Into The Wild (2007)

Here’s another movie i watched yesterday. Film ini mungkin sudah tayang 3 tahun yang lalu, tapi saya baru menemukannya di koleksi film sepupu saya di Solo waktu nemenin Jijah wisuda kemarin itu. Judulnya semacam film dokumenter gitu yah? makanya saya agak nggak tertarik awalnya. Tapi kemarin akhirnya saya tonton juga, dan ternyata banyak banget pesan positif yang terkandung di dalamnya. It’s a must see movie for those who like freedom and still lost from devining the word happines in their lives. Saya nggak lagi mendefine diri saya sendiri kok, ya emang sih saya suka kebebasan, tapi saya tahu kok apa itu kebahagiaan dalam hidup ini. Makanya saya jarang nangis dan suka banget masak makanan enak-enak. Hahaha… sungguh menyedihkan ya kalimat di atas barusan, sebegitu kasihannya tuh orang-orang yang suka melakukan self denial.

Oke, cukup meracaunya… mari menulis review..

And, for your info, tulisan di bawah nanti akan mengandung begitu banyak informasi dan mungkin juga spoiler, karena saya lagi semangat menulis dan saya sangat menyukai film ini.  So kalau kamu bukan orang yang seperti saya, yang (the hell with spoilers, if it is good so oke i’ll go watch it anyway) maka berhenti membaca sampai di sini dan silahkan kunjungi halaman yang lain. Seperti album foto saya mungkin, karena di sana saya sudah menyediakan sebuah resep masakan baru, Zuppa Soup. Cihiyy .

Into The Wild

Cast: Emile Hirsch, Jena Malone, Catherine Keener, Vince Vaughn, Kristen Stewart, Hal Holbrook, Jim Gallien.
Director: Sean Penn
Screenplay: Sean Penn, John Krakauer.

First of all, saya mau bilang kalau film ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Tokoh dalam film ini bukanlah fiksi, dan kesamaan nama dan tempat memang sengaja dilakukan. Ehehehe… over informed ya? tapi ini khan penting… penting banget untuk membangun mood kamyuh, para calon penonton sekalian

Berkisah tentang Christopher Johnson Mccandless, seorang anak muda berusia 22 yang baru saja lulus dari College. Kalau sebagian anak muda seusianya berusaha menemukan jati dirinya dengan ‘mencari’ maka Chris lebih memilih untuk ‘menciptakannya kembali’, itulah sebabnya chapter 1 dari film ini dinamakan “My Own Birthday”.

Chris adalah anak pintar, ia mendapat mendapat nilai A dari hampir semua mata pelajaran. Dan nilai akhir college nya cukup memadai untuk bisa masuk fakultas Hukum di Harvard. Tapi Chris yang memang memiliki jiwa petualang sejak kecil ini lebih memilih untuk berpergian dengan mobil sedan warna kuning yang dibeli dengan uang tabungannya sendiri. All the way to the west, begitu katanya.

Chris lahir dari keluarga berada. Ayahnya cukup jenius hingga bisa bekerja di Nasa dan ibunya membuka usaha konsultan hukum sendiri. Kehidupan mereka tak pernah terlihat susah. Tapi di balik itu semua, mereka menyembunyikan kenyataan yang cukup mengejutkan. Ayah Chris ternyata masih terikat pernikahan dengan isteri pertamanya, Marcia, bahkan setelah kelahiran Chris. Hal ini diketahuinya dari perjalanan ke California dan bertemu dengan kerabat orang tuanya di sana. Billy dan Walt, orang tuanya, tak pernah tahu tentang fakta kalau Chris mengetahui semua itu. Hal tersebut di atas membuat Chris menganggap seluruh hidupnya hanyalah kebohongan belaka. Ia menganggap masa kecilnya adalah fiksi. Belum lagi ditambah pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Ia merasa semua kehidupannya berantakan. Sepertinya, itulah alasan Chris ‘menciptakan kembali’  dirinya sendiri dan melepaskan diri dari bayang-bayang keluarganya itu. Ia menggambarkan orang tuanya denga frase sebagai berikut; “Rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness” “GIVE ME THE TRUTH”.

Dalam perjalanan backpackingnya selama dua tahun itu, ia mengalami banyak fase di kehidupannya. Bermula dari kelahiran kembali dirinya yang ia beri nama ‘Alexander Supertramp’. Kehidupan remaja yang ia habiskan bersama Wayne, seorang petani gandum yang entah kenapa tiba-tiba saja ditangkap polisi. Kehidupan dewasa yang membawanya ke Meksiko dengan berkayak mengarungi sungai dan DAM. Di mana ia bersentuhan kembali dengan perkotaan dan merasa ngeri dengan keramaian yang ada. Kehidupan keluarga, di mana dia bertemu kembali dengan pasangan Hippies yang pernah memberinya tumpangan saat baru saja lahir menjadi Alexander Supertramp dulu itu. Di sini dia juga bertemu dengan pacarnya vampire di serial saga penghisap darah berkulit mutiara, yang di film ini disulap menjadi remaja Hippy yang ciamik bermain gitar dan bernyanyi country, and indeed her voice is good.

Lalu terakhir, ia mencapai pada sebuah fase ‘Getting of Wisdom’ di mana ia menemukan sebuah bus yang disebutnya Magic Bus di antah berantah di Alaska. Sebelum itu, ia sempat bertemu dengan seorang kakek bernama Ron Franz, seorang pensiunan marinir yang hidup sebatang kara di rumah besar miliknya dan menghabiskan waktunya dengan menyulap kulit menjadi seuatu apapun. Chris sempat ikut membuat  kerajinan berupa ikat pinggang di rumah kakek tersebut. Saya paling suka pertemuan dan hubungan mereka, menurut saya paling indah. Hubungan kakek dan cucunya, ah… saya jadi kangen sama ongku saya. Apalagi air muka Hal Holbrook yang membuat saya berkaca-kaca saat dia terbangun di pagi hari, menyadari Chris akan meninggalkan dirinya dan meneruskan perjalanannya. Meweekk.. sumpah saya meweekk….

Kejadian demi kejadian, orang demi orang, tempat demi tempat yang ia datangi, temui dan alami pada akhirnya nanti membuatnya belajar banyak. Alaska yang dipilihnya untuk menjadi tempat tinggal dan menghabiskan sisa hidupnya juga akhirnya memberikan banyak pesan dan pelajaran. Bagaimana ia kemudian berhasil menemukan kebahagiaan dalam kehidupannya, dan bagaimana ia kemudian merasakan apa itu kesendirian dan kesepian. Chris yang membenci keramaian kota, akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan akan jauh lebih terasa kalau kita berbagi. Sayang, saat ia menemukan jawaban dari semua pertanyaan di hidupnya itu, Chris seolah terperangkap di sana. Sungai kecil yang diseberanginya saat mencapai Magic Bus beberapa bulan sebelumnya, saat itu sudah menjelma menjadi sungai besar dengan arus kuat yang hampir menenggelamkannya. Chris tak dapat keluar dari sana. Sungguh menyedihkan.

Entah kenapa saya suka dengan film ini, sarat sekali dengan pesan. Dan narasi yang ditulis oleh Sean Penn benar-benar baguuuuss… Dia bisa menyusun kalimat demi kalimat yang seperti itu. Juga akting pemeran utamanya, Emile Hirsch yang pas banget dan pastinya punya dedikasi cukup tinggi. Lihat saja perubahan fisik yang dia alami dari scene awal menuju scene belakang, gimana caranya dia bisa merubah otot-otot itu menjadi tinggal tulang berbungkus kulit saja, mungkin dalam waktu cukup singkat. Atau oke.. kalau dia melakukannya terbalik, tetap saja itu membutuhkan sebuah dedikasi cukup tinggi. Dua jempol saya buat dia dan penulis skenarionya.

Juga tentu saja pada Alexander ‘Christopher’ Supertramp yang menginspirasi film ini untuk dibuat. Thanks for being the inspiration, and may your soul rest in peace.

Alexander Supertramp by His Crib

Oke… cukup panjang bukan? biarin donk, lagi pengen hehe..

selamat sore semuanya, selamat nyepii..

-bee-
160310

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s