHARUSNYA tidak kamu matikan mimpinya. Karena saat mimpi pemuda itu mati, saat itulah kamu bisa mulai mengucapkan selamat tinggal pada masa depan yang lebih baik. Kau bilang harapan bisa kau tumpukan pada pemuda semacam dia, tapi kini kau sendiri yang mematikan mimpinya. WAY TO GO, INDONESIA!!!

Jika ini semua masih berlanjut, jika pembelaan ibunda tersebut pun masih tidak berlaku. Jika masih keadilan bisa dibayar dengan kekayaan. Inilah yang akan kamu dapatkan untuk masa depan: sekumpulan lansia yang saling membunuh satu sama lain, untuk sekedar membuat perut mereka terisi. Karena inilah yang bisa, dan akan saya sampaikan kepada siswa-siswa saya:

Anak-anak, saat nanti kalian beranjak dewasa, inilah pilihan yang tersedia untuk kalian: tuntut ilmu dengan sebaiknya, tawarkan keahlian kalian untuk negara lain yang punya pemerintahan yang cukup adil untuk melindungi kehidupan kalian dan keluarga kalian. ATAU jadilah orang dengan pribadi bobrok dan menetap di sini, lalu saling menyikutlah kalian satu sama lain. Karena sungguh, keadilan hanya akan kalian dapatkan dengan menyuap pemerintah dengan uang.

 

* Bahkan saat menuliskan postingan ini, saya seolah marah pada diri sendiri karena sudah membenci negeri ini dengan sedemikian rupa. Sungguh, Indonesia bagai buah simalakama😥

2 thoughts on “When enough is enough, Indonesia!

  1. Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik masalah Gayus dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

    • saya kurang mengerti tentang konspirasi FreeMason ini. Yang saya tahu saat ini, keadilan untuk Ibu Arga harus ditegakkan.. Saya hanya ingin mimpi Alanda tidak mati.. se-simple itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s