Piranha 3D

Actually, this kind of movie happen to be the kind that i don’t want to watch for the rest of my life, especially on cinema. Tapi berhubung kemarin  adalah special ocation, jadi saya memilih untuk mengesampingkan terlebih dahulu ego saya dan menurut pada vote terbanyak semua orang . Tapi jujur, sampai memasuki Hollywood KC hati saya masih saya deg-deg an, mengingat akan ada banyak adegan sadis yang saya lihat nanti, membayangkan badan yang terkoyak-koyak dan jeritan kesakitan yang akan saya lihat dan dengar nanti. Beberapa menit sebelum masuk studio, barulah saya bilang sama pacar tentang perasaan saya tersebut. Tapi apalah daya tiket sudah dibeli, so tak ada salahnya kan sekali-sekali keluar dari comfort zone dan merasakan pengalaman baru?

here goes the complete review..

Piranha 3D


Cast

Elisabeth Shue, Steven R McQueen, Jessica Szohr, Jerry O’connel, dan banyak sekali pemain tambahan yang berdada besar dan berperut six pack.

Director

Alexandre Aja

Screenplay

Pete Goldfinger, Josh Stolberg.

Dibuka dengan adegan seorang bapak tua dan pemabuk yang sedang memancing sendirian di Lake Victoria. Tiba-tiba saja botol minuman yang baru saja dibukanya terjatuh ke dalam danau. Botol minuman yang masih berisi penuh itu menimpa dasar danau dan tiba-tiba saja lempengan danau terbelah menjadi dua dan di permukaan timbul pusaran air yang nantinya akan menenggelamkan di bapak tua tadi. Dari dalam bumi, keluar sekelompok monster kecil dengan wajah seram dan bergigi tajam, sekelompok monster berenang itu menyerang si bapak yang sudah jatuh ke dalam air dan itulah untuk pertama kalinya saya shock dan terbengong-bengong, melihat apa yang selama ini menjadi alasan saya malas menonton film semacam itu. Hhgghh…

Lalu di adegan selanjutnya kita akan bertemu dengan Jake (Steven R McQueen), si anak sulung dari Jullie (Elisabeth Shue), seorang Sherif wanita yang juga merangkap sebagai single mother. Entah apa masalah Jake dengan teman wanitanya, Kelly (Jessica Szohr) tapi mereka terlihat saling mencibir saat menyebutkan teman yang mereka pilih untuk menghabiskan waktu di liburan tersebut, di mana Kelly memilih menghabiskannya dengan laki-laki yang-sepertinya-keren-tapi-bagi-saya-biasa-aja-yang-juga-belagak-sok-kecakepan-makin-ilfil-lah-saya sedangkan Jake akan menghabiskan liburannya dengan mengasuh dua adik kecilnya. Yah, sepertinya Jake adalah di underdog di sini😛

Beberapa saat setelah itu kita akan bertemu dengan Derrick Jones (Jerry O’connel) sutradara film porno dengan dua dayang dayang dan seorang budak yang bisa dicucuk hidungnya. Segera setelahnya, layar bioskop akan dipenuhi dengan (maaf) bokong dan (maaf lagi) dada wanita , juga (apa masih perlu minta maaf?) perut-perut kotak-kotak enam yang menggeliat-geliat di segala penjuru tempat, mengikuti musik yang membahana dan menyentak-nyentak. Di sinilah wahai wanita, waktunya untuk menutupi mata pasangan anda dengan telapak tangan karena (mungkin) mereka akan didera sebuah syndrome-entah-apa yang bisa membuat dada mereka berdetak kencang dan senyum mereka merekah lebar. Saya hanya bisa mengusap dada saja melihat adegan itu, berdoa dengan sungguh-sungguh supaya keturunan saya nanti nggak akan pernah mendekati pergaulan seperti itu. Masya Allah… #tolongBaimyaAllah

Okay, sekarang marilah memasuki chapter di mana pemeran utama film yang namanya bahkan diadaptasi sebagai judul ini muncul dan memporak-porandakan semuanya. Sebenarnya seorang ilmuwan tua menjelaskan jenis ikan karnivora yang diangkat dalam film ini, tapi yah saya seperti biasanya memilih untuk melupakannya saja karena nggak akan berguna juga buat masa depan saya nanti hahahaha… Jadi ikan ini kelaparan, truss seperti layaknya makhluk yang kelaparan, mereka mencari makan. Sepertinya, karena selama hidupnya yang tersisih di dasaran lautan (dan bahkan disangka sudah punah), tak pernah terjamah siapapun dan nggak ada daging sama sekali, mereka terbiasa menjadi kanibal dengan memangsa satu sama lain agar bisa tetap hidup. Jadi bisa terbayangkan ketika tiba-tiba saja mereka menemukan jalan menuju permukaan danau dan bertemu para daging-daging yang mempersembahkan diri mereka dengan sukarela ke dalam air. Yah.. sebagai rasa syukur mereka kepada Tuhan, mereka santaplah hidangan gratis tersebut. Ini sebenarnya sudah menjadi hukum alam, jadi mengapa kita harus terheran-heran.

Bagi saya film ini cukup menghibur, saya pribadi memberikan rating 3.5/5 untuknya. Tak perlu mengharapkan apapun dari film ini, kamu bahkan bisa meninggalkan sebentar otak kamu di lemari es untuk beristirahat selama menonton. Tapi masukan dari saya, nontonlah film ini sekitar satu sampai satu setengah jam setelah kamu buka puasa. Karena darah segar dan daging yang terkoyak-koyak membuat perut kamu mencipta tornado di dalamnya. Kalau kamu kurang beruntung, bisa-bisa semua makanan yang sudah kamu makan sebelumnya kembali meluncur di toilet lebih cepat dari yang seharusnya.

Selamat menikmati and have a nice sunday… ada yang sudah dapat THR? bagi-bagi saya dong, transfer aja ke bank.. ah, lupakan saja…

-bee-

2 thoughts on “Piranha 3D

  1. hehehe… film yang bisa bikin kamu terpana neh… sampe mual2…😀 apalagi pas adegan joged2, kamu sampe bengong, mlongo…

    Yah lumayanlah 3,5/5 lebih bagus daripada Twilight: Eclipse dan The Expendables pastinya.

    Oke, mari nonton film selanjutnya Jaws 1, 2 dan 3 :p

    • NOOOOO…. Jaws?? NO… a BIG NO!!!!

      bisa terpingsan-pingsan lah aku nonton film begituan lagi. Nggak baik ah buat otak, nggak bikin mikir. Kebanyakan istirahat bisa stroke nanti otaknya hahaha.. :))

      gimana nggak mau mual deh, abis makan, perut kekenyanya, disuguhinnya begituan >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s