[Dear, Kung #3] The Happily Ever After

Panas… nah kali ini rasanya panas Kung. Hatiku yang panas.

–oOo–

“Syl… itu bukannya cowok loe ya?” Sarah sahabatku menghentikan makannya saat menatap sesuatu di belakangku. Atau seseorang?

Aku tertegun sebentar, pacarku? oke… ini aku yang amnesia atau Sarah yang lagi halusinasi ya?

“Cowok gue?” ulangku penasaran lalu memutar tubuhku ke arah yang Sarah maksud.

Dan di sanalah kalian, berpegangan tangan dan senyuman bahagia tersungging di wajah kalian masing-masing. Aku terdiam, sesuatu dalam dadaku berdegup sangat kencang. Sebahagian di sekitarnya seolah terbakar bara, perlahan demi perlahan menghantarkan panas ke sekujur tubuhku.

“Itu Faisal khan? pegangan tangan sama siapa dia?” suara Sarah mengembalikan perhatianku ke alam sadar.

“Pacarnya lah” jawabku lalu kembali menyeruput coklat panas di hadapanku.

Sarah bengong seketika.

“Oy… muka loe biasa aja deh…” kataku sambil melambaikan tanganku di depan wajahnya.

“Bukannya Faisal itu pacar loe?” Sarah kini mengeluarkan wajah lugunya.

“Hahaha… ya bukanlah, makanya gue heran tadi tiba-tiba loe bilang liat cowok gue. Sial, udah berharap amnesia aja tuh gue, kirain beneran iya selama ini gue punya pacar tapi lupa hahaha…” aku mulai meracau, hal yang selalu nggak bisa kukendalikan saat sedang gugup.

“Eh, mereka ke sini…. Hai Faisal” sapa Sarah.

Kini aku yang bengong.

–oOo–

Apa kamu ingat saat itu Kung? Saat akhirnya aku bertemu dengan wanita itu? Pacarmu. Dia cantik, anggun, terlihat terpelajar. Tak kupungkiri ada perasaan minder saat bertemu dengannya, dan yah sesuai dengan apa yang kubayangkan selama ini. Caramu memperlakukannya, itu yang tak pernah dapat aku lupakan Kung. Di saat itulah aku tahu, bahwa cinta memang tak membutuhkan banyak kata. Sorot matamu, nada bicaramu, gerak-gerik dan perhatianmu. Itulah cinta. Bahkan aku tak bisa tidak menyunggingkan seulas senyum ini. Panas Kung, hatiku memang panas terbakar cemburu, tapi tak dapat kupungkiri, aku bahagia untuk kalian.

“Syl” suara ibu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah suara berasal dan mendapati ibu sudah berjalan ke arahku lalu meletakkan chocolate molten buatannya ke atas meja.

“kenapa bengong?” tanya ibu lagi.

Aku menatap wajah ibu dan tersenyum. Kuraih tangannya dan menariknya untuk duduk di sampingku. Setelah ibu duduk aku menyorongkan tubuhku ke pelukannya. Ibu membuka tangannya dan membiarkan aku berbaring di dadanya. Menenangkan, berada dalam pelukan ibu selalu menenangkan.

“Bu… apa ibu mencintai ayah?”

Ibu terdiam sebentar.

“Lho tentu…” jawabnya.

“Apa sejak awal, waktu Amak sama Apak ngejodohin ibu sama ayah. Ibu sudah mencintai ayah?”

Ibu terdiam, ia memelukku lebih erat kini. Perlahan kurasakan ibu membelai kepalaku. Ibu dan ayah, mereka juga menikah lewat perjodohan. Sama seperti aku dan Arifin.

“Ibu tahu yang kamu rasakan sekarang nak” jawab ibu kemudian.

“Sebenarnya, ibu sama dengan kamu. Nggak tahu apa yang ibu rasakan untuk ayahmu waktu kami menikah” lanjutnya.

“Truss… apa yang membuat ibu menerima lamaran ayah? Apa yang membuat ibu yakin?”

“Ibu yakin, Amak dan Apak mu nggak akan memilihkan sesuatu yang buruk untuk ibu. Apapun yang dipilihkan untuk ibu itu pasti untuk kebaikan ibu. Jadi ibu yakin Amak dan Apak memilih ayah untuk ibu, karena mereka tahu ayah bisa bikin ibu bahagia”

“Ibu bahagia?” tanyaku.

“Kelihatannya gimana?”

Aku tersenyum.

“Ibu bisa ketemu sama kamu nak. Kalau bukan ayahmu, entah… ibu akan bertemu dengan anak yang seperti apa” lanjut ibu sambil memutar tubuhku ke hadapannya dan mengusap-usap kepalaku.

“Ahaha… ah ibu…” sahutku.

“Kenapa kamu tanya itu Syl?” tanya ibu.

“Syl takut bu” air mataku mulai menggenang.

“Syl takut nggak bisa bahagia. Syl takut pilihan Syl ini salah, hanya karena Syl memutuskan semuanya dengan emosi”

“Sayang, lihat ibu”

Aku menolehkan kepalaku.

“Kebahagiaan itu bukan cuma datang dari sini” Ibu menunjuk dadaku.

“Tapi juga dari sini” lanjutnya lagi sambil menunjuk pelipisku.

“Hmm?” gumamku bingung.

“Iya, apa yang ada dalam hati kamu, bisa kamu atur dari dalam pikiran kamu. Jadi, kalau kamu bisa memerintahkan hati kamu untuk merasakan bahagia. Kamu akan bahagia”

Perlahan aku mencerna kalimat ibu barusan.

“Apa yang kamu lihat akan dihantarkan ke dalam otak kamu. Lalu otak kamu itu yang menghantarkan pesan kepada sekujur tubuh kamu untuk merasakan apapun yang kamu inginkan. Termasuk hati kamu. Jadi, kalau pikiranmu sudah bisa memerintahkan kebahagiaan itu, apapun yang terjadi Syl… kamu akan bahagia”

“Oh iya satu hal lagi. Satu hal yang selalu ibu percaya sejak dulu, dan sepertinya kamu juga harus tahu nak. Kamu ingat baik-baik ya…”

“Iya bu”

“Hidup ini harus berakhir bahagia”

“Ha?”

“Iya… kalau kamu pikir hari ini kamu tidak bahagia. So today is not your end of day. Karena akhir dalam hidup kamu, would be a happy ending. OK?”

“Ahahaha.. ya… OK” sahutku.

“Don’t worry Syl, everything will be okay… khan ada ibu. Lagipula Arifin sangat mencintai kamu, ibu bisa lihat dari tatapannya” ibu kembali mengusap kepalaku.

Aku tersenyum. Ada sesuatu dalam hatiku yang perlahan mencair, kebekuan itu… Sepertinya penjelasan ibu tadi sudah menjadi mentari untuknya. Rasa gamang itu perlahan menghilang.

“Bu… Syl pergi keluar sebentar ya” kataku sambil beranjak dari kursi rotan itu.

“Lho? ini chocolate moltennya gimana? ibu baru coba-coba bikin ini nih, buat menu baru di cafe… ibu mau minta pendapat kamu lho padahal”

Aku melihat sebongkah kecil chocolate cake di atas piring kecil yang tadi ibu bawakan. Ibuku tak pernah berhasil membuat masakan apapun, keputusannya membuka cafe merupakan keputusan yang sangat nekat. Tapi ayah melihat semangat yang sangat menggebu dalam mata ibu saat pertama kali mengajukan keinginannya itu, ibu bilang itu adalah impiannya sejak kecil. Kata ayah, itu pertama kali ibu benar-benar meminta sesuatu dan ayah merasa mampu mengabulkannya. So, there goes Amellia Cafe berdiri di depan rumah kami. Bangunan pertama yang ibu lihat setiap membuka mata di pagi hari dan mengintip ke luar jendela. Ayah membuat ibu menatap mimpinya setiap hari, menjadi kenyataan. Itulah kebahagiaan.

Aku memotong cake itu perlahan, seharusnya ada adonan coklat keluar dari dalam cake itu, tapi ini… seperti brownies, semuanya beku.

“Adonannya ibu masukin kulkas dulu nggak sebelum di-oven?” tanyaku saat melihat wajah kecewa ibu.

“Nggak, emang harus begitu ya? Kok di resepnya nggak ditulis begitu?” tanya ibu lagi.

“Nanti kita buat lagi ya bu… Syl bantu” kataku lagi sambil beranjak dari teras.

“Cepat pulang ya nak, kalau bisa sebelum suamimu pulang kantor” Aku sudah berada dalam kamar saat ibu meneriakkan kalimat ini.

Aku tersenyum. Pasti bu… pasti…

–oOo–

Tok tok tok

Aku mengetuk pintu apartemen itu. Apartemen yang pernah menjadi tempat favouriteku. Tempat yang sempat kurasakan seperti rumahku sendiri, apartemen Faisal.

“Hey Syl…” sapanya saat membukakan pintu untukku. Sesaat tadi aku sempat mengirim pesan pendek untuknya, kalau aku akan datang ke apartemennya. Kebetulan sekali dia sedang ada di sana.

“Ayo masuk” ajaknya, sambil membukakan pintu lebih lebar untukku.

Aku melihat ke dalam. Ah… ruangan-ruangan itu. Perangkat itu… dan gitar akustik itu. Aku ingat saat pertama kali datang ke apartemen ini, gitar itu yang pertama kali menyerap perhatianku.

“Kamu bisa main gitar?” tanyaku antusias, aku selalu suka laki-laki yang bermusik. Mereka terlihat seksi.

“Bisa donk…” katanya sambil meraih gitar itu dan mulai memetik senarnya dengan sangat brutal.

“Wak wak kung nasinya nasi jagung, lalapnya lalap kangkung, pit alaipit kuda lari kejepit… ” lalu ia mulai meracaukan nyanyian ini, entah mengapa dari sekian banyak lagu konyol yang bisa ia pilih, Faisal malah menyanyikan lagu itu. Dan tekanan suara yang dibuatnya saat melafalkan Kung dalam lirik itu membuatku geli setengah mati. Itulah awalnya, itulah awalnya.

Ah!!! Getaran itu datang lagi, memori itu perlahan seperti mendesak kembali masuk ke dalam otakku. No.. Sylvia… It’s all in your mind. Stop it!

“Yo Syl…” Suara itu… panggilan semacam itu. Faisal memang begini, ia tak pernah sadar kalau beberapa hal yang dilakukannya secara konstan bisa membuatku merasa special. Dan dia melakukan itu pada semua orang. Yo Syl… Yo Sarah… Yo… Yo… Yo… yah semua orang.

Aku menoleh ke arahnya dan menyambut gelas yang disodorkan untukku. Kini kami kembali duduk berdampingan di sofa panjang itu, di spot paling nyaman di apartemennya ini. Menyesap coklat hangat buatannya. Like old times.

“Jadi, apa rasanya menikah?” tanya nya.

“Weird” jawabku.

“Ya… jadi sekarang nggak sendiri lagi donk di tempat tidur, nggak kedinginan lagi” kata Faisal lagi.

“Hmm? hahaha… you have no idea!” mana dia tahu sih kalau semalam aku pingsan di kamar mandi.

Lalu kami terdiam. Hening. Hanya terdengar suara kucuran air dari filter aquarium ikan arwana miliknya, tak jauh dari tempat kami duduk.

“Are you happy Syl?” tanyanya.

“hmm…” jawabku.

“Nah… keluar lagi itu hmm.. itu bukan jawaban Syl”

“Yah… baru itu yang bisa aku bilang, gimana donk. You know me… I can’t fake it with you”

Lalu kembali hening.

“Well… sebenarnya aku ke sini untuk kasih ini ke kamu” kataku sambil menyodorkan paper bag yang sejak tadi kutenteng.

“Apa ini?”

“Hadiah ulang tahun kamu”

“Hahaha… ultahku dah lewat sebulan Sylvia” Katanya.

Yah… aku ingat Kung, nggak akan pernah kulupa saat itu, saat kamu bilang akan kembali pada dia. Dengan gembira kamu bilang akan menghabiskan malam itu bersama dia. Saat dunia terasa jungkir balik, saat pertama kalinya aku memalsukan senyumku, memalsukan tawaku, memalsukan semuanya. Saat jawaban hmm… menjadi jawaban favourite ku untuk semua pertanyaanmu. Saat aku terbungkam. Saat hatiku terbungkam.

“Ya sori baru sempet kasih sekarang, kamu tahu khan sebulanan ini aku sibuk nyiapin pernikahan aku” kataku.

Faisal kembali terdiam.

“Syl aku minta maaf…”

“Lho? Untuk apa?”

“Untuk semuanya, sebulan yang lalu, kurasa aku tahu kenapa kamu tiba-tiba berubah. Kurasa aku tahu kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk menikah”

“Itu yang menyebabkan kamu Cuma berdiri di pintu masuk saat pesta pernikahan kami? Dan nggak mengucapkan selamat?”

“Yah aku marah saat itu, aku tahu kamu. Perjodohan sama sekali bukan gayamu. Dan wajah kamu saat itu, aaarrgghh… coba kamu tau betapa saat itu kamu kelihatan seperti robot”

“Hahaha… yeah I was” jawabku.

“And I’m so sorry for that…”

“Faisal… nggak perlu. Ingat waktu kamu bilang hati itu sempit? tak ada ruang untuk banyak orang? I’m glad to hear that… just stay like that, Kung. Tetaplah menjadi apa yang aku tahu. Kamu tahu belakangan aku seperti nggak mengenal kamu lagi, tapi… aku ingin mempercayai apa yang aku percaya. I never blame it on you… never…”

“…”

“Kado ini tersimpan rapi di lemariku sebulanan ini, nggak tahu gimana caranya kasih langsung ke kamu. Tadinya mau minta tolong pegawai ibu, tapi nggak jadi-jadi hahaha…”

“Why? sebegitu nggak mau-nya ketemu sama aku?”

“Hahaha… you know..”

“No i don’t know…”

Aku terdiam.

“Nah… yah… ini kadonya, aku harus pergi” aku meletakkan paper bag itu di pangkuannya dan beranjak dari sofa, berjalan ke arah pintu.

“Syl…” panggilnya lagi.

Aku menoleh.

“Are we cool now?” tanyanya.

Aku tertawa kecil sambil menggelengkan kepalaku.

“We always cool Faisal…” jawabku, lalu membuka pintu apartemen itu. Berjalan menjauhinya.

Untuk terakhir kalinya.

–oOo–

Itulah akhir aku dan dia. Well… aku bahkan tak tahu pernah ada awal di sana. Yang pasti sejak saat itu hidupku seolah dimulai kembali. Aku seperti terbangun dari tidur panjang, di mana mimpi indah dan buruk itu membuaiku, tak dapat membedakan realita dan halusinasi. Faisal mungkin adalah pangeran bagiku, tapi hanya saat mataku terpejam. Kini saat aku terbangun dari mimpi itu, Arifin lah yang ada di hadapanku.

Sepulang dari apartemen Faisal, aku mengarahkan mobilku ke kantor Arifin. Memasuki gedung tinggi itu, satpam yang berdiri di dekat meja resepsionis langsung mengenaliku.

“Ibu Sylvia, mau ngunjungin Pak Arifin ya?” katanya dengan senyum merekah.

Itu hanya satu sapaan ramah dari salah satu pegawai Arifin. Memasuki lift, aku kembali menemukan senyuman semacam tadi. Lalu sapaan demi sapaan yang bernadakan sama dengan sapaan satpam tadi. Well… sepertinya semua orang tahu siapa aku. Tak hanya itu, tampaknya semua orang bahagia untuk kami. Semua tergambarkan dari ucapan selamat yang tak berhenti kudapatkan dari pegawai lainnya yang kulewati kubikelnya saat menuju ruangan Arifin. Sebanyak ini orang yang bahagia untuk pernikahan kami, tapi aku?

“Maaf Pak, ibu Sylvia datang” kata satpam yang memanduku ke ruangan Arifin, sopan.

Aku berjalan masuk ruangan kecil itu setelah satpam itu mempersilahkan. Arifin terlihat kikuk, sambil merapikan jasnya ia berdiri menyambutku.

“Kok nggak bilang-bilang mau dateng dek?” tanyanya.

“Mau kasih surprise…” jawabku.

Arifin kembali mengernyit heran.

“Aku kangen” tambahku.

Kini matanya membelalak kaget, wajahnya terlihat sedikit memerah. Lucu. Tampan. Benar kata ibu, kalau aku memerintahkan hatiku untuk bahagia, maka bahagia itu yang akan datang. Saat ini, melihat tingkahnya yang nggak pernah aku perhatikan sebelumnya, cukup membuat hatiku hangat. Dan tatapan mata itu… tatapan mata yang terpancar dari mata Faisal untuk pacarnya, Arifin menatapku dengan tatapan itu. Saat itulah aku tahu kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan malam nanti pasti akan jauh lebih menyenangkan. Hmm…

–oOo–

7 Bulan kemudian

“Dokter, tunggu sebentar ya, suami saya sedang di kamar kecil” kataku saat duduk di sofa ruangan Dokter Inggrid.

“Oh… oke” jawab dokter Inggrid sambil membereskan peralatan USG nya.

“Bagaimana kehamilannya Ibu Syl? Masih nggak suka minum susu?”

“Yah, saya sih nggak pernah suka susu bu, tapi itu suami saya pinter banget ngebujuknya. Dia memang paling bisa deh ngambil hati saya” jawabku.

Dokter Inggrid tersenyum lebar.

“Ini ibu Syl dan suami, semakin hari semakin mesra saja” katanya kemudian.

Aku hanya dapat tersenyum datar. Dokter Inggrid tak perlu tahu yang sebenarnya terjadi jauh sebelum ini toh?

“Oke… bapak Arifin nya sudah datang, bisa kita mulai?”

Arifin berjalan memasuki ruangan itu, menghampiriku dan mengusap lenganku. Ia tahu aku selalu tak merasa nyaman berada di rumah sakit. Aroma obat selalu membuatku tak nyaman. Ia mendampingiku ke tempat tidur ruangan itu.

“Aku tadi ketemu temen kamu di luar”

“Oh ya? siapa?”

“Itu yang waktu itu ketemu di bioskop”

“Ah… Faisal?”

“Iya, isterinya juga lagi hamil”

“Ya… aku tahu…”

SELESAI

-bee-
310110

See Also:
[Dear, Kung #1] The Marriage
[Dear, Kung #2] The Pregnancy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s