Alice In The Wonderland

Seharusnya saya melakukan hal lain yang sudah menjadi kewajiban saya dan deadlinenya kemarin, tapi karena satu dan lain hal pekerjaan yang sudah saya kerjakan hampir setengahnya itu mengalami entahlah apa menghilang dari belantara hard disk laptop saya. ARGH!!! buat apa donk kemarin seharian bertapa kalau ujungnya ilang begini? STRESS!!!

Ya udahlah ya.. mari menulis review.. dah lama banget macamnya saya nggak nulis review film ehehe…

Jadi hari sabtu pekan lalu saya nonton film ini versi regular nya, saat itu sih lumayan membekas ya di hati, karena setting dan desain-desain baju di sepanjang film yang lumayan memanjakan mata. Tapi kok pas seninnya lihat yang 3D, semuanya jadi kelihatan biasa aja ya? Nggak kayak Avatar kemarin itu, film ini nggak bikin saya membuncah senang. Sayang sekali, padahal termasuk salah satu film yang saya tunggu-tunggu.

So, here’s the complete review.

Alice in The Wonderland

Cast : Mia Masikowska, Johnny Depp, 
Helena Bonham Carter, Anne Hathaway, Matt Lucas dll.
Director : Tim Burton
Writer : Linda Woolverton, Lewis Carroll

Alice, si anak kecil yang terperangkap masuk ke lubang kelinci yang ternyata adalah jalan masuk ke Underland itu sekarang sudah beranjak dewasa. Ia tumbuh menjadi gadis pirang yang cantik dan agak tomboy, ia menolak mengenakan korset dan jarang tersenyum. Suatu kali ia menghadiri jamuan salah satu kolega ayahnya. Anak dari kolega ayahnya ini berniat untuk melamarnya di hadapan semua orang. Alice yang memang tak pernah mempunyai perasaan apa-apa pada laki-laki itu kebingungan, karena ia seperti tak punya pilihan untuk menolak. Ibu dan kakaknya sudah mewanti-wanti untuk menerima saja lamaran itu, karena latar belakang keluarga laki-laki itu. Padahal cowok itu aneh, satu-satunya hal positif darinya hanya pundi-pundi yang nantinya akan diwarisi ayahnya. Wajahnya jauh dari kata tampan, dan kelakuannya nggak ada sama sekali mendekati kata charming, belum lagi wajahnya yang selalu masam, seolah nggak pernah ada yang menyenangkan di hidup dia. Lupakan prince charming, he’s more like a spoilt big white ugly brat to me. Hihi… lebay deh nih..

Tapi saat laki-laki aneh di hadapannya sudah membungkuk dan memegang tangannya, Alice melihat sesuatu bergerak-gerak dari semak-semak. Seekor kelinci yang memakai jas. Saat laki-laki itu melamarnya, Alice bukannya menjawab malah memohon diri dan berlari mengejar kelinci tersebut. Semua orang yang ada di sana kebingungan, terlebih lagi laki-laki yang melamarnya tadi. Alice, sekali lagi terjatuh di lubang kelinci, menuju jalan masuk ke Underland.

Singkat kata, Underland yang sudah dikuasai oleh Red Queen itu kini kembali membutuhkan Alice. Si ulat bulu meramalkan kalau di hari Frabbolous, Alice akan membunuh Jabberwocky yang kemudian akan menjatuhkan Red Queen dan kekuasaan kembali pada White Queen. That’s all… cuma itu inti kembalinya Alice ke tanah ajaib itu. Tapi perjalanan menuju hari itulah yang kemudian membuat ceritanya jadi panjang.

Saya sebenarnya menunggu sekali kemunculan Johnny Depp, ia berhasil menarik perhatian saya di Willy Wonka dan Pirates (dan sampai sekarang pingin banget nonton Scissorshand tapi belum kesampaian euyh) tapi di film ini, Red Queen lah yang justru banyak menarik simpati saya. Saya sampai berfikir, jahat nggak sih malah ngefans sama yang jahat-jahat? hahaha… tapi kemudian saya punya pendapat lain tentang Red Queen ini.

Bagi saya, justru dialah yang memiliki sifat paling manusiawi di antara semuanya. Lihat si Mad Hatters, di balik senyum pelanginya ia menyimpan monster yang sewaktu-waktu bisa saja muncul dan tak terkendali. Lihat si kucing yang bisa menghilang itu, senyumnya palsu nian. Lihat dua kembar gendut yang menggemaskan itu, bodoh kok double-double begitu. Yang paling menyeramkan bagi saya justru si White Queen. Dia tokoh paling jahat di sini, dia seperti menyembunyikan kekejaman yang mengerikan di balik aura putihnya itu (apa ini karena efek make upnya ya?). Dia berulang kali bilang kalau membunuh akan membuatnya menentang sumpahnya, tapi ia justru menggunakan orang lain untuk membunuh. Coba tonton sendiri deh, dan bilang sama saya kalau kamu nggak ngeri sama si White Queen. Apa ini hanya efek Burton aja ya? well.. dunno.

Sedangkan Red Queen… oh, Red Queen yang manis, dia cuma cari perhatian aja kok. Semua orang khan butuh perhatian dan pasti orang tuanya dulu suka nggak merhatiin dia deh, mereka pasti kena hasut si White Queen terus deh. Kasihan Red Queen, sini sini yuk sama kakak sini yuk.. *sambil meluk Red Queen dan ngusap-ngusap kepala raksasanya*.

My favourite dialogue (nggak sepenuhnya begitu sih percakapannya, seinget saya aja) :

Stayne: And who is this beautifull creature?
Red Queen : She is Um
Alice : From Umbridge
Stayne: She must have a name for..
Red Queen: Um..
Stayne: Yes, but she must have a real name..
Red Queen : Her name is Um, IDIOOOOTTT!!!

Pas di IDIOT itu, saya ngakak nggak berhenti-berhenti, huahahaha…

Selamat menonton, teman. Dan inilah saatnya saya membaca buku Alice In The Wonderland by Atria yang kemarin saya menangkan, cihiyyy…

-bee-
110310

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s