Ketegarannya, membuatku malu

Bu, kemarin ayahku meninggal. Aku sayang banget sama ayah bu, aku kangen ayah.

Begitu katanya siang tadi, saat saya berkunjung ke kelasnya untuk memberikan briefing teman-temannya yang akan menampilkan drama di salah satu special event sekolah kami di akhir semester nanti. Sempat saya tertegun sekian detik, saya pandangi wajahnya, tak ada raut kesedihan sama sekali, yang saya lihat hanya ketegaran. Tentu saja dia terlihat kehilangan, tapi rona ingin menangis, tak segarispun ia tampakkan. Mungkin itulah yang kemudian membuat saya bisa bertahan tidak menitikkan air mata. Mungkin itulah yang membuat saya langsung merengkuhnya ke dalam pelukan dan mengelus punggungnya. Ia membalas pelukan saya, cukup erat.

Kamu tahu sayang? doa anak sholehah, bisa melapangkan kubur orang tua. Kalau kamu kangen ayah, kamu doakan ayah, nanti makam ayah bisa terasa amat lega untuk ayah.

Itulah yang saya sampaikan padanya, sesuai dengan apa yang guru agama saya dulu ajarkan. Itu yang saya tahu, semoga saya nggak salah bicara. Ia membalasnya dengan anggukan dan senyuman.

–oOo–

Terkadang kita punya asumsi sendiri terhadap sesuatu, bahkan terkadang asumsi kita tersebut jauh menggerogoti logika kita hingga terasa seperti nyata. Seperti kisah murid saya yang satu ini.

Beberapa hari yang lalu, ruangan guru tempat saya bekerja sedang hectic-hecticnya dengan kegiatan pra dan pasca UAS. Beberapa sedang memeriksa soal UAS siswa, beberapa sedang mengerjakan narasi siswa, dan beberapa sedang memasukkan semua nilai assesment siswa untuk raport. Saya sendiri sedang sibuk membuat brocure untuk sebuah special event di akhir semester yang memang dipercayakan pengerjaannya pada saya.

Salah satu guru sedang ingin keluar ruangan saat ia dihadang oleh seorang laki-laki yang mengenakan sebuah seragam tertentu (agak mirip PNS). Ia menyampaikan sesuatu yang membuat guru tersebut tertegun lama. Saya yang tak sengaja memperhatikan mereka mulai merasa kurang nyaman. Ada beberapa prasangka berkelibat di kepala saya. Siapa yang kecelakaan? ada yang tertangkap memakai narkoba? siapa yang dipenjara? ah… otak saya ini memang kadang terlalu absurd. Bapak itu kembali bicara, guru tersebut kembali tertegun dan saya semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Untunglah moment itu tak berlangsung lama, guru yang mendadak hobi tertegun itu mendapat pertolongan berupa salah satu guru lain yang sedang tidak in the mood untuk tertegun-tertegun-an. Ia dengan sigap melayani bapak dengan seragam tertentu itu.

Zip zibidipap bip bop.. *maksudnya singkat cerita*

Barulah saya tahu kalau ayah dari salah satu siswa saya dipanggil Allah siang itu, dan bapak tadi adalah supirnya yang datang untuk menjemput. Terselip satu pesan dari bapak supir untuk tidak memberitahukan siswa saya tentang berita sedih itu. Saya yang bukan anak dari almarhum, bukan kakak dari siswa saya itu mendadak mellow. Nggak heran guru pertama tadi mendadak hobi tertegun, karena hobinya itu mulai menulari saya. Saya tertegun cukup lama setelahnya.

Ayahanda meninggal mendadak, sepertinya serangan jantung. Pagi itu ia sempat memimpin rapat di tempatnya bekerja. Lalu tiba-tiba saja ia mengeluh sakit pada pinggangnya, lalu ia jatuh pingsan. Matanya tak lagi terbuka setelahnya, sampai saat ini, ia dirangkul Tuhan di alam sana. Murid saya sepertinya tak sempat mengucap selamat tinggal, atau mungkin pelukan sayang terakhir.

Otak absurd saya mulai berkelana lagi. Ya Tuhan apa yang akan terjadi kalau siswa saya ini mendengar berita tadi? Ya Tuhan dia masih kecil sekali.. Ya Tuhan apa yang akan terjadi setelah ini? Ya Tuhan siapa yang akan membiayai hidupnya nanti? apa nanti dia akan tetap bersekolah di sini? Ya Tuhan siapa yang akan membayar iuran sekolahnya? Ya ya saya tahu itu bukan urusan saya, tapi tetap saja, di sekolah itu saya adalah salah satu orang tuanya. Ingin sekali saya menemani di sampingnya, bersedia menjadi apa saja yang bisa membuat dia tenang. Tapi saya bukan siapa-siapa, saya hanya gurunya saja.

Saya sudah berasumsi macam-macam saat itu. Saya bayangkan gadis kecil itu sama tertegunnya dengan saya saat mendengar berita itu. Lalu ia akan menangis meraung karena tak percaya, lalu ia mulai membayangkan kenangan-kenangnya bersama sang ayah. Lalu perlahan ia mulai mencari ibunya, kakaknya, adiknya, atau siapapun yang ia rasa pasti merasakan apa yang ia rasakan saat itu. Lalu ia akan menghiba pada Tuhan dan bertanya mengapa ia? mengapa ayahnya? mengapa sekarang?

Lalu saya tersadar, saya sedang membandingkan dia dengan diri saya sendiri. Kenyataannya dia masih bisa tersenyum manis saat pagi hari tadi saya bertemu dengannya. Saya sempat menyampaikan duka simpati saya, tapi sepertinya dia tak cukup menangkap, pendengarannya memang tidak baik sejak lahir. Namun lalu siang itu beruntung sekali dia masih datang pada saya untuk mencurahkan perasaannya. Saya merasa dianggap🙂

Tak mau lah saya membuang kesempatan itu, saya hadapkan wajah saya ke wajahnya, setidaknya ketika dia tidak menangkap suara saya dengan sempurna, dia bisa membaca gerak bibir saya.

Ibu turut berduka ya Nak, kamu tegar sekali… ibu bangga sama kamu. Tetap pertahankan senyum itu ya, karena kelak di kehidupan dewasamu kamu akan sangat membutuhkannya.

Oh well.. saya sekali lagi membandingkan dia dengan diri saya sendiri, haha!

-bee-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s