Yuk, Berbagi Tawa

hidup ini pilihan sayang, kenapa kamu selalu memilih untuk menangis? Padahal kamu bisa terus tersenyum dan menjalani hari ini dengan bahagia.

Begitulah, berulang kali Reza tekankan kepada saya kalau hidup ini tergantung dengan apa yang kita pilih. Dan belakangan ini sepertinya saya lebih baik memilih tidak membaca twitter. Begitu banyak caci maki yang dituliskan di sana. Mungkin karena 140 karakter lebih efektif untuk mencaci dibanding memuji dan bicara hal-hal yang bisa membuat hati menjadi semakin sejuk.

Dimula saat 3 hari yang lalu, Jakarta seperti biasanya ditumpahi air dari langit. Saat itu sepertinya lebih deras dari biasanya dan banjir tentunya menjadi dampak utamanya. Lalu dari banjir itulah menyusul kemudian kemacetan yang seolah nggak ada akhirnya dan di sanalah muncul teriakan-teriakan yang memekakkan hati, oleh penghuni twitter.

Mulai dari orang-orang yang berdoa agar hujan cepat reda dan banjir cepat surut, sampai dengan curhat seorang teman yang dikabari oleh bapak kost nya kalau kamar kost nya sudah tergenang air setinggi 10 cm. Tidak terlalu tinggi memang, tapi untuk seseorang yang menjadikan konsep lesehan sebagai tata letak semua barang di kamar, hal ini tentunya menjadi masalah yang besar. Secara semua barang diletakkan di lantai, termasuk kasur dan beberapa alat elektronik. Lalu simpati pun bermunculan, saya yang saat itu memang sudah aman dan nyaman di dalam kamar cuma bisa menuliskan simpati untuknya lewat timeline saya. Walaupun nggak berapa lama kemudian kamar saya pun ikut banjir. Ah kalau hal ini sih memang sudah biasa. Entah mengapa atap kamar saya ini paling mudah dirembesi air. Bahkan ada satu titik yang sepertinya memang bolong dan selalu sukses menjadi saluran air penyalur banjir ke lantai. Sudah beberapa kali ditangani, tetap saja dia berulah. Ah.. apa perlu saya juga yang naik ke atap sana untuk melihat di mana permasalahan sebenarnya?? hmmm… *aura kuli nya muncul*๐Ÿ˜›

Seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya, tak berapa lama setelah simpati buat beberapa orang yang terjebak macet dan banjir melayang-layang di timeline, mulailah satu per satu orang mengeluh dan mencaci maki pemerintah. Bapak menteri ini begini, bapak Gurbernur itu begitu, bapak Presiden gimana sih? Bapak yang kumisnya tebal itu begitu sih?? dan yang paling agak keluar konteks mungkin saat orang-orang mulai mencolek-colek salah satu anak mantan Gurbernur Jakarta. Bapak menteri ini dan itu, bapak presiden dan gurbernur yang kumisnya nggak kuku itu mungkin nggak menanggapi langsung lewat twitter ya, tapi si anak mantan gurbernur ini tampaknya gerah juga namanya ikut dikait-kaitkan. Dia, dengan gayanya yang nyinyir me-reply tudingan-tudingan itu. Yang menuding nggak bisa terima dijawab nyinyir begitu akhirnya me-RT ucapan nyinyir si penjawab, ramailah langsung para follower mereka. Lalu para selebritis (slash sosialita) ikut ramai membela si mulut nyinyir. KABOOOOMMMMM…. twitter jadi semacam kebakaran. Sepertinya kalau api itu diletakkan di bawah aspal Jakarta malam itu, banjir di atasnya bisa menguap dan kemacetan bisa kemudian dikendalikan ya? tapi sayang, twitter seperti biasanya hanyalah sebuah platform yang tulisannya belum tentu bertahan lama di timeline seseorang, apalagi di otak mereka. Coba tanya sekarang, mereka pasti masih ingat kejadian itu, tapi apa mereka masih ambil pusing? well, i don’t think so…

Lalu berlanjut kemudian bencana yang terjadi di Merapi dan Mentawai, semua orang menangis dan meratap sedih pada awalnya. Namun kemudian mulai kembali mencaci pemerintah. Apa nggak capek ya marah-marah terus kayak begitu?

Saya bukannya nggak ikut kesal dan marah dengan lambannya gerak pemerintah kita. Tapi saya mulai malas membaca timeline saat orang-orang mulai menulis bagaimana pemerintah kita lebih mementingkan berjalan-jalan ke luar negeri dibandingkan menolong korban bencana tersebut. Kenapa sih kita selalu berburuk sangka pada pemerintahan kita? bagaimana dengan orang-orang yang juga punya kedudukan di sana dan benar-benar mengerjakan tugasnya dengan baik? kecil mungkin, namun semua hal butuh proses. Seharusnya kita bersabar dan berikan sedikit ruang pada orang-orang yang bertugas itu untuk bergerak. Atau tindakan yang lebih kongkrit, datang saja langsung ke tempat bencana dan lihat bagaimana cara pemerintahan bekerja di sana. Kalau memang tak sesuai, teriakkan langsung di muka mereka. Berteriak di microblogging tak akan memberi pengaruh banyak.

Tom Cruise, Justin Bieber dan para selebritis hollywood itu memang sangat perhatian dan dermawan masih ingin membantu kita yang kesusahan ini. Bersyukurlah dengan itu semua. Tapi sudahlah titik sampai di situ.ย  Tak usah ditambahi embel-embel lainnya. Simpan saja semua tenaga untuk mencaci itu dan kerjakan hal-hal yang lebih bisa memberi manfaat. Seperti errrr…. mengajak saya nonton film bagus misalnya?? hehehe…๐Ÿ˜€ *bercandaaaa*

Kita masih boleh kok, tertawa di saat-saat seperti ini, apalagi tawa itu kita bagi untuk anak-anak yang ada di sana. Ah.. ini membuat saya ingin datang ke lokasi bencana itu dengan kostum badut. Akan saya peluk semua anak yang terlihat sedih dan trauma. Akan saya bacakan banyak cerita untuk mereka… cerita tentang negeri kita yang berhasil keluar dari masa kelam ini. Tentang kehidupan yang jauh lebih baik lagi. Cerita tentang anak-anak kecil yang tertawa bermain di pantai dan kaki gunung merapi..

Untuk bapak menteri yang melarang kita tinggal di pulau itu, bagaimana kalau kita tenggelamkan saja dia ke kolam ikan belakang rumah saya? Setuju??

*cheers tweeps ;)*

-bee-

4 thoughts on “Yuk, Berbagi Tawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s