[Dear, Kung #2] The Pregnancy

Huff… Dingin, kali ini jelas sekali apa yang aku rasakan. Kung, di sini dingiiiiin sekali sampai gigi sudah tak mampu lagi untuk bergemeretak. Ah… apa karena pakaian tipis yang aku pakai ini? Memang begini pakaian Rumah Sakit, apa lagi yang kuharapkan? Mantel kulit angsa?

“Ibu Sylvia… selamat ya, hasilnya positif” masih sangat jelas terekam di dalam memoriku saat Dokter Inggrid membacakan hasil tes kehamilanku beberapa bulan yang lalu.

Aku terdiam, nggak mampu mengungkapkan perasaan yang hadir dalam hatiku saat itu. Aku senang? Oh tentu saja. Ini membuatku menjadi wanita utuh… aku akan menjadi ibu, tugas mulia yang selama ini aku dambakan. Di dalam perut ini akhirnya hadir sesosok bakal manusia baru yang nantinya akan memanggilku ‘ibu’. Tapi…

–oOo–

Ya Tuhan… mengerikan, malam itu sungguh mengerikan. Tak hanya badan dan hatiku letih karena kegiatan seharian itu. Memaksa wajah untuk terus tersenyum, lalu berulang kali berdiri dan duduk untuk menerima ucapan selamat dari semua orang, ditambah nafsu makan yang menghilang seketika walaupun tentu saja tak singkron dengan apa yang diteriakkan lambungku. Aku benar-benar menjelma menjadi boneka. Sungguh aku benci sekali dengan diriku sendiri. Ke mana Sylvia yang selama ini selalu lantang mengungkapkan keinginannya? Sylvia yang keras kepala! Sylvia yang saat kuliah dulu selalu menjadi musuh publik karena dianggap sering memanjangkan diskusi dalam kelas sehingga memotong waktu istirahat teman-teman yang lain? Siapa gadis yang berdiri di pelaminan itu sebenarnya? Siapa yang anda nikahi sebenarnya, Arifin??

“Dek…” panggil suara asing itu tepat di dekat telingaku.

Aku menoleh dan terperanjat. Arifin sudah berada dekat sekali denganku, wajahnya hanya berjarak sekian senti dari wajahku. Aku dapat merasakan nafas beratnya itu. Untuk pertama kalinya setelah seharian itu, jantungku kembali berdegup, kencaaang sekali. Tiba-tiba saja ada rasa perih menjalar dari dalam kulitku. Sesuatu dari dalam diriku berteriak untuk beranjak dari sana. Sebuah kekuatan tiba-tiba saja seolah mengangkat tubuhku untuk berdiri.

“Kak… aku capek, mau mandi dulu” kataku seketika itu sambil kemudian beranjak ke arah kamar mandi.

Kung, aku panik! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Ya Tuhan… ya Tuhan… apa ini benar-benar terjadi? Allah… kalau ini memang mimpi buruk, tolong cepat bangunkan aku. Aku mohon…

BRUK!! Tubuhku ambruk di dekat bathtub… lenganku lunglai, tubuhku gemetar. Dan perih yang menjalar dari dalam itu masih di sana. Lalu air mata itupun mulai mengalir. Akhirnya… aku menangis.

–oOo–

“Yo… Syl! mau tidur sampai kapan??”

“Hmm??”

“Udah subuh nih… cafenya udah mau buka lagi”

Aku membuka mataku perlahan. Hmm… aroma ini, aduh… bau!

“Urgh… kamu bau Kung!”

“Hahaha… siapa suruh tidur di pelukan aku. Udah tau aku bau, masih aja mau kamu tidur di situ”

“Hihi… entah, enak tidur di situ, kayak lagi dipeluk sama Apak”

“Ya..ya..ya.. jadi kakek kamu juga bau ya?”

“Hmm… yah hampir sama kayak begini baunya, tapi nggak sebau ini. Tapi yang pasti hangatnya sama, makanya aku suka. Urgh… kamu nih, aku jadi kangen lagi khan sama Apak”

“Mau kutemenin ke kuburannya lagi?”

“Nggak ah, nanti mewek lagi. Lagi males mewek. Lagian aku harus pulang, semaleman aku sama kamu, entah ibu bakal bilang apa kalo tau…”

“Bilang kamu anak nakal… cewek bandel… nggak tau diri… mau jadi apa nanti kalo gede hah?”

“Yeeeee….”

“Hahahaha… udah ayok pulang. Tuh liat, satpam yang itu dari tadi melototin kita terus. Lima menit lagi kita masih di sini, bisa diusir sambil dipentung-pentung nanti”

Aku menoleh ke arah yang ditunjuknya. Benar saja, seorang satpam tambun sedang menggenggam pentungan di tangannya, menatap lurus ke arah kami. Sorot matanya seperti harimau hendak menerkam dua ekor kijang. Kijang yang sungguh imut. Haha…

Kami berjalan ke arah satpam tersebut. Mau tak mau, pasalnya Kung memarkirkan mobilnya tepat di samping pos satpam itu.

“Per… misi… pak” entah apa maksudnya, Kung malah menyapa satpam itu saat kami melewatinya.

“Hmmm…” jawab satpam itu, lebih mirip sebuah erangan.

Aku? Hoh… hanya mampu setengah mati mengulum cekikikan di mulut.

Saat hendak membuka pintu mobil, ada seekor kucing dengan anggunnya berjalan melewatiku. Perutnya buncit, kucing itu hamil. Ia terus berjalan membawa buntalan dalam perutnya itu ke arah pagar besi yang mengelilingi kawasan café tersebut. Aku terus memperhatikan gerak-geriknya. Kucing itu terus saja berjalan dan berusaha keluar dari pagar besi tersebut. Aku meringis sendiri melihatnya, pasalnya jarak gerigi pagar besi tersebut tak cukup besar untuk bisa dilewati perut buncitnya itu.

“Aduh Cing… itu nggak muat!!” tiba-tiba saja kudengar suara Kung dari seberang mobil.
Aku menoleh ke arahnya, ternyata dia juga memperhatikan kucing itu.

“Kung, itu serius tuh dia mau keluar lewat situ? Kita bantu aja yuk, kasian ah… itu dia hamil khan?”

“Ya udah sana kamu bantuin”

Aku berjalan ke arah pagar, entah bagaimana nantinya aku menggiring kucing itu ke pintu gerbang, aku khan tak begitu akrab dengan makhluk berbulu seperti itu. Tapi, tak sampai beberapa langkah aku menghampirinya, kucing tersebut sudah berhasil meloloskan sekujur tubuhnya ke seberang. Ya! termasuk perut tambunnya itu. Spontan aku memekik nyeri.

“Aww… aduh ciiiing… nekat amat sih…” pekikku sambil menutup sebagian wajahku dengan telapak tangan.

Aku menoleh cepat ke belakang, Kung sudah berdiri tak jauh dariku. Wajahnya tak kalah kagetnya denganku.

“Sumpah Syl! Nanti kalau kamu hamil, jangan pernah tiru adegan kayak begitu! Never! That was scary you know!!” katanya.

“Hhmmpphh…”

–oOo–

Kung… kalau lagi hamil, boleh nggak lompat-lompat?

“Ibu Sylvia Danty” panggil seorang suster dari dalam kamar periksa.

Aku mengangkat kepalaku dan beranjak perlahan dari kursi tempatku duduk. Buntalan di perutku semakin besar saja, rasanya semakin hari semakin sulit membawanya ke sana ke mari. Belum lagi rasa nyeri di pinggangku, sungguh repot sekali, aku jadi semakin mencintai ibuku. Kemarin malam aku bahkan menangis di pelukannya, meminta maaf atas segala nakal dan tingkah menyebalkan yang pernah kulakukan selama ini.

Jadi ingat saat kecil dulu, ibu sempat panik setengah mati saat mendengar ada seorang murid psycho mengejar-ngejar aku keliling sekolah dengan pisau lipat di tangannya. Ibu langsung melesat dari kantornya di kawasan Sudirman menuju Halim. Begitu sampai di kantor kepala sekolah ia langsung memelukku erat sambil menatap gemas murid bandel itu. Sebegitu sabarnya ibu, padahal saat mengandungku pasti rasanya tak jauh lebih ringan dari yang kurasakan ini, kalau aku jadi ibu pasti sudah habis anak nakal itu aku jitaki, aku ceramahi, aku cubiti, kalau perlu malah kukuliti!

“Dokter, tunggu sebentar ya, suami saya sedang di kamar kecil” kataku saat duduk di sofa ruangan Dokter Inggrid itu.

“Oh… oke” jawab dokter Inggrid sambil membereskan peralatan USG nya.

“Bagaimana kehamilannya Ibu Syl? Masih nggak suka minum susu?”

“Yah, saya sih nggak pernah suka susu bu, tapi itu suami saya pinter banget ngebujuknya. Dia memang paling bisa deh ngambil hati saya” jawabku.

Dokter Inggrid tersenyum lebar.

“Ini ibu Syl dan suami, semakin hari semakin mesra saja” katanya kemudian.

Aku hanya dapat tersenyum datar.

–oOo–

Malam itu… malam mengerikan itu, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat tidur. Sebuah daster menggantikan gaun pengantin yang kukenakan seharian itu. Di dahiku melintang sebuah handuk kecil basah. Di meja kecil samping tempat tidur terdapat baskom kecil berisikan air. Saat aku membuka mata, Arifin sudah duduk di sampingku. Aku terkejut bukan main, dia yang mengganti pakaianku? Atau jangan-jangan dia sudah… Aarrrgggghhh…

To be continued…

Previous episode: [Dear, Kung #1] The Mariage

-bee-
190110

One thought on “[Dear, Kung #2] The Pregnancy

  1. Pingback: [Dear, Kung #3] The Happily Ever After « On The Second Journal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s