Shutter’s Island

So, here’s the thing… kemarin sebelum nonton film ini, saya dan teman-teman saya berkunjung sejenak ke Ratu Plaza (haha… Raplaz jadi semacam museum di kalimat ini), untuk makan dan belanja DVD. Di sebuah kios DVD kami berpencar dan saya langsung ke bagian film Korea karena mau beli serial yang lagi diputar di Indosiar itu lho, yang dubbingnya bikin saya pengen banting TV haha.. Pas lagi cari-cari itulah, salah satu teman saya nyeletuk “eh eh.. ini bagus nggak?” sambil menyodorkan film Changeling-nya Angelina Jolie. Saya dan salah satu teman lagi yang sudah menonton langsung jawab (well oke! ini sih jawaban saya, kalo dia literary cuma bilang ‘bagus kok’) —> “Bagus banget, nyesek gue nontonnya”. Truss saya lanjut lagi dengan satu kalimat yang membuat semua orang mengerang “AAARRGGHHH GILAA… LOE SPOILER ABIS!!” truss abis deh seharian itu saya dimaki-maki sama mereka, karena emang sih kalimat saya terakhir itu mengandung spoiler total, makanya saya nggak akan tulis di sini hahahaha…

Dari kejadian itu, saya jadi tahu bagaimana reaksi orang ketika menemukan spoiler di sebuah review. Dan saat menonton film ini, kalimat pertama yang terngiang di telinga saya adalah kalimat yang salah seorang teman pernah katakan ke saya dan itu adalah spoiler banget. Dan, saya nggak akan menggunakan kalimat itu di review ini. OK!! BERTAHAN ASIAH!!

Here goes, the review… begin…

Shutter’s Island

Cast : Leonardo Di Caprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Michelle Williams, Max Von Sidow, dll
Director : Martin Scorsese
Screenplay : Laeta Calogridis, Dennis Lehane

Film dimula dari sebuah kapal yang berlayar ke sebuah pulau, backsound di scene ini sungguh lebay, jadi BERTAHAN ya saudara-saudara karena kalian bahkan belum sampai ke setting utamanya haha..

So, Shutter’s Island adalah sebuah pulau tempat para tahanan sakit jiwa diasingkan. Ada 3 kastil di sana yang dinamakan simply based on alfabetical order; A, B, C. Kastil A untuk para tahanan laki-laki, kastil B untuk tahanan perempuan, dan kastil C untuk para tahanan yang gilanya sudah sangat akut. Suatu kali ada sebuah kasus yang cukup berat, seorang tahanan wanita berhasil melarikan diri dari kastil tersebut. Dua orang Marshal (detektif kepolisian US) sampai dipanggil ke tempat itu untuk menyelidiki kasus tersebut. Hilangnya wanita ini memang benar-benar misterius, pasalnya tak ada satupun orang yang memergoki dia, tak ada tanda-tanda jendela yang dicongkel, pintu bangsal dikunci dari luar, dan kedua alas kaki yang memang sudah menjadi jatah semua tahanan masih berada di dalam lemari pakaiannya. Kesimpulannya adalah, wanita tersebut kabur dengan menembus tembok kastil, tanpa alas kaki, lalu lenyap begitu saja. Pun dicari ke sekeliling pulau tak ditemukan batang hidungnya.

Marshal Teddy Daniels (Leonardo Di Caprio) yang memiliki trauma cukup mendalam terhadap perang yang dulu pernah dijalaninya, berulang kali dihantui bayangan-bayangan peperangan dan mayat bergelimpangan di mana-mana saat berada di pulau ini. Belum lagi arwah isterinya yang mati karena kebakaran di apartment mereka, selalu datang di setiap mimpinya, membisikinya banyak hal, hingga membuatnya hampir gila. Untung ada Marshal Chuck Aule (Mark Ruffalo), partner barunya yang selalu setia mendampingi dan membantu memecahkan misteri-misteri yang semakin hari semakin menumpuk dan rumit.

Bagi saya, film ini menghibur banget. Yah, walaupun sebenarnya saya sudah tahu juga sih jawaban dari teka-teki di film ini, tapi tetap saja saya menikmati perjalanan kedua Marshal itu. Martin Scorsese, Laeta Calogridis, dan Dennis Lehane betul-betul orang gila menurut saya. Yah semacam Joko Anwar juga lah, absurd-absurd gitu. Feel yang saya dapat saat menonton film ini hampir sama dengan saat saya menonton Pintu Terlarangnya Joko Anwar. Melongo bego sambil nyeletuk “kok bisa sih itu jadi begitu ceritanya?” Tapi yang saya nggak suka dari mas Joko adalah usahanya untuk terlihat nyentrik (di filmnya tentu), banyak hal yang nggak masuk di akal dan terkesan sengaja menyiksa jiwa penontonnya. Sedangkan Scorsese sengaja menekan logika penonton untuk terus berfikir di sepanjang film dan kemudian menghiburnya dengan ending yang logis dan menyenangkan. Maka dari itu, ketika selesai menonton Pintu Terlarang saya merasa tersiksa dan puyeng (thanks to adegan pembantaian di meja makan dan ending yang sampai sekarang masih nggak saya mengerti). Maka selesai menonton Shutter’s Island ini saya malah lega dan tersenyum-senyum geli. Kamu harus nonton sendiri untuk merasakan sensasinya.

DAN SAYA BERHASIL TIDAK MENULISKAN SPOILER SAMPAI AKHIR!!! YIPPY YEAAYY YIPPY HOOOWWWW!! *lonjak-lonjak*

-bee-
160310

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s