How To Train Your Dragon

Yadaaaaa…. yada yada yada yada…

Hihi… saya melewati setengah jam pertama film ini. Jadi  kemarin itu saya janjian nonton bareng sama Ardiyan, Alex, dan Riswan di PI. Tapi tiba-tiba Alex menyatakan mundur karena harus menghadiri sebuah workshop or something like that (tapi kayaknya dia nonton juga tuh hari itu bareng pacar barunya). Maka tersisalah kami bertiga. So, saya yang sudah lebih dulu datang tentunya membelikan tiket duluan donk, biar dapet posisi yang ciamik. Setelah beli tiket, makanlah saya di suatu tempat yang ada wifinya, biar bisa sekalian posting-posting sesuatu. Truss… mendekati pukul tujuh malam, tiba-tiba Ardiyan sms “Very bad news, velg ban motorku pecah” saya membelalak. KOK BISA?? TRUS GIMANA INI?? saat saya telp dia, muncullah kalimat itu “Sori yaa.. nggak bisa nonton hari ini” NYOOO…

Lalu dengan terburu-buru saya kemasi semua perkakas saya dari meja restoran itu dan berjalan keluar PI, menyusul mereka. Di tengah jalan, baru saya sadari kalau saya lupa mengambil kembalian dari dompet bill di restoran tadi. Yak… saking buru-burunya, maka dua puluh lima ribu pun melayang. Sesampai saya di halte benhil, mereka sudah menunggu di sana dengan si tua (motornya Ardiyan) juga menemani di samping mereka. Lho?? katanya masuk bengkel?? Sayapun bingung. Ternyata saudara-saudara… velg motornya sudah selesai diganti dan situasi sudah aman terkendali kembali. Jam pun masih menunjukkan pukul 19.30 hanya 5 menit menuju film tersebut diputar. Setelah nyanya nyonyo nyenye sebentar, kamipun memutuskan untuk kembali ke PI. Jadi yah… jadiiii… ngapain saya nyusulin mereka donk?? wawaaa… sungguh menarik kejadian malam itu.

Dan ini saya nggak ngereview-review yang ada, malah cerita panjang lebar. Baiklah.. here goes the review..

How To Train Your Dragon

Voice : Jay Baruchel, Gerard Butler, Craig Ferguson, America Ferrera, Jonah Hill, dll.
Writer: Cessida Cowell (Story), Dean DeBlois (Screenplay)
Director: Dean DeBlois, Chris Sanders

Saya pertama kali melihat standing figure film ini adalah di FX saat nonton film Shutter Island. Waktu itu pikir saya, ini film apa lagi sih? macam nggak begitu menarik. Tapi lalu Mumu Aloha memberikan testimoninya via twitter dengan kalimat yang mengundang rasa penasaran saya. Lho?? beneran bagus ya? Okee.. bye bye Green Zone, bye bye Parnassus, bye bye Meryl Streep.. hellooo The Vikings..

Saat saya duduk rapi jali di studio satu XXI PI, di layar sedang tergambar sebuah adegan seorang anak laki-laki sedang memperhatikan gerak gerik seekor naga dari kejauhan sambil menggambar bentuk naga tersebut di sebuah perkamen. Ada yang salah pada naga itu, dia berulang kali gagal mencoba untuk terbang. Sampai akhirnya menyerah sama sekali dan meringkuk di tanah.

Anak laki-laki tersebut adalah Hiccup, putra dari pimpinan sebuah suku Viking yang dalam cerita ini digambarkan sangat membenci naga. Mereka sepertinya punya trauma khusus terhadap naga hingga akhirnya menjadikan makhluk bernafas api itu sebagai musuh bebuyutan.

Sebagai anak dari kepala suku, sudah seharusnya Hiccup muncul dengan image berani dan patriotik. Tapi entah dengan alasan apa, ia tak ingin membunuh naga. Lalu muncullah Astrid, seorang anak perempuan dengan kemampuan dan ketangkasan melebihi laki-laki ingin mencuri posisi Hiccup sebagai pembunuh naga. Meanwhile.. Hiccup malah berteman dengan naga yang ditemuinya di samping danau di awal tadi. Dia bahkan memberi nama makhluk hitam luccuw itu ‘Toothless’ karena mungkin dia punya gigi yang jarang-jarang.

Persahabatan Hiccup dengan toothless pada akhirnya justru membuatnya bisa lebih mengenal para naga itu jauh lebih baik dibandingkan gurunya sendiri. Toothless bahkan mengajaknya mengunjungi sarang suku naga yang selama ini dicari-cari para prajurit viking. Di sini Hiccup menemukan sebuah fakta yang mengubah sudut pandangnya terhadap naga selama ini.

Saya suka sekali dengan film ini. Kartun ini terlihat digarap dengan serius dan matang, jujur mungkin inilah film dengan format 3D yang paling saya sukai belakangan ini. Much more than Avatar dan Alice. Saya suka gambar-gambarnya, saya suka ceritanya, saya suka penokohannya, saya suka semua dialognya, saya suka endingnya, dan most of all saya suka bagaimana film ini membuat saya merasakan kembali menjadi kanak-kanak. Di detik pertama saya tertawa, lalu detik selanjutnya bergumam hmmm… lalu detik berikutnya akan memekik waaaa… THIS IS FUN!!!

It definitely is a must see movie… Kalau kamu termenye-menye oleh seekor anjing dan Richard Gere… maka keluguan dan celetukan Hiccup pastinya worth to cure that tears.
Mau nonton lagi aaahh…

HAVE FUN

-bee-
250310

2 thoughts on “How To Train Your Dragon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s