Red Bean

Jadi, terjadi sesuatu saat kami makan di Ta Wan Margo city Depok pas bulan puasa kemarin dan itu sukses membuat saya ogah makan di situ lagi. Tapi mungkin di tempat lain masih saya jabanin deh.

Setelah beberapa kali berganti rencana (Han gang-gokana teppan-resto korea di Darmawangsa Square-Sushi Tei) akhirnya kemarin saya dan Reza memutuskan untuk nonton (either) Eat Pray Love atau Step Up 3D di Margo City, hahaha… sungguh kelabilan yang amat sangat akut. Ini saya, bukan Reza, tentu saja.

Oh iya, kenapa sih orang-orang keranjingan banget nambah-nambah-in embel-embel 3D di belakang judul film mereka? kemarin saya nonton Resident Evil yang  juga pake embel-embel 3D di belakangnya tapi nggak ada bedanya tuh sama film-film lainnya. Datar-datar aja. Kecuali mungkin di beberapa -oh sepertinya hampir semua- adegan yang terlihat laaaaammmmmbbbbbaaaaatttttt bbbbaaaaannnngggggeeeettttt *ceritanya slow motion*😛 Apa itu yang kini menjadi definisi dari 3D? (sangat lambat?) Apa di Step Up 3D nanti saya juga akan mendapatkan adegan yang seperti itu? duh…  bisa nggak saya pesen yang formatnya biasa aja? nggak papa deh nggak 3D, asal jangan bikin ngantuk, itu aja cukup kok..

OK mulai ngelantur. Lanjut lagi yah..

Berangkat dari Setiabudi sekitar jam setengah delapan, kami sampai di Margo City sekitar jam setengah sembilan. Saya tidur di sepanjang perjalanan (haha.. i do this like frequently, thank God my boyfriend is super duper patient so he never complain :D) bangun-bangun udah di depan Margo City dan itu ruamenyaaaa Masya Allah. Udah kayak setengahnya warga Depok dateng ke situ semua >.< Langsunglah feeling saya bicara, ini sih alamat nggak kebagian tiket nonton. Dan benar sekali pembaca sekalian. Kedua film itu sudah hampir sold out.

Pesan moral: jangan tidur di sepanjang perjalanan, ajak pacar ngobrol, siapa tau salah satu dari kalian ada yang kepikiran hal ini sebelum sampai tujuan dan bisa mencari alternatif lain. Hzzz….

Akhirnya kami hanya makan saja deh. Reza kalau sudah ke Margo City pasti maunya makan di Ta Wan. Tapi seperti pernyataan saya di awal tadi, nggak mau! pokoknya nggak mau makan di sana lagi! titik!

Sempat mau makan di Ichiban Sushi, tapi takut kecewa dengan cita rasanya karena lidah kami sudah pernah dihinggapi rasa sushi enak. Akhirnya kami beralih ke Red Bean. Ternyata menu makanan di Red Bean nggak beda jauh sama menu makanan Ta Wan, malah lebih lengkap. Walaupun mungkin harganya agak lebih mahal.

Reza langsung kepincut dengan sup kepiting jagung, sedangkan saya langsung menengok menu tofu. Akhirnya kami pesanlah dua menu itu dan udang mayonnaise (saya sempat bimbang tuh antara udang mayo atau udang telur asin, dua-duanya tampak nyamiii). Minumannya biasa aja. Saya pesan Hot tea dan Reza pesan juice (kali ini melon).

The food

Beverage

Ternyata kombinasi makan soup dengan main dishes kayak begitu enak juga. Biasanya kan kami pesen bubur. Red Bean juga menyediakan bubur sih, tapi entah kenapa kali ini Reza bisa langsung tertarik sama sup nya. Semua pesanan ludes kami sikat berdua. Pulangnya kami kekenyangan, hahahahaha…😀 *Masya Allah*

-bee-

nb: foto diambil dengan kamera samsung androidnya Reza, ada aplikasi yang namanya fx camera yang memungkinkan kita taking picture kayak pake lomo. Ada fish eye dan kawan-kawannya. Ha.. ternyata menyenangkan juga handphone itu lama-lama😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s