Ketopraaakkk…

 

shame on you Mr. Police Officer!

Semuanya karena ketoprak hehehehe…😀

Jadi begini ceritanya, sejak sekitar seminggu yang lalu pacar saya seriiing banget nyebut-nyebut ketoprak dalam percakapan sehari-hari. Sampai Annisah aja sadar kalau waktu lagi jalan-jalan bertiga, Jai sering banget nyebut ketoprak. Saat saya tanya kenapa, si pacar Cuma bilang “Aku dah beratus-ratus tahun nggak makan ketoprak” well, i didn’t know that his stomach could be so much lebay hahahaha… Ya sudah, demi memanjakan cacing ngidam yang ada di perutnya terjadilah percakapan di bawah ini:

Saya       : ya udah, kalau kamu mau ketoprak nanti kita cari ya…

Pacar     : Mana ada sih orang yang jual ketoprak bulan puasa gini. Coba kamu pikir, selama ini ada nggak tukang ketoprak yang jualan malem-malem?

Saya       : (mikir) Kenapa nggak?

Pacar     : Ayo coba di mana kamu temuin tukang ketoprak yang jualan malem-malem?

Karena saya memang nggak kepikiran sama sekali lokasi abang jual ketoprak yang buka malem-malem, akhirnya saya diam saja. Tapi sejak saat itu saya bertekad untuk menemukannya. Karena saya berfikir, kalau seseorang menumpukan penghasilan sehari-harinya dengan jualan ketoprak, masa’ iya sih dia harus libur sebulan karena ramadhan? Kan nggak masuk di akal. Akhirnya kemarin saya tanyalah perihal abang ketoprak ini ke semua follower twitter saya.

Teman-teman saya memberikan banyak pilihan tempat. Ada yang bilang kalau siang hari kemarin ada tukang ketoprak yang lewat depan rumahnya, ada yang bilang di dapur Ciragil, ada yang bilang di Benhil dan semakin malam semakin banyak pilihan yang muncul. Seperti kantin RSPI, Kafe Betawi, Gado-gado Boplo, sampai Kemiri Pujasera di Pejaten Villlage. Akhirnya saya memutuskan untuk membuktikan hal tersebut sama pacar saya. Jadilah rencana itu digelar, kami akan ke Benhil makan ketoprak sebagai menu buka kemarin. Tapi saat saya melewati Benhil sorenya, saya melihat lautan mobil di sana. Benhil penuh banget, padahal waktu masih menunjukkan pukul 15.00 WIB, malaslah saya jadinya. Akhirnya kemarin kami hanya makan es buah, somay selingkuhannya Kiki, dan Kebab Turki Baba Rafi untuk menu buka puasa. Ketoprak hanya berakhir sebagai wacana saja hehehehe…

Tapi rasa penasaran saya nggak bisa hilang begitu saja, terlebih saat pacar saya mengingatkan kalau beberapa hari sebelum ramadhan kami pernah makan ketoprak malam-malam di depan FX. Aaarrgghh kenapa saya bisa lupa? Padahal kan yang makan ketoprak saya, sedangkan si pacar memesan kweitiao goreng. So, malam itu saya meminta pacar untuk melewati FX saat mengantar saya pulang demi melihat tukang ketoprak tadi tetap berjualan di malam hari. And indeed he is, yeaayyy… saya berhasil mematahkan teori si pacar. See baby, what you think it’s impossible is actually possible right?😛

Tapi, di sanalah sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Mungkin hampir semua orang setuju bahwa di Indonesia ini, keadilan bisa dibeli dengan beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Dan bahwa petugas-petugas berseragam yang bertebaran di jalan raya, yang seharusnya berkewajiban untuk MEMBUAT RAKYAT MERASA AMAN DAN NYAMAN tak lebihnya adalah sekelompok teroris yang setiap geraknya merupakan sebuah ancaman mengerikan. Dan lokasi perempatan patung api (Senayan) merupakan salah satu area membahayakan.

Untuk mencapai Depok kami harus melewati perempatan itu. Saat pacar saya ingin mengambil jalan lurus ke arah Blok M Plaza, tiba-tiba saja seorang polisi menyetop mobilnya (dan mobil di depan kami) dengan senjata pentungan yang sudah menjadi trademark mereka. Pacar saya sempat mengira si polisi tadi hanya ingin membantu dua orang perempuan yang akan menyebrang jalan, sayapun sempat mengira begitu, tapi begitu naifnya kami karena ternyata si polisi ini sedang menjelma menjadi serigala pesakitan yang menganggap kami adalah dua ekor kelinci jinak yang siap menjadi mangsa. Lalu, percakapan ini pun terjadi:

Polisi     : Surat-suratnya Pak

Pacar     : maaf pak, salah saya apa?

Polisi     : Bapak menerobos lampu merah..

Pacar     : Tapi itu masih kuning Pak.

Polisi     : (Mulai mengarang argumentasi) Iya itu kuning kalau bapak mau belok ke kiri (which jelas sekali jalan ke kiri itu forbidden) kalau bapak mau lurus ke sini, bapak harus menunggu dulu (which jelas sekali ini ngarang to the max, i mean sejak kapan lampu kuning berarti “Kalau kamu mau belok silahkan hati-hati tapi kalau kamu mau lurus ya harus tunggu dulu sebentar!!”)

Pacar     : Wah saya nggak tau sama sekali pak.

Polisi     : Iya saya mau lihat STNK dan SIM bapak..

Pacarpun mengeluarkan STNK dan SIM nya. Untuk informasi saja, semua kejadian ini terjadi di tengah jalan raya di mana seharusnya menjadi jalan yang dilewati mobil-mobil dari arah Senayan menuju Blok M. Setelah lama, bapak polisi tadi baru menyadari kalau diapun sebenarnya sudah melakukan pelanggaran  (tak tertulis, hanya berdasarkan logika saja) dengan menilang di tengah jalan raya, dan menyuruh pacar menepikan mobilnya. Dan bersamaan dengan ini, mobil yang tadi juga sempat distop berbarengan dengan kami sudah dilepas kembali.

Polisi     : Ini denda yang harus bapak bayarkan untuk pelanggaran ini (sambil menunjukkan secarik kertas daftar denda untuk setiap pelanggaran)

Pacar     : wah, besar juga ya Pak lima ratus ribu.

Polisi     : Ya itu maksimalnya, kalau bapak datang ke pengadilan dendanya sesuai dengan keputusan Hakim.

Pacar     : Oh ini maksimal Pak, minimalnya berapa?

Polisi     : ya kalo bapak datang ke pengadilan itu tergantung keputusan hakimnya, bisa seratus ribu, seratus lima puluh, sekitar itulah. Bagaimana Pak? Bisa datang ya ke pengadilan, tanggal 3 nanti.

Pacar saya sempat diam sebentar, saya Cuma bisa mengusap lengannya sambil memintanya untuk mengambil surat tilang itu saja.

Saya       : (berbisik) we are NOT gonna give him money, okay..

Pacar     : (diam)

Polisi     : Bagaimana Pak?

Pacar     : Tapi saya benar-benar nggak tau Pak kalau saya sudah melanggar, itu tadi lampunya masih kuning.

Polisi     : Itu untuk yang belok ke kiri Pak, bapak harus menunggu dulu kalau mau lurus.

Pacar     : Itu mobil yang tadi nggak ditilang Pak?

Polisi     : ya itu urusan dia… (WOW MISTER POLICE OFFICER, YOU ARE OFICIALLY FUCKED UP YOUR IMAGE HERE!!!)

Saat itulah saya tahu bapak ini nggak ubahnya para preman tukang peras berkedok polantas.

Pacar     : Wah itu nggak adil dong Pak..

Polisi     : Ya sudah kalau bapak nggak mau datang ke pengadilan, saya minta pengertiannya saja di sini, terserah bapak mau kasih saya berapa, saya bantu bapak ke pengadilan (and the action begin)

Pacar     : Lho saya nggak bilang saya nggak mau ke pengadilan.

Polisi     : jadi bapak mau ke pengadilan? Kalau iya saya tuliskan surat tilangnya sekarang (which memang seharusnya memang itu yang bapak lakukan sejak tadi!!)

Pacar     : Jadi jam berapa saya harus datang ke pengadilan?

Polisi     : Jam sembilan

Pacar     : Sebelum jam sembilan saya sudah harus di sana?

Polisi     : iya, karena itu pasti ngantri pak. Ada ratusan orang yang mengantri, yang sudah melewati itu sih biasanya kapok.

Pacar     : Ya sudah kalau begitu..

Polisi     : Ya sudah terserah bapak mau kasih berapa, saya minta pengertiannya saja (well, anda salah paham bapak polisi!!!)

Pacar     : Lho? Bukan itu maksud saya..

Polisi     : Oh jadi bapak mau dituliskan surat tilang? Bapak yakin ya? Nanti jangan kembali lagi ke saya karena berubah pikiran ya? Repot lagi saya nanti kalau harus coret-coret lagi (WAS THAT REALLY HAPPENED BEFORE? GOSH!!!)

Pacar     : Iya..

Polisi     : (paused sebentar) bapak yakin nggak akan kembali lagi ya ke sini untuk membatalkan, saya repot nih kalau harus corat coret lagi.

Pacar     : (semakin yakin) iya Pak..

Beberapa saat kemudian hening kembali muncul dan saat itulah sesuatu yang nggak terduga sebelumnya terjadi. Bapak polisi tadi mengembalikan STNK dan SIM pacar saya sambil ngedumel-dumel.

Polisi     : ya sudahlah pak ini surat-suratnya, lain kali jangan diulangin lagi.

Pacar     : Lho nggak jadi ditilang pak?

Polisi     : nggak, udah sana bapak jalan SEMOGA AJA NGGAK KECELAKAAN, KARENA KALAU BAPAK KECELAKAAN SAYA NGGAK MAU BANTU BAPAK!!

Pacar     : Lho kok gitu Pak?

Polisi     : iya tadi bapak sudah menuduh saya nggak adil sama mobil yang barusan, nanti saya yang repot pas sidang. Sudah sana jalan, SAYA DOAKAN BAPAK BAIK-BAIK AJA NANTI SAMPAI TUJUAN.

Did it really happen or it was just me? tapi dari kalimat terakhir bapak polisi tadi, saya mendengar nada ancaman di sana. Jadi sekarang Polisi punya tugas baru selain mengayomi rakyat? yaitu… mengancam rakyat??

And there you go, surat-surat sudah dikembalikan dan kami sudah dilepas untuk melanjutkan perjalanan kembali. Di jalan, saya (seperti yang biasa saya lakukan saat menghadapi ketidak-adilan) misuh-misuh sendiri mengomentari kejadian yang sudah terjadi itu. Begitu ajaibnya polisi tadi. What is wrong with him? Kenapa begitu santainya mencoreng-coreng wajah dan instansinya sendiri seperti itu. Kalau sudah begini wahai bapak-bapak berseragam dan memiliki kuasa, coba katakan kepada saya bagaimana caranya saya dan teman-teman saya yang seharusnya bapak jamin keamanan dan kenyamanannya menaruh kepercayaan kembali ke diri bapak-bapak sekalian?

Hufftt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s