My Mom Is My Favourite Author

Kalau kamu ingin melihat sosok ibumu dengan keadaan paling tenang dan bersahaja. Lihatlah beliau sesaat setelah bangun tidur, dan diam-diam menyesap teh hangat buatannya sendiri.

Seperti pagi-pagi biasanya, ibu lebih dulu bangun dibandingkan aku dan Bik Naryem. Namun pagi ini saat aku mendengar suara dentingan sendok beradu dengan gelas di dapur, aku memilih untuk menyingkap selimut yang menutupi tubuhku dan beranjak bangun dari tempat tidur. Aku berjalan pelan ke arah dapur dan melihat ibu yang masih terlihat sangat cantik dengan balutan daster sutra putihnya sedang menyesap teh hangat dengan sangat nikmat. Aku tak pernah melihat ibu menikmati waktunya seperti itu. Ia terlihat begitu cantik dan tenang. Tak terlihat sama sekali sisa-sisa peristiwa yang terjadi tadi malam. Aku melangkahkan kakiku ke kamar pelan-pelan dan kembali masuk ke dalam selimut tebalku. Berbaring, tanpa dapat memejamkan mataku lagi.

Semalam, ibu datang ke kamarku. Tak biasanya ia duduk di sisi tempat tidur dan lama terdiam. Aku memeluk boneka beruang yang ibu belikan saat aku berhasil mendapatkan nilai terbaik di kelasku. Ibu tak pernah seperti itu, belakangan ia selalu sibuk di ruang kerjanya, menyelesaikan novel terbarunya.
“Nanda kangen ayah?” tanya ibu saat itu.
Aku hanya dapat terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Ayah? Sudah bertahun-tahun ia meninggalkan kami tanpa pesan. Aku bahkan sudah tak lagi menghitung berapa perayaan yang aku dan ibu lewati tanpanya. Aku memandangi wajah ibu lama, alisnya hampir bertautan, ibu seperti menahan dirinya terlalu keras untuk tidak menangis. Ternyata, ibu sangat merindukan ayah. Aku mengangkat tubuhku dan memeluk ibu erat-erat. Toby si boneka beruang tetap berada di antara kami, mungkin dia juga ikut merasakan guncangan tubuh ibu yang seirama dengan suara tangisnya.

“Ibu kangen ayah ya? Nggak apa-apa bu.. khan ada Nanda” hanya kalimat ini yang mampu kukatakan malam itu.
Aku tak mendengar jawaban apapun, hanya ibu yang semakin menguatkan pelukannya.

Ibuku seorang novelis, tulisannya banyak diterbitkan oleh penerbit besar. Beberapa di antaranya bahkan menjadi best seller. Beberapa bulan belakangan ini, ibu sedang gencar-gencarnya menyelesaikan novel terbarunya. Pernah aku mencuri dengar percakapan ibu dan editornya yang datang suatu siang. Aku baru saja pulang sekolah dan menyegarkan diri dengan minum jus segar langsung dari kulkas, saat itu editor ibu terlihat begitu semangatnya membujuk ibu untuk melakukan sesuatu. Belakangan baru aku tahu kalau dia sedang membujuk ibu untuk mempublish tulisan terbarunya.

“Tapi ini terlalu pribadi buat saya, bagaimana kalau Nanda membacanya?” begitu kata ibu di sela percakapan itu. Aku langsung menajamkan telingaku, bagaimana tidak, ada namaku disebut-sebut tadi.
“Kita kemas menjadi suatu bacaan yang justru akan menjelaskan semuanya pada Nanda. Mbak, pengalaman mbak ini sangatlah bagus untuk dijadikan pelajaran bagi banyak orang”

Ibu terlihat sangat bimbang. Aku nggak suka melihat ibu seperti itu. Dia seperti dipaksa melakukan sesuatu yang tak ingin dilakukannya. Tapi, apalah aku ini? Hanya anak kecil berusia sepuluh tahun. Tak pantas ikut campur urusan orang dewasa. Jadi, aku hanya berjalan saja melewati mereka sambil berpura-pura tak pernah mendengar apapun, terus menuju kamarku. Menyalakan laptop yang ada di atas meja belajarku dan mulai browsing film anime kegemaranku. Beberapa jam kemudian, kudengar editor ibu pamit pulang. Saat itu aku kembali keluar kamar, karena ibu menyuruhku bersalaman dengan editornya. Aku sempat enggan dan menggeliat malas di sisi ibuku, namun akhirnya, karena melihat tatapan galak ibu aku langsung saja meraih tangan wanita gemuk itu dan menyium punggung tangannya.

“Hihi.. lucu banget sih kamu Nanda. Tante pulang dulu ya. Yang nurut sama ibu, kasihan ibu capek kerja buat Nanda. Yah?” begitu katanya sambil mengusap-usap kepalaku. Aku mengelak risih.
“Ibu, apa ibu lagi nulis novel baru? Kali ini tentang apa?” tanyaku saat tante editor tadi hilang dari pandangan kami.
Ibu terlihat sedikit kaget dengan pertanyaanku. Ia merendahkan tubuhnya hingga ke posisi setengah duduk, mensejajarkan matanya dengan mataku.
“Nanda nguping lagi ya?” Tanya ibu.
“Nanda nggak nguping, tadi kedengeran waktu Nanda mau ambil minum”
“Oh…”
“Novel barunya tentang apa bu?” ulangku.
Ibu terdiam lama. Aku mulai berfikir macam-macam. Apa sih yang akan ibu tulis sampai tak mau aku membacanya? Apa yang akan ibu bahas hingga begitu bimbangnya? Padahal biasanya ibu dan tante editor tadi, kalau sudah punya sebuah gagasan pasti sangat bersemangat untuk menggarapnya. Kenapa kali ini ibu terlihat enggan? Sedangkan tante editor terlihat begitu antusiasnya. Lalu, apa hubungannya itu semua dengan aku?
“Ibu nggak bisa jelasin sekarang nak” hanya begitu jawab ibu.

Siang ini ibu berpenampilan cantik sekali. Celana bahan berwarna hitam, kemeja pink, ditambah syal hermes yang disampirkannya di leher, sangat khas ibu. Kata orang, aku menjadi pelengkap ibu. Penampilan ibu akan jauh menjadi sangat biasa kalau tak ada aku di sampingnya. Kata mereka, dengan menggandeng aku di sampingnya, ibu terlihat seperti gambaran sempurna seorang ibu muda yang independent. Aku tak mengerti maksud mereka.
“Buku ini saya persembahkan untuk… Nanda”
Lalu. Plok plok plok… ruangan utama café itu tiba-tiba saja riuh dengan tepuk tangan semua orang yang datang. Siang ini, novel baru ibu diluncurkan. Tiba-tiba saja aku menjadi primadona di sana, banyak sekali ibu-ibu yang mendekatiku, menanyakan hal-hal yang membuatku bingung.

“Ini Nanda ya? Kamu sangat beruntung nak, punya ibu wonder woman”
Tapi, ibuku bukan Mulan Jameela.
“Nanda, boleh foto bareng?”
Tapi, aku nggak pernah menulis apapun di novel itu.
“Nanda pasti udah baca novel bunda yang ini ya? Gimana menurut Nanda?”
Aku hanya menggeleng, kebingungan.
“Nanda kangen ayah?”
Ha??? Apa urusan ibu ini? Aku semakin penasaran, sebenarnya ibu menulis apa sih?

Dear Mas,
Mas, Nanda sudah besar. Banyak pertanyaan yang hanya dapat ia tanyakan lewat matanya. Kebanyakan dari pertanyaan itu adalah tentang Mas. Saya kehabisan kata untuk menjawabnya, karena sayapun tak tahu apa jawabannya. Mas, apa saya tak cukup cantik untuk selalu mas pandangi setiap pagi? Apa masakan saya tak cukup enak? Apa cara saya meletakkan bantal di tempat tidur kita membuat Mas tak cukup nyaman? Apa racikan kopi yang saya buat kurang pas dengan selera mas? Apa parfum yang biasa saya pakai tak membuat Mas terus merindukan saya? Mas… apa yang sudah saya lakukan sampai mas pergi hari itu? Dan tak ada pesan apapun yang mas tinggalkan. Saya menangis mas, saya ingat mas pernah bertanya mengapa saya nggak pernah menangis. Lihat saya menangis kali ini Mas… jangan tinggalkan saya seperti ini. Apa yang harus saya katakan pada Nanda? Saya mohon, kembali Mas…

Saat itu, saya tak tahu harus ke mana mengirimkan surat  itu Sampai sekarang surat itu masih mengendap di laci kerja saya. Saya tak pernah menemukan jawaban dari semua pertanyaan saya itu. Yang saya tahu, Mas saya itu masih hidup, itu saja. Saya seperti masih merasakan nafasnya berada di sekeliling rumah. Dalam khayalan saya, Mas memang selalu berada di rumah, namun perbedaan dimensi dunia kamilah yang menyebabkannya tak bisa menyapa saya dan Nanda. Haha… sepertinya saya sudah gila. Mata saya sudah dibutakan, dan hati saya sudah dibekukan. Oleh sesuatu yang saya sangka cinta, tapi ternyata hanya sebuah omong kosong.

Suatu kali, saya menghampiri Nanda di kamarnya. Saya hanya bisa duduk saja di tepi tempat tidur, memandangi sosok lugunya, sedang memeluk boneka beruang yang saya belikan sebagai hadiah untuk prestasinya di sekolah. Saat saya tanyakan apa dia merindukan ayahnya, Nanda hanya memandangi wajah saya yang sudah tak lagi dapat menahan air mata. Ia tak menjawab apapun, hanya merengkuh saya ke dalam pelukannya dan mengatakan bahwa tak mengapa saya merindukan ayahnya. Saya menangis hebat sekali di pelukannya.

Nanda… maafkan ibu membuat ayah pergi.

Aku ingat sekali kejadian yang ibu tuliskan ini. Aku terus membaca buku itu yang ternyata bukanlah novel. Di buku itu ibu mencurahkan semua pengalaman cintanya. Pertemuannya dengan ayah, kelahiranku, kepergian ayah, kekhawatirannya menyakiti kehidupanku karena ditinggal ayah. Ibu menyalahkan dirinya sendiri. Aku sedih sekali.
Aku berjalan ke arah panggung, tak memperdulikan pandangan semua orang yang bertanya-tanya, melihatku berjalan menghampiri ibu dengan buku di pelukanku sambil menangis tersedu. Sampai di samping ibu, kutarik celana bahannya. Ibu menoleh bingung ke arahku, dan melakukan hal yang paling sering ibu lakukan kalau sedang berbicara padaku. Menundukkan tubuhnya hingga matanya sejajar dengan mataku. Aku senang sekali kalau ibu sudah seperti ini, seolah bentuk penghargaan ibu padaku. Hanya ibu yang melakukan hal ini, tak ada siapapun lagi, hanya ibu.

“Ibu, bukan salah ibu ayah pergi. Hanya saja, ayah tak merasa cukup baik untuk mendampingi wonder woman seperti ibu. Nanda sayang ibu, dan Nanda nggak pernah salahkan ibu. Jangan sedih lagi Bu” kataku di tengah isak tangisku.

Ibu memandangi wajahku, ia terlihat terkejut mendengar kata-kataku barusan. Berkali-kali aku mengusap mataku, tapi air mataku tak pernah berhenti mengalir. Semakin lama, aku malah semakin terisak, terlebih lagi melihat air mata ibu yang perlahan ikut menetes di pipinya. Ibu merengkuhku ke dalam pelukannya, dan kami menangis bersama.

Ayah, seharusnya ayah lihat ibu pagi itu. Sesaat setelah ia bangun tidur, dan diam-diam menyesap teh hangat buatannya sendiri. Nanda yakin, atak akan terbesit dalam benak ayah untuk meninggalkannya. Ayah, Nanda kecewa, karena harus lahir dengan menyandang sebuah nama seorang pecundang. Tapi cinta itu, cinta ibu kepada ayah, membuat Nanda tak dapat mengabaikan kenyataan. Bahwa Nanda juga sayang ayah.

* Inspired by Iklan Teh Sariwangi (ayok tebak yang mana )

-bee-
021109

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s