Resolusi VS Revolusi

Seorang teman menuliskan ini di akun twitternya:

@lianamaku kata temen gue, #akhirtahun itu waktunya bikin revolusi cinta bukan #resolusicinta😛

Saya tersenyum membacanya. Kalimat itulah yang persis saya pikirkan di akhir tahun lalu. Seperti kebanyakan orang lainnya, saya pernah terbiasa membuat resolusi akhir tahun di setiap bulan Desember. Dan poin “punya pasangan” dan “menurunkan berat badan” pasti ada di dalamnya. Bertahun-tahun saya menunggu orang itu datang di hidup saya. Tapi tahun demi tahun selalu berlalu begitu saja. Saya tetap sendiri, bahkan berkali-kali bertemu dengan orang yang salah. Dan pada akhirnya saya harus kembali menguras emosi demi melepaskan mereka dari dalam hati.

Sampai akhir tahun lalu saya merasa letih sendiri. Resolusi rasanya menjadi sebuah momok. Saya mulai tersugesti bahwa daftar itu selamanya hanya akan menjadi wacana belaka. Saya putuskan untuk berhenti ber-resolusi. Karena saya sadar yang saya butuhkan adalah sebuah revolusi.

Revolusi tersebut dimulai dari akhir tahun 2009, di mana saya dengan super nekatnya melepas pekerjaan tanpa ada back up sama sekali. Kemalangan demi kemalangan datang menjelang hengkangnya saya dari kantor, hingga tabungan terkuras sedemikian rupa. Pada akhirnya saya resmi jobless dengan nominal tabungan yang sungguh memprihatinkan. Saya takut setengah mati, terkadang bahkan meratapi nasib sendiri. Tapi di dalam hati, saya tahu kalau itulah yang terbaik untuk saya. Saya tetap percaya pada Dzat Maha Kaya yang sudah mencipta dan merawat saya selama ini.

Sehari setelah resmi resign, saya pergi meninggalkan Jakarta. Hati yang sempat remuk karena seseorang, sepertinya butuh diperbaiki di kota lain. Di sana saya menikmati kebebasan itu. Setiap hari saya usahakan untuk melakukan hal-hal baru yang tak pernah saya lakukan. Memikirkan semua hal yang terjadi di tahun menyakitkan itu. Berintrospeksi diri dan mencari solusi yang terbaik, untuk kemudian menata hidup yang benar-benar baru sekembalinya ke Jakarta nanti. Nggak bisa saya ingat, seberapa banyak air mata yang saya tumpahkan saat itu, demi kemudian bertekad untuk tak lagi meneteskannya di Jakarta. I really enjoyed that holiday.

Saya kembali ke Jakarta untuk kemudian menemukan betapa rapuhnya saya. Bukan hanya tak bisa menghapus orang itu dari dalam hati, saya bahkan tak bisa menghapusnya dari keseharian saya. Semuanya berulang kembali, seperti hilang arah, saya tak lagi bisa melihat ujung perjalanan saya dengan dia. Berulang kali berteriak pada diri sendiri untuk pergi, untuk berhenti, tapi setiap saat itu pula saya malah semakin tenggelam. Sampai suatu saat satu pernyataan datang dari mulutnya yang membuat saya terperangah. Mungkin dia hanya bergurau, tapi gurauan itu mampu membuat mata saya benar-benar terbuka. Di sanalah saya melihat titik terangnya, semakin yakin saat seorang teman dengan sangat lugas berkata pada saya:

Laki-laki macam apa yang beraninya menginjak-injak harga diri lo sampai sebegitunya, Asiah?

Di saat itulah ujung perjalanan itu mulai tampak. Ditambah lagi kedatangan Reza yang seolah membawa cahaya dalam kegelapan. Menuntun saya untuk tetap berjalan menjauh dari masa kelam itu. Sampai akhirnya saya benar-benar keluar dari sana. Semua yang remuk mulai dapat tertata kembali. Dan semua yang berjalan di jalur yang begitu berantakan, mulai kembali ke jalur yang seharusnya. Saya, dia, dan mungkin orang-orang yang pernah kami sakiti.

Tak tersisa dendam dalam hati ini. Saya bahkan sangat berterimakasih pada Tuhan karena telah mengizinkan saya untuk belajar banyak dari pengalaman tersebut. Mungkin inilah yang dinamakan revolusi. Harus terlebih dahulu luluh lantak menggugurkan begitu banyak rasa. Namun ketika semuanya berakhir, hanya kedamaian yang kemudian tertinggal. Akhir tahun ini, saya ingin sekali lagi merasakan revolusi itu. Tentu saja sudah banyak rasa luluh lantak di perjalanan kemarin. Namun jika terus berusaha, saya tahu saya pasti akan menang.

-bee-

2 thoughts on “Resolusi VS Revolusi

    • heee… kok bisa lo nangkring di sini?😛

      iya, doain ya Di. Pengen banget gue melangkah ke sana. Belum dikasih jalan sama Allah nih, masih tahap terus berdoa dan introspeksi diri..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s