Till Death Do Us Part

Pagi yang sempurna. Dengan semilir angin sepoi-sepoi yang menerobos sela-sela jendela. Sejuknya memandikanku dalam kesegaran. Tapi jari-jari tanganku masih saling berdekapan, mengusir gemetar yang enggan berhenti mencumbui setiap ujung kuku. Tiupan hangat mulutkupun tak sanggup menembus benteng dingin yang tiba-tiba saja menjulang mengepung tanganku. Dan aku masih saja duduk di tepian ranjang, dengan tulang-tulang yang terpasung usia.

Kucoba menengadahkan tanganku. Tapi…Ah, sepertinya aku mulai putus asa. Tanganku begitu gemetar. Dan kali ini aku tak sanggup mengatasinya. Samudra kepanikan mulai menggulung kesabaranku. Dalam hati aku bertanya, ‘Inikah saatnya, Tuhan?’

Aku memejamkan mataku. Tunduk sepenuhnya pada ketentuan semesta. Ketika membuka mata, aku merasa kedua tulang pipiku tertarik kebelakang membentuk lengkungan kecil di wajahku. Lengkungan kecil yang selalu meluruskan masalah kita.

”Ternyata kita masih harus bersabar, Ratu Lebahku.”

–oOo–

December, 5th
Kado cinta untuk jagoan terbaik di dunia

Da, sudah Desember lagi. Berarti kita sudah berhasil melewati usia pernikahan ini setahun lagi. Terima kasih telah menemaniku bertualang dari waktu ke waktu selama 27 tahun ini. Terima kasih untuk segala yang kau bagi denganku, untuk pertengkaran-pertengkaran kecil yang membuat kisah kita jadi berwarna, untuk tawa lebarmu ketika macaroni schotel kesukaanmu bantat, untuk senyum merayumu saat kopi asin tanda ’protes’ kusuguhkan, untuk sore-sore yang membahagiakan saat kita duduk berdua di kursi taman yang dikelilingi mawar kuning sambil membahas kisah sepasang batu, juga untuk semua tawa dan airmata yang kita bagi selama membesarkan anak-anak, tak ketinggalan untuk kecupan dan bisikan ”Saatnya bangun, Ratu Lebah” di hampir setiap pagi kita.

Tak bisa kujelaskan bagaimana rasanya mencintaimu hingga sedalam sekarang ini Da, meski hingga saat inipun keseluruhanmu tetaplah menjadi misteri bagiku. Tapi bukankah rahasia itu candu kenikmatan? Seperti kegelapan yang mencandu cahaya untuk bertemu keindahan?

Selamat ulang tahun pernikahan Da. Dan ini kadoku untukmu. Kado yang sama yang kau berikan padaku saat ulang tahun pertama pernikahan kita. Masih ingat? Hohoho kuharap begitu….Aku masih rapi menyimpannya lho Da, bahkan dalam mimpiku, berharap baris terakhirnya akan dikabulkan Tuhan “— and, if God choose, I shall but love thee better after death.” Dan jika nanti satu dari kita pergi menghadap-Nya dulu, kutak ingin ada airmata duka, Da. Karena semua yang di sini sudah dicukupkan oleh-Nya untuk kita.

How do I love thee? Let me count the ways.
I love thee to the depth and breadth and height
My soul can reach, when feeling out of sight
For the ends of Being and ideal Grace.
I love thee to the level of everyday’s
Most quiet need, by sun and candle-light.
I love thee freely, as men strive for Right;
I love thee purely, as they turn from Praise.
I love thee with a passion put to use
In my old griefs, and with my childhood’s faith.
I love thee with a love I seemed to lose
With my lost saints, —
I love thee with the breath,
Smiles, tears, of all my life! —
and, if God choose,
I shall but love thee better after death.
-Elizabeth B. Browning-

Ps: Sekarang, rambut kita seri Da, tanpa kau harus mengecatnya putih. Hahaha…
I love you, Da.

 

Kulipat lagi kertas itu dengan tangan yang tergetar. Seberkas keharuan menyeruak, tak bisa bersembunyi meski ada di dalam rimbunnya rindu. Dan hati ini telah terikat sebuah janji. Sebuah rahasia. Yang disimpan rapat oleh semesta.

 

–oOo–

 

Hujan sudah lama berhenti sedari sore tadi. Menyisakan dingin untuk diperangi meski seluruh jendela telah ditutup. Di kamar ini hanya ada kita. Kau dan aku. Dan lengan ini masih setia mendekapmu, mencoba merengkuh yang tak teraih, mata ini tak bisa berhenti memuja, meski batinku teraniaya sepi. Dan bibir ini tak pernah absen mengecup, meski dingin balasanmu.

Kurebahkan dirimu di dadaku. Kau menurut saja. Sesaat keheningan telah menjadi musik yang menemani kita. Dari bibirku mulai meluncurlah patahan-patahan suara bernada merajuk.

“Un..aku lebih suka kau beri secangkir kopi asin lho daripada kau diamkan begini.” candaku.

Kau masih saja diam.

“Aku merindukan saat-saat itu, Un”

Tetap tak ada balasan.
Aku menghela nafas.

“Ya sudah. Jadi…malam ini giliranku lagi ya yang bercerita sendiri?”

Kutatap matamu dan kau hanya diam, balas menatapku bersama kerlingan dan senyuman yang kuartikan sebagai tanda setuju itu.

“Kamu selalu cantik, Ratu Lebahku”

Lagi-lagi kamu hanya tersenyum seolah ingin berkata “Uda mulai nggombal ih”. Sambil membelaimu, kulanjutkan lagi cerita yang baru saja kumulai.

“Tadi sore, aku membaca lagi puisi kesayangan kita, Un Rasanya… masih sama dengan ketika pertama kali aku menuliskannya untukmu. Berdesir di kedalaman hatiku..”

Aku menghela nafas sebentar sambil menerawang jauh ke balik jendela.
“Bedanya, tadi kursi taman di sebelahku kosong, Un. Yah…meskipun Anggi, menantu kesayangnmu itu, sempat menemaniku bercerita sebentar, tetap saja tak pernah sama rasanya dengan ketika kau di sana.”

“Juga buku petualangan kita. Kamu tahu, Un. Aku merindukan tulisanmu di sana.”

Aku berhenti sejenak. Memuaskan tawa lirihku memanjakan kenangan-kenangan yang tiba-tiba saja terlahir kembali di ingatanku. Aku mulai menghela nafas. Setelah menghembuskannya agak kencang, kupalingkan lagi tatapanku ke arahmu.

“Aku sudah lelah menunggu Un. Semoga semuanya dicukupkan untuk hari ini. Sampai besok ya, Ratu Lebahku, …and if God choose, I shall but love thee better after death. Okay?”

Kuangkat tubuhmu yang terbingkai frame berukuran 20R itu perlahan. Dengan tangan yang masih tergetar, kudekap kau didadaku dengan sepenuh hati, setelah sebelumnya sebuah ciuman kuhadiahkan di wajahmu yang tak henti-hentinya tersenyum.

Ketika lelap hampir menguasaiku, tiba-tiba aku merasakan hadirmu di dekatku. Kubuka mataku, dan ya, kau terduduk di pinggir ranjang sambil merentangkan tangan siap memeluk. Seketika mataku berkejap bahagia. Dan tubuhku terasa ringan, tak lagi terpasung tulang-tulang yang sudah menua, bangkit menyambutmu.

”Ikutlah denganku, Jagoan.” bisikmu perlahan.

”Kemana?”

”Ke tempat dimana keabadian tak akan retak” sahutmu sambil menggandengku, menjauhi sosok renta beruban putih yang tergeletak damai dalam senyum, di tempat tidur, sambil memeluk sebuah foto bergambar wanita paruh baya yang memamerkan keindahan lesung pipitnya.

 

*a birthday present from Eliana Chandra*

Tak sengaja membuka kembali tulisan ini, sebuah cerpen yang dihadiahi mbak Eli pada saya di bulan Desember tahun lalu.  Saya memang mendapat banyak kado tulisan dari teman-teman Hermesian (komunitas menulis) tahun lalu. Tulisan ini adalah favourite saya. Indah banget. Saya speechless..

Saya pernah post ini di blog lama saya dan kembali saya post di sini. Saya dedikasikan untuk… kamu.. Patrick. Jika sampai mati adalah hari kebalikan, maukah kamu membenciku sampai aku hidup selamanya?

love,

-beeBob-

5 thoughts on “Till Death Do Us Part

  1. Pingback: Tweets that mention Till Death Do Us Part « A Happy Ending Seeker -- Topsy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s