Why are you even get married?

Tadinya buka-buka profile facebook nya Endy cuma mau bilang kangen sama karya-karyanya dan minta dia bikin soundtrack buku Empat Elemen, tapi saya malah teralihkan sama notes dia yang berjudul Get Married: Function of person or function of  Time. Tergoda untuk tulis comment, tapi kayaknya bakal panjang banget (seperti salah satu comment dari mbak Dyah –yang sebenarnya nggak saya kenal, tapi sksd aja tulis-tulis namanya di sini-)😀

Di postingan itu, Endy menulis tentang pernikahan dan alasan para pasangan akhirnya memutuskan untuk menikah. Apakah karena usia atau kriteria si calon? Dulu saya juga sering sekali mempertanyakan hal ini sampai akhirnya sekarang betul-betul bertanya pada diri sendiri. Apa sebenarnya tujuan kamu menikah, Asiah?

Jujur saja, pernikahan adalah prioritas nomor satu di hidup saya sekarang ini. Tak heran saya langsung tergerak untuk membaca notes tersebut haha..😀 Semua hal lain seperti kabur dari agenda. Saya jadi lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah, sedangkan dulu hampir setiap hari ada saja kegiatan di luar rumah. Bukannya kehilangan selera untuk nonton di bioskop, bukannya kehilangan selera untuk sekedar nyushi bersama sahabat, bukannya kehilangan selera untuk sekedar melepas lelah ikut ke mana saja hermesian pergi. Saya masih selalu punya keinginan untuk mengetik kata “ikuuuutttt” setiap Rahne dan Macha merencanakan pergi ke suatu tempat via twitter. Saya masih selalu ingin meng-iya-kan ajakan Tata untuk menonton pertunjukkan teater di TIM atau apapun yang ditayangkan Kineforum. Saya masih ingin.. tapi, hanya.sekedar.ingin. Pada akhirnya saya akan kembali pada apapun kegiatan saya di rumah saat itu. Pikir saya, pundi-pundi masih harus dipupuk untuk kehidupan selanjutnya, pernikahan.

Saya tahu, banyak orang yang meragukan keputusan saya dan Reza untuk segera menikah, bahkan mungkin dari Reza sendiri. Dan kebanyakan dari semua alasan keraguan itu berujung pada satu pangkal yang sama, materi. Bahkan seorang sahabat yang baru saja menikah menganjurkan untuk memikirkan kembali keputusan saya, karena dia sudah menemukan apa yang semua orang bilang “menikah itu nggak seenak pacaran”. Well, sayapun nggak pernah membandingkan pernikahan dengan pacaran, karena dua hal itu memang berbeda. Seperti kita membandingkan lebih enak mana pisang goreng atau main parasailing. Dua hal itu benar-benar sangat berbeda, kan? Tapi ada satu hal yang sering sekali dilupakan banyak orang, yaitu agama. Apa yang diajarkan Nabi pada kita dan apa yang sudah Tuhan wajibkan untuk kita. Dan tentu saja, di zaman sekarang ini materi jadi jauh lebih penting dibandingkan agama. Lalu, apa masih belum kamu temukan jawaban mengapa Tuhan banyak memberikan laknat kepada kita?

Saya tentu saja bukanlah orang suci yang tak pernah berbuat salah, saya justru adalah seorang pendosa yang sadar sudah melakukan begitu banyak hal yang dilarang Tuhan. Tidak mudah bagi saya menepis godaan yang begitu besar untuk berbuat maksiat, berkali-kali gagal mengendalikan diri sampai akhirnya jatuh tunduk pada godaan tersebut. Beruntung Tuhan begitu sayang pada saya hingga teguran demi teguran datang setiap kali saya melakukan kesalahan. Tentu banyak pelajaran yang Tuhan ingin saya pelajari dalam kehidupan. Termasuk pada fase hidup yang satu ini.

Beberapa orang bilang usia saya memang sudah cukup untuk segera menikah, beberapa berpendapat saya masih punya waktu sampai usia 30 nanti. Namun bagi saya, bukan usia yang menentukan kapan saya pantas menikah. Orang tua saya sudah selalu mewanti-wanti hal ini sejak beberapa tahun yang lalu, saat mereka sibuk mencarikan saya jodoh yang sesuai. Saat mereka terus memperkenalkan saya pada laki-laki yang saya tak tahu berasal dari mana. Saat mereka berulang kali bilang “Kakak udah terlalu tua untuk sendiri” “kakak mau tolak berapa orang lagi?” tapi sungguh, saya nggak pernah punya maksud untuk terlihat begitu sombong, sok menjual harga begitu tinggi. Saya tahu kapasitas diri saya, paksaan semacam itu justru bisa menjadi salah satu alasan saya meninggalkan orang itu kelak. Saya terus percaya, begitu Tuhan pertemukan saya pada orang tersebut, saat itulah saya siap untuk menikah. Pastinya, bukan tanpa alasan Tuhan hanya izinkan saya untuk menjalin hubungan dengan beberapa orang pria saja di hidup ini. Tuhan ingin saya melatih emosi dengan sabar dan usaha, lalu mengambil banyak pelajaran dari perjalanan tersebut. Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk pertemukan saya dengan orang itu.

Jadi itulah alasan saya menikah, karena saya merasa Tuhan sudah pertemukan saya dengan orang itu. Langkah selanjutnya yang Tuhan wajibkan adalah menikah, saya punya kuasa apa untuk menolaknya? Untuk perihal materi, sayangku… Nikmat Tuhan yang mana lagi –sih- yang ingin kita dustakan?

Will you just, marry me already??

-bee-

3 thoughts on “Why are you even get married?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s