Twilight Saga : Eclipse

Howrait…. this is my first review of twilight saga. Saya, secara bangga menyatakan bahwa telah mengikuti ketiga serial kisah cinta antara vampire, manusia, dan serigala jadi-jadian tersebut secara lengkap. Seri pertama bahkan saya tonton sampai dua kali (dan yes dua-duanya di bioskop) demi mencari pembuktian atas belingsatannya para wanita dari berbagai tingkat usia ketika disuguhkan sesosok vampire bernama Edward Cullen tersebut. Tapi maaf para sejenis, saya bahkan sampai saat ini (setelah menonton 3 serial saga tersebut plus Remember Me) tak bisa menemukan satupun alasan untuk ikutan belingsatan ketika melihat sosok makhluk berkulit pucat, bergigi tajam, dan bermata merah tersebut. Humm… saya sarankan kalian mulai menonton kuis Super Family di ANTV deh, itu yah pembawa acaranya… hmm… charming to the max

Serial kedua saya tonton bersama Ardiyan yang sepanjang film nggak berhenti bersumpah serapah dan tiba-tiba meneriakkan kata F pada adegan Bella menyatakan perasaannya sama Jacob (kalo nggak salah). Saya sampai kaget dan malu sendiri. Tapi teman-teman, pada serial ke tiga ini, di mana saya pergi menonton bersama pacar, di mana saya seharusnya behave (yeah rait kayak pernah aja huahahaha) saya malah melakukan apa yang Ardiyan lakukan dulu. Menyumpah serapahi banyak adegan dan ‘hampir’ meneriaki kata F di beberapa adegan. Terutama saat di puncak gunung itu, saat Jacob dibakar cemburu mendengar Bella dan Edward akan menikah. KOK YA MAU AJA DIGITUIN SAMA CEWEEEKKK….

So… here goes the review.

Eclipse : Twilight Saga

Cast: Masih sama kayak yang kedua dulu kok, ditambah beberapa pemain baru dan dikurangi beberapa tokoh yang di serial kedua dibuat MATI oleh penulis.
Director: David Slade
Screenplay: Melissa Rosenberg
Based on a novel written by: Stephany Meyer

Di seri kedua kemarin cerita berakhir pada pernyataan Edward yang membuat Bella dan beberapa penonton terkesiap, Ia ingin menikahi gadis homo sapiens tersebut. Jadi, itulah awal dari seri yang ini. Bella dan Edward sedang bersantai di taman bunga yang indah, Edward berkhayal tentang pernikahan mereka nanti, dan Bella sibuk belajar bahasa Inggris, karena besoknya dia ada ujian mata pelajaran tersebut. Well normal…

Lalu muncul lagi Victoria yang menciptakan tentara vampire di Seattle untuk menyerang keluarga Cullen dan membunuh Bella. Keluarga Cullen yang tahu tentang hal ini akhirnya bekerjasama dengan keluarga serigala jadi-jadian untuk menumpas tentara Victoria itu dan melindungi Bella. Lalu, di mana letak missed gender yang saya koar-koarkan di QN kemarin malam??? mari bahas di paragraf selanjutnya.

Jadi sesaat sebelum menonton film ini, saya menemani si Dying Breed tersayang makan malam. Saat makan malam itu kami membahas sesuatu tentang laki-laki dan perempuan. Saya bertutur bahwa perempuan, terkadang punya satu kecenderungan untuk men-deny hal-hal yang tidak membahagiakan. Seperti saat menyukai seseorang, perempuan punya kecenderungan untuk membaca gelagat laki-laki yang ia suka itu ke arah yang baik (dalam kata lain gede rasa). Contohnya, laki-laki itu nanyain udah makan atau belum (padahal cuma basa basi) yang perempuan merasa laki-laki itu naksir balik sama dia. Kasus kebiasaan perempuan yang lainnya, yaitu saat sedang ‘terlalu dekat dengan pasangan’ biasanya perempuan punya kecenderungan untuk menahan gerakan-gerakan berlebihan dari si laki-laki, untuk mempertahankan ‘benteng’ mereka. Tahu kan maksud saya?  nah mari kita sesuaikan dengan film ini.

Lihat adegan Edward dan Bella saat ditinggal berdua di rumah keluarga Cullen. Bella dengan ‘semangat’ menyerang Edward di tempat tidur, namun saat gerakan Bella dinilai terlalu agresif Edward menahannya dan memberikan argumen tentang pernikahan dan bla bla bla… OK boy… itu seharusnya adalah LINE NYA BELLA!!! Plis deh, seharusnya perempuan yang nuntut-nuntut dinikahi dulu baru diserang bentengnya. Itu hal yang sudah biasa, tanya deh sama Oprah Winfrey, dia pasti setuju sama saya.

Adegan selanjutnya adalah saat Jacob dengan ‘maksa’ nya berusaha meyakinkan Bella bahwa dia juga punya perasaan yang sama terhadap manusia serigala tersebut. Dia bilang “Kamu juga punya perasaan yang sama dengan aku Bella, kamu cuma belum menyadarinya saja” (sori bahasa Inggris saya suck jadi terjemahin bebas aja deeh). Dan dialog itu MY FRIEND.. seharusnya JUGA adalah line nya Bella. In denial semacam itu, biasanya dipunyai perempuan, OK mungkin nggak semua perempuan, mungkin juga nggak kebanyakan perempuan, tapi laki-laki? Serigala jadi-jadian pulak… APA ITU BAHKAN BISA MASUK PIKIRAN LOGIS KALIAN WAHAI PENONTON YANG BUDIMAN???

Oke, itulah dua contoh ‘massive missed gender’ yang bisa saya sajikan di ruang baca teman-teman. Untuk lebih lengkapnya silahkan pergi ke bioskop-bioskop kesayangan anda dan beli tiketnya, duduk yang rapih dan selamat menikmati… Saran saya, jangan nonton sendiri ya, saya khawatir anda akan memakan busa kursi bioskop saking emosinya. Jadi mending bawa partner. At least lengan dia lebih memadai untuk digigit. Nyenyenyenyenyenyenye….

nb. Lengan pacar saya aman kok, yang saya gigitin adalah lengan orang sebelah kiri saya kemarin itu *piwww*

have a nice saturday people..

cherios
-bee-
030710

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s