Whisper To Heaven

“Tuhan tahu dan Tuhan menunggu”

Kalimat ini pertama kalinya saya baca pada salah satu edisi Tetralogi Laskar Pelangi. Begitu sederhana begitu lugas namun mengandung makna yang terlampau luas untuk kemudian dapat kita yakini dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Satu hal yang paling seru dan kadang paling membuat saya hampir mati penasaran adalah bertanya-tanya tentang masa depan dan bagaimana saya akan mengakhiri hidup ini. Saat masih kecil dulu, tak pernah terbesit dalam otak saya kalau menjadi dewasa adalah hal yang paling tidak menyenangkan. Ketika dulu saya bebas saja mengambeki  semua orang yang mengkritik dan mengoreksi sikap dan tingkah laku saya, kini saat sudah beranjak dewasa saya bertanggung jawab penuh dengan bagaimana saya membentuk citra diri saya. Bukan hanya untuk orang lain tapi juga untuk keluarga dan diri saya sendiri. Begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan, karena setiap langkah yang saya ambil mengandung resiko dan semua konsekuensi harus saya tanggung sendiri. Maka menyesal adalah sebuah kata yang amat sangat terlarang untuk diucapkan.

Beberapa fase dalam kehidupan sudah saya lewati, tak semua fase tersebut memiliki jalan yang mulus dan lancar. Dalam faktanya dominasi perjalanan justru terjal dan berbukit-bukit. Kadang saya kehabisan nafas untuk mendaki, terkadang tergelincir di jalanan yang terjal, kadang bahkan lebam dan terluka parah saat terjatuh ke dalam jurang. Dalam kondisi hancur lebur saya mengizinkan diri untuk menangis dan menumpahkan semua emosi yang menusuk-nusuk hati. Terkadang, saat cobaan yang dihadapi terlampau sulit untuk dilewati saya bahkan sedikit memekik dan bertanya pada Tuhan “Ya Allah, cobaan apa lagi ini?” saya tahu tak baik menimpakan kekesalan pada Tuhan seperti itu. Tapi terkadang otak saya terlalu jujur dan lugas dalam berekspresi. Namun setelah semua urat dalam diri saya mulai mengendur dan ketegangan dalam hatipun perlahan hilang, yang saya lakukan adalah berintrospeksi lalu kembali melihat perjalanan yang sudah berhasil terlewati dan hadiah-hadiah yang sudah Tuhan berikan atas cobaan-cobaan tersebut. Lagi-lagi kalimat di atas tadi muncul, Tuhan tahu dan Tuhan menunggu. Ia sang Maha tahu, dan Ia sang Maha bijaksana. Kembali saya memilih untuk mengulum senyum, membasuh luka dengan rasa syukur.

Kemadirian bermula saat saya menapakkan kaki di bangku perkuliahan. Saat itu saya memilih untuk tak lagi ikut dalam rencana yang disusun orang tua untuk masa depan saya. Di sanalah saya memberanikan diri untuk keluar dari comfort zone melalui jalan yang tak semestinya. Diam-diam mendaftarkan diri ke fakultas yang saya pilih sendiri dengan uang yang memang saya tabung sendiri. Saat itu pula ayah saya terkesiap melihat keteguhan hati saya untuk tetap pada pendirian. Jika dulu saya tak berani membantah dan mengungkapkan keinginan saya sendiri, saat itu saya berteguh hati untuk mendapatkan apa yang saya mau. Secara tidak saya sadari, di sanalah sebenarnya saya sedang membuka pintu menuju kehidupan yang harus saya tanggung sendiri resikonya. Orang tua mulai mengendurkan ikatan mereka dan saya mulai berdiri di atas kaki sendiri. Sejak itu, kehidupan tak lagi pernah terlihat sama. Jalan yang terpampang di hadapan terlihat jauh lebih menyeramkan, karena tandu-tandu yang dulu disediakan orang tua kini tak lagi tersedia. Saya mulai memasuki fase dewasa dan tak ada jalan untuk kembali.

Saya tahu banyak keputusan hidup yang saya ambil mungkin malah membuat saya terperosok jatuh ke dalam jurang-jurang, namun hingga saat ini saya berusaha untuk tak pernah menyesalinya. Karena jika Tuhan mengizinkan saya mengambil keputusan tersebut, maka memang itulah yang terbaik untuk saya. Mendaki kembali jurang menuju jalan yang seharusnya saya tapaki membuat saya belajar banyak hal. Dan semua pengalaman itu membuat saya menjadi diri saya yang sekarang ini dan saya sangat bersyukur untuk itu semua. Tuhan memang Maha hebat dan seperti salah satu Hermesian sering kemukakan di tweet nya, Tuhan memang Maha seru. Saya mungkin sudah melewati hampir setengah masa hidup saya dan sekarang ini saya sedang berjalan di sebuah setapak dengan kerikil di sana sini. Jurang dalam sudah berhasil saya daki di belakang sana dan apa yang ada di depan nanti masih saja membuat saya hampir mati penasaran. Hidup saya sudah cukup seru, hadiah yang Tuhan berikan untuk semua cobaanNya juga sudah cukup membahagiakan. Saya tak tahu lagi ingin meminta apa.

Saya tahu Tuhan punya rencana besar untuk hidup saya, setidaknya itu yang Ia tunjukkan pada saya selama ini. Tuhan berika kesempatan untuk bertemu teman-teman yang hebat, Tuhan izinkan saya mendapatkan hal-hal yang saya impikan, Tuhan berikan saya jawaban atas pertanyaan yang hampir sepuluh tahun bercokol dalam otak saya. Tuhan ajarkan saya untuk melihat segalanya dalam sisi yang berbeda. Dan jika saya melihat ke belakang, sebenarnya Tuhan sudah mengabulkan hampir semua doa saya dengan caraNya sendiri. Kini apa lagi yang bisa saya lakukan selain bersyukur dan tak berhenti berdoa untuk masa depan saya. Jika Tuhan sudah membuktikan kepada saya atas kebesaran kuasaNya dalam menciptakan kehidupan yang begitu tak terduga dan menyenangkan seperti sekarang ini, mengapa saya harus kembali meragukan kuasaNya pada masa depan saya. Meski saat ini semua terlihat abu-abu, meski saat ini kehidupan saya terlihat terlalu statis, namun saya percaya Tuhan sedang menyusun sesuatu yang indah di hadapan sana. Nanti saat saya dianggap siap, saat saya sudah dipercaya untuk membuka kain yang selama ini menutupi mata saya, maka di sanalah saya akan kembali terkesiap dengan hadiah Tuhan tersebut.

Hanya satu yang saya yakini sampai saat ini, hidup memang harus berakhir dengan bahagia. Maka atas semua mimpi yang selama ini saya bangun, atas semua harapan yang selama ini saya panjatkan, atas semua kehidupan yang selama ini saya jalani. Satu hal yang saya inginkan,  mati dalam keadaan manfaat, tersenyum dan khusnul khatimah. Semoga Tuhan mengizinkan itu semua.

Amin.

2 thoughts on “Whisper To Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s