I Don’t Smoke, Please Respect!

This past three days feels like a reunion days for me. Sadly, it started with someone’s death😦

Respect each other, will you?🙂

Hari kamis lalu, saya dikejutkan oleh tweet Alanda yang menulis tentang timeline @tikuyuz yang membuatnya sedih. Yang membuat saya bingung adalah tambahan alm. yang Alanda letakkan sebelum account @tikuyuz. Kaget bukan main, karena account tersebut adalah milik kakak kelas saya di Sastra Cina dulu (bernama Tika), dan terakhir saya tahu dia baik-baik saja. Saya langsung reply tweet itu dan menanyakan maksud Alanda. Sambil menunggu jawaban, saya buka account Tika dan juga facebooknya. Untung saja snaptu di handphone  loadingnya lebih zuper daripada blackberry usang saya. Segera saya tahu kalau Tika benar-benar sudah meninggal.Dan yang membuat saya seketika lemas adalah fakta kalau sebelum pergi, Tika terlebih dahulu berjuang melawan penyakit yang bernama Bronchopneumonia Duplex (i’ve search it on wikipedia for further info, but weirdly couldn’t find anything). Sepanjang saya memantau timeline nya, apa yang Tika idap ini ia sebut juga dengan flek paru, oh WAW.. that’s what i had a couple years a go.

Dulu Wiya (sahabat saya) pernah menangis tersedu saat mendengar kondisi saya di telfon, di sela isaknya dia bilang “Gue takut lo meninggal Asiah, berat badan lo turun drastis banget, apa nanti lo bisa tiba-tiba ilang?” saya yang waktu itu nggak pernah berfikir kalau penyakit itu bisa merengut nyawa saya cuma tertawa saja mendengarnya. But then when i heard Tika’s story, i was like mencelos😦

Penyakit Tika disinyalir disebabkan oleh predikatnya sebagai perokok pasif. Saya tahu teman-teman Tika dan saya juga tahu sebagaimana aktif mereka merokok setiap harinya. Dulu sebelum sakit, saya juga pernah mencoba merokok, dan sepertinya paru-paru saya langsung menolak saat itu juga. Tak lama setelahnya saya langsung mengidap batuk aneh yang nggak sembuh-sembuh. Lalu sampailah saya pada masa di mana bisa bernafas dengan lega adalah sebuah kemewahan.

Nggak akan pernah saya lupa bagaimana sakitnya paru-paru saya saat itu. Setiap mencoba nafas panjang, pasti akan berakhir dengan perih yang nggak bisa saya tolelir lagi dan nggak ada yang bisa saya lakukan saat itu kecuali menangis. Berat badan saya turun drastis dalam sekejap, berat normal saya 58 kg dan saat itu berat saya bisa mencapai 45 kg hanya dalam waktu beberapa minggu saja. Nggak peduli berapa banyak lemak saya makan, tetap saja semuanya hilang entah ke mana. Orang tua saya bukanlah tipe orang yang bergantung pada dokter setiap mereka sakit. Bahkan saat saya mengidap flek paru inipun, saya hanya dirawat di rumah dengan pengobatan seadanya. Suatu kali, saat akhirnya ande setuju untuk me-rotgen paru-paru saya, kami sangat terkejut melihat hasilnya. Hampir 75% dari gambar paru-paru saya seperti ditutupi kabut tebal. Kata dokter itu adalah cairan flek, mungkin cairan itulah yang selama ini selalu keluar dari tenggorokan saya setiap mencoba bernafas panjang. Dokter yang tak lain adalah ibu sahabat saya itu langsung menyarankan untuk rawat inap saja. Tapi saya menolaknya.

Selama hampir satu tahun saya menjadi pasien di dalam rumah. Pengobatan saya percayakan pada kakek yang selama ini sudah seperti dokter keluarga. Setiap hari saya harus menelan obat-obat yang rasanya seperti mimpi buruk dan dua hari dalam seminggu saya menerima suntikan obat juga. It was a never ending bad day😦 But i survived, setelah sekian lama menjalani pengobatan itu, ahirnya saya dinyatakan sembuh. Setelah dilakukan rotgen lanjutan, paru-paru saya sudah bebas dari kabut tebal. Dan saat saya duduk menuliskan postingan ini, berat badan saya sudah kembali normal (58 kg meh!) dan sudah dapat membaca surat Al Fatihah dengan hanya sekali nafas saja hoho..

Semua pengalaman yang saya lalui inilah yang kemudian membuat saya sepertinya tahu apa yang Tika rasakan sebelum pergi. Agak sedikit merasa kesal saat seorang teman (yang perokok aktif) menuliskan tweet-tweet melawan kampanye anti rokok. Mungkin dia cukup beruntung karena memiliki paru-paru yang sangat kuat, bisa melawan semua racun yang sudah ia konsumsi sekian lama ini. Tapi alangkah baiknya kalau bisa sedikit membuka hati dan berpositif thinking satu sama lain.

Saya mengerti, terkadang orang-orang meneriakkan kampanye anti sesuatu dengan suara yang terlalu lantang. Kampanye-kampanye semacam ini kemudian membuat beberapa golongan merasa tersudutkan. Tapi ketika situasi sudah menjadi seperti kemarin, alangkah baiknya kita tutup kuping saja untuk semua suara yang berlebihan itu dan mencoba untuk menyerap semua sisi positifnya. Seperti teman saya yang perokok di atas kemudian mengatakan kalau dia bersedia untuk tidak merokok saat ada yang keberatan dan memilih untuk duduk di depan saat ingin merokok di angkot. Sikap seperti itulah yang kemudian dibutuhkan. Saling mengerti satu sama lain.

Saya adalah orang yang super bawel kalau sudah masalah rokok. Sangat bersyukur karena Reza bukanlah perokok. Tapi tidak sedikit dari sahabat-sahabat saya yang juga merokok, pada saat kami berkumpul bersama dan saya adalah kaum minoritas, maka nggak ada salahnya saya yang berusaha untuk mengerti dan sedikit menjauh saja untuk beberapa saat. Pokoknya, saling mengerti saja..

Sehari setelah menghadiri pemakaman Tika (dan tetap saja saya melihat salah satu temannya merokok di sana, tsk! >.<) saya naik angkot menuju ITC. Baru saja masuk pintu angkot, saya langsung diserbu asap rokok bertubi-tubi. Lalu di sanalah duduk di depan saya, seorang bapak yang membawa isteri dan tiga anaknya, memegang rokok yang menyala dengan asap mengepul ke mana-mana. Mbak-mbak di sebelahnya sudah pasang wajah kesal dan super terganggu, dia sibuk mengibaskan asap rokok dari depan wajahnya. Nggak menunggu lama, langsung saja saya konfrontasi bapak itu.

Pak, rokoknya bisa dimatikan saja? asapnya mengganggu..

Begitu kata saya. Bapak itu sempat terlihat kesal dan tersinggung, melihat saya dengan tatapan ingin nonjok. Tapi saya senyum saja. Nggak lama kemudian, dengan canggung bapak itu mematikan rokoknya. Mbak-mbak di sebelahnya terperangah tak percaya. Saya ucapkan terimakasih pada bapak itu. Maaf, walaupun penampilan si bapak mirip preman terminal, tapi hak untuk sehat juga ada pada saya toh?

Saya tidak merokok, tolong hargai itu🙂

-bee-

7 thoughts on “I Don’t Smoke, Please Respect!

  1. Pingback: Tweets that mention I Don’t Smoke, Please Respect! « A Happy Ending Seeker -- Topsy.com

  2. setuju banget mba. aku juga punya banyak keluarga n temen yg merokok, tapi aku gak suka baunya. harusnya ada sedikit tenggang rasa dari para perokok untuk menghormati mereka yang tidak merokok.

    • kamu punya hak untuk bilang rasa keberatan kamu Pi, tapi emang dilihat situasinya juga. Kalau memang kamunya justru yang minoritas, ya kamu inisiatif aja untuk menjauh🙂

  3. Pingback: And So It Was… « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s